Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 207


__ADS_3

Lucas dan Eric yang belum tahu kalau keluarganya yang sudah datang pun memilih menemui dokter Eka ke ruangannya, untuk melakukan konsultasi untuk memastikan bisa atau tidaknya Lucas melakukan donor hati,. untuk sodara kembarnya.


"Mas..." Suara yang sangat familiar mengganggu gendang telinga Lucas dan Eric.


"Jia, sudah tahu kalau Elin sudah melahirkan?" tanya Lucas, dengan wajah yang langsung berubah. Kaki dan terlihat sangat canggung.


Jiara menganggukan kepalanya. Kakek yang telpon Jia, makanya langsung datang ke sini. Mas kapan bebas?" Ah, pertanyaan yang sama-sama tidak berbobot.


"Barusan pagi, tadi sudah ketemu dengan Kia, tapi kata Mamih kamu lagi kerja."


"Kalau gitu papah ke kamar Elin dulu yah Nak, Jia, lanjutkan obrolanya. Papah mau lihat Elin takut cari papah, soal menemui dokter Eka, nanti bisa di lanjut lagi." Eric pun menepuk pundak pelan Lucas.


Jiara yang merasa belum siap pun hendak menahan papah mertuanya agar tidak pergi, tetapi  justru sudah terlambat. Eric sudah melenggang pergi lebih dulu.


Jiara dan Lucas pun nampak bingung, entah mau ngomong apa mereka dengan kecanggungan masing-masing.


"Apa kamu ada waktu sebentar untuk sekedar minum kopi?" Rasa canggung yang Lucas rasakan hingga ia bingung mau ngomong apa, entahlah ini adalah perasaan yang aneh, kenapa dia jadi memiliki rasa yang aneh seperti ini takut kalau salah ngomong dan menyakiti Jiara, sedangkan dulu, dia adalah seorang laki-laki yang tidak pernah mau perduli dengan persaan wanita. Namun sekarang malah berbeda sangat jauh.

__ADS_1


Dulu Lucas akan berbicara apa saja yang ada di dalam otaknya mau suka atau tidak dia tidak mau perduli, dia selalu berbicara sesuka hatinya, tetapi tidak ada yang merasa tersinggung, malah wanita-wanita itu tergila-gila pada dirinya. Ia selalu menjadi laki-laki yang dipuja.


Jiara tidak langsung menjawab, tetapi sudah pasti kedatanganya ke sini adalah untuk menjenguk Elin dan buah hatinya, tapi malah bertemu dengan suaminya.


"Sebentar saja, aku mohon. Aku takut tidak bisa bertemu lagi dengan kamu sehingga aku berharap ini adalah pertemuan yang bisa menghapus dosa-dosaku sama kamu dan kamu bisa memaafkan semua kesalahanku," ucap Lucas dengan  nada yang memohon.


Jiara langsung tersentak kaget dengan ucapan Lucas. "Mak... maksud kamu ngomong seperti itu apa? Apa kamu mau meninggalkan aku dan Kia lagi?" cecar Jiara dengan kelopak mata yang memanas seketika berubah memerah.


"Kita bicara di kantin." Lucas menunjuk arah sembarangan, yang mana dia sendiri tidak tahu kantin ada di sebelah mana, dan di lantai berapa, asal tunjuk saja.


Dengan langkah yang berat Jiara pun mulai mengikuti Lucas. Jiara seperti bukan melihat Lucas yang beberapa bulan lalu menikahinya, tubuhnya yang banyak menyusut dan pelakukanya yang saat ini lembut dan pastinya senang yang Jiara rasakan, tetapi tidak memungkiri juga Jiara takut akan berpisah dengan Lucas setelah Lucas bebas.


"Kamu mau ngomong apa sih, kenapa aku merasa sepertinya kamu berubah, apa kamu selama di penjara menemukan wanita lain yang lebih dari aku?" cecar Jiara lagi. Bahkan dalam otaknya dia sudah berpikir bagaimana cara menjelaskan pada Zakia dengan semua ini, bagaimana kalau Lucas memilih wanita lain, dan Zakia menanyakanya, apa yang akan di katakan? Karena saking parnonya hingga dia berpikir yang tidak-tidak.


Lucas mengembangkan senyumnya dengan sempurna. "Andai Tuhan mengabulkan doa-doaku, kamu adalah wanita terakhir yang akan aku cintai, aku tidak akan mencintai wanita-wanita itu selain kamu," ujar Lucas dengan menatap wajah sang istri yang menenagkan dan tidak akan pernah bosan untuk ia tatap.


Waniita berhijab panjang  itu perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Lucas yang sedang menatap wajahnya dengan dalam. "Apa yang terjadi dengan kamu? Aku melihat kamu berbeda, ada yang sedang kamu sembunyikan?" tanya Jiara dengan isakan yang tertahan, sesak di dadanya hingga tenggorokanya terasa sakit.

__ADS_1


Lucas menggeleng dengan kuat, aku sedang baik-baik saja ,dan aku hanya sedang ingin berbicara dengan kamu.


Sedetik kemudian Jiara menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Kamu sedang berbohong, apa yang sedang kamu sembunyikan dari aku? Aku tidak akan mudah kamu bohongi."


"Aku hanya ingin memperjuangkan maaf dari adik aku sekaligus sodara kembarku saja," jawab Lucas dengan nada yang santai.


"Maaf dari Elin, kenapa aku seperti melihat kamu akan pergi jauh, dan tidak akan lagi bersama-sama dengan kita. Kamu tidak akan pergi kan. Kamu pasti memikirkan perasaan Kia seperti apa nanti kalau kamu pergi. Kia pasti akan marah besar sama kamu dan sama aku juga yang selalu membuat kamu pergi. Asal kamu tahu Kia itu tahunya kamu marah pada aku dan pergi meninggalkan kan Kia gara-gara bundanya. Apa kamu mau selamanya Kia marah dengan aku hanya karena salah paham ini?" rancau Jiara dengan nada yang menahan marah.


'Maafkan aku karena membuat kamu salah paham selama ini, maafkan aku, aku hanya bisa membuat kamu semakin sulit." Lucas terus menatap Jiara yang sudah menitikan air mata.


"Aku selama ini berjuang dengan perasaanku, untuk berusaha memaafkan kamu. Meski berat, tetapi aku terus berusaha untuk membuka pintu maaf itu, memberikaan kesempatan untuk kamu membuktikan penyesalan kamu, untuk membangun keluarga yang harmonis, tetapi kenapa kamu seperti menyerah? Kenapa kamu seperti sedang mengatakan kalau kamu akan pergi? Aku janji kalau kamu pergi aku akan marah sama kamu, aku marah besar, bahkan bukan aku saja yang marah Zakia dan semuanya akan marah sama kamu."


Jiara langsung bangkit dari duduknya dan tanpa  menunggu persetujuan dari Lucas wanita itu kembali berjalan meninggalkan laki-laki itu sendirian dan lebih memilih menemui Elin.


Meskipun Jiara tahu kalau Lucas sedang merahasiakan sesuatu, tetapi Jiara tidak mau memaksakanya, biarkan Lucas sendiri yang akan datang padanya dan mengatakan apa yang mengganggu perasaanya, dan mengajaknya berbicara selayaknya seorang suami pada istrinya, terbuka.


"Maafkan aku Jiara, maafkan aku dan aku paham suatu saat kamu tahu kalau aku ini sangat menyayangi kalia." Lucas meminum jus yang baru saja diantarkan.

__ADS_1


"Tunggu aku Elin, semoga kamu bisa sembuh dan memaafkan aku," gumam Lucas, padahal dia yakin bahwa dia bisa membantu Elin, tetapi entah mengapa rasa ragunya membuat dia  seolah akan mengalami ujian yang berat.


"Lucas kamu pasti bisa melakukan itu semua kamu pasti bisa. Kamu adalah laki-laki yang kuat, sodara kembarkamu membutuhkan kamu, dan kamu harus bisa buktikan kalau kamu layak mendapatkan maaf dari Elin, Jiara dan kedua orang tuamu, dan juga buah hati kamu."


__ADS_2