Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Terhipnotis


__ADS_3

Jiara melebarkan matanya kaget, dengan apa yang dia dengar. "Kenapa bisa saudara saling membenci?" tanya Jiara dengan suara setengah berbisik.


"Nanti akan aku ceritakan, tetapi tidak sekarang, kamu mau ke mana?" tanya Arya sembari melangkah menyeimbangkan langkah Jia dan langkah dirinya. "Ke kantin, katanya bos lapar dan ingin makan jadi mau cari makanan yang kira-kira di sukain Mas Lucas. Apa dokter tahu kira-kira makananya yang disukai bos? Aku belum tahu makanan apa kesukaanya." tanya Jia, agar Lucas makan dengan banyak, dan dia juga tidak kena marah karena membeli makanan yang tidak ia sukai.


"Apa yah, Lucas itu setahu aku orangnya pemakan segalanya, jadi dia apa saja makan, dan dia juga tidak ada alergi makanan jadi aman lah." Jiara dan Arya pun pada akhirnya berpisah karena arah kantin dan ruangan Arya berbeda.


Satu kantong bok makanan dengan menu ayam bakar, cumi dan udang, serta soto, mungkin Lucas ingin makan yang berkuah. Akhirnya Jia pun kembali ke kamar Lucas dengan menu makanan itu. "Mudah-mudahan Bos suka dengan menu yang aku pilih," batin Jiara berdoa, takutnya bosnya itu rese. Kebanyakan memang biasanya apabila orang kaya dan banyak uang memang sedikit menyebalkan. Jiara takut kalau Lucas itu termasuk kegolongan dengan orang yang menyebalkan itu.


Sebelum masuk keruangan Lucas, Jia mengetuk pintu terebih dahulu, tetapi kedua matanya melirik ke pandangan yang berada di sebelahnya. Ruangan yang kata Arya adalah ruangan sodara Arya dan Lucas.


"Kira-kira mereka berdua terlibat konflik apa yah sampai mereka yang katanya bisa saling musuhan," batin Jiara, kepo. Tetapi sedetik kemudian dia tersadar dari lamunanya dan masuk ke ruangan Lucas, di mana di sana laki-laki yang masih sakit justru sedang bekerja, dengan menatap serius ke layar laptopnya.


"Ehemz... gimana mau sembuh kalau lagi sakit saja, kerja terus," sindir Jiara dengan meletakan bokonya di hadapan Lucas, yang sempat melirik dengan ekor matanya.


"Sebentar lagi, ini lagi tanggung ngecek laporan yang masuk ajah kok, bentar," jawab Lucas dengan mata kembali fokus ke deretan angka yang ada di layar canggih itu.


"Makan dulu, saya sudah cape-cape untuk membelikan makan buat Mas Lucas, jangan sampai makananya tidak di makan karena Mas Lucas yang justru sibuk dengan kerjaanya." Jia meletakan bekal makananya di atas meja, samping laptop Lucas.


"Tolong suapin dong Ji, tangan aku yang satu ada selang infusnya, dan yang satu sedang mengecek lapotan." Lagi, saking sibuknya Lucas hingga pandangan mata saja tidak bisa berpaling dari laporanya.

__ADS_1


Jia membuang nafas kasar, dan tidak langsung mengiya kan, dan juga tidak langsung menolak.


"Ini perintah Jia," imbuh Lucas yang tahu bahwa Jiara sedang keberatan dengan apa yang Lucas perintahkan.


"Ok, jia suapin, tapi lain kali atau nati-nati makan sendiri yah, tidak ada lagi alasan lain," balas Jiara dengan kembali meraih kotak makanan yang dari harumnya saja sudah membuat air liurnya ingin merasakan lezatnya rasa dari makanan yang ada di hadapanya.


"Ya Allah kuatkan godaan ini," batin Jiara, ia Lagi-lagi memaklum dengan permintaan Lucas karena bosnya yang mungkin non muslim sehingga tidak tahu bahwa kegiatanya ini membuat Jiara dalam batinya tergoda dengan makanan yang ada di hadapanya.


Sesendok demi sesendok makanan berpindah ke mulut Lucas. Tanpa sepatah katapun Jiara dan Lucas terlibat obrolan. Terlebih Lucas yang memang sedang sibuk bekerja juga.


"Kenyang Ji," ujar Lucas sembari menolak makanan selanjutnya.


"Dikit Lagi Mas." Jiara terlihat sedikit membujuk agar Lucas mau menghabiskan makanan yang ada di hadapanya itu.


Jiara pun dengan terburu mengambilakn obat yang di atas Lucas maksud dan mengambilkannya untuk Lucas minum. Lucas sekuat tenaga menahan agar makananya tidak lagi keluar. Keapalanya di senderkan ke sandaran sofa dan mataanya terpejam menahan rasa yang terlalu menyiksa antara sakit kepala yang bedenyut kuat dan juga sakit di perutnya yang seolah-olah perutnya di peras-peras dengan Sekuat-kuatnya.


Jiara yang melihat Lucas seolah kesakitan dengan keringat sebiji jagung keluar membasahi wajahnya. Wanita itu pun mengambilkan bantal agar Lucas bisa merebahkan tubuhnya di sofa. "Mas mau rebahan di sini atau di ranjang?" tanya Jia. Sebelum meletakan bantalnya, mungkin Lucas ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Disini saja dulu Ji, kerjaan aku belum selesai," balas Lucas dengan suara lirihnya. Kemudian Lucas pun membaringkan tubuhnya yang tinggi besar di atas sofa yang kebetulan pas dengan tubuh Lucas yang tinggi besar itu, sehingga tidak menekuk.

__ADS_1


"Mas, boleh tidak Jia lihat laporan yang sedang Mas kerjakan? Mungkin Jia bisa membantu mengerjakan laporan itu, dan Mas tinggal mengarahkan saja jadi Mas juga bisa sembari beristirahat," tanya Jiara dengan nada yang sesopan mungkin.


"Apa malah tidak merepotkan kamu?" tanya balik Lucas.


"Bukanya Jia ini adalah karyawanya Mas Lucas dan juga sekretaris Mas, jadi sudah jadi tugas Jia juga dong kalau kerjaan ini Jia yang kerjakan. Lagian jenuh juga nungguin Mas di dalam sini hanya diam saja, kalau ada yang kerjakan mungkin akan cepat menuju waktu buka puasa," jawa


ab Jia, sangat berharap bahwa ia akan diizinkan untuk mengerjakan laporan yang seharusnya di kerjakan oleh Lucas.


"Ya udah kamu coba ajah buka laporan dari  cabang terus samakan ke kantor pusat serta grafiknya lihat bagus atau jelek dan kalau ada yang mencurigakan atau hasilnya jelek kamu bisa minta kirim ulang laporan dari yang lain, dan cari kesalahanya biar mereka bisa perbaiki. Tapi biasanya kasus kayak gitu sangat jarang, jadi kita biasanya cukup ngecek saja. Lucas juga menjelaskan dengan cara kerja mengecek laporanya hingga Jia paham.


Jiara pun mulai mengerjakan laporan sesuai dengan yang Lucas ajarkan. Satu laporan selesai. "Kayak gini bukan?" tanya Jiara untuk memastikan bahwa apa yang dia kerjakan benar, sehingga untuk mengerjakan ke laporan yang selanjutnya dia tidak salah.


Kini Lucas sudah duduk kembali, meskipun masih terlihat dengan jelas bahwa duduknya masih sangat lemas. Lucas dengan teliti mengecek cara kera Jiara.


"Betul, itu kamu bisa mengerjakan laporan, kamu pernah bekerja jadi sekretaris atau kerja di kantor gitu? Tapi bukanya kata kamu kemarin kamu hanya lulus SMA? Terus mondok di pesantren selama dua tahun, kalau kerja kapan atuh yah?" tanya Lucas bertanya sendiri bingung sendiri, lalu menampik dengan jawaban yang di lontarkan itu.


"Enggak, tapi dulu pernah bantu Papah  ngurus kerjaan kantor dan penjualan gitu, dulu juga sempat kuliah meskipun baru semester awal, dan saya memutuskan keluar karena masalah Ibu dan Papah saya yang tiba-tiba berpisah, tetapi hasil sekolah tidak banyak memberikan banyak ilmu, soalnya sekolah banyak bandelnya," jawab Jiara dengan jujur, dan memang benar jaman Jiara sekolah dan kuliah adalah anak yang bandel, hingga semuanya merubah kepribadianya, dan memutuskan memeluk islam, dan belajar agama di pesantren kecil. Sebenarnya Jiara dilahirkan dari keluarga yang mayoritas memeluk islam, sehingga ketika masalah besar hampir menghancurkan jiwanya, dia merasa tenang dengan memutuskan mengikuti jejak ibunya yaitu memeluk islam, dan hingga sekarang jiara menjadi muslim yang taat dalam beragama.


"Pantes kamu langsung pintar padahal baru sekali aku ajarin kamu. Tapi aku senang punya sekretaris yang pintar gini, kerjaan aku jadi ringan." Lucas memberikan dua jempol pada Jiara, dan membalikan laptopnya agar Jia melanjutkan kerjaanya.

__ADS_1


Jiara pun dengan serius kembali melanjutkan laporan-laporan Lucas, agar Lucas sendiri bisa beristirahat tetapi justru Lucas tidak bisa beristirahat. Laki-laki itu terhipnotis dengan wanita yang ada di hadapanya dengan serius mengerjakan laporan-laporanya.


Jiara sebenarnya tahu bahwa Lucas tengah memperhatikan dirinya yang sedang serius dengan pekerjaan kantor pertamanya, tetapi Jiara bersikap cuek dan acuh. Biarkan saja Lucas memperhatikan dia yang terpenting dia tetap fokus dengan kerjaanya. Agar tidak mengecewakan bosnya yang baru tadi mempekerjakanya itu.


__ADS_2