Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 183


__ADS_3

Eric kembali masuk ke dalam kamar putrinya dengan membawa nampan dengan menu makan malam dan juga segelas air meneral.


"Waktunya makan," suara Eric mengagetkan Elin dan Darya yang sedang bercerita masa-masa kecil Elin dulu. Itu Darya yang memintanya, hal yang paling seru mendengarkan cerita Elin kala kecil dulu sehingga Darya seperti tengah menjelajah dan merasakan hadir ke alam sana.


Eric memberikan satu piring nasi berserta lauknya. Namun buru-buru Elin menutup hidungnya karena baunya yang mencolok dan membuat mual. "Mah, singkirkan makanan itu! Elin mual dan pengin muntah," lirih Elin dengan suara yang tidak terlalu jelas karena mulut yang dibekap oleh tanganya.


Eric dan Darya buru-buru mengamankan makanan itu agar tidak terendus oleh Elin. "Sayang kalau kamu tidak mau makan dengan ini kamu ingin makan pakai apa? Biar Papah masakan," lirih Eric, tidak tega melihat putrinya merasakan seperti itu, pasti Elin juga lapar, dan kalau tidak makan-makan yang ada nanti bisa sakit.


"Apa ajah Pah, yang penting masakan Papah," jawab Elin dengan suara yang sangat pelan.


"Baiklah Papah akan masak untuk kamu, nasi goreng mau?" tanya Eric sebelum nantinya di tolak lagi. Elin untuk beberapa detik berpikir, dan setelahnya mengangguk dengan kuat. "Boleh Pak, tapi no udang, cumi dan lain-lain, hanya nasi dan bawang, seperti Papah kalau masak."


"Ok pesananan tuan putri segera dibuat," ujar Eric mengikuti gaya seorang chef. Elin dan Darya pun terkekeh dengan kelakuan laki-laki paruh baya itu.


"Pantas Elin sangat dekat dengan Eric, dia memang Papah yang baik," lirih Darya bahagia karena suaminya benar-benar sempurna untuk anak dan juga dirinya.


Namun, baru juga Eric akan keluar, sudah masuk lagi. "Nduk, nasi gorengnya pake kecap tidak?" tanya Eric ada yang kelupaan tidak ditanyakan.


"Tidak Pah, kayak nasi goreng kampung yang Papah biasa bikin itu loh."


"Ok... Ok... Papah paham apa maksud kamu." Kini Eric kembali lagi ke meja makan di mana di sana masih ada Philip yang sedang duduk termenung.

__ADS_1


"Kenapa lagi Ric?" tanya Philip ketika melihat menantunya kembali membawa makanan yang tadi.


"Elin tidak bisa makan-makanan ini, mual baru mencium baunya," jawab Eric dengan jujur. Philip mengernyitkan dahinya hingga membuat keriputan wajah yang makin terlihat.


"Lalu dia nggak makan, dan kondisinya gimana? Apa perlu di bawa kerumah sakit, atau mau panggil dokter?" cecar Philip dengan cemas.


"Kondisi Elin sehat Pah, bahkan sedang bercerita dengan mamahnya, tapi seperti wanita hamil yang lain sedang mabuk, sensitif dengan aroma makanan dan aroma yang lainya. Sekarang lagi pengin makan nasi goreng buatan Eric, dan soal dokter, Eric rasa belum perlu, seperti ini masih wajar, dan dia juga tadi sempat memeriksakan ke dokter karena beberapa hari ini nafsu makanya berkurang. Dan kata dokter masih wajar," balas Eric setelah menjawab pertanyaan Philip, laki-laki itu pun mengayunkan kaki ke dapur dan mulai meracik bumbu-bumbu untuk masak sesuai yang putrinya mau.


Tidak lupa Eric juga sekaligus membuatkan susu untuk calon cucunya. Lagi-lagi Philip kagum dengan perlakuan Eric yang bisa melayani putri dan istrinya. Lagi, kenyataanlah yang menyadarkanya. Bukan pengakuan yang menyadarkanya, tanpa Eric mengatakan bahwa ia terbaik, Philip bisa melihat kalau Eric memang yang terbaik dari suami dan juga papah.


"Andai aku dulu tidak menentang hubungan mereka, mungkin keluarga ini tidak se-hampa ini. Aku dekat dengan cucu-cucuku, dan juga aku akan menikmati hari tua yang lebih bahagia," gumam Philip, bahkan laki-laki tua itu sudah lelah untuk menangis dia lelah untuk meratapi nasibnya di hari tua. Di antara keluarganya yang terlihat, dan banyak terlibat obrolan memang hanya Eric, sehingga Philip tahu betul kalau menatunya itu adalah orang yang baik. Tidak membedakan orang, bagi dia tetap dianggap sama.


"Apa Papah mau mencicipi nasi goreng buatan Eric?" tanya Eric sembari menyodorkan satu piring nasi goreng buatannya.


"Apa Elin nanti tidak kurang?" tanya Philip, jujur ia tergiur dengan wanginya.


"Kalau habis setengahnya saja sudah bersyukur banget Pah, namanya orang hamil biasanya hanya pengin-pengin saja makanya mah tidak tahu banyak atau tidaknya, lagian ini udah banyak sekali untuk Darya," lirih Eric sembari menyodorkan nasi goreng dengan warna yang masih putih, tetapi harumnya benar-benar membuat perut Philip yang  tadinya kenyang dan tidak selera akan jadi lapar seketika.


"Kalau gitu Eric mau kembali ke kamar Elin, takutnya ke buru tidur lagi." Seperti tadi setelah berpamitan Eric langsung meninggalkan Philip. Satu sendok di kunyahnya dengan gerakan yang perlahan, kedua mata Philip melebar sempurna.


"Tidak salah Elin pengin makan masakan Eric, memang masakanya yang jauh lebih lezat. Beruntung sekali Elin dan Ely yang mempunyai sosok laki-laki hebat. Dan satu piring penuh nasi goreng kampung berpindah ke perut Philip.

__ADS_1


"Udah... udah ceritanya dilanjutkan nanti nih Papah sudah masak untuk kalian," lirih Eric sengaja ia  memisahkan banyak nasinya karena agar Darya juga makan dan Elin akan lebih semangat makanya. Darya pun bersiap hendak mengambil piring yang berisi nasi goreng kampung dan telor mata sapi.


"Oh jangan-jangan, biar Papah yang suapin kalian," lirih Eric sembari menarik kursi sementara Elin dan Darya masih-masing duduk di atas kasur. Dua wanita berbeda generasi itu saling melempar pandanganya.


"Suapan pertama untuk siapa nih, Mamah atau Elin?" tanya Eric dengan senyum mengembang sempurna. "Papah tidak pernah sebahagia ini. Bisa menyuapi dua wanita yang sangat Papah sayangi," lirih Eric.


"Kayaknya Mamah ajah duluan, kan Mamah cinta pertama Papah," usul Elin sembari menujuk mamahnya. Namun, buru-buru Darya menolaknya.


"Jangan-jangan. Elin lebih dulu dia kan lagi hamil, kalau ibu hamil harus nomor satu," usul Darya dengan menunjuk putrinya.


"Baiklah kalau gitu Elin pertama dan Mamah ke dua." Eric menyuapkan makanan bergantian benar saja mereka seolah berlomba untuk makan, terutama Elin sangat lahap makanya, tidak ada drama-drama bau dan tidak enak, begitu masuk mulut kunyah lalu telan, begitu seterusnya.


"Masakan papah memang juara. Betul kan Mah," ujar Elin dan di balas dengan  senyum manis oleh Darya, tetapi beberapa menit kemudian wajah Darya seperti murung.


"Mamah kenapa, kok kayaknya sedih gitu?" tanya Elin dan Eric pun melihat hal yang sama, membuat penasaran.


"Mamah cuma sedih, keingat kembali pada Lucas, mungkin kalau ada dia kebahagiaan kita akan semakin sempurna. Mamah ingin kita bahagia seperti ini dan ada Lucas di tengah-tenagh keluarga kita." racau Darya.


Deg!!! Seketika kunyahan Elin terhenti wajahnya langsung berubah dan selera makanya langsung hilang. Eric pun tahu perubahan wajah Elin, dan Eric hanya mengusap tangan Elin dan memberikan kode kalau semuanya akan baik-baik saja.


Eric padahal sudah cerita tentang kondisi Elin dan Lucas, tetapi Darya mungkin lupa sehingga membahas kembali perihal putra laki-laki mereka. Yang sebaiknya dihindari dulu agar Elin tidak mengalami trauma lagi.

__ADS_1


__ADS_2