
"Sah!!!" ucap para saksi ketika Eric selesai membacakan ijab qabul. Kini Darya dan Eric kembali menjadi pasangan suami istri dan lagi-lagi pernikahan mereka tanpa restu Philip sebagai orang tua Darya, dalam hati wanita paruh baya itu ada perasaan sedih yang teramat, bukan sedih kalau dirinya menikah tanpa restu ayahnya saja, tetapi ia juga sedih takut kalau dirinya nantinya akan dipisahkan lagi dengan putri dan suaminya yang sangat-sangat dicintainya. Wanita itu masih terbayang dengan jelas gimana cara papahnya memisahkan dirinya dengan Eric tempo dulu.
Di mana Phillip ternyata hanya bekerja sama dengan dokter mengatakan bahwa Lucas menderita kelainan jantung, dan membutuhkan uang banyak. Karena itu Eric dan dirinya berpisah demi bisa mengobati putra mereka. Namun, lambat laun semuanya terbongkar kalau Lucas sehat tidak ada kelainan jantung ataupun apa. Semuanya sehat, sakit itu hanya ada-ada Phillip untuk memisahkan Darya dan suaminya dan itu semua berhasil.
Kini Darya dilanda ketakutan kalau Eric akan melakukan hal yang sama, segala cara ia lakukan untuk memisahkan mereka.
"Mamah, kok diem saja ada yang membuat Mamah sedih?" tanya Elin yang berada di belakang ibu kandungnya, bahkan Eric menjulurkan punggung tanganya untuk dicium oleh istrinya, Darya lebih banya diam dan mematung. Eric dan yang lainya sampai cemas takut kalau wanita itu depresinya akan kambuh.
Darya tersentak kaget ketika putrinya menegur dirinya. Bahkan Diki dan yang lainya sudah bersiap karena ditakutkan kalau Darya akan kambuh lagi sakitnya. Namun semua kehawatiran Diki dan rekan medisnya tidak terjadi.
"Maaf saya melamun, karena memikirkan anak laki-laki saya yang tidak bisa hadir. Bisa diulang saya harus gimana lagi," ucap Darya dengan sopan, tetapi justru Elin kali ini yang termenung memikirkan ucapan mamahnya. Yah, bagaimanapun Elin lagi-lagi tidak ingin bertemu dengan Lucas, tetapi orang tua mereka terutama mamahnya tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka sehingga Darya menginginkan rumah tangga yang untuh bersama dengan kedua buah hatinya.
Sangat berbeda jauh dengan harapan Elin yang hanya menginginkan hidup dengan keluarganya tanpa adanya Lucas. Arya yang berada di samping Elin pun lagi-lagi mengelus punggung Elin dengan halus. Ia tahu arti termenungnya Elin. Elin yang mendapatkan pelakuan manis dari Arya pun menatap sepupunya itu, sedetik kemudian bibirnya ditarik dengan paksa.
"Cepat atau lambat semuanya akan terungkap, dan aku harus menerima dia," lirih Elin dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lucas juga pasti akan terhukum dengan keadaan. Dan sebenarnya dia sudah merasakan kalau perbuatan dia memang salah, tetapi dia tidak sanggup untuk mengetahui kebenaranya, dan kalau dia tahu kebenaranya, dia akan jauh lebih tersiksa dari pada kamu," imbuh Arya. Lucas adalah orang yang paling dekat dengan Arya, sehingga Arya sangat tau watak sesungguhnya sepupunya itu.
Elin hanya menunduk, ia juga tahu Lucas seperti itu karena fitnah yang seharusnya tidak ia telan mentah-mentah, dan percaya begitu saja dengan orang lain, dan mengakibatkan ini terjadi.
__ADS_1
Saking sibuk dengan pikiranya Elin dan Arya sampai tidak sadar kalau acara pernikahan Eric sudah selesai, meskipun hanya dilangsungkan secara sederhana, tetapi banyak tetangga yang datang, terutama setelah mereka tahu kalau Eric menikah dengan mantan istrinya yang sudah lama ia terpisah dan juga sang istri sempat depresi, banyak yang memuji kesetiaan cinta mereka.
"Selamat yah Mah, Pah semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia dunia akhirat," ucap Elin menghampiri orang tuanya, harapanya yang sudah lama ia impikan akhirnya dihari ini terwujud satu persatu, sekarang tinggal ia fokus dengan masa depanya.
Dulu bahagia papahnya adalah menjadi impian terbesarnya, sangat ingin melihat papah dan mamahnya bersatu kembali dan sekarang wajah papahnya juga sudah sangat bahagia.
Sekarang adalah acara foto bersama, pertama adalah Elin dan kedua orang tuanya, dan disusul bersama Arya dan Dokter Marni, serta terakhir dengan dokter Diki dan para suster yang senang tiasa merawat Darya selama ini.
Setelah acara selesai mereka pun langsung kembali lagi ke rumahnya , sekarang tidak takut lagi bakal ada yang mengfitnah karena semuanya sudah sah menjadi pasangan suami istri. Sampai detik ini pun Darya belum tahu kalau Elin tengah hamil, dalam acara tadi pun tetangga tidak ada yang curiga, karena Elin mengenakan gamis yang besar untuk acara sakral pernikahan papahnya.
"Elin apa kamu belum memberitahukan kondisi kamu pada Tante Ely?" tanya Arya di tengah perjalanan mereka, di mana Elin memilih pulang bersama Arya timbang bersama Diki dan yang lainya.
"Elin belum siap Dok," jawab Elin dengan pasrah menatap jalanan dari balik kaca jendela samping tempat duduknya.
"Mamah aka mengerti juga kalau semua yang aku alami adalah atas perbuatan Lucas, sodara kandungku sendiri, dan dia adalah sodara kembarku juga?" lirih Elin dengan wajah yang sangat lelah.
"Andai Tuhan mengabulkan satu lagi doaku, aku ingin saat ini Tuhan mengambil nyawaku. Aku pernah memohon pada Lexi agar dia tidak membunuhku karena aku takut dengan papahku yang akan tinggal sendirian, tanpa adanya keluarga satu-satunya. Cita-citaku dulu adalah papahku bahagia dengan cinta pertama dan terakhirnya, dan saat ini semuanya sudah terjawab. Papah sudah bahagia dengan Mamah, jadi aku rasa Papah tidak teralu sedih apabila kehilangan aku," jawab Elin, dan sontak saja Arya mengerem mobilnya secara mendadak.
Bukan hanya Arya yang terkejut dengan ucapan Elin tetapi Marni pun sama kecewa dengan apa yang Elin ucapkan.
__ADS_1
"Elin, kamu ngomong apa sih, dosa jangan berkata seperti itu," lirih Marni dengan membalikan tubuhnya menatap Elin yang saat ini tengah duduk di kursi penumpang belakang.
"Elin cape Dok, bermain dengan hati ini, sekarang Elin sudah benar-benar bahagia, keinginan terbesar Elin sudah terwujud. Papah sudah bahagia bertemu dengan Mamah," balas Elin dengan tatapan yang kosong. Keinginan Lucas benar-benar tercapai, Elin yang menginginkan kematian itu datang untuk menjemput dirinya.
Bahkan Elin itu sekarang tidak mau memeriksakan kandunganya, entah berapa kali Arya, Marni dan juga Eric membujuk agar Elin mau memeriksakan kandungannya, tetapi Elin selalu menolak, dan dia selalu berkata kalau anaknya sehat-sehat saja. Serta kalau terjadi pada anaknya Elin siap menanggungnya.
Untuk saat ini Eric tidak mempermasalahkanya dari pada memaksa Elin dan membuat Elin tertekan malah tidak baik untuk perkembanga janin dan kesehatan Elin sendiri. Eric dan yang lainya membebaskan Elin dengan keinginanya, meskipun memeriksakan diri ke dokter kandungan itu penting, tetapi pikiran tenang Elin lebih peting.
"Elin Istigfar, kamu tidak boleh berkata seperti itu kamu pasti bisa melewati ini semua, kamu selalu ada untuk kamu kapanpun kamu butuhkan kamu," ucap Marni, bahkan wanita itu saat ini berpindah duduk di kursi penumpang belakang karena ia harus menenangkan Elin.
Arya pun memutuskan mengajak Elin jalan-jalan sebentar tidak langsung kembali ke rumahnya, dan Arya juga sudah memberikan kabar pada Eric dan Eric tentu mengerti dengan keputusan Arya, meskipun Arya tidak menceritakan kondisi Elin saat ini yang sedang tidak baik-baik saja.
"Elin berjanjilah kamu harus kuat, kalau memang kamu tidak ingin bertemu dengan Lucas tidak masalah aku akan mengatakan ini dengan Om Eric dan juga Tante Ely, perlahan-lahan pasti mereka paham dengan posisi kamu, tetapi tolong kamu jangan berpikiran sempit seperti itu." Marni terus menyadarkan Elin, wanita itu takut kalau Elin berpikiran pendek, seperti yang menjadi tujuan Lucas, mengakhiri hidupnya, karena ia merasa papahnya sudah bahagia dan ada yang menjaganya.
"Elin kalau kamu berpikiran pendek kasihan Om Eric pasti akan sangat depresi, kami semua tahu, dan kamu juga pasti lebih tahu gimana sayangnya Om Eric terhadap kamu, kamu harus kuat untuk mereka semua. Masalah Lucas pasti ada jalan keluarnya," imbuh Arya.
"Berjanjilah Dok, akan bantu Elin, jujur Elin tidak sanggup apabila harus bertemu laki-laki itu," lirih Elin dengan tangis yang pecah. "Semakin Elin berkata bisa, semakin sesak rasa sakit ini. Elin tidak kuat dan tidak bisa apabila harus bertemu Lucas.
Marni pun memeluk Elin dengan hangat.
__ADS_1
"Kamu yang sabar yah, kami berjanji kalau kamu memang tidak bisa bertemu dengan Lucas dan Lexi aku akan mencoba menjelaskan pada tante Ely dengan perlahan. Mereka pasti akan tahu, berada di posisi kamu," ucap Arya.
"Semoga saja Elin dan dua laki-laki itu tidak di pertemukan dalam situasi yang tidak diinginkan." batin Arya, laki-laki itu paham betul kalau Elin memiliki traumatik yang sangat dalam, sehingga semakin ia berusaha untuk melupakan kejadian itu dan berdamai dengan keadaan semuanya akan semakin melukai dirinya.