
Lucas mulai cemas ketika jam pulang kantor telah tiba, tetapi Jiara tidak kunjung pulang juga. "Kemana Jiara? Kenapa ini sudah hampir jam pulang kerja tetapi dia tidak pulang-pulang," lirih Lucas, laki-laki itu yang semakin dibuat penasaran akhirnya mengecek meja tempat sekretarisnya bekerja.
Sejak tadi Lucas mencoba menghubungi Jiara, tetapi tidak sekalipun ponselnya di angkatnya. "Pantas saja aku hubung hingga kiamat juga dia tidak akan mengangkatnya orang ponselnya ketinggalan di atas mejanya," gerundel Lucas, sembari mengambil ponsel Jiara.
Ponsel yang terletak di atas meja kerja Jiara, Lucas ambil dan membawanya keruangnya. "Alvi keruangan saya sekarang!" ujar Lucas pada Alvi sang sekretarisnya kira-kira pergi kemana. Bahkan Lucas sempat heran dengan tingkah laku dari Jiara. Wanita lain apabila di berika kartu sakti seperti yang Lucas berikan pada Jiara pasti akan mengambilnya dengan perasaan senang bukan kepalang, apalagi aku juga menawarkan pernikahan pasti kalau wanita lain sudah jelas akan menerima tanpa pikir panjang, tetapi Jiara lain. Dia justru pergi meninggalkan apa yang Lucas berikan.
"Anda memanggil saya Tuan," ucap Alvi ketika masuk keruangan Lucas.
Wajah yang sejak tadi menunduk mengamati ponsel sekretarisnya, Lucas menatap Alvi dengaan serius. "Kamu tahu Jiara kemana?" tanya Lucas, nada yang dingin dan tatapan kedua mata yang serius menambah horor suasana.
Alvi yang bingung buru-buru menjawab dengan gelengan kepala. "Mohon maaf Tuan, bukanya sejak tadi Jia bersama dengan Anda, bahkan saya sejak jam makan siang tidak lagi melihat Jia," jawab Alvi dengan nada yang bingung.
"Bukanya Jiara adalah karyawan yang jarang berkumpul dengan yang lainya, bahkan untuk makan siang Jiara lebih sering makan di pantry di bandingkan di kantin," batin Alvi, sehingga kalau tanya pada Alvi bunkanya itu pertanyaan yang sangat tidak masuk akal.
"Kamu tolong cek CCTV depan, kira-kira Jiara pergi kemana? Tadi dia tiba-tiba pergi mendadak entah ada urusan apa, tetapi sepertinya ada yang terjadi sesuatu. Cari Jiara naik kendaraan apa dan kalau ada nomor kendaraanya cari tahu wanita itu pergi kemana!" Lucas justru semakin bingung dengan Jiara, semakin misterius, semakin Lucas ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Baik Tuan." Alvi keluar dari ruangan bosnya dengan perasaan semakin bingunng. Lucas sendiri langsung menghubungi dokter Diki, untuk mengecek apakah Jiara pergi buru-buru kerumah sakit untuk melihat kondisi papahnya atau dia ada tempat lain yang ditujuanya.
"Diki apa Jiara ada di rumah sakit itu sekarang?" tanya Lucas, begitu sambungan telepon Diki angkat.
__ADS_1
Diki yang berada di sebrang telepon cukup kaget dengan pertanyaan Lucas. "Jiara? Tadi dia sempat datang dan mengunjungi Papahnya, tetapi setelah jam besok habis gadis itu pun kembali pergi, mungkin dia pergi dari sini mendekati jam makan siang," jawab Diki, masih bingung dengan Lucas, terlebih nada bicaranya terlihat kalau laki-laki itu sangat khawatir sekali dengan kondisi Jiara.
Setelah mendapatkan jawaban dari Diki, Lucas pun langsung mematikan sambungan teleponya secara sepihak.
"Kenapa Lucas terlihat panik sekali mencari Jiara?" batin Diki di tempat yang berbeda. Namun buru-buru ia abaikan pikirannya dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Laki-laki yang masih mengenakan setelan jas dengan rapih pun, semakin bingung kira-kira Jiara pergi kemana. "Bukanya kalau belum jam makan siang dia udah pergi dari rumah sakit itu, seharusnya Jiara kembali kekantor ini untuk kembali bekerja, tetapi kenapa sampai jam kerja hampir habis, Jiara tidak ada kejelasan sama sekali pergi kemana. Apa mungkin Jiara pulang keapartemen untuk memilih beristirahat." Lucas pun kembali mencari tahu dugaannya lewat security yang berjaga di apartemen mewahnya.
"Nona Jiara belum pulang, Tuan." Itu adalah jawaban dari security yang bertugas di apartemen yang Jiara tempati. Pikiran Lucas semakin panik memikirkan di mana keberadaan Jiara.
"Dirumah sakit tidak ada, di apartemen juga tidak ada, lalu kemana kira-kira Jiara pergi." Tanganya bermain pena dan mengetuk-ngetuknya di atas meja.
Alvi masuk dengan membawa hasil rekaman CCTV yang ia dapatkan dari security kantor.
"Tuan direkaman CCTV yang saya minta dari security, Jiara pergi menggunakan taxi," ucap Alvi sembari tanganya menjulurkan rekaman CCTV yang ia pindahkan keponselnya.
Tangan Lucas langsung menyambar ponsel milik Alvi dan melihat rekaman yang menujukan kalau Jiara naik taxi berwarna biru muda. "Kamu telepon perusahaan taxi tersebut dan tanya sopir serta nomor ponselnya. Itu ada nomor kendaraanya sehingga mereka bisa lacak siapa pengemudinya," titah Lucas, nada bicara tegas menunjukan bahwa perintahnya tidak bisa dibantah. Padahal ini sudah melewati jam pulang kerja, tetapi justru tugas yang Lucas berikan semakin banyak.
Alvi mengambil kembali ponselnya, ia menghirup nafas dalam, dan juga membuangnya secara perlahan. "Baik Tuan saya akan melakukanya," jawab Alvi, meskipun kesal dan ingin marah, karena di saat jam pulang sudah lewat, tetapi justru tugasnya semakin banyak, dan entah pulang sampai kapan Alvi untuk menvari Jiara, tetapi Alvi sendiri juga mulai panik ketika tiba-tiba Jiara pergi. Alvi tidak bisa menebak gimana jadinya apabila kerjaanya tanpa Jiara yang membantu, pasti akan sangat sibuk dia dan tentu bisa saja berimbas dengan bosnya yang mungkin akan marah-marah dengan kerjaanya.
__ADS_1
"Sekarang, dan secepatnya kamu beritahu hasilnya!" bentak Lucas, semakin panik.
Alvi pun kembali ke ruangannya dan segera melaksanakan tugas dari Lucas.
"Bukanya Jiara di kota ini tidak ada siapa-siapa lagi selain Papahnya, sedangkan ibunya sudah meninggal," batin Lucas, otaknya masih mencari kemungkinan kemana Jiara pergi.
Sesuai permintaan Lucas, Alvi segera menguhubungi pihak perusahaan taxi dengan logo bergambar burung, dan menanyakan identitas pengemudi yang memiliki pelat nomor yang ditumpangi oleh Jiara. Setelah Alvi berhasi meyakinkan bahwa yang ia lakukan karena akan menayakan barang yang mungkin tertinggal ketika menaiki taxi tersebut. Perusahaan taxi pun pada akhirnya mau menyerahkan identitas pengemudi dan juga nomor ponselnya.
Dengan bermodalkan ponsel pengemudi taxi yang di tumpangi Jiara kini Alvi kembali masuk kedalam ruangan bosnya, untuk menyerahkan nomor ponsel pengemudi taxi yang ia maksud.
Alvi masuk dengan sedikit berdoa agar setelah ini ia di perbolehkan untuk pulang kerja. Setelah mengetuk pintu dengan sopan, Alvi pun kembali masuk ruangan Lucas.
Pandangan mata Lucas buru-buru ketika ia tahu kalau yang masuk adalah asistenya.
"Gimana kamu sudah dapat identitas sang pengemudi?" tanya Lucas dengan antusias ketika melihat Alvi kembali masuk ke ruangannya.
"Sudah Tuan. Ini nomornya." Alvi menjulurkan pesan dari perusahaan taxi tersebut, tanpa memotong maupun menambahkan percakapan.
Tanpa menunggu lama Lucas menekan nomor yang tadi Alvi berikan.
__ADS_1
"Hallo."