Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 201


__ADS_3

Detik berganti menit dan berganti jam. Sudah hampir satu jam Elin berada di dalam ruang operasi, padahal menurut dokter Eki seharusnya tidak sampai satu jam Elin sudah selesai untuk menjalankan operasi cesar itu. Entah berapa kali Lexi berjalan mondar mandir di depan ruangan operasi ada perasaan yang sangat takut kalau Elin terjadi apa-apa di dalam sana.


Entah berapa kali juga Lexi melihat jarum jam yang melingkar di tanganya. Bahkan seolah satu menit pun tidak Lexi biarkan untuk terlewatkan.


"Alhamdulillah ya Allah," ujar Lexi ketika meliahat lampu berwarna merah di depan ruang operasi telah mati. Namun, tidak serta merta Lexi bisa merasa lega, ada perasaanya yang masih takut dan was-was pasalnya belum ada yang keluar dari ruangan itu.


"Tuan Lexi bisa masuk...!" Salah satu suster meminta Lexi mengikutinya. Barulah Lexi merasakan lega ketika mendengar suara tangis yang nyaring dari bayi yang saat ini sedang berada di gendongan Eric. Ini adalah kabar gembira, tetapi seketika tubuh Lexi lemas, seolah tenaga tidak tersisa.


Bruggg... Lexi bersimpuh di hadapan Eric yang tengah berdiri di samping Elin dengan bayi mungil di gendongan laki-laki paruh baya itu.


"Lex... kamu kenapa?" Eric langsung terkejut dengan perbuatan Lexi. Laki-laki paruh baya itu berpikir kalau Lexi akan segera merain putranya, tetapi justru Lexi malah langsung bersimpuh dihadapanya.


"Maafkan saya Om, Elin," isak Lexi, penyesalan dan bahagia bergabung menjadi satu.


"Sudah Lex, kamu bangun, ini bukan saatnya untuk membahas kesalahan kamu. Ini kabar bahagia untuk kamu." Eric meminta agar Lexi bangun, dan laki-laki itu pun mengikuti apa yang Eric katakan. Lexi bangun matanya langsung menatap Elin yang terlihat sangat lemah.


"Elin, terima kasih telah bertahan, dan memberikan aku seorang anak yang tampan." Lexi melihat Elin masih berkedip-kedip itu tandanya Elin sadar, dan Lexi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu ia langsung mengucapkan rasa terima kasihnya.


Senyum samar dari wajah Elin terlihat sebagai tanda kalau Elin juga bahagia dengan kabar ini.


Setelah puas menatap wajah Elin yang lemah bahkan masih ada dokter dan perawat yang membersihkan tubuh Elin. Kini Lexi bergantian menatap putranya yang sudah mulai diam dengan mata terpejam.


Eric memberikan cucunya pada Lexi. "Apa kamu yang akan mengadzankan putra kamu?" tanya Eric dengan wajah bahagia. Lexi justru bingung dengan apa yang Eric katakan.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, bagaimana caranya," balas Lexi dengan menunduk malu. Eric hanya membalasnya dengan senyum getir.


"Kalau begitu biar om yang melakukanya."


Lexi sendiri hanya bisa melihat apa yang Eric lakukan mengadzani putranya di telinga sebelah kanan bahkan Lexi melihat kalau Eric sampai meneteskan air mata dan suara yang serat terdengan dari laki-laki paruh baya itu. Yah, Eric memang menangis bahagia. setelah Adzan, kini iqamah di sebelah kiri lagi-lagi buah hatinya diam seolah ia tahu bahwa apa yang Eric lakukan adalah seruan untuk menyebah Sang Penguasa sebenarnya.


Setelah semuanya selesai baik Eric maupun Lexi diminta untuk keluar dan membiarkan Elin seorang diri.


"Dokter apa tidak terjadi apa-apa dengan Elin?" cecar Lexi sejak tadi ia tidak bisa berpikir jernih, baru tadi ia bisa merasakan lega karena Elin masih sadar dan sempat memberikan senyum padanya. Namun, perasaan Lexi kembali cemas ketika melihat kalau Elin justru tidak boleh langsung di temui.


"Kalian berdoa sajah yah, Elin hanya butuh istirahat belum di lakukan tindakan selanjutnya kok. Kalian berdoa terus agar Elin kuat untuk menghadapi serangkaian pengobatan lainya." Dokter Eki menepuk pundak Lexi sedangkan dokter Eka yang ada di belakangnya hanya memberikan seulas senyum misterius.


Eric pun melihat ada kejanggalan dalam ucapan dokter Eki pada Lexi. Pandangan Eric langsung tertuju pada Lexi.


"Ini ada apa Lex apa yang sebenarnya terjadi pada Elin? Kenapa om seperti melihat ada yang kalian sembunyikan?" cecar Eric, pasalnya Eric dari awal Lexi masuk ruang operasai sudah janggal, terlihat sekali Lexi lebih mencemaskan Elin. Bahkan Lexi tidak begitu perduli dengan kondisi putranya. Lexi terusĀ  melihat Elin seolah Elin akan hilang kalau Lexi mengalihkan pandanganya pada tempat lain.


Lexi menatap Eric dengan tatapan bingung. "Kita duduk dulu Om." Laki-laki itu masih menujuk tempat duduk di depan mereka. Eric pun lagi dan lagi mengikuti apa kata Lexi.


"Katakan Lex apa yang terjadi dengan Elin, sebab om akan sangat marah kalau Elin terjadi apa-apa dan kamu yang tahu sesuatu justru menyembunyikanya."


Eric memberikan tatapan tajam pada Lexi dan kini pandangan mata keduanya saling terkunci. "Elin menderita sakit kerusaakan hati."


Tubuh Eric langsung lemas seolah saat itu juga semua sendi-sendinya terlepas dari tulang belulangnya. Tubuhnya seperti tidak ada daya untuk sekedar bertanya 'Kenapa Bisa Elin mengalami itu semua'.

__ADS_1


Eric masih bergeming, menyatukan seripihan-serpihan tubuhnya yang seolah berceceran, mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kenyataan ini.


"Kenapa bisa Elin sakit separah ini?" isak Eric dengan tubuh yang masih lemas. Kali ini Eric kembali menatap Lexi yang sama masih menatap kosong ke depan. Lexi masih bingung ia harus memulai bercerita dari mana. Melihat kondisi Eric yang sangat terpukul Lexi juga sudah sangat sedih.


"Apa kamu sudah tahu sakit Elin ini dari lama?" cecar Eric kembali.


Lexi masih bergeming, mencoba mengumpulkan keberanian yang masih tersisa. "Sejak usia kandungan Elin empat bulan. Saya tahu ketika usia kandungan Elin masih empat bulan, dokter bilang kalau Elin masih ada kesempatan untuk sembuh asal dia melakukan pengobatan rutin, saat itu yang Lexi tahu Elin sedang melakukan pengoban rutin, tetapi entah kenapa saat dilakukan pemeriksaan terakhir sebelum melakukan operasi cesar, kondisi hati Elin bukanya membaik justru semakin parah. Menurut dokter Eka penyebab Elin sepertinya tidak meminum obat-obat itu, dan itu akibatnya hatinya bukanya sembuh malah semakin parah." Lexi. mengulang menjelaskan apa yang terjadi pada Elin.


"Sayaa menyesal, karena tidak bisa mengawasi Elin menjalani searangkain pengobatan ini," imbuh Lexi.


Eric tentu kaget, dan tidak begitu percaya dengan penjelasan Lexi. "Jadi selama ini anak om sering mengeluh sakit karena ini, dan kenapa Elin tidak mengatakan kondisi Elin pada om? Kenapa Elin merahasiakan ini semua dari om? "


"Elin yang minta Lexi tidak bercerita pada siapa-siapa, karena Elin berjanji akan mematuhi saran Lexi untuk tetap melakukan pengobatan, dan Elin juga berjanji akan mengikuti kata-kata Lexi, asal saya tidak mengatakan tentang sakitnya."


Eric diam mendengarkan kata demi kata yang diucapkan oleh Lexi. Sama halnya dengan Arya yang kecewa dengan Lexi kenapa dirinya tidak meceritakan keadaan Elin pada Eric. Setidaknya Eric bisa mengawasi Elin benar meminum obat atau tidak.


"Maaf kan Lexi, Om. Lexi pikir Elin benar-benar minum obat-obat itu. Karena Lexi juga menepati janji tidak membocorkan sakit Elin pada siapa pun."


"Sekarang, kira-kira apa yang apan dokter lakukan pada Elin?"


Lexi menggelengkan kepalanya, pandangan matanya menatap lurus kedepan dengan kosong. "Kita tunggu pemeriksaan selanjutnya, nanti dokter Eka akan menemui kita untuk mengatakan apa yang sebenarnya harus dilakukan untuk kedepanya.


Tidak lama berselang seorang perawatan memanggil Lexi untuk ke ruangan dokter Eka.

__ADS_1


" Lex, om ikut."


Tanpa menunggu jawaban dari Lexi kini Eric sudah mengekor di belakang. Berjalan terseok-seok untuk menemui dokter Eka. Segala doa kebaikan terucap dari bibir dua laki-laki geda generasi itu.


__ADS_2