
"Berisik!! Mana obat yang gue minta! Jangan ba-cot ajah!! Lucas justru semakin menjadi kemarahany. Tubuhnya bahkan sekarang sudah menarik kerah baju Arya, berbeda dengan Lucas yang selalu menanggapi semuanya dengan api kemarahan. Arya justru tetap diam, dan tetap santai.
"Kita dulu sudah sangat sering berantem dan malah hal itu seperti kebiasaan, dan loe selalu menang, mungkin loe juga saat ini ingin menang lagi? Silahkan aku akan diam saja, tapi apa kamu puas? Kamu puas, setelah semua yang loe inginkan tercapai?" tanya Arya dengan nada bicara yang masih tetap terlihat tenang sedangkan Lucas sudah mendidih isi otaknya.
Brukkk... Lucas meninju Arya sehingga Arya tersungkur ke lantai, dari sudut bibirnya keluar darah yang terasa manis. "Berikan gue obat itu, gue pingin istirahat," raung Lucas sembari menjambak rambutnya dan ingin laki-laki itu membunuh tubuhnya sendiri.
"Ini belum seberapa Lucas, ini baru awal dari semua fakta yang mulai terbuka, apakah kamu sanggup dan kuat apabila semua fakta terbuka satu per satu, dan loe selalu tergantung pada obat-obatan untuk menenangkan diri loe. Apa tidak ingin loe itu berubah. Gue takut nantinya bukan hanya Tante Ely yang depresi dan masuk rumah sakit jiwa. Gimana kalau kamu juga akhirnya menyusul Mamih kamu, lalu siapa yang merawat Mamih kamu, apa kamu tidak ingin melihat Mamih kamu sembuh dan kalian hidup bahagia?" Arya terus mengingatkan Lucas, mungkin dengan ocehanya Lucas nantinya akan tersadar dan juga Lucas akan tahu bahwa tidak selalu masalah dia akan selesai dengan obat-obatan. Sekeras apapun masalahnya ia harus bisa mengendalikanya karena memang hidup itu tidak sesimpel itu.
"Arya please berikan obat itu, gue ingin istirahat, nanti gue janji tidak lagi meminta obat itu, karena gue juga ingin hidup normal," ringis Lucas, suaranya lirih dengan tatapan mengiba. Kepalanya yang pening membuat ia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
"Minumlah, tapi ingat obat ini bukan solusi untuk masalah-masalah yang loe buat, obat ini justru akan membuat loe semakin terbawa kedalam masalah baru. Dan satu lagi, loe mulai sekarang tolong rubah cara berfikir loe. Orang yang datang menasihati loe itu bukan orang sok tahu yang ingin mencampuri urusan loe, tapi orang itu perduli sama loe, jangan sampe loe menyesal untuk kesekian kalinya dan ketika itu terjadi loe sudah tidak ada kesempatan untuk meminta maaf. Rubahlah sifat kamu Lucas." Arya menjulurkan obat yang bisa menenagkan pikiran sepupunya dan juga obat tidur.
Entah Lucas mendengarkan nasihat Arya atau tidak, tetapi setidaknya Arya sudah berusaha sebaik mungkin agar sepupunya berubah. Dan Arya tahu sebab kenapa Lucas mengalami depresi yang teramat, tak lain dan tak bukan adalah kabar kematian Elin dan Eric yang Arya katakan, bagian dari rencana Arya. Alam bawah sadarnya mengatakaan bahwa dia juga sebenarnya tidak menginginkan kematian dua orang itu. Arya yakin jauh dialam bawah sadar Lucas ada cinta dan kasih untuk dua orang yang ia sebut musuh itu.
__ADS_1
Dengan tangan gemetar Lucas mengambil obat itu, dan menelanya seperti sebuah permen. Arya hanya bisa memperhatikan tingkah sepupunya, mungkin andai Arya orang yang keras kepala , dan tidak sabar dan tidak peduli dengan sepupunya. Ia sudah meninggalkan Lucas. Arya tidak mau kejadian Lily terulang kembali, cukup adik perempuanya yang meninggal dan hal itu sudah berhasil membuat Arya sangat merasakan kehilangan. Arya tidak mau sekarang ia juga kehilangan sepupunya, yang bahkan sering membuat ia terluka seperti malam ini, bibirnya pecah, dan selain itu kata-kata Lucas juga selalu menusuk hatinya, tetapi Arya tetap berusaha sabar. Karena ia tahu merubah kebiasaan tidak mudah.
Arya duduk dan mengompreskan air dingin kelukanya, laki-laki itu sekarang sedang duduk di atas sova dan tangan memegang kompresan berisi batu es, dan kedua matanya menatap pada Lucas yang saat ini sudah tertidur dengan pulas. Sebenarnya tanpa sepengetahuan Lucas, Elin dan yang lainya, Arya juga sedang mencoba mencari tahu kehidupan Eric dengan tantenya. Hati nurani Arya tetap tidak percaya dengan yang dikatakan Lucas, selain mencari informasi dengan apa yang dulu terjadi dengan Darya dan Eric, rencananya Arya akan melakukan tes DNA untuk empat orang itu.
Setelah semua terjawab dengan tes DnA itu, Arya akan menguatkanya lagi dengan saksi-saksi yang menguatan. Laki-laki yang berprovesi sebagai dokter itu gemas dengan Lucas yang melakukan tindakan tanpa dicari tahu dulu kebenaranya tidak hanya itu Arya juga merasa bahwa entah Lucas yang terlalu lamban untuk mencari informasi atau memang Lucas seolah sengaja tidak mau mencari info-info itu, karena mentalnya tidak kuat apabila tahu apa yang sebenarnya terjadi, dalam kata lain Lucas sebenarnya sudah yakin bahwa tindakanya itu sudah salah, dan dia dalam hatinya sudah curiga bahwa ada yang tidak beres dengan semuanya. Maka dari itu ia lamban untuk mengumpulkan info-info itu.
Lucas sengaja ingin menunda sebuah fakta, yang ia yakinin bahwa fakta itu membuat ia terluka.
Arya beranjak dari duduknya dan akan meninggalkan kamar Lucas, yang mana saati ini laki-laki itu sudah tertidur dengan nyenyak, tetapi Arya tidak menjamin bahwa dalam tidurnya ia merasakan ketenangan, bagamana jadinya kalau dalam tidurnya laki-laki itu juga dikejar-kejar dosanya.
Elin harus tetap hidup hingga ia melihat orang-oarng yang sudah mencelakainya datang dan meminta maaf pada dirinya. Elin harus menyaksikan bahwa orang-orang yang jahat pada dirinya pasti suatu hari akan menyesal dan mencari diri'nya.
****
__ADS_1
"Pagi Elin, Om Eric, gimana tidurnya nyenyak? Kalian sudah siapkan, ingat kalau hari ini kamu akan melanjutkan perjuangan kamu Elin?" tanya Arya yang seperti biasanya ketika pagi menyapa ia datang untuk menemui Elin terlebih sore nanti Elin dan Marni harus bertolak ke negara Korea untuk melakukan pengobatan selanjutnya.
Wajah lelah dan ketakuta terlihat di wajah Elin dan Eric tetapi Arya tahu bahwa dua orang itu adalah orang yang kuat sehingga mereka akan tetap baik-baik saja dan mengikuti prosedur dengan baik hingga ujian perpisahan ini akan membawa kabar gembira.
"Siap Dok, Elin malah sudah tidak sabar ingin bertemu dengan opa-opa Korea yang terkenal ganteng-ganteng itu," balas Elin dengan bibir dipaksa mengukir senyum. Meskipun senyum itu adalah senyum palsu tetapi Elin yakin akan ada pelangi setelah badai.
"Sama Om juga sudah siap, dan memang harus siap, karena semuanya demi kebaikan Elin juga, kalau Om tidak siap malah kasihan Elin, dia masa depanya masih sangat luas." Eric juga sama mencoba menarik sudut bibirnya. Mungkin ini adalah perpisahan dengan jarak paling lama yang Eric dan Elin rasakan selama hidupnya. Sebelumnya laki-laki itu tidak pernah betpisah dengan putrinya.
Namun kali ini Eric harus bisa dan sanggup untuk melakukanya, masa depan Elin lebih penting dari semuanya, apabila wajahnya rusak dan cacat seperti ini malah kasihan pada Elin nantinya, akan sulit mencari jodohnya. Meskipun kadang ada yang mengatakan bahwa jodoh tidak memandang fisik tetapi rasanya sangat mustahil.
"Ngomong-ngomong dokter Arya bibirnya kenapa?" tanya Elin, dengan matanya memberikan kode.
Arya pun membalas kode Elin, "Nanti kalau papah kamu sedang keluar aku ceritakan," bisik Arya, dan itu hanya bisa didengarkan oleh Elin.
__ADS_1
Elin semakin yakin bahwa bibir Arya terluka karena kakak tirinya, Lucas.