
Lucas dengan malas meletakan bokongnya di sofa di hadapan Philip, sang kakek. Dimana Lucas mengira kalau laki-laki tua itu sudah pergi tidur, tetapi justru sepertinya kakeknya baru plang kerja, dan itu terlihat dari pakaian yang menempel ditubuhnya masih terlihat dengan jelas meskipun tidak serapi ketika laki-laki tua itu berangkat kerja. Setelan jas lengkap dengan tas kerja berada di sampingnya.
"Apa Kakek juga baru pulang?" tanya Lucas dengan suara pelan, masih terasa lemas tubuhnya.
"Kamu jaga kesehatan, jangan sampai kamu sakit lagi, apa sakit kamu ada hubunganya dengan jantung kamu?" tanya Philip, justru ia mengabaikan pertanyaan Lucas yang bagi dia sangat tidak perlu di jawab. Pertanyaan cucunya itu Philip tahu bahwa itu hanyalah pertanyaan basa basi sehingga tidak perlu jawaban, dari penampilan Philip tentu Lucas juga sudah bisa tahu jawabanya apa.
"Lucas akhir-akhir ini telat makan, dan juga tidur kurang, jadi kata Arya, lambung Lucas sedikit bermasalah, tapi sekarang semuanya sudah baikan dan Kakek tidak perlu khawatir karena jantung Lucas baik-baik saja," jawab Lucas, agar Philip tidak terlalu takut dengan kondisi dirinya.
Rasa heran menyelimuti perasaan Lucas, kenapa Philip tahu dia dirawat di rumah sakit, tetapi kenapa tidak menjenguknya biarpun untuk menjenguk sebentar saja tidak Philip lakukan atau bahkan Tamara lakukan, mereka semua selalu sibuk dengan urusan dunianya. Philip sibuk dengan mengumpulkan dan menumpuk pundi-pundi rupiahnya, sedangkan Tamara sebaliknya sibuk menghambur-hamburkan uang hasil kerja keras suaminya itu.
"Itu sebabnya kamu harus jaga kesehatan, kamu adalah harapan Kakek satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menjadi pemimpin perusahaan Kakek, sehingga kamu harus tetap sehat." Philip tanpa menunggu jawaban dari Lucas langsung mengangkat tubuhnya yang sudah tua, tetapi masih terlihat gagah, itu semuanya mungkin karena laki-laki itu menikahi wanita berumur sama dengan putrinya sehingga masih terlihat awet muda. Bahkan Tamara dan Darya adalah teman baik dan kini Tamara menjadi ibu tirinya.
Mungkin itu salah satunya Philip tetap terlihat gagah dan muda, bahkan sekarang juga banyak anak SMA yang mengejar laki-laki seperti Philip, dan para gadis baru gede itu menyebutnya sugar daddy. Tidak perduli sebagai simpanan ataupun hanya sebagai pelampiasan kenikmatan duniawi yang terpenting minta apa saja di berikan.
Dibalik pembatas ruangan....
__ADS_1
"Lagian kenapa aku tidak bisa hamil sih, padahal aku ingin bisa hamil juga kayak orang-orang dan bisa punya anak dan nantinya anak aku juga bisa menjadi pewaris perusahaan Philip," gerutu Tamara di balik dinding yang memisahkan ruang tamu dengan ruang keluarga.
Tamara buru-buru lari masuk kembali ke dalam kamarnya pada saat Phiilip akan memasuki kamar mereka. Tamara bersembunyi di dalam kamar mandi dan menetralkan jantungnya yang bergemuruh karena aksinya takut ketahuan sama sugar daddynya.
"Kenapa aku dulu enggak kepikiran pura-pura hamil ajah yah, dan mungkin kalau aku pura-pura hamil sekarang anak aku sudah besar. Aku bisa adopsi bayi untuk dijadikan anak dan anak itu bisa aku manfaatkan untuk di jadikan pewaris kekayaan Philip. Ah, dasar kamu bodoh sekali Tamara." Sejak tadi di dalam kamar mandi ia ngegerundel sendiri dan mengutuk kebodohanya juga.
"Sayang kamu kenapa? Tumben lama banget di kamar mandi?" Philip yang baru masuk ke dalam kamar dan mendapati Tamara di dalam kamar mandi pun menggedornya takut kalau istri mudanya kenapa-kenapa.
"Tidak sayang, aku hanya mules tadi siang kumpul sama teman kayaknya kebanyakan makan pedas jadi perutnya melilit," jawab Tamar sembari menekan air di kloset sehingga terdengar air deras mengalir dari kloset dan berharap kalau Philip percaya dengan ucapanya.
"Tidak usah sayang nanti juga aku akan baikan kok, ini bukan diare yang berbahaya, ini hanya sakit perut bisa," tolak Tamara sembari bibir wanita yang ada di balik pintu meledek suaminya yang ada di dalam kamar utamanya.
Disaat Philip dan istrinya sedang bermain drama, Lucas berjalan dengan berpegangan pada pegangan tangga badanya sangat lelah, badan yang terasa tidak hanya itu, perasaanya tidak menentu. Sehingga kali ini tubuhnya terasa tidak karuan.
Tubuh kekarnya ia banting keatas ranjang yang besar dan empuk tentunya. Kedua matanya menatap langit-langin kamar dengan pencahayaan yang remang-remang. Tubuhnya dan pikiranya sangat cape sebenarnya, tetapi entah mengapa laki-laki itu justru tidak bisa memejamkan matanya juga.
__ADS_1
Lucas takut kalau nanti ia tidur akan memimpikan Elin dan Eric lagi, sekarang dua orang itu justru sudah menjadi hantu yang seolah siap menghukum Lucas dengan penyesalan.
"Aku ingin Anda melakukan tes DNA pada aku dan Mamih Anda, mungkin saja aku adalah anak Mamih kamu juga, Tuan," ucapan Elin kembali kembali terngiang-ngiang di telinga Lucas. "Apa mungkin mamih punya anak lain selain aku?" batin Lucas semakin tidak bisa tidur.
Dirogohnya saku celananya dan tanganya meraih benda pipih yang pintar itu. Jari-jarinya dengan cekatan langsung mengetik pesan yang akan ia kirmkan pada sepupunya, Arya.
(Loe tahu di mana Elin dan Papahnya di makamkan?) Pesan terkirim dan Lucas sangat berharap bahwa Arya juga bisa memberikan informasi sesuai yang ia inginkan.
Di lain tempat Arya memang belum tidur dan tahu bahwa Lucas mengirim pesan bahkan sepupunya itu bertanya di mana adik tiri dan papahnya di makamkan, tetapi Arya sesuai dengan rencana dan pendirianya, ia tidak akan memberi tahukan, karena kematian Elin dan papahnya hanyalah sebuah rekayasa sehingga apabila Lucas tahu kalau Arya berbohong tentu laki-laki itu akan kembali mengamuk.
Arya di kamarnya sedang sibuk menyiapkan keberangkatan Elin untuk melakukan pengobatan lanjutan di negara lain. Arya sampai kapan pun akan menjadi orang yang melindungi Elin. Bahkan Arya berjanji bahwa akan melakukan kebaikan terus untuk menjaga Elin, dari orang-orang yang ingin mencelakai Elin.
"Silahkan kamu cari tahu sendiri tentang siapa Elin, dan papahnya, karena aku percaya bahwa Elin adalah korban fitnah yang sudah dilakukan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Kalau aku jadi kamu aku akan sayangi Elin meskipun dia adalah adik tiri aku," batin Arya dengan menatap layar di ponselnya yang menunjukan pesan dari Lucas.
(Tolong jangan ganggu Elin lagi, dia dan Papahnya sudah tenang, sampai kapan pun aku tidak akan beritahu di mana makam mereka berdua, sebelum kamu datang pada aku dengan fakta yang sebenarnya) Pesan yang Arya kirimkan pada Lucas, Laki-laki itu tidak bisa untuk mendiamkan pesan dari sepupunya, dan pada akhirnya Arya pun mengetik balasan untuk Lucas. Arya berharap dengan adanya pesan darinya, dia semakin bersemangat untuk mencari bukti ikatan antara Elin dan Eric.
__ADS_1
Lucas yang membaca balasan dari Arya pun kembali kepalanya berdenyut. "Aku akan temukan di mana makam gadis malang itu, dan papahnya itu. Aku yakin sekali kalau anak dan bapak itu dimakamkan di pemakaman dekat dengan tempat tinggalnya. Tetapi ngomong-ngomong wanita itu tinggal di mana?" batin Lucas lagi, yang mengawasi dan ngikuti untuk menculik dulu adalah Lexi yang melakukanya juga temanya itu, sehingga Lucas ketinggalan informasi mengenai adik tirinya.