Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 121


__ADS_3

Elin merasakan sesak di dadanya ketika mengetahui fakta satu persatu yang dikatakan oleh Marni. Nafasnya diaturnya dengan pelan dan matanya memejam semakin kencang.


"Elin kamu baik-baik saja kan?" tanya Marni ketika melihat ada gelagat yang aneh yang di tunjukan oleh Elin, Marni takut kalau Elin syok dan pingsan.


"Lanjutkan Dok ceritanya, Elin masih kuat mendengarnya. Biarkan Elin tahu semuanya, dan fakta ini memang sakit, tetapi Elin yakin kalau Elin akan kuat mendengar ini semua," lirih Elin, wanita itu tahu kalau Marni mencemaskan dirinya. Marni pun akhirnya menjelaskan semua yang ia tahu hingga nanti pekerjaannya adalah mengasuh ibu kandungnya sendiri yang tengah depresi.


Kedua mata Elin di buka dengan pelan. Gelap itu yang pertama Elin rasakan, dan tentunya nafasnya masih berat dan sedikit nyeri di dadanya. "Apa Papah sudah tahu kalau Mamah itu sedang depresi?" tanya Elin  pada Marni. Dia merasa seperti dilahirkan kedunia yang baru tanpa tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.


Marni kembali mengangguk. "Om Eric sudah tahu, dan selama ini makanan yang Om masak salah satunya adalah untuk Mamah kamu. Banyak peningkatan yang dialami oleh mamah kamu terutama setelah ia memakan masakan papa kamu, seolah ia memang mengingat dan mengenali masakan itu," jawab Marni dengan menggenggam tangan Elin.


Elin pun membalasnya dengan senyuman. Ada rasa senang di hati Elin ketika ia tahu di mana keberadaan ibu kandungnya, dan yang terpenting langkahnya tinggal sebentar lagi ia bisa bertemu dengan mamahnya, sosok yang sama sekali tidak pernah Elin ketahui wajah dan juga bentuk tubuhnya, suara serta sorot matanya Elin sangat penasaran dengan itu semua. Apa benar yang selama ini selalu papahnya katakan bahwa Elin sangat mirip dengan mamahnya.


"Semua yang terjadi pada hidup kamu sudah melalui skenario Tuhan yang paling baik, mungkin ini adalah cara Allah mempertemukan kalian semua, meskipun diawali dengan rasa yang sangat pahit, tetapi ada hikmah yang sangat luar biasa yang kamu ketahui, yaitu ibu kandungmu membutuhkan kamu untuk merawatnya. Dan aku yakin kalian sebentar lagi akan kumpul bersama lagi," oceh Marni ketika melihat Elin diam saja. Marni mengira kalau Elin itu marah dan kecewa dengan jalan hidupnya, sehingga seperti yang Arya minta agar Marni menasihati supaya Elin tidak berkecil hati.


"Elin memang marah dengan Lucas dan Lexi, entah Elin bisa memaafkan atau tidak dengan dua laki-laki itu, tetapi Elin juga senang akhirnya Elin bisa ketemu dengan wanita yang telah melahirkan Elin, meskipun Mamah tidak mengenali Elin nantinya, tapi Elin yakin kalau Mamah pasti akan sembuh, kita akan kumpul bersama, tapi tidak dengan Lucas. Elin masih berharap dia tetap menjadi saudara tiri Elin dan biarkan kamu bahagia dengan bertiga. Adil bukan selama ini mereka membuat hidup mamahku sakit dan menderita seperti ini. Kini saatnya Mamah bahagia hidup bersama kami," lirih Elin dengan sorot mata yang penuh kemarahan.


Marni hanya mengangguk, memang siapa pun yang ada di posisi Elin mungkin akan melakukan hal yang sama yaitu tidak ingin memaafkan Lucas apalagi gara-gara dia hidupnya hancur saat ini dia hamil tanpa suami, dan dia harus membesarkan anaknya seorang diri. Yah, meskipun mungkin Lexi datang dan mau mempertanggungjawabkan Marni juga yakin kalau Elin tidak akan mau menerima itu semua. Dan mungkin juga memang lebih baik Elin hidup sendiri membesarkan anak-anaknya sendiri.

__ADS_1


"Oh iya Dok, berati Papah ke rumah sakit menemui Zakia, dan Mba Jiara?" Elin baru teringat papahnya, dan tujuan papahnya kerumah sakit, saking fokusnya dengan cerita sang ibu sehingga ia lupa tujuannya mengetahui papahnya yang pergi ke rumah sakit.


Marni mengangguk dengan kuat, "Kasihan Jiara juga bernasib kurang lebih sama kamu dan pelaku pemerkosaan adalah Lucas saudara kembar kamu, malah sepertinya nasib Jiara jauh lebih buruk dari kamu, di mana ia yang sedang stres dengan kepergian ibunya untuk selama-lamanya dan bergaul dengan orang yang salah malah di perlakuan tidak manusiawi oleh Lucas sampai dia hamil. Untung Jiara sama seperti kamu kuat dan juga tidak putus asa, bertepatan dengan ibunya yang tidak lama meninggal papahnya juga sama seperti mamah kamu yaitu terganggu kesehatan jiwanya, sangat tragis hidupnya. Pantas Allah angkat derajat Jiara dan kamu karena kalian adalah contoh wanita kuat. Jujur kalau aku di posisi kalian mungkin aku akan memilih jalan yang buruk dan salah." Marni menggenggam tangannya semakin kuat, itu adalah sejenis dukungan yang Marni berikan untuk memberikan dukungan pada Elin.


"Aku juga pengin ketemu dengan Zakia ponakan aku, pasti dia cantik," lirih Elin dengan senyum mengembang meskipun samar.


"Cantik dan dia sangat mirip dengan kamu," imbuh Marni, yah Memang dari mata Elin dan Lucas ada kemiripan dan hal itu juga yang diturunkan pada Zakia.


"Oh iya, pasti dia cantik banget. Kapan aku bisa bertemu dengan dia?" tanya Elin dengan sangat bersemangat untuk bertemu dengan anak Jiara alias ponakannya.


"Malam ini kalau kamu mau bisa sekalian setelah itu kamu menginap di rumah aku, karena Om Eric akan menemani Zakia dan Jiara di rumah sakit, kasihan mereka hanya berdua." Marni lega setidaknya ada yang menghibur Elin sehingga ia tidak terfokus dengan kesedihan yang di buat oleh Lucas.


"Setahu aku kalau Jiara itu masih marah dengan Lucas, dan kalau memang ada Lucas kenapa? Apa kamu masih marah dengan dia?" tanya Marni.


"Marah pasti dan entah sampai kapan aku akan tetap marah dengan dia, dan untuk saat ini aku masih malas berhubungan dengan dia, bayang-bayang wajah jahatnya dia masih ada," imbuh Elin sembari menajamkan matanya kembali. Itu yang Elin rasakan setiap mencoba untuk melupakan malam itu justru ia masih takut untuk memulai melupakannya. Trauma, mungkin yang saat ini Elin alami sama halnya dengan Jiara yang masih trauma untuk berhubungan dengan Lucas.


"Iya aku tahu kok, pelan pelan saja nanti juga semuanya akan terbiasa," ucap Marni, lagian tujuannya menceritakan itu semua bukan semata-mata agar Elin memaafkan Lucas. Yang dilakukan oleh Marni hanya membantu agar Elin dan Om Eric'nya bisa berkumpul kembali dengan Tante Ely. Meskipun pastinya  ada harapan kalau awal dari permasalahan ini terbongkar.

__ADS_1


"Ayo kita jalan Elin sudah tidak sabar ingin ke temu dengan gadis kecil yang katanya sangat mirip denganku," ucap Elin sembari bangkit dari duduknya, dan sedih kesalnya seolah suda terlupakan.


Benar memang yang dikatakan oleh Arya kalau Elin memang wanita yang kuat dan tentunya wanita yang tangguh dibandingkan Lucas yang masih mengandalkan emosi di nomor satunya.


Di rumah yang mewah dengan  penjagaan yang super ketat.


"Dari mana saja kamu Lucas kenapa kamu makin dewasa makin tidak memiliki tanggung jawab?" bentak Philip ketika Lucas untuk kesekian kalinya baru kembali memasuki rumah mewah itu.


"Banyak urusan Kek," balas Lucas dengan malas, tetapi dia juga tidak bisa menentang sang kakek, tujuannya untuk mencari bukti di rumah mewah ini masih belum terlaksana. Kehidupan pribadinya terlalu rumit sehingga tujuannya mencari bukti di rumah ini selalu tertunda, hingga kali ini ia sendiri bingung kenapa kakinya kembali membawanya ke rumah ini.


"Apa urusan dengan wanita-wanita itu lagi, sampai kapan kamu  akan lepas dari wanita-wanita yang  hanya menumpang hidup dengan kamu, fokus dengan pekerjaanmu Lucas, kamu adalah satu-satunya harapan Kakek untuk tetap menjalankan bisnis keluarga ini lagi, kalau kamu hanya terfokus dengan para ja-lang yang memanfaatkan uang-uangmu lalu yang akan kamu berikan pada Kakek itu apa?" lirih Philip dengan suara yang bergetar mungkin laki-laki tua itu sudah lelah menasihati Lucas yang susah di atur.


"Iya Kek, Lucas akan lebih serius lagi untuk bekerja, saat ini tubuh Lucas sangat cape ingin istirahat," lirih Lucas, dan tanpa menunggu persetujuan dari sang tertua di rumah mewah itu Lucas langsung menuju lantai dua kamar pribadinya yang hampir menghabiskan setengah dari ruangan itu di jadikan kamar pribadinya.


"Aku bingung sama anak itu makin besar  bukanya makin dewasa malah makin menambah masalah terus," lirih Philip.


"Udah sayang namanya anak muda memang seperti itu mungkin karena ia sedang jatuh cinta." Tamara mulai merayu sugar Daddy. Yah berkat ia menikah dengan tuan Philip alias ayah dari teman kampusnya kehidupan Tamara benar-benar berubah drastis. Bahkan rumah reotnya yang dulu jadi tempat untuk berteduh telah di gantikan oleh istana megah, belum kendaraan dan kartu tanpa limit selalu ada di dompetnya.

__ADS_1


Sungguh beruntung bukan menjadi Tamara.


...****************...


__ADS_2