Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Hati Bergetar


__ADS_3

Brakkkk... suara pintu yang di banting oleh Lucas.


"Aku harus cari tahu fakta apa saja yang kakek dan Tamara sembunyikan, kenapa aku bodoh sekali selama ini percaya saja dengan semua yang di katakan oleh Philip, seharusnya aku tahu kalau kakek itu adalah orang yang serakah dan selalu menghalakan segala cara untuk sukses, dan menyingkirkan apapun yang menghalanginya, dan bisa jadi Mamih adalah orang yang menghalangi misi Kakek maka dari itu Kakek akan menyingkirkan Mamih dengan cara di kurung di rumah mewah itu." Gigi-gigi Lucas saling beradu, karena kesal, marah dan kecewa menjadi satu, padahal apa yang dia pikirkan belum tentu kebenarnaya.


Lucas marah, dan kecewa karena ternyata selama ini dia telah di bodohi oleh orang rumah ini, dia sudah di buat percaya begitu saja dan seperti orang bodoh.


Tubuh kekarnya Lucas jatuhkan di tempat tidur yang empuk kedua matanya menatap langi-langit kamar yang mewah. "Apa aku harus pergi dari rumah ini, dan akan aku gunakan waktu yang banyak untuk merawat Mamih?" batin Lucas, bingung dengan keputusanya yang akan ia ambil, "Tapi kalau aku pergi. Aku tidak bisa mengawasi apa kira-kira yang akan Philip lakukan. Mungkin saja laki-laki tua itu akanĀ  menyerang Mamih dan juga aku?" Pikiran Lucas menolak apabila dia mengambil keputusan untuk kabur.


"Aku harus tetap berada di rumah ini, kalau perlu aku akan bersikap baik kembali untuk tetap bisa mengintai Kakek, ternyata musuh dengan orang paling dekat adalah sangat berbahaya, karena dia tahu kelemahan dan pergerakan kita," imbuh Lucas, sangat menyesal karena selama ini dia adalah laki-laki paling bodoh, tidak pernah waspada dengan apa yang ada disekitar dia. Dan ia seharusnya curiga kalau orang terlalu baik pasti ada yang disembunyikan, sekali pun itu adalah keluarganya.


Suara ponsel yang bergetar mengagetkan lamunan Lucas, tanganya merogoh saku celananya, dan meraih ponsel yang tersimpan di saku itu. Kening Lucas mengernyit dan kedua matanya menyipit. "Pesan dari siapa?" batin Lucas, ada satu pesan yang datang dari nomor yang tidak di kenal. Karena penasaran Lucas membuka pesan tersebut.


[Mas, besok bisa ketemu tidak? Saya akan mengembalikan jas Anda.] isi dari pesan dari nomor yang tidak di ketahui namanya.

__ADS_1


Bibir Lucas tersungging tanpa sadar. Kemarahanya tiba-tiba menguai, setelah dia tahu siapa orang di balik nomor yang tidak bernama itu.


Jari-jari Lucas dengan lihai menari di atas kybord untuk mengetik balasan untuk bidadari surganya.


[Ada, mau ketemu di mana?] tanya Lucas di pesan teks yang ia kirimkan.


Tidak lama pesan centrang dua berwana biru, dan itu tandanya pesan yang Lucas kirim sudah terbaca. Hati Lucas kembali menjerit gembira ketika membaca keterangan mengtik. Bahkan Lucas seperti orang gila, bahagia dengan hal yang sepele. "Astagah, dia ngetik apa sih kenapa lama sekali," batin Lucas bibirnya tanpa sadar mengumpat wanita berhijab di balik telpon sana.


[Tempat tinggal saya tidak jauh dari rumah sakit jiwa tempat kita ketemu tadi siang, apa kita akan ketemu di depan rumah sakit jiwa itu saja, atau bagaimana? Saya ikut Mas saja.] balas dari pesan itu. Lagi, bibir Lucas tertarik dengan sempurna, garis lengkung menambah wajah tampanya semakin sempurna, dan menghilangkan kesan garang. Dan mungkin gadis berkerudung itu adalah gadis pertama yang membuat Lucas sebahagia itu. Tidak pernah sekali pun Lucas merasakan bahagia seperti sekarang oleh seorang wanita, apalagi hanya dari pesan singkat.


Setelah saling bertukar pesan, dan sudah menemukan titik temu esok hari Lucas dan gadis berhijab akan bertemu. Lucas melemparkan ponselnya keatas kasur. Tanganya terentang. Senyumnya tiba-tiba meredup ketika ia teringat jeritan kesakitan dari Elin, jeritan itu, dan wajah Elin yang ketakutan dan ucapan Arya, berhasil membuat ia ketakutan luar biasa.


"Bagaimana kalau ternyata yang di katakan Arya benar, aku salah sasaran, aku termakan fitnah, balas dendam dengan orang yang salah," lirih Lucas. Tanganya kembali meraih ponselnya, kali ini ia akan menghubungi Lexi. Lucas yang belum tahu kalau Lexi sudah pergi, memutuskan akan meminta bantuan pada Lexi, dan kali ini ia berharap bahwa apa yang dia lakukan pada Elin adalah kebenaran Alias Elin anak pelakor, sehingga ia tidak perlu menyesal telah membuat Elin menjadi wanita hina di muka bumi ini.

__ADS_1


Satu panggilan Lucas tidak direspon oleh Lexi. Di negara yang berbeda, sebenarnya Lexi tahu kalau Lucas meneleponya, tetapi kemarahanya masih menguasai seisi hatinya. Lexi belum bisa memaafkan apa perbuatan Lucas yang sudah membuat wajah Elin hancur. Sehingga Lexi belum bisa memaafkan Lucas dan membiarkan panggilan Lucas begitu saja. Persetan soal Lucas marah atau tidak, yang jelas dia yang saat ini marah besar dengan apa yang dia lakukan.


"Sial, kenapa Lexi tidak mau mengangkat telpon gue, apa anak itu masih marah soal kemarin?" gumam Lucas dia bingung kenapa temanya bisa berubah begitu pedulinya dengan nasib Elin. Bahkan bukan hanya Lexi yang perduli dengan nasib Elin tetapi Arya juga perduli sekali dengan Elin, sampai-sampai dia datang ke dirinya untuk meminta jangan mengganggu wanita itu. Siapa sebenarnya Elin, sampai wajah polosnya berhasil membuat Lexi dan Arya simpati.


Jari jempol Lucas menggeser layar ponselnya, galery adalah pilihan menu yang ia kunjungi. Foto Elin dia cari kembali. "Untung gue masih simpan foto gadis itu, jadi penasaran apa dia sehebat itu wajahnya bisa membuat orang yang melihatnya simpati," batin Lucas.


Gadis berambung gelombang dengan mata abu-abu muda di perbesar foto Elin, dan jari jempolnya mengusap foto gadis yang sudah dia sakiti. "Kenapa wajah dia bisa mirip dengan aku." Lucas beranjak dari tidur telentangnya dan menuju kaca yang besar di hadapanya. Matanya menelisik wajahnya dengan jeli lalu menyamakan dengan gadis yang ada di ponselnya. "Mirip," imbuh Lucas.


Namun buru-buru pikiranya kembali menepis, yah wajar saja gue mirip sama nih cewek, orang bapak kita sama, jadi mungkin ajah kan wajah kita nurun dari bapak kita, makanya mirip. Pikir Lucas, laki-laki itu tidak mau ambil dibikin pusing dengan Elin.


Kakinya kembali melangkah menuju kamar mandi, beskipun bibirnya mengatakan dan berbicara bahwa ia yakin dengan pikiranya yaitu Elin hanya sodara tiri dari pelakor yang sudah merebut papahnya dari mamihnya, tetapi dia masih di bayangi pikiran yang ragu terlebih setiap fakta yang di miliki oleh Elin selalu menepis pikiranya, dan menghantui tubuhnya


Gemericik air dingin dari shower berharap bisa mendinginkan pikiranya. Kini pikiranya panas dan kusut ketika Elin yang dia pikirkan, berbeda ketika Lucas memikirkan gadis berhijab yang tadi sempat ia temui. Meskipun wajahnya dan namanya belum ia ketahui tetapi Lucas bisa merasakan kedamaian dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku tidak takut bisa kembali merajut pertemanan dengan kamu atau tidak? Entah kenapa aku marah dan kesal dengan kamu yang sudah membuat hidup Elin semakin menderita," gumam Lexi yang sudah tidak lagi melihat Lucas memanggil di layar ponselnya.


Ada penyesalan yang sangat dalam ketika Lexi menerima tawaran dari Lucas, kini meskipun Lexi sudah meninggalkan negara Elin tinggal dan mencoba mengubur ingatanya dan melupakan kejadian dia yang telah membuat perhitungan pada Elin, atas perintah Lucas. Tetap saja bayang-bayang bersalah menghantui Lexi. Bahkan untuk konsentrasi untuk bekerja tidak bisa. Ditengah-tengah kesibukan aktifitasnya. Tangisan dan jeritan serta wajah Elin berhasil membuat ia di kejar-kejar dosa. Karma? Yah mungkin itu karma yang dia alami karena telah membuat Elin gadis tidak bersalah menderita.


__ADS_2