Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna Bab 174


__ADS_3

Lexi mengekor di belakang Philip. Di dalam otaknya sudah segudang pertanyaan yang akan dia tanyakan pada Philip, terutama mengenai Elin. Entah berapa kemungkinan yang Lexi pikirkan, kenapa Philip bisa memasukkan  anak dari pelakor ke rumah pribadinya. Namun kemungkinan yang ia pikirkan, semuanya tidak bertemu, alias tidak masuk akal.


"Apa yang membuat kamu datang ke sini?" tanya Philip dengan suara berat dan berkarisma. Bahkan orang-orang mendengar suara Philip saja sudah segan. Dan wibawanya itu di turunkan pada Lucas, sehingga yang melihat Lucas itu sangat mirip cara berbicara dan cara memimpinya dengan Philip.


Lexi sendiri yang saat itu masih melamun pun, tersentak kaget, dan beberapa kali mengerjapkan matanya, untuk  fokus dan mendengar pertanyaan Philip


"Maaf Kek, Lexi tadi tidak fokus, bisa Kakek ulang pertanyaanya," ujar Lexi dengan tertawa samar.


"Kepentingan apa yang membawa kamu datang ke sini?" Laki-laki tua itu benar-benar  mengulang pertanyaanya, hal yang tidak pernah ia lakukan. Biasanya ia akan murka apabila ada bawahanya, atau lawan bicara yang mengabaikanya. Namun, semenjak perlahan ia sadar dengan segala kesalahanya. Philip berubah sifatnya. Dia lebih sabar dan bisa diajak berkomunikasi dengan baik tidak seperti Philip yang dulu.


"Soal Lucas Kek, tapi maaf Kek sebelumnya apa aku boleh bertanya dengan Elin?" ucap Lexi dengan nada yang sopan.


"Apa yang ingin kamu tahu tentang cucuku?" tanya Philip. Sudah sangat jelas kalau Philip dengan sadar dan yakin mengakui bahwa Elin adalah cucunya. Hal itu semakin membuat Lexi bingung. Bahkan ia datang dengan tujuan memberikan informasi tentang Lucas sepertinya terlupakan. Dalam otaknya hanya ada Elin dan Elin.


Mengapa Elin bisa jadi cucu Philip. Tidak hanya itu malam kejadian itu juga terlintas kembali dalam pikiran Lexi.


"Anu Kek... kenapa Elin bisa jadi cucu Kakek. Sedangkan Lucas beberapa bulan lalu mengatakan bahwa Elin adalah anak dari pelakor. Dan..." Lexi menghentikan ucapanya kala Philip mengangkat sebelah tanganya menandakan agar laki-laki itu tidak melanjutkan ucapanya.


Dengan wajah yang nampak menyesal dan sedih Philip menunduk, tetapi beberapa menit kemudian ia mengangkat wajanya kembali. Sementara Lexi dadanya semakin memburu ia sudah menduga ada yang tidak beres dengan laki-laki tua yang ada di hadapanya itu. Lexi juga menduga bahwa apa yang Lucas katakan adalah tidak benar.


Jantung Lexi berdetak semakin kuat, seolah aliran darah saling berlarian menuju otaknya hingga suhu tubuhnya menaik dan sekujur tubuhnya memanas.


"Kakek sudah tahu apa yang terjadi pada Elin. Jujur, kakek marah besar pada kamu, karena telah membuat Elin hamil, tetapi kakek sendiri juga tidak bisa menyalahkan, kamu maupun Lucas karena kesalahan utamanya adalah kakek sendiri." Philip menangis dengan tergugu, sedangkan Lexi mengambil air yang ada di hadapanya, entah air siapa itu yang penting Lexi mengambilnya dan meneguknya dengan tegukan besar.

__ADS_1


Satu gelas besar air itu sudah berpindah pada perut Lexi. Keringat sebesar biji jagung sudah keluar dari pelipisnya. Baru kali ini dalam sejarah hidup Lexi perasaannya tidak tenang dan rasa bersalah mengusain dirinya.


Sepatah  kata pun tidak terucap dari bibir Lexi maupun Philip, dua laki-laki berbeda generasi itu masi membisu, masih berperang dalam pikirnya.


"Jadi apa Elin itu adalah adik Lexi dengan Ibu dan Papah yang sama?" tanya Lexi dengan suara lirih, dan tenggorokanya seolah ada yang mencekiknya.


Tangisan dari bibir Philip sudah tidak terdengar lagi, Lexi bahkan merasa laki-laki yang ada di hadapanya bukanlah Philip, ia seperti melihat orang lain. Heran kenapa Philip bisa menangis? Bukanya Philip dan dia adalah orang yang sama, orang yang memiliki persaan paling kejam.


"Elin sodara kembar Lucas."


Jedueerrrr....


Seolah petir menyambar tubuh Lexi disiang bolong. Entah berapa kali kedua tanganya  menjambak rambutnya sendiri. Bahkan rambut yang awalnya rapi jadi acak-acakan.


"Apa Lucas sudah tahu?" tanya Lexi, tetapi bukan pertanyaan itu yang awalnya ingin Lexi tanyakan. Yah, jelas Lucas belum tahu, kalau sudah tahu Lexi yakin dia akan gila, karena kabar ini. Bahkan Lexi sendiri saking kagetnya sampai dia bingung mau bertanya apa lagi.


Tubuh Lexi benar-benar panas, otaknya bahkan seperti terbakar. Ingin marah, tetapi ia bingung mau marah pada siapa, sedangkan dirinya juga sama saja tak lebih baik dari Philip maupun Lucas.


"Lexi sebenarnya sudah curiga tidak mungkin anak dari wanita lain bisa memiliki garis wajah yang sangat miri, pandangan mata mereka sangat mirip, meskipun dari segi fisik Elin sangat pendek dibandingkan Lucas. Bahkan Lexi sudah bertanya apa Lucas sudah menyelidiki kebenaranya, tapi lagi-lagi Lucas menyakinkan bahwa apa yang Anda katakan tidak akan bohong."


Suara Lexi semakin bergetar, tubuhnya lemas sekali, selain karena berita ini  yang sangat membuatnya terkejut.


Bahkan sudah dua hari ini di Indonesia baru makan sekali dan itu pun makan bubur dan bubur. Perutnya selalu menolak apabila ia isi.

__ADS_1


"Apa hukuman yang pantas untuk Kakek?" tanyaa Philip dengan putus asa. "Sekarang Elin hamil, dia marah dengan kakek, belum dia pasti tidak mau bertemu dengan Lucas. Semuanya hancur karena kakek," racau Philip menyesal, sangat-sangat menyesal.


Yah, laki-laki itu bisa merasakan bahwa Elin itu marah dengan dirinya. Ia bisa merasakan dari pelukan Elin yang seolah tidak mau untuk dipeluk, tatapan mata yang selalu tidak mau bertemu dengan Philip. Itu adalah suatu protes tubuhnya agar dia tidak melihat Philip, dan juga kepergianya untuk menenagkan diri, yang ternyata Elin sedang melakukan pemeriksaan. Sudah cukup meyakinkan Philip kalau Elin marah pada dirinya.


Kesediaanya untuk tinggal di rumah ini tidaklah lain karena rasa baktinya pada sang papah dan juga tidak mau membuat mamahnya sedih. Itu sebabnya Philip salut dengan mantunya yang bisa mendidik Elin menjadi anak yang luar biasa. Ia sebenarnya merasa malu ketika dirinya sendiri yang sangat berkecukupan gagal merawat cucunya, dan membuat masalah yang bertubi-tubi untuk keluarga putrinya sendiri.


"Kalau Kakek sendiri bertanya apa hukuman yang pantas untuk Kakek, lalu apa hukuman yang pantas untuk Lexi dan Lucas?" tanya balik Lexi.


'Pantas saja Elin menjadi galak banget, pasti dia sudah tau kebenaranya. Dan itu adalah cara wanita itu berontak dan ingin membalas semua yang sudah aku perbuat,' batin Lexi, dia melihat sosok lain di diri Elin. Namun Lexi juga memaklumi sifat Elin yang seperti ini.


'Terus apa reaksi keluarganya kalau ternyata Elin mengindap penyakit yang berbahaya? Gimana hancurnya Lucas nanti kalau tahu kebenaran ini?' batin Lexi, sejak tadi ia selalu bergumam dalam batinya yang berkecamuk.


"Kakek bahkan tidak bisa membayangkan apa yang Lucas akan lakukan kalau tahu ini semua," lirih Philip, pasrah.


"Lexi juga sedang memikirkan itu, tapi cepat atau lambat dia akan tahu kebenaranya. Mungkin sama seperti Elin kecewa dan marah," balas Lexi, meskipun dia tidak yakin kalau laki-laki itu hanya akan kecewa dan marah.


"Kakek takut dia depresi." Philip sudah membayangkan hal yang paling tidak ia inginkan.


Lexi menggerakan kepalanya membayangkan akan hal itu, tetapi Lexi sendiri sangat merasa bersalah yang luar biasa dengan kebenaran ini, apalagi Lucas yang bahkan dia hampir membunuh Elin?


"Tapi apa Kakek tidak meminta aku bertanggung jawab akan perbuatanku yang menghamili Elin?" tanya Lexi, kalau memang orang-orang itu meminta pertanggung jawabanya maka Lexi akan melakukanya. Dia akan tanggung jawab atas anak Elin.


Namun, Philip justru menggelengkan kepalanya pelan. "Kalau Kakek meminta kamu bertanggung jawab Elin akan semakin tertekan. Kakek tidak ingin membuat kesalahan untuk yang kesekian kalinya. Biarkan bagaimana perasaanya nyaman. Kalau menjadi single parent, tanpa adanya pernikahan yang paling membuat Elin tenang. Kakek akan mendukungnya. Dan Kakek juga meminta kamu menjauhi Elin, demi bahagia Elin. Kakek tidak ingin menambah beban Elin dengan kamu menjadi suaminya."

__ADS_1


...****************...


Selamat tahun baru 2023, semoga kita semua semakin baik dari yang terbaik....


__ADS_2