Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna, #Episode 173


__ADS_3

Elin menghembuskan nafas kasar, ketika perlahan mobil yang ia tumpanginya memasuki halaman rumah mewah itu. Kagum, kaget dan tentunya bingung, yang mana pintu utamanya. Belum kendaraan yang berjejer menunjukan betapa kayanya Philip itu.


"Gila yah, mau masuk rumah Kakek sendiri saja pemeriksaanya ketat banget," gerundel Elin, ia bahkan baru datang kerumah ini kali ini, tentu tidak tahu kalau kakeknya sekaya apa.


"Mereka melakukan ini semua dengan alasan pengamanan Nona, katanya kamu cucu dari Tuan Philip, masa tidak tahu kalau dia seorang milioner, perushaanya tidak hanya satu dua tetapi banyak, belum kebun kelapa sawit yang tebesar di negara ini, kalau pengamananya asala-asalan, rampok bisa-bisa datang setiap hari untuk meminta sumbangan dariĀ  rumah ini," dengus Lexi sembari terkekeh ringan.


"Ya, mana saya tahu kalau Tuan Philip itu sekaya itu, aku pikir dia paling sekelas juragan empang," balas Elin dengan santai.


Sontak saja Lexi tertawa dengan renyah ucapan Elin, yang mengatakan kalau Philip sekelas juragan empang. Padahal dia membeli pulau pribadi saja sangat mampu.


"Tapi ngomong-ngomong gimana ceritanya kamu bisa jadi cucunya Tuan Philip mengingat kalau yang aku tahu, cucu dari sang millioner itu sendiri adalah Lucas?" tanya Lexi kepo, ya kali ajah Elin khilaf dan mau bercerita, gimana ceritanya dia yang hanya rakyat miskin bisa menjadi cucu sang milioner pasti Philip apabila mau mengadopsi juga pasti kira-kira. Apalagi ini Elin anak dari pelakor. Sangat sulit di tebak.


"Dari arisan lotre kali, aku pun tidak tahu, dan malas untuk mencari tahu.. Kalau boleh memilih mending tidak jadi cucu orang kaya gini mau masuk rumah ajah susah bener.


Elin langsung turun dari mobilnya begitu mobil yang ia tumpangi sudah berhenti.


"Tuan, ngomong-ngomong mana pintu masuknya?" tanya Elin pada Lexi yang baru turun dari mobilnya.


Sontak saja Lexi semakin heran. 'Dia itu beneran cucunya atau gimana? Masa pintu masuk saja tidak tahu?' batin Lexi, bingung.

__ADS_1


"Rumah ini kayak mall yang banyak pintunya," jelas Elin yang melihat kalau Lexi kebingungan dengan pertanyaan Elin.


Tanpa berbicara Lexi pun menunjuk pintu yang di jaga dengan dua keamanan dengan pakaian gelap.


"Bilang kek dari tadi kalau itu pintunyy," dengus Elin kakinya setengah dihentakan setelah tahu di mana letak pintunya.


"Cewek aneh." Lexi mengamati rumah mewah itu. "Perasaan pintunya cuma satu, sisanya kaca-kaca besar, kenapa dia bisa bilang banyak pintunya," gerundel Lexi dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sedetik kemudian dia pun masuk mengikuti Elin.


"Ya Tuhan, kamu dari mana saja kenapa Arya bilang kalau kamu akan ke tempat Zakia, tetapi malah kamu pergi ke lain tempat tampa bilang ke Arya, dia panik, Ndook," ucap Eric, yang Elin kira kalau Arya tidak akan bercerita tentang dirinya yang kabur.


"Iya maaf Pah, Elin hanya cari udara segar, lagian Elin sudah besar, masa cuman jalan-jalan ke mall harus diikutin oleh dokter Arya," balas Elin sementara Lexi yang berdiri di belakang Elin pikiranya semakin bingung dan membulat dengan sempurna.


'Apaa Lucas sudah tahu soal ini?' batin Lexi ingin ia menemui temanya saat ini juga untuk menanyakan soal teka teki ini.


"Lexi, kamu bawa kabar apa. Bisa bicara sekarang?" tanya Philip yang berdir di belakang Eric.


Lexi sendiri yang tengah melamun, langsung terkejut dengan suara Philip tanpa menjawab laki-laki berbadan tegap dan tinggi itu langsung mengikuti Philip ke ruangan kerja. Sementara Eric dan Darya saling lempar pandang, dan Elin pun hanya menunduk.


"Mah, Pah, Elin masuk dulu yah, badan pada pegal, hampir seharian jalan-jalan di mall," lirih Elin dengan berbohong, dan juga tidak ingin orang tuanya sadar dengan nama yang Philip sebut barusan.

__ADS_1


Eric pun menujukan kamar yang akan di tempati oleh putrinya.


"Pah, namanya kayak tidak asing yah?" tanya Darya, ketika Elin sudah benar-benar masuk ke dalam kamarnya.


"Eric pun membenarkan dengan apa yang dikatakan oleh Darya. "Iya seingat Papah nama Lexi itu bukanya nama yang sudah memperkosa anak kita. Tapi kenapa mereka terlihat akrab sekali? Bukanya seharusnya Elin marah dengan laki-laki itu," gumam Eric.


"Ah mungkin memang laki-laki itu hanya memiliki nama yang sama," dengus Eric, menepis pikiranya sendiri. Tetap berpikir dengan waras.


Sementara Elin cukup terkejut begitu masuk ke dalam kamar pribadinya yang berada di lantai satu dan dia pun sejak tadi tidak ada henti-hentinya kagum dengan rumah sang kakek, hingga ia sangat penasaran sebenarnya kakeknya itu memiliki bisnis apa, kenapa bisa memiliki rumah seluas ini, dan juga mobil yang terparkir di garasi dan halaman rumahnya mobil dengan harga yang mahal, bukan hanya satu pula.


Elin berjalan menyusuri setiap sudut kamar pribadinya, yang ada kamar mandi di dalamnya. "Astaga... kamar mandinya kayaknya tidak pernah di pakai bersih sekali, sayang mau pakainya juga," gumam Elin, semari mengusap lapisan wastafel kamar mandi yang mengkilap, bersih dan terbuat darii mar-mer. Bahkan sepertinya tidak ada satu helai rambut pun yang tertinggal di kamar mandi itu saking bersihnya.


Kamar mandi kelas sultan sudah Elin lihat-lihat sampai Elin coba kerannya satu per satu. Bahkan Elin tidak melihat ada sampo saset di kamar mandi itu. Sampo dan sabun yang ada di kamar mandi itu bukan yang sering ia beli di warung, entah Elin saja sampai tidak tahu namanya.


Norak? Yah, Elin bahkan tidak tahu kalau rumah juga bisa semewah ini, yang dia pikir hanya hotel-hotel berbintang yang semalamnya sampai puluhan juta yang memiliki fasilitas mewah seperti ini. Setelah kakinya menjelajahi seluruh kamarnya yang mungkin luasnya sama dengan rumahnya kemarin, belum pakaian yang ada di dalam lemari yang ada ruanganya sendiri Elin sampai heran kenapa banyak baju dan perlengkapan cewek, tas, sepatu dan lain sebagainya, sedangkan dia saja tidak membelinya. Elin melihat koper kecil yang ada di samping sofa, ia tetawa sendiri dengan barang-barang dia bawa yang mana sabun cuci muka tinggal setengah ia bawa, dan juga skin care tinggal sisa-sisa ia hemat-hemat, dan ternyata di kamarnya sudah lengkap semua.


Elin merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan menutupi tubuhnya yang terasa dingin dan masih lemas dengan selimut tebaltebal berwarna merah muda.


''Kenapa ketika aku brubah menjadi seorang putri, dengan gelimang harta, aku sekarang sakit, dan tidak akan bisa menikmati kekayaan ini," gumam Elin menatap tasnya yang ada di atas nakas. Di mana di dalam tas itu banyak obat-obatan yang harus dia minum.

__ADS_1


"Kalau aku tidak minum obat-obatan itu apa aku benar-benar akan meninggal? Atau hanya akan menjadi beban pikiran mereka?"


__ADS_2