
Lucas dan Jiara saling diam, bukan marah, tetapi Lucas seolah langsung marah ketika mendengar berita yang Jiara bawa. lagi-lagi ia sangat yakin bawa orang yang bunuh diri adalah papahnya karena meratapi kepergian adik tirinya itu.
Ada rasa yang sesak dihatinya, tetapi ia tidak bisa menggartikan apa. Sifat keras kepalanya selalu nomor satu. Pikiranya kembali menepis bahwa ia kasihan dan merasa bersalah.
Ia tetap mengatakan bahwa semua sudah sesuai dengan rencananya.
Lamunan Lucas dan Jiara segera tersadar, ketika ada suara ketukan dan salam dari depan pintu.
"Kamu kenal dengan orang di kamar sebelah?" tanya Lucas begitu Eric kembali ke ruangan Elin.
Jiara meletakan bok makanan yang Eric berikan. "Sering ketemu kalau sholat, jadi suka ngobrol dan kebetulan anaknya juga cewek mungkin umur kita hanya berbeda beberapa tahun saja, jadi pernah ketemu dan ngobrol juga sama anaknya," jawab Jiara, suaranya terlihat santai, sehingga Lucas yakin bahwa yang Jiara ucapkan adalah benar. Bukan bagian sekenario dari caranya menutupi identitis siapa pasien sebelah bosnya.
Lucas mengangguk-anggukan kepalanya. Dia mencoba mengerti lagian selama tiga hari Lucas di rawat di rumah sakit pasti jenuh untuk Jiara apabila ia sedang tidur sehingga untuk sekedar mengobrol dengan tetangga kamar tidak masalah. Apalagi tetangga kamarnya wanita.
"Ngomong-ngomong sakit apa anaknya? Sakitnya parah?" tanya Lucas, ia tertarik dengan cerita pasien di kamar sebelah, padahal biasanya ia tidak pernah perduali dengan urusan orang lain.
"Kelihatanya seperti itu, bahkan setahu aku mereka sedang menunggu jadwal untuk melakukan operasi lanjutan di negara lain, karena di negara ini tidak ada yang bisa mengobati sakitnya," jawab Jiara, berusaha berkata jujur tetapi untuk sakit Elin, wanita itu akan merahasiakannya sesuai perintah Arya, ditakutkan kalau tahu luka Elin yang disebabkan olehnya, Lucas akan penasaran dan nanti rahasia mereka untuk membohongi Lucas gagal, dan laki-laki itu malah tahu kalau adik tirinya masih hidup, dan bisa saja justru menimbulkan masalah baru. Karena merasa sudah di bohongi oleh Jiara dan Arya..
__ADS_1
"Ya Tuhan kasihan sekali, ngomong-ngomong dia sakit apa?" tanya Arya, dan tentu sesuai dugaan Jiara, pasti Lucas akan penasaran dengan sakitnya pasien sebelah.
"Sepengetahuan saya, anaknya mengalami kecelakaan, dan entah kecelakaan apa saya tidak menanyakan hal itu, karena takut menyinggung mereka. Udah yuk makan dulu, ini dari harumnya enak banget masakanya," ucap Jiara dengan antusias ingin segera mencicipi rasa makanan yang ada di hadapanya.
"Mereka hanya tinggal berdua?" tanya ulang Lucas, sepertinya bosnya itu masih tertarik dengan cerita yang Jiara ceritakan.
Wanita yang sedang menikmati masakan dari Eric dan rasanya sangat cocok di lidahnya pun hanya menangguk sebagai jawaban yang Lucas lontarkan. "Makan dulu Mas baru nanti pikirin pasien di sebelah. Ini masakanya enak banget. Lagian kenapa tumben peduli banget," ucap Jiara dengan wajah yang heran.
"Enggak hanya seperti familiar ajah dengan suaranya," terang Lucas. Tanganya pun mulai menyuapkan makanan yang tetangga sebelah kamarnya berikan. Kedua matanya terbelalak, karena masakan yang Eric masak lagi-lagi berhasil membuat rasa panas di dadanya mulai hilang menguai.
"Mas kenapa?" tanya Jiara ketika Lucas seperti kaget dengan rasa masakan yang dia makan. "Makananya tidak enak? Aneh atau kenapa?" Jiara panik takutnya Lucas tidak menyukai masakan yang Eric berikan dan berbeda dengan Jiara yang justru cocok dengan rasa masakan itu.
Jiara mengelus dada, karena sekuat apapun dia menolak benci namanya keluarga hati dan perasaan tidak bisa di hindari dia merasakan ikatan batin yang kuat, tanpa bisa menolaknya. "Saya sempat takut kalau Anda tidak menyukai rasa masakan yang mereka kasih, tapi Alhamdulillah kalau ternyata Anda juga menyukai rasanya, saya juga sama menyukai rasa masakan mereka, dan nanti sebelum pulang saya akan tanyakan mengenai perintah Anda, dan juga saya akan meminta nomor ponsel mereka takutnya nanti Anda butuhkan," papar Jiara, dan mereka pun kembali membisu menikmati makanan dengan tenang.
"Semoga ini adalah awal yang baik, aku yakin Mas Lucas hanya gengsi untuk mengakui hatinya peduli dengan Elin, maupun papahnya. Pasti di dalam hatinya Lucas merasakan kesepian," batin Jiara menatap tajam dengan cara Lucas makan yang sangat terlihat bahwa laki-laki itu menikmati masakan papah kandungnya. 'Ikatan darah tidak bisa bohong'
Jiara dan Lucas pun bersiap pulang. Pukul tujuh malam setelah semuanya beres Jiara dan Lucas meninggalkan rumah sakit yang sudah tiga hari merawatnya, dan j
__ADS_1
dalam waktu tiga hari itu juga Jiara tidak melihat ada keluarga Lucas yang datang untuk menjenguknya.
"Mas aku boleh bertanya?" Jiara memecah kebisuan di dalam mobil.
Hemz, hanya deheman sebagai jawaban dari pertanyaan wanita yang sekarang sudah resmi menjadi sekretarisnya, dan saat ini mereka sedang duduk bersebelahan.
Jiara memainkan ujung hijab panjangnya karena ia merasa gugup untuk melemparkan pertanyaan pada bosnya, dan di takutkan pula Lucas marah dengan pertanyaan yang Jiara lemparkan terlebih ini menyakut keluarganya.
"Ngomong lah Jia, enggak usah taku. Aku nggak gigit kok." Lucas tahu kalau Jiara takut untuk bertanya.
"Mohon maaf kalau pertanyaan saya menyinggung Anda. Sudah tiga hari Anda di rawat di rumah sakit, tetapi kenapa tidak ada sodara atau kerabat Anda yang datang untuk menjenguk Anda, selain dokter Arya. Apa mereka tidak tahu kalau Anda sakit atau...(Jiara tidak melanjutkan pertanyaanya karena ini bersifat sensitif) Namun tanpa dilanjutkan Lucas sudah tahu arah pertanyaan dari sekretarisnya.
Lucas terkeh samar, "Mereka sibuk, dan lagi juga aku malas buat di tengokin oleh keluarga aku. Bagi aku keluarga aku hanya Mamih, dan Mamih sekarang sedang berjuang untuk sembuh." Lucas langsung keingat mamihnya, ia sudah berjanji bahwa akan datang setiap hari untuk menemani mamihnya, tetapi sudah tiga hari ia tidak datang karena sakit.
"Pasti Mamih mencari aku," batin Lucas.
"Pak, jangan pulang kerumah, pulang ke rumah sakit tempat mamih di rawat, aku kangen sama mamih!" Lucas akhirnya memutuskan untuk mengunjungi wanita yang sudah melahirkanya, terlebih sudah tiga hari ia tidak bertemu dengan mamihnya.
__ADS_1
Jiara pun tidak kalah bahagia, di mana ia juga bisa sekali bertemu dengan papahnya.
Sang sopir pun kembali memutarkan kendaraan yang padahal jarak untuk sampai ke kediaman mewah philip sudah dekat, tetapi atas keinginan bosnya sang sopir kembali menyusuri jalanan yang masih padat.