
Seperti Elin kemarin saat akan pulang ke rumah, hari ini Lucas pun sebelum pulang ke rumah Philips lebih dulu mengunjungi kakeknya yang barusan saja ia mendapatkan info kalau sang kakek sudah bangun dan ada kemungkinan dalam waktu dua hari akan pulang.
"Mih, kita pulang dulu yah, nitip Kakek, semoga kita nanti berkumpul kembali seperti yang Kakek inginkan," ucap Lucas pada Darya yang sedang duduk menunggu Lucas selesai besuk pada Philip.
Darya pun langsung menghambur ke dalam pelukan Lucas. "Semoga apa yang kita inginkan segera terwujud yah sayang, karena mamih juga ingin melihat kita berkumpul bersama."
"Semoga apa yang Mamih inginkan bisa segera terwujud." Lucas pun mengusap punggung wanita yang telah melahirkanya.
"Kalau gitu mamih nitip salam untuk Elin yah, semoga kalian cepat akur. Kami semua ingin melihat kamu dan adik kamu akur," balas Darya, dengan melepas pelukanya. Lucas pun benar-benar pamitan dengan Darya dan pulang ke rumah sang kakek.
Jiara yang melihat kalau Lucas nampak tegang pun menggenggam tangan laki-laki itu dan mencoba menenagkanya. Benar saja Lucas langsung tersentak kaget, laki-laki itu menatap Jiara dengan tatapan yang kosong. Jiar pun semakin kuat menggenggam tangan Lucas.
"Jangan takut Elin pasti memaafkan kamu," ucap Jiara dengan tatapan yang teduh, dan senyum yang mengembang sempurna. Membuat hati Lucas semakin nyaman, dan tenang.
"Aku juga pun berpikir demikian, tetapi bagaimana jadinya kalau ternyata Elin masih marah dan ingin menghukum aku?" Lucas yang terlalu takut, justru pikiranya memikirkan hal-hal yang tidak perlu ditakutkan sama sekali, karena hal itu belum tentu terjadi.
Jiara terkekeh dengan pertanyaan Lucas itu. "Hay, mungkin kamu lupa kalau Elin itu adalah orang yang baik sehingga dia pasti berpikir panjang sebelum memutuskan sesuatu, seperti yang kamu katakan tadi. Tidak mungkin Elin akan berbuat seperti itu, apalagi dengan alasan balas dendam sehingga tidak mungkin rasanya, karena didikan Om Eric itu selalu baik," balas Jiara yang memang wanita itu bisa dikatakan lebih tahu tentang Elin dari pada Lucas itu sendiri. Bahkan Jiara sendiri ingin memiliki hati yang baik seperti iparnya itu.
Sementara Zakia saat ini sedang tidur di pangkuan Lucas dan ini adalah momen untuk Lucas bisa bermanja-manjaan pada Jiara. Yah, seolah bocah kecil itu tahu kalau bunda dan papahnya sangat membutuhkan waktu untuk saling melepasakan rasa rindunya.
Laki-laki yang baru keluar dari rumah sakit itu pun mulai menyandarkan kepalanya di di atas pundak Jiara. "Biarkan aku merasakan kedamaian seperti ini, sebelum aku benar-benar tegang karena menghadapi ujian yang sesungguhnya. Sungguh aku mau bertemu dengan Elin tetapi rasa deg-deganya lebih dari aku mau bertemu dengan musuh-musuhku dulu," racau Lucas dengan bersender dengan tenang di pundak Jiara. Spntaak saja Jiara lagi-lagi terkekeh dengan kelakuan suaminya itu.
__ADS_1
Jiara sempat berpikir kalau Lucas tidak memiliki rasa takut ataupun tegang tetapi pada kenyataanya dia salah, setiap makhluk yang bernyawa ternyata memiliki tingkat ketakutan masing-masing.
"Itu karena kamu yang terlalu tegang. Coba kamu jangan terlalu tegang, kamu harus bisa mengalihkan pikiran kamu, sehingga kamu tidak tegang seperti ini. Ingatlah kalau Elin itu baik," ucap Jiara untuk memberikan kekuatan pada suaminya.
"Terima kasih yah, kamu adalah wanita yang benar-benar dikirimkan oleh Tuhan untuk aku. Aku sangat bahagia karena kamu yang selalu memberikan dukungan untuk aku," balas Lucas dengan kata-kata yang menyentuh, dan memeluk tubuh Jiara dengan kuat. Bahkan laki-laki itu tidak memperdulikan sang supir di depan sana. Jiara sendiri tidak terpikirkan sama sekali bagaimana bisa Lucas yang notabenya tidak memiliki belas kasihan pada masa mudanya bisa-bisa berubah jadi baik pake banget.
Ternyata setiap manusia yang jahat sekalipun memiliki sisi positif dan tidak selamanya dia akan jahat.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan juga perjalanan mereka yang di penuhi dengan nasihat-nasihat dari Jiara untuk Lucas ketika menemui Elin nanti, dan tentunya agar kondisi di sini tidak kaget.
"Kenapa aku jadi deg-degan yah," gumam Lucas begitu kendaraan yang mereka tumpangi sudah sampai di depan rumah sang kakek.
"Papah deg-degan kenapa?" tanya Zakia sembari wajahnya terus menatap sang ayah yang terlihat sangat tegang.
Jiara mengusap munggung Lucas yang sedang tergang itu. "Aku bahkan sangat yakin Elin pasti akan memaafkan kamu, apalagi kamu sodara kembarnya."
"Iya memang aku sodara kembarnya, tapi aku juga yang sudah buat dia jadi menderita selama hampir sepuluh bulan ini," balas Lucas, meskipun Elin sudah memaafkan Eric, dan Darya sudah membuka pintu maaf nyatanya tidak membuat Lucas menjadi tenang, dia tetap di hantu dengan penyesalan terus menerus.
"Iya aku tahu kamu yang nyebabin ini semua, tetapi asal kamu tahu kalau kamu tidak termakan fitnah kakek philip dan istri mudanya kamu tidak akan membenci Elin dan tidak akan membuat Elin seperti ini. Jangan menyalahkan suatu yang sudah terjadi, kamu hanya perlu memperbaikinya. Ingat pesan Papah Eric, beliau berkata jangan sampai kamu menyesal karena terlalu menyesali sesuatu yang terjadi sampai kamu tidak memanfaatkan waktu emasmu untuk merubah diri kamu dan memperbaiki kesalahan itu." Jiara pun setuju dengan apa yang terjadi pada Lucas dan tidak sekalipun ingin menghakiminya lagi, karena mental seseorang berbeda-beda.
Lucas memang terlihat garang dan kuat, tetapi mental dia nyatanya lebih sensitif dari pada Elin sendiri.
__ADS_1
"Udah ayo Papah kita tulun, kan nanti ada Tante Elin. Tante Elin baik Kok, Papah jangan takut. Kia seling di belikan coklat," ucap Zakia sembari menarik-narik tangan Lucas.
Lucas pun pasrah, dia pun akhirnya turun setelah dibujuk oleh putrinya.
Pandangan mata Lucas diedarkan ke semua penjuru untuk mencari Elin yang mungkin saja tengah menyambutnya, tetapi Lucas tidak melihat Elin. Yah, sebab Lucas sendiri yang ingin kalau kepulanganya menjadi kejutan untuk Elin, tetapi hati Lucas sendiri tidak kuat untuk memberikan kejutan pada sodara kembarnya.
"Bi Elin ke mana?" tanya Lucas pada asisten rumah tangganya.
"Nona sedang istirahat Tuan, di kamar," balas asisten rumah tangga sembari menujuk kamar Elin.
Lucas menatap Jiara, dan wanita hijab itu pun mengangguk menandakan bahwa Lucas di minta menemui Elin.
"Kalau gitu aku temui Elin dulu, kalian ke kamar dulu saja untuk istirahat." Lucas pun setelah melihat Jiara mengangguk langsung mengayunkan langkahnya menuju kamar sodara kembarnya.
Sembari berjalan pikiran Lucas terus berpikir bagaimana cara dirinya mengambil hati Elin, dan meminta maaf padanya.
Tangan Lucas mengetuk pintu kamar Elin yang tertutup rapat. Sedangkan pikiran masih terbang entah ke mana. Elin sendiri baru saja terpejam dan karena mendengar ketukan pintu matanya pun kembali terbuka lagi.
"Siapa sih ganggu istirahat kami aja," rutuk Elin, tetapi ibu satu anak itu pun memaksakan diri untuk bangun dan membuka pintu kamarnya.
"Tunggu bentar!" pekik Elin ketika pintunya terus diketuk, apalagi karena ulah orang yang iseng itu membuat Eril bangun dan menangis.
__ADS_1
"Sial, siapa sih yang iseng, bikin darah tinggi aja." Elin bahkan sudah menyiapkan kata-kata untuk membungkam siapa pun yang membuat ke gaduhan di depan kamarnya.