
"Mas, saya izin sholat dulu yah, sama sekalian mau makan siang," ucap Jiara, pada Lucas yang kali ini sudah isitirahat di atas tempat tidur dan juga sudah minum obat.
"Iya, uang buat makan siang ada tidak?" tanya Lucas sembari hendak mengambil uang dalam dompetnya, tetapi buru-buru di tolak oleh Jiaran.
''Enggak usah Mas, ini masih ada kok sisa yang kemarin Mas kasih," jawab Jiara sembari menujukan uang yang ada di saku baju dia.
"Cukup buat beli makan kamu?" tanya Lucas lagi, yang mana dia kalau makan selalu menghabiskan uang banyak dan menurut jatah makan dia tentu uang yang Jia tunjukan adalah uang yang sangat kurang.
"Cukup Mas, malahan lebih, bahkan bisa sampai besok ini buat makan Jia," jawab Jiara dengan jujur.
"Ya udah, tapi kalau nanti uang makan kamu habis kamu bilang saja!" ucap Lucas, matanya sudah berat efek obat yang ia minum.
__ADS_1
Jiara pun tidak membalas ucapan Lucas. Agak aneh buat Jiara, makan masa ditanggung sama bosnya, udah kaya suaminya saja itu yang Jiara pikirkan. Jia memang tujuan utamanya menuju ke masjid rumah sakit untuk sholat tetapi langkah selanjutnya adalah ruangan dokter Arya. Setelah bertanya pada petugas rumah sakit, akhirnya kini Jiara pun sudah sampai di depan ruangan dokter Arya.
Jia dengan hati deg-degan masuk ke dalam ruangan dokter Arya, tentu setelah ia mengetuk pintu berwarna putih itu. "Maaf saya ganggu jam makan siang Anda, sebab saya sangat penasaran apa yang terjadi dengan pasien yang sebelah ruangan Mas Lucas dan dengan bos saya sendiri.
"Duduk Ji! Kamu tidak mengganggu kok kebetulan aku juga baru banget selesai makan siang, tuh." Arya menunjuk bekas makan siang dia. "Tapi kamu bisa di percaya kan Ji, mohon maaf kalau saya tanya seperti ini sebab saya tidak mau kalau nantinya rahasia saya dan yang lainya malah bocor. Terlebih ini urusanya dengan nyawa, jadi kalau kamu kira-kira tidak sanggup untuk menjaga rahasia ini, mohon maaf aku tidak akan bercerita sama kamu." Arya hanya ingin memastikan, setidaknya apabila Jiara sudah berjanji dia akan mempertanggung jawabkan ucapanya. Meskipun Arya yakin dan percaya bahwa Jiara bisa menjaga rahasinya, terlebih dari cara berpakaian dia juga menujukan bahwa Jiara orang yang baik, orang yang bisa diajak bekerja sama, dan di percaya tentunya.
"Anda tidak usah khawatir Dokter, apabila saya lalai dalam menjaga rahasia ini biarkan Allah yang menegur saya, karena saya yakin tegura dari Allah akan lebih menyakitkan dari pada teguran hambanya sendiri," jawab Jiara dengan yakin.
"Semoga sajah yah Dok, semoga saya bisa membantu kalau memang Lucas salah, saya akan berusaha untuk meluruskanya, tetapi tentu sebisa saya. Anda tentu tahu bahwa Lucas adalah orang seperti apa, jujur saya bekerja masa dia juga mungkin terpaksa karena gajih yang ia tawarkan, dan juga saya yang membutuhkan banyak uang, tetapi setelah tiga hari saya bekerja sama dengan Mas Lucas, aku semakin melihat bahwa dia itu orang yang misterius. Ada perasaan takut kalau suatu saat dia justru memberikan ancaman bahaya terhadap saya. Saya merasa kalau saya ini sedang bermain dengan ular berbisa, lucu tetapi berbahaya," balas Jiara, mengungkapkan ketakutanya bekerja dengan Lucas yang misterius itu.
"Kamu tidak perlu takut, dia itu sebenarnya anak yang baik Ji, bahkan dulu kita itu adalah teman yang dekat dan saling membantu, dia seru dan humoris, tetapi itu dulu sebelum ia termakan fitnah. Fitnah yang entah dari siapa, sehingga merubah Lucas yang baik menjadi Lucas yang bengis bahkan tega melakukan kejahatan yang luar biasa, dan bagi dia perbuatanan dia masih biasa, pergaulan dia yang salah arah sehingga jadi hal-hal yang seperti ini." Arya mencoba meyakinkan Juara, bahwa Lucas hanya korban fitnah, dari orang yang menumpangi nya untuk membalas dendam, tetapi entah orang itu siapa.
__ADS_1
"Aku jadi tidak sabar Dok apa yang terjadi dengan Lucas sebenarnya, " balas Jiara, agar Arya cepat mengatakan pada inti permasalahanya dan siapa gadis yang bernama Elin itu.
"Elin gadis yang ada di kamar sebelas itu, menurut yang Lucas tahu, dia adalah adik tirinya, anak dari pelakor. Wanita yang merebut Papahnya dari ibunya, sehingga Lucas yang masih bayi di telantarkan oleh Papahnya, laki-laki yang setiap hari ada di kamar sebelah. Eric meninggalkan ibunya lucas bersama dengan Lucas sendiri yang saat itu masih bayi. Eric memilih wanita penggoda itu yang kata Lucas adalah ibu dari Elin, tetapi sampai saat ini semua itu masih misteri. Dan Lucas membalaskan dendam mamihnya yang saat ini masih depresi itu. Lucas menculik Elin dan membuatnya hancur, tidak hanya itu Lucas menyiramkan air keras di wajah Eli, hingga wajah Elin saat in rusak parah. Lucas ingin membuat Elin dan papahnya yang telah meninggalkan ibunya depresi bahkan meninggal dunia." Arya berhenti sejenak dan memegangi dadanya yang berdetak lebih cepat tidak hanya itu nafasnya juga memburu karena kemarahanya.
Laki-laki itu tidak merasakan apa yang Elin rasakan tetapi Arya dapat merasakan emosi yang sungguh luar biasa hingga nafasnya tersenggal.
Jiara diam mematung tidak percaya bahwa yang di katakan Arya benar terjadi. "Aku tidak tahu harus ngomong apa Dok, aku terlalu kaget dengan apa yang Anda katakan. Menurut Anda aku bisa bantu apa?" tanya Jiara, dengan suara lirih
"Aku tadi mengatakan pada Lucas kalau Elin sudah meninggal dan dia kemungkinan besar percaya, dan juga Papahnya meninggal, semua aku lakukan hanya ingin melihat reaksi dia, tetapi sepertinya Lucas itu memang sudah benar-benar ganguan kejiwaan sehingga aku lihat dia tidak ada kesedihan sama sekali. Aku ingin kamu kerja sama dengan aku untuk merahasiakan kalau memang Elin masih hidup," ucap Arya dengan pandangan seolah memohon pada Jia.
"Caranya? Apa Mas Lucas tidak akan mengenali adik tirinya dan Papahnya," jawab Jiara dengan heran. Sangat tidak masuk akal merahasiakan orang yang masih hidup, dengan sebuah informasi kematian, itu yang Jiara bingungkan.
__ADS_1