
"Elin tidak ikut jemput Zakia, Pah?" tanya Darya begitu Eric kembali tanpa Elin di belakangnya.
"Dia masih mual Mah, katanya kepalanya pusing dan mual." Eric mengatakan yang terjadi dengan putrinya. Wajah berbeda terlihat dari Darya dan juga Philip.
"Lalu sekarang Papah mau ngapain?" tanya Darya lagi, yang melihat Eric justru ke dapur bukanya ikut sarapan bersama dengan mereka.
"Elin pengin makan cream sup jagung. Mamah dan Papah sarapan duluan saja, lagian ini masih pagi. Zakia juga pulangnya setelah kontrol dokter, dan jadwal datangnya dokter pukul sepuluh jadi Papah masih ada waktu untuk memasakan apa yang Elin mau," lirih Eric dengan senyum yang mencerminkan kesabarannya.
Philip dua hari tinggal bersama Eric benar-benar entah berapa kali ia merasakan tersentil dengan apa yang Eric lakukan pada anaknya, pantas saja cucunya itu sangat baik prilakunya itu karena Eric yang sangat perhatian, dan bagus dalam pengajarannya.
"Kalau gitu biar Mamah bantu Papah saja biar lebih cepat," lirih Darya, yang bangkit dari duduknya dan menghampiri suaminya yang sudah bersiap untuk masak.
Eric menatap Darya dengan kagum. "Terima kasih. Elin hanya kefikiran dengan semua ini, sehingga badanya merespon kurang baik, tapi semoga saja dengan adanya Zakia dia bisa terhibur dan sedikit melupakan pikiran buruknya," lirih Eric, meskipun Darya tidak bertanya Eric tidak ingin ada ucapan Elin kurang sopan karena tidak mau keluar kamar. Eric tahu kalau badan Elin memang kurang sehat. Wajahnya yang pucat dan tanganya yang dingin sudah cukup bukti kalau Elin memang kurang sehat, bukan sekedar alasan semata.
Sebenarnya Eric juga kasihan ketika melihat Elin seperti ini, pasti batinya tertekan sekali, tetapi Eric juga serba salah berdiri di tengah-tengah pilihan yang sulit. Bukan ingin egois tetapi memang Eric tahu sekeras apapun Elin berlari dia juga tidak akan lepas dari masalah ini, dan juga Elin tidak akan pernah bisa menghindar karena mereka pasti di ujung perjalanannya akan kembali bertemu dengan Lucas, dan yang lainnya. Elin hanya akan lelah bersembunyi, dan hatinya juga tidak akan tenang. Maka dari itu Eric tetap menahan Elin agar tetap di sampingnya. Ia akan selalu memberikan kekuatan pada Elin.
"Yah, Mamah sebenarnya tidak tega melihat dia, tapi gimana lagi kita juga tidak tahu harus berbuat apa sedangkan kita tidak mungkin melepaskan Elin." Darya sengaja berbicara dengan lirih agar Philip tidak mendengar.
"Apa yang sudah kita lakukan insyaallah menjadi jalan yang terbaik untuk semuanya. Memang terlihat jahat dan kejam menekan dan memaksa Elin, tetapi setelah itu Elin akan tenang perasaanya, dia hanya belum siap untuk menghadapi ini semua. Tetapi juga kita tidak boleh terlalu memaksa, biarkan dia bersikap sesuai yang dia nyaman," lirih Eric. Tanpa terasa saking asiknya mengobrol satu menu yang Elin minta sudah selesai.
"Nih, Mamah yang antar sup cream jagung ini pada Elin," lirih Eric, di mana sekarang mereka sudah ada di meja makan. Setiap menu yang Eric masak pasti tidak untuk dirinya sendiri. Ia pasti memisahkan juga untuk Philip, laki-laki paruh baya itu tahu kalau mertuanya suka dengan menu masakanya.
Darya menatap Eric dengan lamat-lamat. "Apa nanti Elin tidak merasa kalau Mamah selalu mengganggunya. Mamah takut kalau Elin kurang nyaman dengan Mamah, kalau dengan Papah Elin pasti lebih terbuka dan mau cerita," adu Darya, wanita itu bukan iri, hanya saja kasihan kalau Elin juga merasa tertekan oleh dirinya.
Eric menggenggam tangan Darya, dan menatapnya dengan hangat. "Justru ini saatnya Mamah mendekatkan diri pada Elin, dan Elin anaknya cepat dekat dengan siapa pun, buktinya dengan Marni dan Jiara dia bisa dekat, sama Mamah pasti bisa banget."
__ADS_1
"Bukan masalah itu Pah, kadang Mamah belum bisa mengontrol perasaan Mamah, Mamah hanya takut nanti mengucapkan apa yang Mamah tidak bisa kontrol seperti malam tadi, Mamah membuat mood Elin tiba-tiba hancur. Itu semua karena Mamah tidak bisa mengontrol perasaan Mamah, justru membahas Lucas di hadapan Elin. Mamah takut salah ngomong lagi, membuat Elin tidak nyaman."
Eric pun berpikir lagi dan membenarkan alasan Darya. "Kalau gitu biar Papah yang membawa makanan ini pada Elin."
Setelah Elin sarapan, dan yang lain sarapan, kini Darya dan Eric pun bersiap akan ke rumah sakit.
"Pah, Eric jalan dulu yah, titip Elin yah Pah. Kalau bisa jangan diganggu soalnya dia suasana hatinya sedang kurang bagus, takut dia malah tertekan," liric Eric ia takut kalau Philip malah mengajaknya berkomunikasi sedangkan Elin belum siap berkomunikasi dengan Philip atau siapa pun.
"Iya kalian baik-baik di jalan, salam untuk cicit Papah," lirih Philip, bahkan ia tidak menyangka sat ini bisa bertahan dengan usia yang belum menginjak tujuh puluh lima tahun, tetapi ia sudah mempunya cicit, bahkan tidak satu, tetapi hampir dua.
Setelah menitipkan Elin pada Philip, Eric pun mulai meninggalkan rumah mewah itu. Sekarang kehidupan mereka bukan orang biasa lagi, tetapi orang yang bergelimang harta bahkan ingin memakai mobil mana saja tinggal tunjuk.
Philip pun yang awalnya ingin menemui Elin berkat ucapan Eric mengurungkan niatanya, ia tahu kalau cucu perempuanya itu sedang tidak baik-baik saja sehingga lebih memilih di dalam kamar terus.
Lagi pula Philip juga masih merasa sangat bersalah karena semua yang terjadi pada cucunya adalah salahnya. Kalau tidak ada kebencian pada diri Philip, Elin dan Lucas tidak akan saling bersitegang seperti sekarang ini.
"Oh Sayang, Opa dan Oma kelamaan jemput yah. Maaf yah Sayang. Kita pikir jam sepuluh dokter baru datang," ujar Darya sembari menggendong Zakia yang sudah siap untuk pulang.
"Iya Mah, Pah, tadi dokternya sudah datang lebih awal dari jadwal, jam sembilan udah di cek dan semuanya normal jadi langsung di lepas alat-alat medisnya, dan ya namanya anak-anak mungkin bosan," lirih Jiara, meskipun ia sudah mengatakan kalau Zakia jangan bilang apa-apa, namanya bocah tetap protes juga.
"Ya udah kalau gitu kita langsung pulang yuk, Tante sudah nunggu di rumah." Eric meminta sopir membawa barang-barang Zakia yang cukup banyak. hampir delapan puluh persen barang-barang itu di dominasi mainan Zakia. Jiara yang ingin bertemu dengan Arya dan Marni pun sampai ia pulang, entah Arya sama Marni tidak kelihatan, padahal dari tadi Jiara bolak-balik mengurus kepulangan Zakia, tetapi tidak juga bertemu dengan Arya dan Marni.
Masih ada rasa penasaran dalam hati Jiara, apa yang terjadi antara Lucas dan Arya paska Jiara pulang, tetapi justru Arya seolah tidak masuk kerja. Mau menanyakan lewat sambungan telepon terkesan kurang sopan.
"Opa, apa lumah Opa dan Oma jauh?" tanya Zakia setelah sekian lama mereka naik mobil tidak juga sampai.
__ADS_1
"Tidak terlalu jauh, sebentar lagi sampai," lirih Eric, dan terlihat sekali kalau Zakia sudah tidak sabar akan bermain kolam renang seperti yang Elin janjikan kemarin di telepon, bahwa di rumah mereka nanti akan ada kolam renangnya.
Elin sendiri di rumah sudah bersiap untuk menyambut Zakia, setelah sarapan dan minum obat ia memang tidak terlalu sakit perutnya, dan Elin memilih bersih-bersih badan dan setelahnya bermain ponsel, menonton televisi, dan membaca-baca buku. Untung kamarnya terasa nyaman sehingga Meskipun Elin seharian tidak keluar ia tetap nyaman di dalam kamarnya.
Tidak lama setelah ia mandi dan perut kenyang Elin pun tertidur kembali, efek obat yang ia minum memang lebih banyak tidur. Hingga kedua mata Elin mengerjap ketika telinganya mendengar suara gaduh anak kecil yang ramai. Celoteh Zakia sampai bisa membangunkan Elin.
"Apa Kia sudah datang," lirih Elin, dan wanita hamil itu langsung beranjak bangun dan mencari sumber keributan.
********
"Wawww... Opa, Oma lumahnya besal sekali," ujar Zakia yang kagum melihat rumah mereka yang sangat mewah, tidak hanya Zakia yang kagum dengan rumah mewah itu, Jiara juga tercengang kalau rumah mertuanya sebagus itu.
"Ini bukan rumah Oma, dan Opa tetapi rumah Eyang (Maaf Othor tidak tahu panggilan untuk uyut itu aapa. Eyang semoga saja benar lah, kalau salah harap maklumi, karena othor tidak punya uyut, dan anggap ajah benar yah)"
"Apa ini rumah Tuan Philip Mah?" tanya Jiara, ia pernah kerja bersama Lucas tentu tahu kakek dari Lucas adalah bukan orang sembarangan dan sangat wajar kalau rumahnya sebesar itu.
"Opa, Oma, apa Kia boleh langsung masuk?" tanya Zakia sudah tidak sabar untuk melihat rumah mewah itu.
"Boleh dong Sayang, tapi jangan lari-lari yah takut jatuh," ucap Darya, dan benar saja Zakia langsung berlari, meskipun sudah diperingatkan jangan berlari tetap saja bocah kecil itu berlari untuk masuk ke rumah megah itu.
Philip sendiri yang sejak tadi menunggu kedatangan mereka langsung langsung meraih tongkatnya dengan langkah tetatih menghampiri halaman untuk menyambut mereka.
Kelopak mata Philip langsung memanas ketika melihat anak usia tiga tahun dengan riang berlari untuk menghampirinya. Namun, langkahnya langsung terhenti kala melihat ada seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu dengan tongkat di tanganya.
"Loh, kenapa berhenti Sayang," lirih Jiara. Zakia pun langsung berbalik dengan wajah yang setengah sedih.
__ADS_1
"Takut Bunda," lirih bocah kecil itu, seolah ia melihat sesosok makhluk goib sedang menunggunya.