Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna. #Episode 213


__ADS_3

Di kediaman mewah tuan Philip. Jiara dan Zakia serta Darya pagi hari langsung menyusul ke rumah sakit, untuk melihat perkembangan pada Elin dan juga Lucas, serta pasti juga pada Philip. Wajah Darya sudah sangat tegang. Membanyangkan papah dan kedua anaknya yang sedang berjuang untuk kehidupan yang baru. Berjuang untuk kesembuhan.


Jiara, dan Darya pun tidak ada obrolan selama di dalam mobil dan juga di dalam selama berjalan di lorong rumah sakit, saat ini mereka datang pukul sepuluh baik Elin maupun Lucas masih berada di ruang PICU. Bukan karena mereka sedang marahan, tetapi otak mereka sedang dalam pikiran masing-masing. Saling memikirkan bagaimana dengan keadaan mereka semua yang saat ini sedang berjuang.


"Jia, mamih mau menemui Kekek dulu yah, kamu duluan nemuin Elin dan Lucas yah..Setelah dari Kakek, nanti mamih menyusul ke sana," ucap Darya yang tiba-tiba berhenti ketika akan ke lantai lain di mana Philip di rawat. Philip adalah orang tua satu-satunya sangat wajar apabila Darya cemas sehingga dia beberapa kali terlihat limbung dan bingung apa yang akan di lakukanya. Seperti orang yang mengindap OCD (Obsessive Compulsive Disorder).


Bagaimana kalau Philip tidak tahan dalam berjuang bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan philip, dan masih banyak pertanyaan tentang Philip lainnya.


"baiklah Mah, titip salam buat Kakek yah, dan semoga Kakek baik-baik saja," balas Jiara dan dua wanita beda generasi itu pun berpisah. Darya ke lantai empat di mana lantai itu khusus pasien jantung dan Jiara sendiri harus ke lantas enam lantai paling atas dengan masih lantai yang menggambarkan adanya ruang operasi yang mengerikan.


Yah sebagian besar orang masih membayangkan ruang opearsi adalah rungan yang sangat menakutkan, termasuk Jiara dalam perjalananya tidak tenang memikirkan bagaimana nasib suaminya, tetapi Jiara bisa bernafas sedikit lega karena ketika tidak ada yang menghubungi itu tandanya Lucas dan Elin setidalnya berhasil menjalani operasinya.


"Bunda... Bunda, Oma mau ke mana kok pisah dengan kita?" tanya Zakia dengan nada yang lirih. Seolah bocah kecil itu tahu kalau bundanya sedang banyak masalah seolah tahu kalau Jiara sedang dilanda segudang masalaah yang berjalan saja kurang bergairah.


Jiara tersentak kaget ketika mendengar pertanyaan dari putri kecilnya. Benar-benar pikiraan dia sedang kalut, sampai-sampai dia hampir tidak sadar dan bingung dengan apa yang terjadi dia benar-benar sudah di landa ke bingungan sampai dia menuntun anaknya saja lupa. Untung Zakia tidak hilang.


"Itu Sayang, Oma mau temui Eyang dulu. Kan Eyang Kia sedang sakit, makanya Oma nemui Eyang dulu, biar semuanya baik-baik saja," jawab Jiara setengah pikiran yang masih ke bingungan, sedangkan wanita itu tidak begitu tahu dengan pertanyaan sesungguhnya Zakia. Dia hanya menebak saja pertanyaan itu yang sebenarnya di lontarkan oleh putri kecilnya.


"Telus kita mau ke mana? Apa Kia akan beltemu dengan Papah?" tanya bocah itu lagi, dengan senyum yang merekah dan juga wajah yang terlihat sangat bahagia. Bahkan bocah kecil itu sudah ingin bercerita banyak hal pada papahnya. Ia ingin bercerita bahwa ia sudah menjadi anak yang baik dengan mendoakan papah dan tante serta eyangnya yang sedang sakit. Mungkin untuk orang dewasa memang biasa saja, tetapi tentu tidak dengan anak kecil itu, hal itu adalah pencapaian yang luar biasa.


Jiara menatap Zakia dengan senyum terbaiknya yang terlukis indah di wajah cantiknya. "Iya Sayang kita akan bertemu dengan Papah, apa Kia suka?" tanya Jiara, ia ingin melibatkan Zakia untuk kesembuhan suaminya. Karena Jiara yakin kalau Lucas akan lebih cepat sembuh dengan hadirnya obat terbaik untuknya. Buah hati adalah hadiah terbaik untuknya.


"Yeh... Kia suka sekali Bunda. Telima kasih sudah ajak Kia bertemu dengan Papah." Lagi, bocah itu memberikan kekuatan yang lebih pada Jiara.


Wanita dengan usia dua puluh empat tahun itu tidak pernah menyangka kalau Zakia adalah obat untuk semua masalahnya, ia kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang bisa-bisanya dia membenci Zakia sedangkan bocah kecil itu tidak salah apa-apa. Hanya karena mata indahnya yang sangat mirip dengan Lucas sampai-sampai dia harus membencinya. Bukan hanya membenci tetapi juga ia ingin membuangnya. Dan mungkin kalau tidak ingat dosa dan kejahatan ia bisa-bisa berpikiran akan membunuh bocah kecil itu.


Kedua mata Zakia pun menangkap dua orang yang sangat ia kenal. Yah, dua, pasalnya Arya sudah pamit undur diri setelah memastikan kalau saat ini baik Elin maupun Lucas hanya butuh waktu untuk penyembuhan. Memang waktu penyebuhan juga tidak menjamin semuanya baik-baik saja, tetapi setidaknya Elin dan Lucas sudah melewati waktu yang sangat menegangkan.


Kini Arya harus kembali bekerja, dia harus bersikap profesional, sebagai dokter jangan terlalu banyak mengabaikan tanggung jawabnya. Sehingga Arya harus kembali bekerja, sedangkan badan dan pikiranya belum sepenuhnya tenang.

__ADS_1


"Papah, Lex, bagaimana keadaan Elin dan papahnya  Kia?" tanya Jiara dengan suara yang lirih, tetapi meskipun lirih suara itu berhasil membuat Lexi dan Eric yang tengah melamun tersentak kaget.


"Jia, Kia, kondisi Elin dan Lucas hanya tinggal penyembuhan dan semoga saja baik Elin dan Lucas tidak ada efek buruk sesuai yang dokter katakan. Mungkin hanya tinggal beberapa jam lagi mereka akan di pindahkan ke ruang rawat." Lexi yang mengabil kesempatan untuk menjawab pertanyaan Jiara, karena Eric masih nampak syok, Lexi takut kalau jawaban Eric justru membuat Jiara cemas. Terlebih tentang kondisi Lucas.


Kedua mata Eric pun awas, mengawasi sekitar yang ternyata ia tidak menemukan pasangan hidupnya yang biasanya membuat dia semakin bersemangat untuk melewati coban-cobaan hidupnya.


"Jia, ke mana mamah mertua kamu?" tanya Eric dengan pandangan mata yang masih awas mengawasi ke lorong rumah sakit, mungkin berharap agar sang istri datang dengan senyum terbaiknya.


Wajah Jiara pun kembali berubah. "Itu Pah, Mamah tidak bisa ikut ke sini dulu sebab Kakek juga jatuh sakit, pagi-pagi terjadi kehebohan di rumah itu karena Kakek yang  tiba-tiba kesehatanya terganggu," jawab Jiara dengan tetap bersikap tenang itu semua karea ia hanya ingin menunjukan bahwa  yang terjadi pada Philip tidak terlalu berbahaya.


"Oh ya Tuhan..." pekik Eric dengan menjambak rambutnya. Benar-benar tahun baru ini mereka diuji dengan ujian-ujian yang tiada pernah ada hentinya. Tidak dengan kesehatan anak-anaknya, bahkan kesehatan anak-anaknya saja masih lima puluh persen kemungkinan untuk sembuh, di hantam lagi dengan ujian yang besar lagi, papah mertuanya sakit.


Sungguh besar memang ujian untuk naik kelas itu. Yah, ini yang Eric rasakan ujianya  untuk naik kelas. Mungkin ini adalah ujian kebahagiaan yang terakhir, tiada henti Eric berharap bahwa ujian ini adalah ujian terakhirnya sudah jangan ada ujian yang besar lagi, bahkan tubuh rasanya limbung, semalaman tidak tidur dan pagi harinya dikabarkan dengan kejutan baru lagi.


Jiara dan Lexi hanya saling pandang, tidak tega sebenarnya menatap Eric seperti itu, dua orang itu tahu betapa beratnya berada di posisi Eric, tetapi sama halnya dengan yang lain, Jiara dan Lexi tidak bisa berbuat apa-apa selain sebuah doa kebaikan.


Zakia sendiri kebingungan dengan sikap opahnya yang nampak sangat kacau.


Jiara mencoba mengembangkan senyum terbaiknya. "Papah masih di dalam ruangan ini, ada Papah dan juga Tante Elin. Kita hanya boleh tunggu di sini. Kia doa untuk Papah dan Tante Elin agar mereka cepat sembuh yah," balas Jiara, dengan bahasa mudah dipahami menjelaskan kembali di mana orang yang sangat di carinya yaitu papahnya.


Zakia mengagguk dengan pasrah. "Apa Papah sedang bobo kalena cape?" tanya Zakia lagi. Jiara pun hanya membalas dengan anggukan sebagai jawabanya.


"Betul Papah dan Tante Elin sedang bobo karena cape dan nanti sebentar lagi kan bangun untuk bermain dengan Kia, tapi kalau Kia berdoa untuk mereka, kalau tidak berdoa Tuhan tidak akan mengabulkan  apa mau Kia."


"Kia mau beldoa untuk Papah dan Tante Elin." Kembali bocah kecil itu melangitkan doa-doa kebaik untuk kesembuhan tante dan yang paling penting ialah papahnya.


Lexi yang melihat kepandaian Zakia pun terenyuh. Memang anak-anak itu baik dan buruknya sangat tergantung pada ajaran orang tuanya, dan yang paling berpengaruh adalah ajaran dari sang ibu.


Tidak lama Jiara datang, dokter mengabarkan kalau Elin sudah mulai sadar dan akan di pindahkan ke ruang rawat saat ini juga. Dan tentu meminta Eric dan yang lainya menunggu di ruang rawat.

__ADS_1


"Dok tunggu, kalau Elin sudah sadar dan  sudah bisa di pindahkan, lalu bagaimana dengan kondisi suami saya, Lucas? Dia baik-baik saja kan?" cecar Jiara dengan pandangan mata mulai meremang, karena selaput bening yang menghiasi bola matanya.


Dokter nampak menghela nafasnya. "Maaf Nyonyah, untuk kondisi Lucas kami belum bisa katakan beliau berhasil seratus persen, masih ada tahapan yng harus beliau lewati dengan serangkaian perawatan ini. Mungkin waktu untuk penyembuhanya akan jauh lebih lama, dan kondisinya memang lebih jauh kurang beruntung dari Nyoyah Elin.


Jiara langsing terduduk dengan lemas, air matanya tidak bisa di bendung lagi. "Kenapa mesti kamu, kenapa di saat aku sudah memaafkan semua kesalahan kamu, kamu harus uji cinta kita begini hebatnya. Apa aku terlalu meragukan untuk kamu, apa asebegitu ragunya kamu  mencintai aku, sampai-sampai kamu uji aku dengan sebegini hebatnya?" racau Jiara dengan isakan, dan nada bicara yang terdengar berat menandakan bahwa yang ia rasakan sangat sesak di dadanya.


Sementara Zakia yang melihat kesedihan di wajah bundanya pun ikut menangis, seolah ia tahu apa yang sedang dialami oleh bundanya. Bocah kecil itu ikut terisak sedih. Sehingga Lexi harus segera mengambil Zakia agar ia tidak tahu kalau Jiara sedang menangisi papahnya.


"Kia, apa Kia mau melihat adik bayi Eril, katanya adik bayi kangen sama kakak Kia, yuk lihat adik Eril." Lexi mencoba membujuk bocah usia tiga tahun itu, tetapi Zakia yang terlalu cemas dengan kondisi ibunya pun menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Tidak Om Leci (Panggilan Kia Leci karena faktor usia yang masih susah membedakan pengucapan hurup X dan C) Kia mau temanin Bunda dan temanin Papah, kasihan Papah tidak ada yang temanin." Oh ya Tuhan baik Lexi maupun Eric yang mendengarnya langsung tersentuh dengan ucapan anak kecil itu.


"Jia, ayo kita ke ruangan Elin, nanti Lucas pasti akan menyusul," ucap Eric mencoba membujuk Jiara, setidaknya kalau di ruangan Elin memang jauh lebih nyaman, di mana ruangan yang luas, dapur sofa dan Eric juga memesan kamar yang terbaik dengan di lengkapi dua ranjang pasien dan yang satu memang dikhususkan untuk keluarga yang menjaga agar bisa istirahat dengan nyaman ketika menjaga keluarga mereka.


Jiara kembali menatap iba pada Eric. "Mas Lucas gimana Pah? Jia terlalu takut kalau  Mas tidak bisa bertahan, sedangkan Jia selama ini belum bisa memberikan kebahagiaan pada Mas Lucas. Selama ini Jia selalu acuh dan cuek dengan dia."


Eric pun duduk berpindah di samping Jiara yang sedang memangku Zakia. "Kamu dan papah tidak ada bedanya papah juga masih belum bisa membahagiakan Lucas. Papah sama memiliki cita-cita akan menebus dua puluh delapan tahu hidup Lucas tanpa papah yang mendampingi dalam setiap hari-harinya. Dan andai Tuhan mengizinkan Lucas sembuh makan Papah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu papah pasti akan menebus kasih sayang yang selama ini tidak di dapatkan oleh Lucas."


Jiara pun tersentak dengan ucapan Eric, benar apa yang dikatakan oleh laki-laki itu dia  terlalu menganggap dirinya paling bersalah, padahal masih ada orang tua yang pling berhak atas anaknya. Eric dan Darya pasti lebih sedih dari Jia.


Wanita berhijab itu pun mencoba mencoba mengerti dengan posisi Eric dan Darya, dan dia pun menganggukan kepalanya dan beranjak bangun. "Kita lihat Elin, pasti sekarang sedang nunggu kita," ucap Jiara dengan senyum terbaiknya.


Biarkan masalah Lucas di serahkan pada dokter mereka pasti tahu dan lebih paham apa yang tebaik untuk suaminya, sehingga dia tidak harus berlebihan untuk mencemaskanya. Serahkan semua yang terbaik pada perawat dan dokter yang bertanggung jawab.


Lagipula Jiara tetap duduk di depan ruangan itu juga tidak berpengaruh apa-apa Jiara tidak bisa membuat Lucas langsung bangun dan membantu apabila terjadi sesuatu. Sehinggi ia pun memutuskan menemani Elin saja yang sudah bisa di perboleh kan untuk dijenguk.


Sementara Lucas jangankan untuk di jenguk uantuk mengetahui keadaanya saja Jiara tidak tahu. Masih benar-benar menjadi rahasia bagaimana kondisi suaminya itu.


"Bunda apa kita akan temui Papah?" tanya Zakia dengan wajah yang ceria.

__ADS_1


"Tidak Sayang, untuk sekarang kita temuinya tante Elin dulu yah. Papah masih bobo," balas Jiara dengan memberikan pengertian pelan-pelan bagaimana kondisi papahnya, agar Zakia tidak bertanya terus menerus, dan agar Zakia juga selalu meluangkan waktu untuk berdoa untuk kesembuhan papahnya.


__ADS_2