Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Berpisah Untuk Berjuang


__ADS_3

Sore hari seperti yang sudah di kabarkan oleh Arya di pagi tadi, bahwa kali ini Elin dan yang lainya akan berangkat ke bandara dan secepatnya akan bertolak ke negara orang, untuk kembali melakukan pengobatan.


"Kok kamu kayaknya tegang gitu Lin?" tanya Arya di mana saat ini Elin sedang menunggu dokter marni di ruanganya masih bersiap.


"Deg-degan Dok, ini adalah kali pertama Elin akan naik pesawat, takut kalau nanti Elin kenapa-napa. Belum nanti Elin takut kalau akan mabok," balas Elin dengan memainkan jari-jarinya Elin benar-benar panas dingin, hal itu bisa terlihat dari tangan Elin dingin dan basah itu.


"Iya Dok ini adalah kali pertama Elin akan melakukan perjalanan udara, nanti takut merepotkan dokter Marni," imbuh Eric di mana tangan Eric dan Elin sejak tadi saling bertautan.


"Tenang Om, nanti dokter Marni membawa obat anti mabuk. Dan kamu Elin nanti kalau di dalam pesawat jangan tegang, tetap rileks dan tenang biar kamu enggak tegang dan itu memicu mabuk udara malah.


"Baik Dok, nanti biar Elin mencoba tetap tenang," jawab Elin, meskipun masih tegang tetapi Elin mencoba tetap tenang.


Setelah dokter Marni siap Merekapun langsung menuju bandara dengan menggunakan satu kendaraan.

__ADS_1


"Kamu baik-baik di sana yah Lin, kalau ada apa-apa kamu segera katakan sama dokter Marni, dia yang akan mendampingi kamu selama dua puluh empat jam di sana, dan kalau kamu butuh sesuatu juga jangan sungkan untuk mengatakan pada dokter Marni apa yang sekiranya kamu butuhkan, nanti dokter Marni akan membelikanya pada kamu," pesan Arya, seolah ia sangat khawatir dan cemas kalau Elin di negara orang akan kekurangan makanan dan lain sebagainya.


"Iya siap Dok, mungkin Anda lupa dok kalau dokter sudah mengatakan hal ini lebih dari tiga kali. Dokter Marni juga sudah mengatakan pada saya dokter Arya," balas Elin sembari terkekeh, paling bisa banget memang dokter Arya ini ketika Elin merasakan kelopak matanya panas, justru dokter Arya yang mengetahui Elin sedang melou dengan sengaja melakukan hal ini, niatnya untuk menghibur, dan alhamdulilah Elin dan yang lain ikut terhibur, tanpa terkecuali juga Eric yang juga merasakan terhibur.


"Ah benarkan aku sudah mengatakanya, sepertinya ini adalah kali pertama memberikan pesan seperti itu terhadap kamu Elin," tampik Arya, dah hal itu benar-benar membuat Elin terkekeh dengan penuturan Arya.


"Udah Dok, mundur ajah!! Kasihan itu Om Eric mau memberikan petuah juga buat anak kesayangan dan anak angkat(Nunjuk dirinya) ," cicit dokter Marni, sebab jatah untuk berpamitan hanya beberapa menit kalau Arya keasikan melawak, nanti bisa-bisa mereka ketinggalan pesawat, kan enggak lucu ke korean naik ojek.


Eric memeluk tubuh putrinya. "Papah enggak bisa ngomong apa-apa, hanya doa, dan doa yang selalu Papah panjatkan pada Tuhan agar kamu di manapun berada selalu mendapatkan  kemudahan baik pengobatan, dan saat kamu menjalani oprasi, kamu harus kuat. Berjanjilah pada Papah kalau kamu akan kuat untuk Papah. Elin anak Papah adalah wanita paling kuat, dan jangan buat Papah sedih dengan kabar yang tidak mengenakan dari kamu, terus berjuang yah sayang, hingga pelangi Papah berwarna kembali." Dada Eric sebenarnya sudah sangat sesak dadanya, sudah ingin menangis, dan mungkin andai laki-laki itu sudah tidak ada lagi rasa malu Eric akan menangisi kepergian putrinya, tetapi apabila ia menangis juga kasihan Elin sehingga Eric lebih bailk menunjukan pada Elin bahwa ia akan selalu penyemangatnya, dan papahnya akan selalu menerima ia apa adanya.


"Terima kasih Pah untuk kasih sayangnya sampai saat ini, Elin berjanji demi Papah dan demi orang yang sudah membuat Elin seperti ini Elin akan tetap sembuh dan Elin ingin selalu bersama dengan Papah, Elin juga ingin melihat orang-orang yang sudah menyelakai Elin nyesal, dan meminta maaf pada Elin dan pada Papah." Elin juga sesyuai janjinya bahwa ia tidak ingin membuat orang yang telah memperlakukan ia seperti binatang tidak ingin di biarkan hidup Elin ingin membut perhitungan pada dia sehingga ia harus sehat dan baik-baik saja.


Setelah saling berpamitan dan saling memberikan nasuhat pada Elin, kini Eli dan dokter Marni pun mulai meninggalkan Arya dan Eric.

__ADS_1


"Marni aku nitip Elin yah," ucap Arya sebelum dokter Marni pergi meninggalkan dua laki-laki itu. Dua  jari jempol yang di tunjukan oleh dokter Marni sudah sangat memberi jawaban yang meyakinkan bahwa Elin akan baik-baik saja dengan Elin di negara orang nantinya.


Bibir pucat terlihat secara jelas di wajah Elin, dan ini adalah pengalaman pertama oleh Elin di mana ia harus menaiki angkutan udara itu. Dan ini sebebnya wajah Elin cemas dan sekujur tubuhnya seolah saling bergetar, dan keringat kepanikan mulai bermunculan. Elin menatap ke sekitar, di mana para penumpang lain terlihat sangat menikmati angkutan udara yang menurut Elin sangat menakutkan. Namun kenapa orang-orang sepertinya sangat nyaman, bahkan ada yang dengan pulas tertidur.


"Elin kamu kenapa?" tanya dokter Marni dengan suara lembutnya.


"Ini pengalaman pertama Elin menaiki pesawat Dok, tubuh rasanya pusing perut pengin muntah dan rasanya tubuhnya enggak enak Dok," lirih Elin, dia tidak bisa pura-pura baik-baik saja. Sedangkan tubuhnya saja memberikan efek yang sudah tidak baik-baik saja. Mungkin saja dengan Elin bercerita dengan apa keluhanya, dokter Marni bisa memberikan solusi terbaiknya. Elin tidak lagi merasakan mabuk, yah Elin sangat yakin kalau dia mabuk udara, tetapi Elin masih mengingat nasihat-nasihat Arya yang mada laki-laki itu sebelum berangkat sudah mewanti-wanti agar Elin tetap tenang seminsalkan mabok ataupun terjadi apa-apa di dalam pesawat, termasuk turbulence.


Hembusan nafas panjang Elin hirup lalu Elin mebuangnya dengan perlahan agar ia yang memang tanpa sadar dan tanpa bisa dihindari bahwa tubuhnya sedang tegang merasakan ketakutan yang luar biasa.


"Nah kamu kaya gitu coba tenangin diri, dan kamu minum obat ini coba." Dokter Marni yang sudah mempersiapkan semuanya pun memberikan sebutir obat yang bermanfaat untuk menekan rasa mabuk perjalanan. Dengan tangan setengah bergetar karena apa yang di rasakanya sangat menyiksa Elin pun mengambil obat dan meminumnya.


Setelah meminum obat Elin pun merasakan matanya begitu berat, dan gadis itu pada akhirnya terlelap untuk beristirahat. Sedangkan dokter Marni pun tidak lama menyusul Elin yang sudah lebih dulu  merangkai mimpi indahnya.

__ADS_1


__ADS_2