
Jiara, Zakia dan Eric serta Lexi pun berjalan menuju kamar rawat Elin di mana ibu satu anak itu baru sadar dan kondisinya masih sangat memprihatinkan sekali. Pasti rasanya masih sangat tidak karuan efek obat anestesi yang mulia berkurang. Semua rasa jadi satu.
Kedua mata Eric menatap dengan iba pada putri satu-satunya, dengan tubuh lemah ia berjalan menghampiri Elin yang sudah terbuka matanya, tetapi hanya bisa berkedip dengan lemah. Di mulutnya ada selang oksigen, serta monitor jantung yang menempe di tubuhnya sebagai pertanda bahwa kondisi dia masih sangat butuh pantauan.
Jiara dan Lexi pun hanya bisa menatap sedih pada Elin, hati Jiara sakit sekaligus iri dengan ini semua, di mana suaminya masih dalam kondisi yang cukup memprihatinkan dan itu tandanya kondisinya jauh berbeda dengan Elin, jauh lebih parah dengan kondisi Elin.
(Mungkin dari kemarin ada yang ingin meperingatkan kenapa Zakia selalu diajak ke rumah sakit sedangkan dirinya saja masih terlalu kecil untuk berda di lingkungan rumah sakit. Ah anggap saja memang peraturan rumah sakit boleh membawa anak-anak, sehingga dia bisa lebih bebas bawa keluar masuk rumah sakit, tentu kalau dunia real sulit bawa anak keluar masuk rumah sakit, berhubung ini novel ya anggap saja bole lah)
Eric meraih tangan Elin, dan mengecupnya sama seperti yang udah-udah Eric akan lebih melow. "Terima kasih sudah bertahan sampai di detik ini. Terima kasih sudah berjuang untuk papah dan juga semuanya. Kamu pasti bisa melewati ini semua. Sebelumnya kamu pernah merasakan mungkin lebih berat dari ini dan kamu bisa membuktikan pada papah bahwa kamu bisa lewati ini semua maka sekarang kamu juga pasti bisa. Kamu adalah orang yang kuat kamu pasti bisa." Eric mencium berkali-kali tangan putrinya.
Elin hanya memberikan kode dari gerakan mata dan bibir yang di coba ia tarik untuk menandakan bahwa ia bahagia bisa melewati ini semua. Banyak pertanyaan yang mengganggu di pikiranya, tetapi kondisinya yang masih tidak setabil pun membuat Elin hanya membalas dengan senyuman dan kedipan mata.
Zakia yang melihat tantenya seperti itu pun kasihan dan tidak tega. Beberapa kali bocah kecil itu bertanya kenapa sang tante tubuhnya seperti itu, ditempelin banyak alat medis. Kini setelah Eric berbicara dengan Elin, bercerita keteganganya saat Elin menjalani operasi hingga belasan Jam, dan itu membuat Eric sempat dilanda ketakutan yang luar biasa, dan bahkan Elin beberapa kali mengembangkan senyumnya, ketika mendengarkan cerita papahnya.
"Sayang, papah mau ke kantin dulu yah lapar belum sempat makan, nanti malah papah sakit, pasti kamu bakal marah besar. (Elin mengembangkan senyumnya kembali dan senang juga kalau papahnya tidak melupakan kesehatanya.) Kamu cepat sembuh dan cepat pulang, kasihan Eril di rumah sakit terus kangen sama bundanya." Eric mencium pucuk kepala putrinya. Dan meninggalkan Elin bersama dengan Jiara dan juga Lexi yang menjaganya.
Selain Eric memang lapar dan juga memang ingin makan dan haus, dia juga belum menjenguk papah mertuanya, dan tentu saat ini begantian memberikan semangat pada Darya dan juga pada papah mertuanya.
"Jiara, Lexi, titip Elin dulu yah, papah lapar banget pengen makan." Eric mengusap perutnya, dan menepuk Lexi. Mau mengajak Zakia tapi tidak mau. Anak itu sekarang apa-apa mau dengan bundanya.
Jiara dan Lexi pun menganggukan kepalanya tandanya siapa dengan tugas dari Eric.
Kini gantian Jiara yang duduk di samping Elin, sedangkan Lexi memilih belakangan.
"Elin, aku senang kamu sadar dan bisa melewati ini semua, asal kamu tahu bahwa apa yang kamu rasakan saat ini adalah bukti kalau kamu wanita kuat." Jiara justru terisak dalam tangisanya ketika sebenarnya ia banyak ingin cerita tentang perasaanya yang sampai saat ini dilanda ketakutan yang luar biasa.
Yah, dalam batinya dia sangat takut kalau sesuatu hal terjadi pasa suaminya tidak ada yang mengira kalau Lucas saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Jiara ingin cerita pada Elin tentang kondisi sodara kembarnya, tetapi situasi yang tidak mendukung membuat Jiara mengurungkanya, dia tidak ingin membuat Elin terpikirkan, sehingga Jiara hanya ingin memberikan kabar gembira.
Elin sendiri hanya memberikan kode dari anggukan kepalanya untuk memberitahukan bahwa dirinya kuat dan baik-baik saja.
"Bunda kenapa nangis?" tangan Zakia mengusap air mata Jiara, dan wanita berhijab itu menarik senyumnya.
__ADS_1
"Bunda tidak apa-apa, bunda hanya sangat bahagia karena Tante Elin sudah sembuh." Jiara kembali mengembangkan senyumnya, agar buah hatinya tidak cemas melihat dirinya menangis.
"Kamu yang kuat dan semoga cepat sembuh yah. Cepat pulang, benar kata Papah kasian Eril dia sangat membutuhkan kamu." Jiara yang justru semakin sesak dengan menatap Elin karena justru dia semakin teringat Lucas, pada akhirnya wanita berhijab itu pun memilih pergi dari ruangan Elin. Untuk menenangkan perasaannya sendiri.
"Kalau gitu saya juga pamit yah Lin, Kia pengin pergi jalan-jalan ke taman, bosan dia di ruangan rumah sakit terus, ucap Jiara menjual nama anaknya untuk sembuah alasan agar tidak terlalu sedih dengan terus-terusan membayangkan nasib Lucas.
"Kita mau kemana Bun?" tanya Zakia dengan celotehnya yang menggemaskan.
"Kita ke taman bermain yah," balas Jiara, lebih baik pergi kemanapun itu dan membiarkan Elin dengan Lexi yang sudah pasti bisa menjaga Elin juga dan soal Lucas sudah pasti akan ada yang menanganinya, apabila terjadi sesuatu pasti Jiara juga dikabari. Bukan Jiara tega meninggalkan suaminya yang masih keritis, tetapi dia hanya butuh menenangkan otaknya bersama putrinya. Sedangkan Lucas untuk saat ini di jenguk saja tidak diizinkan. oleh tim medis yang menjaganya.
Jiara justru tidak di bolehkan juga untuk sekedar tahu bagaimana kondisi Lucas, sangat-sangat dilarang dan itu tandanya dokter tahu kalau Jiara melihat kondisi suaminya bisa-bisa jatuh pingsan lalu siapa yang akan menjaga Zakia.
Kini ibu dan anak itu pun memilih berkunjung ke taman bermain, membuat hati buah hatinya senang, dan menjaga kewarasan otaknya suaminya pasti juga senang, dari pada ia akan bersedih sepanjang hari dan buah hatinya juga sedih, yang ada Lucas akan semakin sedih di alam bahwa sadarnya.
Begitu Jiara pergi kini sesuai giliran, bergantian dengan Lexi yang datang dan duduk di samping ranjang pasien untuk bergantian dan bercerita tentang hal yang seru yang membuat Elin bersemangat untuk sembuh.
"Terima kasih sudah berjuang sampai detik ini. Entah akau berhak atau tidak mengucapkan rasa syukur ini, tetapi aku sangat senang melihat kamu sudah sembuh dan aku sangat bahagia karena itu tandanya Eril akan sangat senang dan tidur nyenyak di samping bundanya." Lexi melihat kalau Elin sama seperti respon yang lainya mengenbangkan senyum terbaiknya dan juga menganggukan kepala dan mata yang berkedip cukup lama.
Tangan Lexi merogoh saku celananya, dan meraih ponselnya. jari-jarinya mulai menari dengan indah di atas layar pintar miliknya. Mencari foto-foto Eril yang dia ambil dari baru lahir hingga tadi pagi ia menemuinya.
"Ini adalah foto Eril, pertama kali lahir ke dunia. Kata om Eric, Eril itu mirip kamu, tetapi tidak kata aku, Eril itu sangat mirip dengan aku, dia tampan seperti aku." Kembali Elin mengebangkan senyumnya kali ini bisa di lihat bahwa Elin lebih lebar senyumnya. Elin tampan tidak berkedip melihat foto buah hatinya.
Jari Lexi kembali lagi menggeser foto Eril yang lain. "Ini adalah foto Eril saat di adzan kan oleh papah kamu. Maaf kata om Eric seharusnya aku yang melakukanya, karena aku adalah papahnya, tetapi lagi-lagi aku kehilangan momen itu, dan penyebabnya adalah kebodohan aku. Aku tidak bisa adzan dan juga tidak bisa menunaikan kewajiban aku. Aku meminta maaf." Yah, kalau di bilang menyesal tentu Lexi menyesal apalagi momen seperti itu tidak akan terulang dalam waktu dekat ini, atau malah tidak akan terulang lagi, tetapi ia harus ikhlas kalau yang melakukanya adalah mertuanya.
Elin nampak menggeleng dengan pelan dan bibir yang berusaha berucap, "Tidak apa-apa."
Meskipun ada selang oksigen yang menghalangi untuk berbicara, tetapi Lexi bisa tahu apa yang Elin katakan. Lexi pun membalas apa yang Elin katakan.
"Aku senang, sangat senang bisa menemani kamu di saat seperti ini. Maaf, apabila dalam masa sebelumnya aku justru banyak menyumbang kesedihan. Dan juga tidak bisa menemani kamu dalam masa-masa sulit itu." Lexi pun melakukan hal yang sama dengan Eric, yaitu mencium tangan Elin berkali-kali.
Selaanjutnya Lexi melanjutkan membuka foto Eril yang baru ia ambil tadi pagi, sebenarnya masih ada banyak termasuk di saat Eril berkumpul bersama sebelum Elin drop, dan Eril di pangku oleh Zakia, tetapi Lexi lebih tertari dengan foto yang ia ambil barusan pagi tadi.
__ADS_1
"Ini adalah foto yang aku ambil tadi pagi, pada saat kamu selesai operasi."
Elin nampak wajahnya berseri bahagia dan terharu, Eril terlihat semakin pandai seolah dia memang sengaja menatap kamera.
"Aku yang terlalu bahagia ketika operasi yang kamu jalani berhasil dan kemungkinan kamu untuk sembuh sangat besar, aku rasa harus memberikan kabar hembira ini pada anak kita. Apa kamu tahu apa yang di lakukan?" Lexi memberikan tebakan untuk merespon Elin berpikir dan berkomunikasi dengan dirinya.
Elin hanya menggeleng dengan lemah dan memberikan respon kepala yang menggeleng dengan sempurna.
"Eril beberapa kali memberikan respon bibir yang tersenyum seolah dia tahu apa yang aku bicarakan, saking senangnya aku ajak dia berbicara dan bercerita hal yang lainya dan ternyata dia memberikan aku air kencing." Lexi tertawa dengan renyah apa yang sempat terjadi pagi tadi. Hingga Elin pun ikut tertawa di balik selang oksigen yang menutup wajahnya.
"Aku sempat berpikir, kenapa tubuh aku hangat, dan semakin hangat dan ternyata itu adalah air kencing Eril. Oh ya Tuhan kamu asal tahu respon wajahnya setelah memberikan air kencing sangat menggemaskan dan membuat aku rasanya ingin menggigitnya." Lexi terus bercerita hingga terutama membahas tentang Eril yang tidak ada habisnya. Sampai-sampai laki-laki itu pun lupa bahwa dirinya belum makan dari sore kemarin.
Elin pun nampak tersenyum lebih lebar ketika mendengar cerita dari Lexi tentang buah hatinya. Apalagi momen itu sangat lucu.
Meskipun Lexi tidak makan dari sore tadi, rasa lelah dan laparnya seolah hilang itu semua karena Elin yang nampaknya juga bahagia sehingga Lexi pun terus bercerita sampai hampir setiap foto ia ceritakan momen apa saja yang terjadi dari setiap foto yang ia ambil, pun tidak lupa ia ceritakan.
Lexi yang dulu adalah orang yang sangat pendiam dan dingin, mana suka dengan karangan cerita seperti sekarang ini, tetapi kali ini, dia justru terlalu asik dengan ceritanya. Apalagi menceritakan bayi mungilnya.
Dan Elin juga wanita itu nampak sangat bahagia dengan apa yang Lexi ceritakan, dari cara Lexi bercerita dan menjelaskan dari setiap foto yang dia ambil, sangat membuat Elin seolah masuk dalam kejadian itu. Meskipun Elin merespon dengan senyum tipis dan tidak jarang hanya dengan kedipan mata karena tentu sangat sakit apabila ia harus tertawa dengan kuat di bagian perutnya bekas sayatan operasi.
#Rasanya luar biasa banget yah Lin, apalagi kalau batuk, atau justru bersih rasanya bekas saya kayak mau lepas. Udahannya kepala pening, bertabrakan bintang.
Namun, Elin yang melihat bagai mana antusiasnya Lexi untuk membuatnya tersenyum pun, lebih baik diam dan menghargai usahanya, karena yang Lexi lakukan untuk menghibur dirinya agar bersemangat untuk kesembuhanya.
Elin tahu mungkin ini juga yang bisa Lexi lakukan untuk menghibur dirinya sendiri yang pasti tegang semalaman dirinya menunggu Elin yang sedang melakukan operasi. Buktinya dengan cerita yang ia bagikan bahagianya sekali terlihat, dan pasti hanya ini hiburan untuk Lexi, selain Eril tentunya.
"Apa kamu ingin bertemu degan Eril?" tanya Lexi ketika melihat Elin diam, dan dia juga sudah kehabisan bahan untuk cerita.
Elin mengangguk dengan pelan. "Baiklah, nanti aku akan izin pada perawat dan membawa anak kita ke sini," ujar Lexi, dengan tatapan yang bahagia, meskipun terlihat dengan jelas bahwa wajahnya sangat lelah.
"Te..rima kasih..." Suara Elin terbata dengan sangat lemah.
__ADS_1
"Sama-sama aku senang membuat kamu juga senang.