Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 228


__ADS_3

Setelah perawat pergi, dan kini Elin kembali hanya berdua dengan Lexi. Laki-laki yang sejak lama ingin menyampaikan niat baiknya pun mulai berjalan menuju ranjang pasien dan duduk di tempat biasa dia duduk, terutama ketika Elin tidur adalah momen yang tepat untuk duduk di kursi samping ranjang karena memang dia akan menemukan rasa ketenangan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.


"Lin..." Lexi memanggil Elin dengan suara yang lembut. Elin pun langsung mengangkat wajahnya menatap Lexi, dengan senyum manisnya. Seolah dengan senyumnya Elin meminta agar Lexi langsung mengatakan apaa niatnya, karena wanita itu tahu betul kalau Lexi sedang ingin berbicara dengan dirinya.


"Ngomong-ngomong soal Eril, aku ingin menebus kesalahan aku dengan menikahi kamu, apakah kamu bersedia, memberikan aku kesempatan untuk menjadi suami serta ayah untuk Eril. Aku janji akan memperlalukan kamu seperti ratu. Aku sangat menyesal telah membuat kamu menderita, dan hina. Aku ingin menebus semua kesalahan itu semua," ucap Lexi dengan mata yang merah, menandakan bahwa laki-laki itu sangat menyesal, dan bersungguh-sungguh dalam ucapanya.


Elin justru langsung memalingkan pandangan ke lain arah, menatap kosong ke luar jendela. "Apa kamu sebelumnya sudah mencoba berbicara dengan Papah?" tanya Elin, masih dalam pandangan yang ia buang.


Lexi mengangguk. " Sudan, dan Om Eric berkata, bahwa aku harus bertanya sendiri pada kamu, karena ini menyangkut masa depan kamu dan Eril. Maka dari itu begitu aku menemukan kesempatan ini aku ingin bertanya langsung dengan kamu."


Untuk beberapa saat Elin terdiam, untuk mencoba menyusun kata, dan Lexi pun memberikan waktu untuk Elin berpikir. Karena pasti bagi Elin banyak bertimbangan yang harus dia pikirkan. Lexi tidak ingin terkesan memaksa, karena ini bukan keputusan yang sebentar. Menikah sejatinya untuk seumur hidup sehingga jangan sampai salaah memilih keputusan.


"Aku berjanji, aku akan perbaiki sifat buruk aku, dan aku juga ingin menebus semua kesalahan aku, ingin menebus masa-masa sulit kamu dengan kebahagiaan. Izinkan aku membahagiakan kamu. Aku janji tidak akan membuat kamu menangis, kecuali menangis bahagia," ucap Lexi dengan suara yang bergetar, dari suara yang bergetar saja sebenarnya sudah menujukan kalau dia memang laki-laki yang baik, dan sudah menyesali semua kesalahanya.


Kali ini wanita itu mengalihkan pandangannya untuk menatap Lexi. "Rasanya terlalu jahat kalau aku tidak mengizinkan kamu untuk memperbaiki kesalahan kamu, sedangkan Lucas saja yang aku paling sakit hati sudah aku maafkan, dan aku berikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya lalu kamu tidak, rasanya terlalu jahat kalau aku tidak memberikan kesempatan untuk kamu sedangkan Kakak Jiara saja mampu melupakan semua kesalahan Lucas, padahal nasib dia lebih buruk dari aku dan Eril," jawab Elin dengan suara yang lirih dan kali ini sudah menatap ke arah Lexi dengan tatapan yang serius.


Lexi mengembangkan senyum semangatnya. "Apa ini artinya kamu mengizinkan aku untuk memperbaiki semua kesalahan aku?" tanya Lexi untuk meyakinkan kembali apa yang Elin katakan.

__ADS_1


"Eril, dia tumbuh membutuhkan dukungan dari papahnya, dan juga bundanya. Aku rasa akan lebih baik kalau kita membesarkan Eril bersama sama. Dia butuh dukungan dari ke dua orang tuanya," ucap Elin dengan yakin, sebenarnya hal ini sudah jauh-jauh hari dia pikirkan. Bahkan Elin sempat berkecil hati ketika Lexi tidak juga menyampaikan keinginanya untuk memperbaiki kesalahan yang telah laki-laki perbuat, padahal Elin ingin mendengar ucapan itu. Namun, ternyata Lexi membutuhkan waktu yang tepat, dan Elin lagi-lagi bisa memakluminya. Apalagi menjadi Lexi yang sedang berusaha memperbaiki dirinya, pasti banyak pertimbangan.


Kedua mata Lexi pun melebar sempurna ketika mendengar jawaban dari Elin. Untuk sesaat bahkan laki-laki itu bergeming untuk benar-benar mencerna apa yang Elin katakan. Lexi tidak mau besar kepala, dan langsung berbangga diri. Justru dengan Elin mau menikah dengan dirinya sesungguhnya Lexi sedang diuji, akankah dia bisa menepati janji-janjinya dan bisa membahagiakan Elin dan juga Eril. Ini adalah kabar bagus sekaligus tugas yang berat. Karen menjaga keutuhan dan tetap bahagia sesungguhnya adalah ujian yang sangat berat.


"Elin... apa kamu serius, dan itu tandanya kamu memberikan kesempatan pada aku untuk memperbaiki kesalahan aku." Lexi bahkan sampai beranjak dari duduknya untuk kembali meyakinkan apa yang dia dengar itu suatu tanda bahwa keinginannya menikah dengan Elin tercapai. Yah, meskipun tanpa Elin jelaskan lagi Lexi sudah yakin kalau apa yang dia dengar memang sebuah jawaban yang dia inginkan.


Elin pun mengangguk dengan senyum tipisnya. "Dengan catatan kamu memang benar-benar akan membahagiakan kami, dan tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama," ucap E;in dengan bersungguh-sungguh.


Lexi pun langsung berjingkrak. "Yes... Yess... Terima kasih Elin atas kesempatan yang kamu berikan untuk aku."


"Aku sejauh ini sudah memikirkan ini semua, aku juga sudah memikirkan tentang keluargaku, dan perlahan aku akan perbaiki hubungan aku dengan keluargaku, dan akan memperkenalkan kamu pada mereka," jawab Lexi dengan yakin. Memang Lexi sendiri sesungguhnya yang dia takutkan, adalah penolakan dari keluarganya nanti.


Apalagi laki-laki itu pergi ke negara ini, dengan meninggalkan masalah dengan Mily, untuk membayangkan kemarahan keluarganya saja Lexi tidak berani, karena pasti akan sangat berat.


"Yah, semoga saja kamu tidak mengingkari  janji kamu, karena saat ini janji kamu hanya terucap di hadapanku bukan dihadapan orang tuaku." Elin seolah tengah memberikan tantangan pada Lexi.


"Secepatnya aku akan berjanji di hadapan kamu, orang tua kamu, dan Tuhan," balas Lexi dengan senyum kemenangan. Yah, Lexi harus berusaha bisa mengerti Elin dan  juga buah hatinya. Bukankah orang yang baik adalah dia yang mau belajar dari kesalahan.

__ADS_1


"Benar kata Elin, menikah bukan sekedar s*k kebutuhan yang lain juga harus di cukupi, meskipun secara ekonomi kami tidak jadi masalah, tetapi perhatian dan juga waktu itu akan jadi perhitungan untuk persiapan pernikahan," batin Lexi, dia harus benar-benar memikirkan itu. Memikirkan jangka panjang bukan hanya enaknya saja, tetapi menikah itu banyak tidak enaknya, dan hanya sedikit yang enak, sisanya akan banyak ujiannya, dan Elin harus siap itu.


"Oh iya, satu lagi yang kamu harus siapkan. Kamu juga harus belajar tentang agama islam, dan Adzan dan juga Iqamah, sholat dan ngaji, serta doa-doa dan juga surat pendek perbanyak. Karena Papah adalah orang yang kental agamanya pasti dia mendambakan menantu yang bisa membawa putrinya ke surga-Nya," imbuh Elin, meskipun Elin yakin hal itu akan menjadi masalah yang berat untuk Lexi.


Kali ini Lexi benar-benar diam dan berpikir keras. "Yah itulah yang aku belum bisa, dan sejujurnya aku juga sudah memikirkan hal itu dan mencoba mendalami agama islam, tapi aku rasa harus cari seorang ustadz," ucap Lexi dengan suara yang lemah.


"Yah, kalau memang itu diperlukan kenapa tidak. Masih ada kesempatan untuk mempelajarinya," balas Elin memberikan dukungan pada Lexi.


"Tapi, kalau baru belajar ngaji di usia aku yang udah di atas kepala tiga apa tidak malu," ucap Lexi, dengan tertawa getir.


"Kenapa harus malu, bukankah lebih baik telat dari pada tidak sama sekali. Sama seperti kamu. Bukanya kamu juga kalau minta maaf dan mau memperbaiki kesalahan kamu, sudah bisa dikatakan telat, tapi kamu tetap melakukanya, dari pada tidak sama sekali kan? Lalu bedanya dengan memperdalam agama apa bedanya? Jadi jangan ada kata telambat, untuk orang-orang yang ingin bertaubat. Tuhan menyukai hambanya yang bertaubat dari pada dia yang hanya menumpuk dosa."


"Terima kasih Elin, kamu selalu memberikan keteduhan untuk aku," ucap Lexi dengan yakin, dan Elin pun mengangguk dengan kuat.


"Karena kamu nanti adalah imam aku dan juga Eril, aku pernah bermimpi memiliki satu keluarga kecil, dan beribadah bersama ada imam dan aku bersama anakku menjadi makmum dan kita hidup dalam kesederhanaan tetapi tetap bahagia. Aku percaya kamu pasti bisa mewujudkan mimpi-mimpiku," ujar Elin dengan serius, tentunya dengan tidak sengaja Elin memberikan dorongan untuk Lexi agar semakin semangat untuk belajar.


Ilmu itu tidak ada batanya, mau besar, kecil, tua, muda, kaya, miskin, namanya belajar tidak ada batasan dan tidak ada lelahnya. Terus belajar hingga kita bisa meraih apa yang kita impi-impikan.

__ADS_1


__ADS_2