
Ahhwwww... Elin meringis ketika dibagian perutnya terasa nyeri yang teramat, bahkan kedua matanya sampai berkunang-kunang.
"Ya Allah, kenapa akhir-akhir ini Elin merasakan kalau ada yang bermasalah dengan tubuh ini," batin Elin sembari mere-mas perutnya di dalam pakaiannya. Elin teringat beberapa waktu lalu ia juga merasakan sakit yang sama, bahkan, ia hampir pingsan karena sakit itu. Cukup lama Elin menahan sakit itu. Dengan perasaan tenang, ia pun berkali-kali mengatur pernafasanya.
Wanita itu menghirup nafasnya dalam, dan membuangnya dengan perlahan. Terus Elin melakukan itu. Hingga rasa itu sedikit berkurang.
"Apa aku harus melakukan check up ke dokter? Tapi aku tidak sanggup kalau ternyata aku memang menderita sakit," lirih Elin dengan perlahan.
Tokkk...Tokkk... Eric pun mengetuk pintu kamar putrinya.
"Sayang apa kamu sedang tidur?" tanya Eric dengan sangat sopan. Sementara Elin di dalam kamarnya masih terus berusaha menghirup nafasnya dalam dan membuangnya berkali, kali berharap saat ini juga sakitnya hilang.
"Iya Pah, Elin tidak apa-apa hanya kecapean pengin istirahat sebentar," jawab Elin , agar papahnya tidak curiga.
"Kalau gitu istirahatlah, tapi kalau nanti sudah tidak cape tolong temui Kakek yah, beliau ingin ketemu dengan kamu," imbuh Eric, sebenarnya Philip tidak ada secara langsung berbicara seperti itu. Hanya inisiatif dari Eric saja agar Elin kenal dengan keluarga besarnya.
Elin menghirip nafas dalam, dan membuangnya perlahan. "Baik pah, beri waktu Elin setengah jam untuk tidur," balas Elin lagi, danEric pun tidak masalah, karena ia memang tahu wanita hamil butuh waktu istirahat yang lebih. Apalagi Elin sejak tadi membungkus ratusan ayam ungkep dan itu pasti sangat melelahkan.
Tesss... air mata Elin kembali jatuh. "Ya Tuhan tolong sembuhkan rasa sakit ini. Nak kamu jangan nakal yah, kamu harus tahu Mamah harus tetap kuat untuk menghadapi ini semua," lirih Elin dengan mengusap lembut perutnya yang makin membuncit.
Setelah itu pun Elin benar-benar tertidur rasa sakitnya banyak menguras tenanganya hingga ia tertidur dengan pulas.
Eric dengan dibantu oleh Darya pun memasak di dapur, sedangkan Philip dan Arya bercerita panjang kali lebar di gasebo depan, ini adalah kedekatan yang paling intim di antara mereka. Di mana biasanya mereka akan sangat jauh, bahkan sekedar mengobrol Philip jarang lakukan, dalam pikiranya hanya satu kerja dan kerja.
"Pak, Elin kenapa?" tanya Darya ketika sejak tadi ia tidak melihat putrinya.
Eric menatap pintu kamar Elin yang masih tertutup dengan rapat. "Tadi bilangnya cape punggungnya pegal dan meminta waktu untuk istirahat," ucap Eric yang sebenarnya dia mengerti mungkin yang di lakukan oleh putrinya adalah upanya menghindar. Eric pun tidak akan memaksa putrinya agar menemui Philip, semaunya Elin saja karena Eric tidak ingin memberikan beban pada putrinya.
__ADS_1
Darya pun mengangguk mengerti dengan ucapan suaminya, meskipun ia juga pasti tahu apa yang Elin rasakan, meskipun Darya tidak tahu dengan detail yang terjadi di antara Elin dan Lucas dulu, separah apa luka yang dialami oleh Elin, tetapi ia tahu kalau Elin memang sangat trauma, dan tentunya belum bisa melupakan sepenuhnya.
Setelah hampir satu jam Eric bersama Darya memasak kini mereka keluar dengan membawa hasil masakanya, dan Eric pun lagi-lagi memanggil ke lima bawahan Philip yang di bawa untuk menjaga tuannya untuk makan bersama, menu nasi liwet dengan sambel, lalap, ayam goreng ungkep jualanya, serta tempe dan tahu goreng, memang menu yang ia masak sederhana, tetapi bisa dipastikan yang makan akan suka.
"Pah, makan yah, Papah selama ini belum cobain masakan Eric, sekarang tidak boleh nolak harus makan, dan beri nilai berapa hasil masakan Eric," ucap Eric sembari menyodorkan sepiring nasi liwet dengan lauk yang ia masak barusan.
"Ini sih dari harumnya sudah bisa di nilai kalau rasanya pasti juara," cicit Philip, bahkan ia yang tadi di rumah tidak ada nafsu makan. Kali ini justru ia sepertinya sangat tergoda dengan masakan menantunya.
"Kalau gitu Eric mau masuk dulu panggil Elin," pamit Eric.
"Iya Om, dar tadi tidak lihat Elin," balas Arya saking bahagianya bahwa Philip akhirnya menerima pilihan tantenya. Arya sampai tidak sadar bahwa Elin tidak ada di antara mereka.
"Iya Elin tadi bilang pengin tidur setengah jam, punggungnya panas habis peking ayam sendirian," jawab Eric dan setelah itu Eric berjalan kembali ke dalam rumahnya untuk memanggil putrinya, selain untuk makan bersama, Eric juga ingin mengenalkan putrinya pada Philip.
Tokkkk... Tokkk... Eric kembali mengetuk pintu kamar putrinya yang dia yakini masih tertidur, hal itu karena sudah beberapa kali Eric mengetuk pintu kamarnya, tetapi Elin tidak juga menyahutnya.
"Ndok, bangun makan dulu yuk," ucap Eric dengan menepuk pundak putrinya dengan pelan.
Elin pun mengerjapkan matanya berkali-kali, hingga pandangan mata yang gelap menjadi sedikit terang. Senyum tersungging dari bibir Elin.
"Maaf Elin ketiduran lama yah?" tanyanya dengan suara yang serak.
"Tidak kok kamu juga pasti cape banget," balas Eric sembari membantu putrinya bangun. Eric tahu bahwa putrinya telah menangis, mata yang sembab dan wajah yang pucat, tetapi Eric tidak tahu selain menangis Elin juga sedang merasakan tubuhnya yang tidak baik-baik saja.
"Papah duluan saja Elin mau bersih-bersih dulu." Elin pun setelah papahnya ke luar ia membersihkan diri di kamar mandi dan memoles wajahnya yang pucat, agar tidak ada yang tahu kalau dia sedang kurang sehat.
Setelah ia yakin wajahnya lebih segar, wanita itu pun mengikuti apa yang Eric inginkan menemui sang kakek. Meskipun ia enggan, tetapi kasihan nanti yang terbawa namanya buruk adalah papahnya juga. Elin takut kalau Eric di nilai tidak bisa mendidik putrinya, wanita itu juga ingin menunjukan bahwa papahnya bisa mendidik anaknya dengan baik, sopan dan ramah.
__ADS_1
Meskipun ia dalam hatinya marah dan kesal, sebisa mungkin Elin tahan, demi sang papah di mata kakeknya baik.
Elin mengembangkan senyum begitu keluar dari rumahnya. banyak laki-laki yang tidak ia kenal, tetapi kedua matanya sudah tertuju pada laki-laki tua yang duduk di sampng Arya, yah wanita itu bisa menyimpulkan bahwa laki-laki tuan itu adalah kakeknya, dia adalah orang yang sudah membuat hidupnya susah.
Namun, lagi-lagi ia harus bersandiwara, memberikan senyum terbaiknya.
Meskipun pakian yang dikenakan Elin adalah pakian dengan harga yang murah, tetapi tidak mengurangi kecantikanya.
"Sudah lama Dok?" tanya Elin pada Arya, dan tentu sebelumnya sudah memberikan senyum terbaik pada laki-laki tua itu dengan menundukan kepalanya dengan sopan. "Maaf Elin baru bangun, tadi ketiduran, niatnya setengah jam, malah kebablasan," kelakar Elin yang sudah akrab dengan Arya.
"Pntesan dicariin buat bikin kopi nggak ada," balas Arya tidak kalah berlkelakar agar suasanya tidak tegang.
Elin pun mengulurkan tanganya untuk bersalaman dengan laki-laki tua yang Elin yakini dia adalah Kakeknya. Dari tatapanya saja Elin sudah tahu kalau sang kakek sedang mengagumi dirinya.
"Pah, ini Elin, Papah pasti tahu dia siapa," ucap Darya dan benar saja Philip langsung memeluk tubuh cucunya dengan kuat, bahkan tubuh Elin yang ukuranya lebih kecil tenggelam di dada Philip yang memiliki tubuh tinggi besar.
"Eric berhasil mendidik kamu, kamu anak yang hebat," lirih Philip dengan mengusap rambut Elin.
Sementara Elin hanya diam, dia tidak merasakan sedih maupun terharu, sedalam itu sakit di hatinya hingga kejadian yang mengharukan Elin tetap bersikap tenang dan santai, atau bahkan hatinya sudah tidak ada rasa sedih lagi untuk laki-laki yang tengah memeluknya.
Namun, berbeda ketika dirinya seorang diri dia akan terus menumpahkan air matanya. Hingga ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menghentikanya. Sebelum air mata itu habis maka akan terus jatuh, tetapi di saat pertemuan yang menyedihkan seperti sekarang ini bahkan Philip sendiri sampai menangis ia tidak ingin menangis, justru bibirnya tersenyum di balik dada sang kakek.
"Maaf, karena Kakek hidup kamu hancur. Maaf seharusnya kamu juga mendapatkan hak yang sama dengan kakak kamu, tapi Kakek terlalu pilih kasih sampai kamu sebesar ini Kakek tidak tahu," ucap Philip terus meracau, dan Elin lagi-lagi hanya diam.
Dia bingung mau menjawab apa. Setelah Philip meluapkan apa yang mengganjal di hatinya laki-laki tua itu melepaskan tubuh kecil Elin. Dan wajah Elin biasa saja tidak terlihat sedih sama sekali. Yah, karena dia melakukan ini semua agar papahnya tidak di cap gagal mendidik anaknya, sehingga ia tidak merasakan kedekatan dengan sang kakek.
"Makan Ndok, Eric menyiapkan makanan untuk putrinya. Elin pun menikmati makanan seorang diri, karena yang lain sudah lebih dulu makan, bahkan Philip akui masakan menantunya sangat juara, pantas ayam ungkep yang ia jual di beri nama ayam ungkep juara. Itu karena olahan tangan enak dan menjadi juara.
__ADS_1
"Kalian jangan tinggal di sini yah. Kalian ikut Papah pindah," ucap Philip, dan Elin hanya tertawa renyah dalam hatinya, ia sudah bisa tebak kalau bahagianya akan semakin sulit untuk digapai ketika kakeknya sudah ikut campur dengan keluarga papahnya, dan mamahnya. Lagi, demi bahagia mereka Elin harus bersandiwara kalau ia juga senang dengan pertemuan ini.