Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
PTW #Episode 94


__ADS_3

Elin keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat dan terlihat murung. "Gimana? Hasilnya apa?" cecar Marni yang tidak sabar untuk mengetahui hasil dari pemeriksaanya.


Elin menyodorkan benda pipih yang sebelumnya berada di dalam gengaman tanganya. Marni dengan tidak sabar pun langsung menyambar menda itu dan melihat layar. Wajah Marni tiba-tiba beruba, ia bingung mungkinkah ini kabar bahagia atau justru ini adalah kabar yang buruk?


Kabar bahagianya yaitu kekhawatiranya tidak terjadi, alias sakit Elin bukan karena efek operasi plastik yang sempat dijalani Elin. Namun, kabar kurang menyenangkanya adalah hasil dari pemeriksaan Elin menunjukan kalau benda itu menunjukan garis dua berwarna merah. Yang Elin sendiri tentu tahu hasil dari pemeriksaan itu.


"Aku harus gimana Dok? Masa depan aku hancur, aku sudah tidak bisa mewujudkan cita-citaku. Aku hanya jadi benalu untuk Papah. Aku hanya bawa aib untuk Papah, dan selalu menyusahkan beliau. Kenapa saat itu tidak aku mati saja Dok. Aku lelah menjalani cobaan yang seolah tidak mau beranjak dari tubuh ini. Baru saja aku bernafas lega, belum aku merasakan bahagia yang nyata dua puluh empat jam, tapi Allah kirimkan aku ujian yang lain lagi. Ini bukan kabar bahagia Dok, ini musibah," isak Elin pandangan matanya kosong dan dia sendiri tidak tahu ini mimpikah atau justru ini adalah kenyataan.


"Dok, katakan kalau ini adalah mimpi Dok, ini bukan nyata kan?" Elin menggoyang-goyangkan tangan dokter Marni, yang mana wanita itu juga sama syok dengan apa yang terjadi di hadapanya. Marni mengerjapkan kedua matanya, mengumpulkan kepingan kesadaranya, dan segera menghampiri Elin yang sudah pasti dia kondisinya lebih terpukul dari pada dia sendiri.


"Elin, mohon maaf aku harus bilang kalau ini bukan mimpi Elin, ini kenyataan yang harus kamu terima. Memang ini berat, tetapi ini adalah takdir, garis takdir kamu harus seperti itu," ucap Marni, wanita itu berusaha menasihati Elin yang marni tahu pasti hatinya sedang hancur dan sedang tidak baik-baik saja. Bisa saja segala nasihat yang orang lain ucapkan untuk menenangkan dia hanya jadi lelucon di telinga Elin.


"Tapi kenapa harus Elin Dok? Kenapa harus Elin yang menanggung semua ini. Ada banyak wanita di dunia ini, tetapi kenapa Allah memikulkan beban yang terlalu berat untuk Elin. Apa salah Elin Dokter...."


 Jerit kekecewaan lolos dari bibir mungil itu. Elin tidak bisa mengontrol emosinya dan dia duduk terkulai di depan kamar mandi, menangis dan meraung, menumpahkan sesak di dadanya.


Eric yang tengah duduk di gasebo, terlonjak dari lamunanya dan mengumpulkan kesadaranya laki-laki paruh baya itu langsung lari ketika mendengar suara putrinya menangis dengan suara yang cukup kencang. Pikiran Eric sudah semakin yakin kalau memang ada kabar yang kurang mengenakan untuk di terima oleh kenyataan.

__ADS_1


Tubuh Eric yang lemas berjalan berlahan ketika melihat Elin sedang duduk di lantai dan sedang coba di tenangkan oleh dokter Marni. Mata Eric menangkap bebda pipih yang terjatuh di lantai dekat dengan Elin saat ini duduk. Tangan Eric dengan gemetar mengambil benda itu. Lagi, sesak di dadanya hinggap bahkan hingga dadanya nyeri ketika melihat kenyataan ini.


Dua garis merah yang mengartikan kalau saat ini putrinya tengah hamil, hamil laki-laki yang sudah hampir membuatnya terbunuh. Tangan Eric mengepal dengan kuat hingga benda pipih itu mengerut dan seolah benda itu juga merasakan ketakutan ketika melihat kemarahan Eric. Laki-laki yang selama ini selalu dikenal dengan orang penyabar, tetapi kali ini kilat kemarahan dan dendam terlihat dari api kemarahan yang mengobar di kedua bola matanya.


Cukup lama Eric menghirup nafas dan membuangnya perlahan, bahkan mungkin hingga puluhan kali Eric melakukan hal itu, tetapi tidak sedikit pun dadanya bisa kembali normal. Kemarahan masih mengusainya. Hinga Eric takut kalau bicaranya dia akan menyakiti putrinya.


Laki-laki itu memilih kembali duduk di gasebo, tidak ingin melihat Elin dulu. Marah? Kecewa? Iya Eric marah dan kecewa, tetapi bukan dengan Elin, putrinya. Ia marah dan kecewa pada orang yang telah menghancurkan masa depan putrinya.


Bukan Eric tidak menerima anak yang ada di dalam kandungan Elin, hanya perasaan Eric bercampur jadi satu, berperang antara kemarahan dan kekecewaan pada laki-laki dur-jana itu.


"Siapa pun engkau, wahai laki-laki yang sudah membuat hancur putriku. Dimana pun kamu berada, dosa dan perbuatan kamu yang sudah membuat putriku hancur seperti ini. Aku bersumpah hidup kamu tidak akan pernah bahagia. Hanya sujud di kaki putri aku yang bisa mencabut kutukan ini. Kutukan dari seorang ayah yang sangat kecewa dengan kamu wahai laki-laki baji-ngan." Eric kembali mengepalkan tanganya dan memukul-mukul  meja di hadapanya.


"Dokter, bukanya ada obat yang di buat untuk menggu-gurkan kandungan? Tolong carikan obat itu Dokter Marni. Elin tidak mau anak ini," lirih Elin tanganya mere-mas perutnya dengan kuat. Berharap kalau anak itu akan kembali lenyap. Dosa, entah Elin sudah tidak lagi memikirkan apa itu dosa. Yang terpenting anak itu tidak lagi hidup di dalam perutnya. Untuk membayangkan saja Elin sangat jijih, ketika melihat wajah Lexi, kenapa Tuhan bisa mengirimkan makluk tanpa dosa di rahimnya.


"Aztagfirullohhaladzim Elin, kamu istifar. Itu dosa, sama saja kamu membunuh makhluk Allah terlebih itu anak kamu, buah hati kamu, seharusnya kamu jaga dengan baik, karena dia tidak pernah memilih dan tidak juga tahu kenapa dia bisa di hadirkan di dalam rahim kamu. Dia ada anugrah, meskipun caranya dia dihadirkan dengan cara yang tidak manusiawi. Tetapi anak itu tetap anugrah buat kamu." Marni mengelus rambut yang gelombang milik Elin.


Elin diam saja mungkin dia merenungi apa  yang tengah di ucapkan ole Marni. Elin menatap wajah Marni. Wajah sedih dan sembab sisa air matanya terlihat sangat kacau.

__ADS_1


"Lalu Elin harus gimana Dok, pasti banyak yang mengatakan kalau Elin adalah sampah masyarakat. Elin tidak ada henti-hentinya membuat heboh kampung ini. Elin malu dengan takdir ini. Takdir hamil di luar pernikahan, apalagi kalau bukan sampah masyarakat," lirih Elin, air matanya masih saja mengalir deras.


"Jangan bicara seperti itu Elin, percayalah pasti akan ada hikmah di balik ini semua. Kita akan cari solusinya bersama-sama, tidak akan mungkin Tuhan menghadirkan cobaan tanpa ada solusinya. Bangun yuk istirahat. Nanti kita ke dokter untuk periksa kandungan kamu. Anak ini harus tetap sehat, siapa tahu nanti anak ini yang akan memberikan pelangi penuh warna untuk kamu." Marni memapah Elin dengah hati-hati menuju kamarnya.


Tidak lama Eric juga datang menghampiri putrinya, setelah laki-laki paruh baya itu bisa menguasai emosinya, ia datang mendekat ke putrinya untuk memberikan kekuatan. Tanpa sepata katapun Eric duduk di samping ranjang. Sementara Marni bergantian pergi keluar untuk memberikan waktu untuk Elin dan Eric, Takutnya apabila Marni tetap ada di kamar itu papah dan anak itu tidak merasa bebas.


Eric mengambil tangan Elin yang sedang di main-mainkan karena gugup. Elin bingung mau berbicara dari mana dulu sehingga ia diam untuk beberapa saat. Eric menarik tangan putrinya lalu menciumnya.


"Katakan Papah harus apa agar kamu tidak sedih?" tanya Eric dengan suara bergetar dan terdengar berat. Memang Eric tidak menangis, tetapi dalam hatinya ia juga sama menangis dan sedih dengan nasib putri kesayanganya.


"Maafkan Elin Pah, maafkan Elin. Elin selalu membuat masalah dalam hidup Papah, Elin malu jadi anak yang selalu merepotkan Papah. Elin ingin seperti anak-anak di luar sana yang  bisa membanggakan Papah, Elin ingin itu semuanya, tetapi apa yang Elin lakukan, selalu membuat Papah dalam kesulitan. Elin minta maaf." Tatapan yang tulus terlihat dari bola mata Elin.


Eric menggelengkan kepalanya dengan pelan dan senyum yang mengembang. "Elin tidak pernah merepotkan Papah dan Elin tidak perlu minta maaf. Ini semua bukan salah Elin. Kalau Elin percaya adanya Allah, Elin juga harus percaya kalau yang saat ini terjadi pada Elin itu sudah di gariskan, bahkan sebelum Elin lahir, jadi Elin buang pikiran jelek itu. Elin adalah anugrah buat Papah, dan anak ini (Eric memegang perut Elin yang di dalam sana ada calon buah hatinya) Dan anak ini juga anugrah buat Papah. kita rawat bareng-bareng yah Sayang. Papah senang ternyata papah sebentar lagi akan mempunyai cucu, dan itu tandanya Papah sudah tua," kelakar Eric, dan Elin pun langsung menghambur ke dalam pelukan papahnya.


"Jangan bersedih lagi yah, ada Papah yang selalu ada buat Elin." Eric mengelus rambut dan punggung putrinya. Elin membalas dengan anggukan samar, dan isakan kembali terdengar.


...****************...

__ADS_1


Teman-teman sembari nunggu kisah kelanjutan Elin, mampir di karya teman othor yuk, dijamin seru. Langsung ajah yah cuz meluncur.....



__ADS_2