Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 116


__ADS_3

"Bagaimana kamu sudah siap?" tanya Arya begitu masuk keruangan kekasihnya. Marni yang baru saja selesai praktek, terheran kenapa calon suaminya bersemangat sekali untuk ke rumah Om Eric, meskipun dirinya juga bersemangat karena akan bertemu dengan Elin. Bersemangat juga karena bisa numpang tidur


"Kalau aku nggak ikut bagaimana?" tanya Marni dengan wajah dibikin seserius mungkin, wanita itu hanya ingin mengerjai kekasihnya. Padahal tanpa dipungkiri dia juga senang apabila ke rumah Elin.


Arya langsung menghempaskan bokongnya di kursi yang ada di hadapan meja kerja Marni. "Kenapa nggak mau ikut, kamu sudah mulai bosan yah dengan masalah-masalah yang terjadi di keluarga aku," lirih Arya, memang buat yang tidak tahu dengan masalah yang sesungguhnya lama-lama mereka akan bosan dengan masalah yang ditimbulkan oleh Lucas.


Marni menatap heran Arya yang ia nilai terlalu baperan. "Bukan itu aku hanya ingin tahu saja bagaimana reaksi kamu kalau aku tidak ikut ke rumah Elin, tapi itu hanya candaan ajah. Ayok buruan bangun! Aku juga pengin numpang tidur di rumah Elin, akhir-akhir ini badanku terasa cape sekali." Marni yang sudah selesai dengan kerjaan nya pun langsung berjalan lebih dulu meninggalkan Arya yang masih dengan kebiasaannya.


Arya langsung buru-buru menyusul Marni, dan tentunya sebelum ia berjalan, laki-laki itu sudah mengabari Eric bahwa mereka akan datang, dan akan memberikan informasi tentang pekerjaan Elin. Hanya pekerjaannya akan disampaikan dengan lebih detail, ketika mereka sudah sampai di rumah  Eric.


"Elin... Elin sini sayang. Eric dengan antusias memanggil Elin untuk memberikan kabar gembira yang dikabarkan Arya barusan lewat telepon selulernya.


"Ada apa sih Pah, kayak abis dapat  undian berhadiah aja," balas Elin dengan berjalan menghampiri papahnya.


"Coba tebak Papah ada kabar gembira, tapi apa yuk tebak!!" Eric memberikan sebuah tantangan pada putrinya yang nampak kebingungan. Elin nampak berpikir untuk menebak kabar apa yang gerangan membuat papahnya seheboh ini.


"Apa pah? Elin nyerah."

__ADS_1


"Arya dan Marni sedang berjalan ke mari untuk memberitahukan kalau ada kerjaan  untuk kamu," lirih Eric wajahnya terlihat sangat bahagia sekali. Elin pun sama terkejut bahagia. Wanita yang saat ini sedang hamil tidak pernah menyangka kalau ia akan secepat ini mendapatkan pekerjaan.


Tidak lama setelah kabar bahagia itu di terima oleh Elin, Arya dan Marni pun datang. Mereka juga tidak kalah bahagia.


"Sayang kamu udah siapkan? Aku serahkan urusan Elin sama kamu, dan aku akan berbicara dengan Om Eric mengenai Zakia, mungkin dengan Om Eric tahu bahwa Zakia adalah cucunya dia akan bisa bantu mengurus Kia, dan juga Jiara tidak terlalu kepikiran dengan Lucas terus," ucap Arya dengan sangat pelan.


Laki-laki itu sudah menceritakan semua dengan apa yang terjadi diantara ia dan Lucas tentu dengan semua kekacauan nya, dan Elin yang akan menjadi perawat untuk mamihnya sendiri, serta  Arya  yang berbohong kalau Elin yang akan menjadi perawat mamihnya Arya adalah ia akui sebagai teman baik Marni.


Awalnya Marni nampak memijat kening berkali-kali dengan kabar yang dia dengar, itu karena memang ternyata separah itu kekacauan yang disebabkan oleh laki-laki yang bernama Lucas, bahkan Marni belum begitu kenal dengan laki-laki itu tetapi sudah lebih dulu kenal dengan hasil kerjaannya. Masalah-masalah Lucas lebih dulu dikenal oleh Marni.


"Aku siap, kan lagi pula aku hanya tinggal menjelaskan Elin akan bekerja dengan siapa dan menjelaskan fakta-faktanya saja kan?" tanya Marni takut salah lagi.


Setelah memastikan Marni siap. Kini mereka pun turun dengan  saling bergandengan tangan, ada rasa bahagia, ketika Arya dipersatukan dengan Marni, wanita yang sangat mencintainya, dan yang menambah bahagia adalah Marni tidak hanya mencintai dirinya saja tetapi juga mencintai saudara-saudaranya. Sebagai buktinya ia mau bercape-cape membantu mengurai kerumitan yang terjadi di keluarganya. Padahal Arya juga bisa saja untuk tidak lagi ikut campur dengan urusan Lucas dan  lain sebagainya, tetapi Arya sangat penasaran ada rahasia apa yang terjadi pada keluarga Lucas dan Philip itu.


Seperti biasa sebelum masuk Arya dan Marni mengucapkan salam, dan Eric yang sedang mempersiapkan pesananya pun langsung menghampiri Arya dengan bahagia.


"Dokter Arya sudah datang. Elin.... Elin... dokter Arya sudah datang." Eric tahu kalau Elin sangat menunggu kedatangan dokter Arya untuk membicarakan pekerjaannya.

__ADS_1


Elin datang dengan senyum bahagia. "Kapan kira-kira Elin bisa ikut bekerja Dok?" tanya Elin sangat antusias.


"Mungkin Marni yang akan menjelaskannya, mengenai pekerjaan kamu, dan aku akan mengobrol dengan Om Eric. Apa Om nggak sibuk?" tanya Arya mengingat Eric sepertinya sedang ada kerjaan di dapurnya, ladang mata pencaharian utamanya yaitu dari memasak.


"Oh tidak Dok, itu seperti biasa kalau sore langsung menyiapkan bumbu-bumbu untuk masak besok, biar nggak keteter." Eic dan Arya berjalan menuju gasebo depan rumahnya.


Sementara Marni dan Elin menuju kamar Elin, Sekalian setelah urusannya selesai Marni ingin numpang tidur, badanya terasa sangat cape. Apalagi semalam kurang tidur memikirkan ciuman yang ditinggalkan oleh Arya, tidak ketinggalan juga memikirkan bundanya yang takut tahu kalau Arya sudah mencuri ciumannya.


Seperti biasan secangkir kopi Eric suguhkan untuk Arya, yang akan menemani mengobrol dengan dirinya. "Kayaknya Om lihat Arya akan bawa kabar lain lagi, kira-kira kabar apa? Dan kabar bahagia atau kabar sedih?" tanya Eric sembari meletakan dua buah cangkir kopi.


"Om Eric memang luar biasa selalu tahu apa yang akan Arya katakan. Arya memang di samping membawa kabar mengenai pekerjaan Elin, Arya juga akan membawa kabar dengan anak om yang bandel itu, Lucas," ucap Arya dengan suara sedikit di pelankan.


Eric membenarkan duduknya, setiap mendengar nama anak laki-laki Eric seolah menjadi tidak tenang. "Ada apa dengan Lucas?" tanya Eric dengan wajah yang semakin serius.


"Dia sudah punya anak, dan saat ini anaknya sedang sakit, dan tentunya membutuhkan Om untuk membantu dukungannya untuk pengobatan Zakia, nama anak Lucas." Suara Arya semakin kecil tetapi tentu masih bisa didengar oleh Eric.


Eric kali ini terlihat mengatur nafasnya. Terkejut, lagi-lagi Eric terkejut dengan kabar yang Arya bawa.

__ADS_1


"Ada lagi yang ingin Nak Arya sampaikan?" tanya Eric, batinya masih bisa mendengar kabar-kabar yang di perbuat oleh putranya. Setelah adiknya mengalami serangkaian kehancuran karena perbuatan Lucas, kini Eric harus kembali menelan pil pahit dengan kabar dari anaknya itu.


Eric memejamkan ke-dua bola matanya berat.


__ADS_2