
Philip menatap bocah yang sedang berlari dengan gembira. Hatinya langsung memanas, kala ia membayangkan kalau dulu dia tidak berkeras melarang Eric dan putrinya menikah mungkin kebahagiaan dikala usia senjanya akan lebih dari ini. Yah, hatinya bahagia ketika melihat ada bocah kecil berlari ke arahnya berdiri. Namun sesaat kemudian lari riang itu seketika berhenti kala bocah itu melihat ada Philip di abang pintu berdiri dengan mata memerah.
"Loh, kenapa berhenti Sayang," lirih Jiara. Zakia pun langsung berbalik dengan wajah yang setengah sedih.
"Takut Bunda," lirih bocah kecil itu, seolah ia melihat sesosok makhluk goib sedang menunggunya. Zakia pun berbalik ke arah, opa, oma dan bundanya yang sedang berjalan menuju Zakia.
"Kia, itu Eyang, ayo dong di sapa, sama Kia," lirih Darya dengan mengambil langkah lebih cepat dari yang lain, dan Zakia pun mengikuti Darya yang meraih tanganya. Bocah kecil itu berusaha tersenyum kala Philip lebih dulu tersenyum padanya.
"Selamat datang Kia, ini sekarang jadi rumah Kia," lirih Philip dengan merentangkan tanganya menyambut kedatangan cicitnya. Zakia tersenyum semakin lebar. Ia mengira kalau laki-laki tua itu galak, tetapi dugaannya salah ia ternyata baik dan tidak menyeramkan seperti apa yang dia bayangkan.
"Lumahnya bagus Eyang, Kia suka," lirih Zakia, tidak henti-hentinya memuji rumah Eyang nya.
"Iya Kia mau main di taman belakang rumah ada taman untuk bermain." Philip menunjuk taman belakang yang ada kolam renang, dan beberapa kursi untuk santai dan juga ayunan.
Jiara pun mengulurkan tanganya untuk berjabat tangan dengan empunya rumah.
"Selamat datang Jiara," sapa Philip dengan ramah.
"Terima kasih Kek, mohon maaf kalau kedatangan kita bikin rumah jadi berisik, apalagi ada Zakia yang pasti nanti tidak bisa diam, pasti akan menimbulkan kebisingan."
"Tidak Jia. Kakek malah senang kalau rumah ini, jadi ramai. Kakek sudah tua ingin melihat anak, cucu dan cicit berkumpul dengan bahagia." Philip pun meminta mereka masuk.
"Tante..." Zakia langsung berlari menuju Elin yang berjalan menghapiri keluarganya. Mereka pun berpelukan. "Tante, ayo kita belenang Kia ingin belenang Tante," oceh Zakia sembari menarik tangan Elin.
"Hai, Sayang Kia kan baru pulang dari rumah sakit, jangyn berenang dulu. Kita main air saja di pinggir gimana?" usul Elin, lagian hari mulai siang berenang kurang cocok untuk kulit mereka.
__ADS_1
Bocah kecil itu nampak berpikir keras, dan setelah itu ia langsung menganggukan kepalanya. "Ya udah Kia mau main ail sama Tante, ayuk tante!" Zakia menarik-narik tangan Elin, dan Elin pun mengikutinya.
"Kak, Elin ke belakaang dulu yah," sapa Elin pada Jiara dan mereka pun mengobrol dengan hangat, sementara Elin sendiri sedang bermain air dengan Zakia, yang nampak sangat bahagia. Seolah gadis kecil itu dalam keadaan baik-baik saja. Anak kecil itu tetap saja ceria. Sehingga Elin pun merasakan hal yang sama. Elin merasa malu pada Zakia yang tetap terlihat sehat, meskipun dalam tubuhnya ada suatu penyakit.
"Tante, kenapa Kia tidak boleh belenang," lirih Zakia, seolah ia kurang puas hanya bermain air di pinggiran kolam.
"Kia belum izin sama Bunda, lagi pula ini panas, nanti sore aja berenangnya yah," lirih Elin. Zakia melihat ke atas yang mana saat ini cuaca tidak begitu panas karena mendung.
"Ini tidak panas Tante. Ini mendung apa Kia juga tidak boleh belenang," protes Zakia kembali dengan tatapan yang memohon.
Elin nampak diam, ketika bocah kecil itu memohon, tidak bisa menolaknya, tetapi juga tidak tahu apakah berenang aman untuk kesehatanya yang baru saja keluar dari rumah sakit. "Gimana kalau Kia tanya sama Bunda, apakah Elin diizinkan oleh Bunda untuk berenang atau tidak," ucap Elin, dan anak kecil itu lagi-lagi langsung beranjak dengan sigap dan berjalan kembali ke ruangan, di mana Bunda dan keluarga yang lain sedang berkumpul.
Elin sendiri memilih duduk di ayunan sebari menikmati taman yang indah dan tertata dengan rapih, bahkan Elin tidak tahu ada berapa pekerja di rumah kakeknya hingga tamanya bersih dan nyaman untuk bersantai.
"Bunda... Bunda... Apa Kia boleh belenang. Kata Tante Kia halus bertanya pada Bunda," ujar Zakia dengan suara yang memelas.
Wajah bocah kecil itu langsung berubah murung. "Tapi Opa, Kia udah sembuh kok," lirih Zakia, tetap ingin berenang.
"Kalau tidak main sama bebek-bebekan ajah gimana biar Kia tidak main air tapi main perahu yang bentuk bebek ngambang di kolom gitu," usul Philip sembari menunjukan gambar perahu yang ia maksud dari ponselnya.
"Mau... Kia mau kaya gini. Bunda kalau main kayak gini boleh tidak?" tanya Zakia lagi, dia yang selalu diajarkan sopan santun tahu gimana caranya menghargai orang tuanya. Sehingga ia akan meminta izin pada sang bunda untuk menentukan pilihannya.
Jiara melirik apa yang di maksud oleh Philip. "Apa ada mainan itu Kek?" tanya Jiara, pasalnya itu mainan mahal dan khusus untuk anak-anak, masa di rumah ini sudah ada.
"Kalau diizinkan bisa beli dan orang toko antar ke sini," balas Philip dengan santai, soal harga tentu tidak jadi masalah untuk Philip. Bahkan laki-laki tua itu sudah berencana kalau dia akan membuat taman bermain untuk Zakia agar dia suka dan betah di rumah ini.
__ADS_1
"Kalau itu sepertinya aman. Kia tidak terlalu cape, tapi harganya?" ucap Jiara dengan melirik kedua mertuanya. Ia memang memegang kartu dari Lucas, tetapi kartu itu lebih ia gunakan untuk kebutuhannya yang mendesak dan pengobatan putrinya yang masih harus rawat jalan.
"Soal harga kamu jangan pikirkan. Ini Kakek yang ingin kasih hadiah untuk cucu dan cicit Kakek, dan biarkan anak-anak bermain dengan nyaman."
"Kalau gitu Jia ucapkan banyak terima kasih," lirih Jiara, dulu ia mengenal Philip adalah orang yang dingin dan mengerikan, bahkan selama ia bekerja dalam satu perusahaan dengan Lucas, beberapa kali bertemu dengan Philip, tetapi tidak ada nampak senyum atau suaranya. Namun saat ini justru dia adalah orang yang baik dan ramah.
"Kalau gitu tunggu yah Kia, Eyang akan pesan dulu perahunya, dan setelah itu Kia boleh bermain," Philip pun langsung memesan beberapa mainan air yang kemungkinan disukai oleh cicitnya.
Senyum bahagia terlihat dari wajah cantik Zakia. "Telima kasih Eyang dan Kia sayang Eyang." Zakia datang mendekat dan memeluk Philip dengan hangat padahal tidak ada yang mengajarkan, tetapi anak itu seolah tahu kalau Philip itu sangat ingin memeluk bocah kecil itu.
Seeerrrr... Darah di dada Philip langsung mengalir dengan deras, hati dan perasaanya langsung menghangat, rasa yang belum pernah ia rasakan. Sangat damai, rasa kesepian seolah langsung hilang begitu saja kalau Zakia memeluknya. Tanpa terasa butiran bening menetes di pipi keriputnya.
"Eyang juga sayang sama Kia. Kalian anak yang baik, bisa mendidik anak-anak dengan baik, dan Papah malu saat ini Papah sangat malu karena keegoan Papah tidak membawa bahagia diusia senja Papah," isak Philip sembari menepuk punggung Zakia. Dan gadis kecil itu pun melakukan hal yang sama. Menepuk-nepuk punggung Eyangnya.
Zakia nampak sangat bahagia ketika karyawan dari toko yang tadi Philip pesan mainan untuk Zakia datang, dan mereka langsung meletakan banyak bola berwarna warni dan memompa bebek-bebekan yang di maksud. Tidak hanya itu di sana juga di pasang trampolin untuk bermain Zakia dengan banyak bola berwarna warni.
"Waw Tante, Itu bagus sekali," lirih Zakia, gadis kecil itu tidak henti-hentinya kagum dengan permainan yang sedang di pasang ternyata tidak hanya itu ada wahana kolam lainya seperti seluncuran dan juga maianan seperti di sekolah taman kanak-kanak. Seketika taman belakang jadi banyak mainan untuk anak-anak.
Philip sangat senang ketika melihat anak, cucu dan cicitnya bahagia dengan kado yang ia berikan. Bagi Philip uang yang barusan ia keluarkan tidak seberapa, tetapi sangat berharga untuk mereka, terutama Zakia gadis kecil itu tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Philip.
"Terima kasih Eyang, terima kasih, Kia suka Eyang. Terima kasih..." Entah berapa kali Zakia mencium pipi Eyangnya dan memeluk serta berceloteh bahwa ia sangat bahagia dengan apa yang ia dapatkan saat ini.
Elin sendiri dari tadi tersenyum dan ikut bahagia tetapi ia masih menghindari kontak mata dan kontak langsung dengan Philip, dan Philip pun tahu arti dari sikap Elin ia tidak akan memaksa kalau cucunya harus menerimanya, harus memaafkan semua kesalahannya dalam waktu yang singkat.
Philip hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh Eric, bahwa biarkan Elin dengan rasa nyamanya, jangan mencoba didekati terus takutnya Elin malah kurang nyaman, tetapi Philip juga selalu berusaha ramah dengan Elin dan Elin pun akan merespon seperlunya.
__ADS_1
Satu persatu permainan yang Philip belikan di coba oleh Zakia, mulai dari bebek-bebekan yang ada dua, dan itu Elin yang naik bersama Zakia, dan yang satu lagi di naiki oleh Darya. Jiara tidak mau menaiknya karena ia memakai gamis susah untuk duduk di leher bebeknya. Sementara Eric, Philip mengabadikan momen bahagia ini Momen yang sebelumnya tidak di pikirkan akan sebahagia ini.
Meskipun pasti ada rasa kurang karena Lucas yang belum berkumpul. Apah Lucas juga akan merasakan bahagia seperti ini nantinya, ataukan kebahagiaan ini hanya sebuah mimpi yang tidak pernah terwujud untuk Lucas?