Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 167


__ADS_3

Kebahagiaan Philip tidak bisa dibendung ketika kedua matanya menangkap sosok wanita yang sangat ia kenalinya. Wanita yang entah sudah berapa lama tidak ia jenguk keberdaanya. Karena dirinya yang terlalu sibuk dengan dunianya.


Darya yang sedang menyapu halaman rumahnya langsung lari ke dalam rumahnya begitu ia melihat ada rombongan mobil datang menuju tempat tinggalnya. Pikiranya masih dilanda ketakutan kalau ia akan dipertemukan dengan  papahnya dan dia tidak bisa mengelak dengan masalah  karena papahnya akan memisahkan drinya dan Eric, cinta sejatinya.


"Pah, Papah di luar ada banyak mobil menuju ke rumah kita, apa itu adalah Papah Philip?" lirih Darya sembari menghampiri suaminya yang sedang paking ayam ungkepnya, sedangkan Elin yang tidak mengenali siapa Philip pun hanya menatap sang mamah yang sedang kepanikan. Setelah itu ia bergantian menatap papahnya yang lebih terlihat tenang.


Namun tidak sedikit pun Elin bertanya siapa Philip itu, karena  Elin yakin sebentar lagi pertanyaanya akan terjawab, dan suka atau tidak suka Elin harus berusaha  senetral mungkin. Wanita yang memiliki bola mata berwarna coklat pudar pun tahu bahwa sekeras dia berlari pada akhirnya labuhanya hanya satu yaitu ia akan bertemu dengan Lucas, dan Lexi. Karena memang dia adalah bagian dari kisah mereka.


Hampir semalaman Elin memikirkan apa yang dikatakan Arya, ia menolak rencana Arya yang meminta dirinya menikah secara bohong-bohongan dengan dokter Diki. Elin menolak dan itu artinya ia akan bertemu dengan Lexi hanya menunggu hari itu akan tiba, siapkan Elin bertemu dengan mereka? Semuanya tidak perlu menunggu jawaban siap karena bagaimanapun hati Elin ia tidak akan pernah lepas dari masa lalunya.


Gegas Eric bangkit dan meninggalkan pekerjaanya, dan hanya Elin yang masih melanjutkanya. Eric keluar rumahnya di susul oleh Darya yang juga penasaran. Elin sendiri memilih tidak ikut campur dengan masalah itu, entah apapun, dia lebih fokus dengan pekerjaanya.


Arya turun dari mobilnya dan di susul Philip yang dengan tertatih turun di bantu oleh perawat laki-laki yang di tugaskan menjaganya. Dan di barusan terakhir satu unite mobil yang mengangkut empat ajudan yang bertugas menjaga Philip mereka turun dan berdiri dengan tegap di setiap sudut siap mengamankan Philip dari bahaya.


"Darya, Papah senang bisa bertemu dengan kamu," ucap Philip padahal jarak mereka masih jauh dan Philip berjalan dengan tertatih menghampiri seorang wanita paruh baya yang semakin terlihat cantik, serta laki-laki paruh baya yang masih terlihat sangat tampan dan terlihat muda itu adalah menantunya.


Darya masih mematung tidak percaya bahwa laki-laki tua yang dari dulu selalu berbicara tinggi dengan dirinya kini menyapanya lebih dulu dengan  suara yang lebih lembut.


"Darya mamafkan Papah," ucap Philip begitu laki-laki itu berada di hadapan putrinya. Sementara Darya masih mematung tidak percaya dengan apa yang terjadi di pagi ini.


Elin sendiri di dalam rumah menguping, dan tanpa terasa air matanya jatuh. Hari semakin terkikis dengan adanya pertemuan ibunya dengan kakeknya, maka dia hanya tinggal menunggu takdir bahwa ia pun akan bernasib sama bertemu dengan Lucas, sodara kembarnya. Lalu setelah semua tahu bahwa Elin hamil anak Lexi, maka tinggal ia lagi-lagi diam menerima takdir kalau laki-laki itu akan datang untuk mempertanggung jawabkanya.


Tanpa terasa pipinya sudah basah dengan linangan air mata yang tiada hentinya. Sakit hatinya, tetapi ia harus berpura-pura baik-baik saja demi kebahagiaan kedua orang tuanya.


Eric yang berada di samping Darya mengulurkan tanganya lebih dulu ke pada Philip, untuk bersalaman sebagai salam pertemuan. Philip pun yang dari awal kedatanganya lebih terfokus pada buah hatinya, Darya. Sampai laki-laki tua yang berdiri dengan bertumpu pada tongkat tangan pun tersentak kaget ketika ada tangan kekar mengajaknya bersalaman.

__ADS_1


Sedetik kemudian Philip dengan tangan bergetar, menyambut uluran tangan itu. dan menarik tangan Eric  hingga kedua lagi-laki itu berpelukaan. Eric nampak canggung dengan Philip yang nampak sangat hangat itu.


"Maafkan Papah, entah sudah berapa banyak dosa dan kesalahan yang Papah lakukan terghadap kalian, terutama kamu. Meskipun Papah tahu kalau Papah tidak akan pantas meminta maaf dari kalian, tetapi Papah sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kalian. Maafkan Papah dan kalian ikut Papah untuk tinggal di rumah Papah agar Papah tidak kesepian," racau Philip dengan isakan samar masih dengan memeluk menantunya.


Menantu yang sebelumnya tidak pernah mendapatkan restu darinya, dan saat ini dia-lah yang memohon agar mereka menjadi keluarganya.


Eric terharu dengan apa yang terjadi di hadapnya. Dengan tenang Erik mengusap punggung mertuanya. "Terima kasih telah berkenan menerima saya menjadi bagian dari keluarga Anda, tetapi kalau soal kembali ke rumah Anda, saya serahkan keputusan penuhnya pada istri saya, yaitu Darya, putri Anda." Eric menatap istrinya.


"Maafkan juga selama ini kami yang selalu membangkang Anda dan memilih menjalani pernikahan ini tanpa restu dari Anda. Saya sadar betul perbuatan saya sebagai laki-laki salah, karena mengambil anak Anda tanpa izin. Maafkan saya," Eric juga menumpakan kesalahanya, dan dengan rendah hati mengakuinya dan memohon maaf atas kesalahanya.


Darya sendiri hanya terisak bahagia, dia sebagai orang yang kenal dengan Philip tentu sangat tahu betul bahwa papahnya memang sudah bertobat.


Pertemuan yang mengandung bawang ini pun terus berlanjut, baik Eric maupun Philip masih terus meminta maaf dan memaafkan, hingga Darya mendapatkan giliranya.


Philip menatap putrinya dengan penuh takjub. "Papah tidak menyangka kalau kamu begini bahagianya, kamu tetap cantik. Ely maafkan Papah karena telah membuat kamu selama ini menderita. Papah membuat kamu sampai depresi, dan membuat kamu hingga belasan tahu terkurung di rumah itu tanpa memberikan fasilitas yang baik. Papah bodoh, Papah  salah dan Papah juga  sangat menyesalinya. Ternyata yang kamu butuhkan bukanlah harta berlimpah seperti yang selama ini Papah berikan untuk kamu. Yang kamu butuhkan hanya kasih sayang yang tiada henti seperti yang kalian lakukan terhadap anakku." Philip menatap Eric dengan kagum.


"Papah meminta maaf  Ely, maafkan Papah." Philip hendak bersujud di kaki Darya, putrinya yang masih mematung tidak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Namun, buru-buru di tahan oleh Eric dan juga Arya.


"Pah, Papah jangan gini, Darya sudah maafin Papah kok, sebelumnya Eric sudah berbicara dengan anak Papah dia sudah membuka pintu maaf untuk Papah dari jauh-jauh hari. Dia seperti ini karena terlalu bahagia dengan apa yang Tuhan berikan, dia tidak menyangka kalau Tuhan sebaik ini." Eric menahan tubuh Philip agar tidak bersujud di kaki putrinya.


Arya sendiri hanya diam menyaksikan pertemuan ini, ia bahagia karena ia bisa menjadi saksi pertemuan satu anggota keluarga yang saling sebelumnya bersitegang dengan semua yang terjadi. Namun di hari ini bongkahan keegoisan yang melekat di dalam hati mereka sudah hilang. Philip sudah membukakan pintu damai.


"Pah, Darya memang marah dengan Papah, tetapi Darya lebih marah dengan Tamara, asal Papah tahu wanita itu hanpir setiap hari mencekoki pikiran Ely dengan berita-berita yang bohong. Hingga Ely berpikir untuk apa Ely hidup kalau cuma membuat masalah. Ely memang marah dengan Papah, tetapi Ely tahu tanpa Tamara, Papah adalah orang baik," isak Darya, ia lega bisa mengatakan apa yang selama ini ia pendam.


"Tamara? Apa saja yang wanita ular itu katakan?" tanya Philip geram, ia baru menyadarinya bahwa istri mudanya memang sangat mengesalkan. Dia bahkan tidak pernah menyadari kejahan Tamara, saking bucinya Philip terhadap Tamara, sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa wanita itu adalah wanita dengan banyak wajah.

__ADS_1


"Tamara mengatakan bahwa putri dan juga suami Ely sudah meninggal dan itu yang membuat meninggal adalah Papah, setiap Ely berpikir tidak mungkin, tetapi Tamara beserta bukti-bukti yang dia miliki mengatakan pada Ely bahwa info yang dia punya adalah kebenaran.


Philip yang mendengar pengaduan dari putrinya pun emosi dan tidak bisa lagi membendung kemarahanya. Dia marah dan kesal dengan apa yang terjadi dengan kebodohanya yang percaya bahwa Tamara adalah wanita baik.


Darya masih terus berkisah tentang Tamara yang meracuni pikiran Ely, dengan tujuan temannya sekaligus anak tirnya depresi berat, dan apa yang Tamara inginkan pada kenyataanya tercapai. Darya yang memang terlalu mencintai Eric pun tercemar pikiranya semakin hari semakin dilanda oleh kemarahan yang luar biasa hingga wanita itu tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.


Dari pengkuan-pengakuan Tamara, Darya pun tahu bawah teman sekaligus ibu tiri mencintai Eric, dan dia memang sengaja meracuni Darya agar ia bisa merebut Eric. Namun hal itu tidak terjadi karena Eric bukan laki-laki gampangan.


Bahkan mereka sudah lebih dari tiga puluh menit berdiri untuk meminta maaf dan mengutarakan penyesalanya. Eric sampai lupa mengajaknya dudu.


"Ehemmzzz... kayaknya sudahan yuk bermelow-melownya, kita duduk cape," sela Arya yang sudah tahu kalau situasinya sudah aman.


"Oh ya Tuhan, Om sampe lupa. Kita duduk Tuan." Eric menunjuk gasebo yang nyaman untuk tempat mereka duduk bersantai sekedar ngobrol-ngobrol.


"Eric, panggilan Papah, sama kayak Ely yang memanggil Papah, jangan Tuan, Papah tidak suka mendengarnya," protes Philip dan dibalas senyum bersalah dari Eric.


"Oh iya Pah, kebiasaan jadi lupa, maaf yah. Eric akan berusaha menyesuaikan," balas Eric dengan singkat.


Sementara Elin di dalam kamarnya menangis dengan sedih, ia terus mendengarkan apa yang terjadi di luar rumahnya. Wanita itu bisa saja langsung keluar dan bergabung untuk bertemu dengan kakeknya, di mana Elin selalu berkata bahwa ia ingin bertemu dengan Kakeknya.


Namun, di saat hari ini tiba, Elin tidak kuasa menemuinya. Ia memilih masuk ke dalam kamarnya dan menangis haru.


"Kenapa aku tidak kuat menyaksikan ini semua, kenapa hati aku selalu sakit setiap mendengar nama Kakek? Kenapa Tuhan. Hilangkanlah sifat ini, kuatkan aku hingga aku menjadi orang yang pemaaf," racau Elin, dia pun lelah dengan hatinya yang terus terusan tersiksa, karena kemarahan yang ada dihatinya.


"Awwww... perut aku..."Elin meringis hebat ketika di bagian perutnya terasa sakit yang luar biasa....

__ADS_1


#Elin kamu kenapa?


__ADS_2