Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode


__ADS_3

"Udah turun dulu sana, aku mau pulang dulu dan menyiapkan semuanya. Rasanya lega banget ketika masa terberat sudah di lewati," ucap Arya, yang saat ini sedang di rumah orang tua Marni, dan di esok hari rencanaya keluarganya akan datang. Acaranya seharusnya malam ini, tetapi karena tiba-tiba Arya yang dikabarkan kalau sepupunya meninggal pun, tanpa pikir panjang langsung membatalkanya, dan setelah semuanya pasti baik-baik saja, baru Arya memberikan info lagi kalau besok acara yang tadi sempat dibatalkan bisa dilanjutkan lagi.


"Aku juga sempat lemas banget, boro-boro ingat dengan acaranya sendiri, yang mereka tahu harus ke rumah sakit untuk melihat kondisi Lucas." Marni pun terlihat sangat cemas, meskipun mereka hanya sepupu dari Arya tetapi bagi Marni mereka sudah lebih dari sodara sendiri.


"Nah, makanya kamu istirahat dan jangan memikirkan yang tidak-tidak, dan istirahat baru besok bangun dengan kondisi yang segar. Biar makin cantik," balas Arya dengan mencium tangan Marni, yah gaya playboy memang akan tetap terbawa meskipun sang cewek adalah cewek yang pendiam sekalipun.


"Aku dari kecil sudah tidak cantik, mau tidur sepanjang masa ya tetap gini-gini ajah. Kulit eksotis serta wajah yang jelek, jadi tidak akan ngaruh dari istirahat," jawab Marni ketus.


"Tapi buat aku kamu itu cantik loh. Bukanya kamu yang bilang kalau cantik bukan di ukur dari warna kulitnya. Yang putih cantik banget dan yang sawo matang jelek. Tidak berlaku seperti itu dong," ucap Arya malah dia yang membahas pembahasan mereka makin melebar, sedangkan Marni sudah bersiap turun harus di tahan karena membahas warna kulit.


"Ya udah aku masuk dulu yah, mau mandi yah, kali ini mau berendem pakai pemutih, siapa tahu besok jadi putih dan di katakan cantik." Marni pun tanpa berpikir lama langsung membuka pintu dan ke luar kalau tidak seperti itu nanti bisa-bisa sampai tengah malam masih membahas masalah warna kulit.


Arya yang sudah siap akan menjawab pun hanya menggeleng dengan kelakuan Marni yang makin lama bakin bikin Arya gemas dengan tingkahnya, dan membuat Arya ter Marni-Marni. Pokoknya hanya Marni seorang, laki-laki itu tidak menyangka kalau di bakal sebucin itu pada Marni.


"Huh.. jadi nggak sabar pengin buru-buru halalin," gumam Arya sembari menatap Marni yang tengah dadah-dadah dari teras rumahnya.


Setelah memastikan Marni masuk ke dalam rumahnya, kini Arya pun bersiap untuk kembali ke rumahnya. "Oh ya Tuhan, kenapa aku tadi tidak meminta cium dari Marni." Arya menepuk jidatnya bener-bener memang kalau lagi kasmaran kegiatan wajib malah terlupakan. "Pantes Marni kelihatanya bahagia banget."


Sementara itu di rumah sakit.

__ADS_1


"Kia, pulang sama Suster Rini, dan Oma yah, bobo di rumah yah, kan tadi Kia dengar apa kata dokter, Kia tida boleh bobo di rumah sakit karena tidak baik untuk kesehatan," ucap Jiara mengajak ngobrol dengan buah hatinya.


Zakia sih awalnya tidak mau, apalagi hanya pulang dengan suster Rini, dan Omanya saja.


"Kenapa Bunda juga tidak ikut Kia pulang, kan Bunda juga halus istilahat?" tanya Zakia, bocah kecil itu memang sudah biasa tidur bersama dengan bundanya terus sehingga ketika hanya bobo dengan omanya mungkin akan terasa sepi.


"Kalau bunda pulang, Papah yang jaga siapa. Kalau kemarin ada dokter yang jaga, kalau sekarang dokter sudah tidak jaga Papah, jadi harus Bunda yang jaga," jelas Jiara dengan nada bicara yang mudah di mengerti agar Zakia tidak bertanya-tanya terus.


"Eee... nanti kalau Papah tidak ada yang jaga sakit lagi yah?" tanya bocah kecil itu dengan gaya yang menggeaskan.


"Nah betul nanti kalau tidak di jaga Papah mau minum mau makan susah ambilnya," imbuh Darya yang ada di situ juga.


"Ok, baiklah Kia malam ini akan tidul baleng Oma, dan Kia janji tidak akan nangis cali-cali Bunda kalau bangun," jawan Zakia dengan menggemaskan.


"Hist, kamu gimana sih, tidak usah di titipkan juga ini sudah kewajiban Mamah. Kalau gitu Mamah pamit yah, dan nitip Lucas."


Jiara dan Darya pun terkekeh, karena hal yang sama pun dilakukan oleh mamih mertuanya.


Sementara di ruangan Elin. begitu dia kembali dari Lucas dan diantar oleh Lexi tentunya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak jujur kalau yang donor hati untuk aku adalah Lucas?" cecar Elin, benar dugaan Lexi kalau Elin tahu pasti akan marah pada Lexi.


"Sama seperti yang lain bilang. Lucas yang tidak mau kalau kamu tahu bahwa Lucaslah yang mendonorkan hati untuk kamu," jawab Lexi dengan suara yang lirih, dia masih di liputi dengan perasaan sedih, dan juga ada rasa bahagia yang tidak bisa ia katakan, dengan bangun kembalinya Lucas.


"Terus kalau tidak ada kejadian mati suri ini kalian juga masih akan terus menyembunyikan wakta ini?" tanya Elin, amsih dengan nada yang jutek.


Lexi mengangguk untuk memberikan jawaban dari Lucas, "Kalian memang bersekongkol jahat banget," dengus Elin sepanjang lorong masih saja ngedumel.


"Kami melakukan ini karena Lucas yang meminta Elin," bela Lexi dengan suara yang tidak kalah lembut sekali.


'Ok baiklah-baiklah, aku akan mencoba untuk mengerti." Kini mereka pun sudah sampai di ruangan Elin, dan tentunya sudah apa perawat yang sudah siap akan memasang kembali infusnya.


"Sus, apa tidak bisa malam ini sudah tidur tidak pakai infus?" tanya Elin dengan wajah mengiba.


"Sabar yah Nona, lagi pula kalau besok hasilnya bagus hanya malam ini pakai infusnya, besok sudah boleh pulang jadi bisa bebas beraktifitas tanpa selang infus," ucap perawat dengan mengikuti ucapan Elin. Yah, mau tidak mau lagi-lahi Elin hanya pasrah. Toh Elin sudah yakin besok dia sudah boleh pulang.


"Oh ya Tuhan rasanya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan, Eril." ucap  Elin dengan senyum yang terus mengembang.


Kini perawat sudah selesai memasang selang infus, dan kini Elin juga sudah bersiap untuk istirahat.

__ADS_1


"Lin, ngomong-ngomong soal Eril, aku ingin menebus kesalahan aku dengan menikahi kamu, apakah kamu bersedia, memberikan aku kesempatan untuk menjadi suami serta ayah untuk Eril. Aku janji akan memperlalukan kamu seperti ratu. Aku sangat menyesal telah membuat kamu menderita, dan hina. Aku ingin menebus semua kesalahan itu semua," ucap Lexi dengan mata yang merah, menandakan bahwa laki-laki itu sangat menyesal.


Elin justru menatap kosong pada lain arah.


__ADS_2