
"Selamat pagi Sayang," sapa Lucas dengan suara berat dan seraknya. Bibirnya melengkung memberikan senyum terbaiknya.
Tidak mau kalah Zakia pun membalas senyum terbaik untuk papahnya."Selamat pagi My Helo," balas Zakia dengan memeluk tubuh papahnya yang badanya jauh lebih besar dari dirinya. Sedangkan Jiara sediri sejak pagi ia menjalankan kewajibanya, langsung pergi untuk mencari udara segar dan sarapan, dan melihat kondisi papahnya yang dirawat di rumah sakit ini juga.
Sejak dirinya yang izin menemui papahnya, sekaligus ia izin untuk memindahkan Bima ke rumah sakit yang lebih memadai. Akhirnya semuanya terkabul, Jiara juga bisa sekaligus mengeceknya.
"Apa Kia bobonya nyenyak?" tanya Lucas dengan melakukan hal yang sama yaitu mengusap pipi sang putri.
Zakia dengan semangat mengangguk. "Apa Papah suka bobo sama Kia?" tanya sang putri tidak mau kalah, dan Lucas pun sama mengangguk. Ia baru merasakan nyaman tidur saat ini di temani putrinya. Kedua mata Lucas berkaca-kaca ketika sang anak mencium keningnya.
"Kia sayang sama Papah," lirih bocah kecil itu, dan sontak saja rasanya dunia itu berhenti berputar. Ingin Lucas mengatakan pada sang putri bahwa ia akan bersama-sama terus, tetapi Lucas juga takut kalau harapnya justru hanya akan membuatnya terpojok, dan membuat Zakia berharap terus.
"Papah juga sayang sama Kia. Kia cepat sembuh yah, Papah janji akan mengajak Kia jalan-jalan apabila nanti putri Papah sudah sembuh," ucap Lucas, sembari memeluk tubuh kecil putrinya.
Seketika laki-laki itu langsung menginggat semua dosa-dosanya dari yang ia selalu mempermainkan banyak wanita dan juga ia yang sampai detik ini menjadi pemimpin tertinggi dalam bisnis gelapnya. Lagi, Lucas teringat dengan langkah Lexi. Dulu Lucas kenal bisnis gelap itu karena Lexi dan Lexi sendiri sudah mundur dari kerjaan haram itu dan kini berati saatnya Lucas yang harus berani meninggalkanya. Biarkan mereka begerak dengan pemimpin yang barunya.
"Pah... Papah kenapa melamun?" cicit Zakia yang menatap kalau Lucas sedang melamun dengan tatapan yang kosong.
"Ah, tidak Sayang. Papah hanya takut kalau nanti Papah dan Kia tidak akan bisa bertemu lagi. Papah takut kalau Kia malah lupa dengan Papah," elak Lucas yang secara tidak langsung mengalihkan kecurigaan putrinya.
__ADS_1
Zakia kembali mengusap pipi Lucas yang sedikit kasar karena bulu-bulu halus yang sudah tumbuh cukup banyak. Tangan mungilnya menyusuri hidung sang putri dan juga bibir Lucas yang merah. "Papah, kenapa Bunda marah sama Papah?" lirih Zakia dengan mata yang berkaca-kaca. "Apa Papah sudah jahat sama Bunda?"
Deg!!! Jantung Lucas seolah berhenti berdetak ketika mendengar pertanyaan Zakia.
Tangan Lucas dengan gemetar mengusap pipi Zakia. "Kia tahu dari mana kalau Bunda marah? Bunda tidak marah Sayang. Papah dan Bunda baik-baik saja," ucap Lucas dengan suara yang bergetar, hatinya sakit ketika masalahnya dengan menjadi beban pikiran untuk putrinya.
"Bunda, tadi pagi nangis waktu sholat subuh," adu Zakia.
Sementara Jiara yang baru mau masuk ke dalam ruangan putrinya pun mengurungkannya dan hanya mematung ketika Zakia tahu kalau hubunganya dengan papahnya tidaklah baik-baik saja seperti yang dia lihat.
"Kenapa aku tidak bisa sedikit saja menekan egoku untuk tidak menunjukan kebencianku pada Lucas. Aku sudah membuat hati Zakia sedih," batin Jiara mengutuk keegoisanya sendiri. "Seharusnya aku lebih bisa menahan marahku, menahan tangisku, menahan, kekecewaanku. Saat ini aku malah semakin membuat Zakia sedih."
Kaki Jiara pun diayunkan menuju kursi tunggu, yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Arya yang baru saja keluar dari ruangan Philip melihat kalau Jiara sedang duduk termenung dengan wajah yang masam pun datang menghampirinya. "Apa Lucas membuat masalah lagi?" tanya Arya sembari mengambil duduk di samping Jiara.
Jiara yang sejak tadi tengah melamun pun tersentak dengan pertanyaan Arya. "Anda Dokter, saya pikir Lu..." Jiara tidak melanjutkanya.
"Apa Lucas membuat masalah lagi semalam?" tanya Arya mengulang pertanyaanya yang ia tahu kalau Jiara pasti tidak mendengarnya.
__ADS_1
Wanita berhijab itu menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Bukan Lucas yang membuat masalah, tetapi aku yang membuat masalah. Aku tidak bisa berpura-pura baik-baik saja. Zakia tahu kalau aku dan Lucas tidak dalam baik-baik saja," lirih Jiara. "Kenapa orang-orang sangat gampang berdamai dengan masa lalunya demi anak-anaknya. Kenapa aku tidak bisa Dok? Apa aku terlalu egois dan keras kepala?" tanya Jiara suaranya semakin serak. Yah Arya tahu wanita yang berada di sampingnya sedang berusaha dengan berat menahan tangisnya.
"Aku tidak tahu Jiara orang-orang itu bisa benar-benar berdamai, atau mereka juga kalau berdua akan saling diam membisu seperti yang dilakukan oleh kamu dan Lucas. Aku tidak tahu berada di posisi kamu, tapi andai kamu mau mengikuti saran dari aku, coba kamu berbicara dengan Lucas empat mata. Dan kamu katakan pada dia luapkan kemarhanmu. Katakan hal yang selama ini mengganjal di dalam hatimu. Biarkan Lucas tahu perasaanmu. Mungkin dengan kamu mengatakan jujur dengan apa yang kamu pendam selama ini. Kamu akan bisa lebih bisa berdamai dengan hatimu. Kasiah Zakia dia butuh dukungan untuk sembuh terutama dari orang tuanya. Aku hanya takut Zakia akan kepikiran dengan hubungan kalian dan ia akan sedih dan kesehatan dia kembali drop." Arya menempuk pundak Jiara.
"Kamu wanita kuat, jujur aku salut dengan kamu dan Elin, andai posisi aku ada di kalian aku belum tentu bisa sekuat kamu. Bertahan sampai detik ini, dari yang membenci Zakia hingga kamu bisa berdamai dengan hatimu dan menerima anak itu dan merawatnya dengan tulus. Kamu juga pasti bisa berdamai dengan masa lalumu," imbuh Arya.
Jiara hanya membalas dengan senyum getirnya, tetapi ia akui saran Arya sepertinya ada benarnya, kalau Jiara marah dan melupakan apa yang ia katakan mungkin ia akan sedikit merasakan kalau sesak di dadanya akan berkurang.
"Oh iya kondisi Tuan Philip bagaimana?" tanya Jiara mengalihkan obrolan mereka yang membahas Lucas terus.
"Baik, kondisinya semakin membaik, beliau hanya terkena serangan jantung ringan. Dan itu tidak terlalu berbahaya untuk kesehatanya. Sedikit istirahat maka beliau akan sembuh," balas Arya, dan memang itu yang terjadi. Kalau tubuhnya yang lemah memang sudah berumur sehingga tubuhnya semakin lemah.
"Syukurlah semoga cepat sembuh kembali."
"Amin, udah masuk sanah, perbaiki komunikasi jangan diam-diaman terus," ucap Arya, padahal dia sendiri tidak pernah menikah dan berada di posisi Lucas dan Jiara tetapi untuk nasihat-nasihatnya bisa diandalkan. Dan Jiara sendiri mengakui kalau Arya memang bijak. Andai tidak ada Arya mungkin m semua yang terjadi pada keluarga Eric tidak akan secerah ini.
"Kalau gitau, aku masuk dulu yah. Dokter Arya nggak ikut masuk. Jia beli makanan banyak nih." Jiara menujukan bungkusan makanan yang cukup banyak.
"Tidak usah, calon istri nanti juga akan datang dengan membawa sarapan. kalau tidak di makan bisa marah," bisik Arya, dan hal itu berhasil membuat Jiara terkekeh. Pasangan Marni dan Arya memang sedikit menggemaskan. Mungkin kalau dibandingkan diantar tiga anak muda yang bernasib percintaanya sangat baik dan bikin baper adalah dokter Arya dan dokter Marni.
__ADS_1
Namun di balik kemesraan yang mereka tunjukkan ada perjuangan Marani yang sempat dianggap menyebabkan oleh Arya dulu.
"Ok lah, kalau gitu salam yah untuk dokter Marni," ucap Jiara sebelum benar-benar masuk ke dalam rungan sang putri. Langsung di balas dengan dua jempol dan anggukan kuat oleh Jiara.