Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 246


__ADS_3

Di rumah mewah Philip sedang terjadi kerepotan, pasalanya besan mau datang. Yah, Elin sudah memberitahukan pada keluarganya kalau orang tua  Lexi akan berkunjung ke rumah orang tua Elin untuk silahturahmi. wanita itu tidak lebih dulu memberiatukan kalau Elin akan diajak tinggal di rumah keluarga Lexi. Biarkan nanti kedua orang tua Lexi yang mengabarkanya langsung rencana mereka menginginkan anak dan menantunya tinggal dengan mereka.


"Elin, Lexi bangun Sayang! Ini sudah sore ayo kita berangkat ke rumah orang tua Elin." Sifa memanggil anak dan menantunya.


Sedangkan sang cucu sedang bermain dengan kakeknya. Dua pasangan suami istri yang tidak muda lagi sangat menikmati peran mereka di mana saat ini mereka sedang sangat bahagia dengan adanya cucu di tengah-tengah keluarganya, dan yang bikin mereka tambah bahagia adalah cucunya laki-laki. Siapa sih yang tidak senang apalagi anaknya berisik banget kayak burung beo. Jadi rumah mereka ramai.


Elin pun ke luar dengan wajah segarnya baru mandi. "Tunggu Mah, Mas Lexi sedang mandi," ucap Elin, ketika di depan orang tua Lexi dirinya membiasakan memanggil Mas, tapi untuk kegiatanya sehari-hari masih sering menggunakan panggilan nama langsung.


"Ok, mamih dan papih tunggu di bawah yah," ucap Sifa kembali menemui suami dan cucunya.


Elin pun kembali masuk ke dalam kamar dan mengurus suaminya yang sedang membersihkan diri. Itu semua karena Lexi yang selalu ingin ngecas dayanya, sehingga janjinya hanya setengah jam. Mana bisa kalau sudah bermain bisa cepas-cepat pasti akan ada terus permainan selanjutnya.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya pasangan suami istri yang masih baru pun turun tentunya dengan wajah yang ceria.


"Eril rewel nggak Mih?" tanya Elin pada mertuanya yang bisa dilihat sih kalau putranya itu nampak anteng banget.


"Tidak sayang. Eril malah betah sama mamih dan papih. Kayaknya dia tahu deh kalau kita itu kakek dan neneknya," balas Sifa tidak henti-hentinya memuji kepanadaian Eril.


"Eril itu dari lahir sudah diasuh dengan banyak orang gonta-ganti sama siapa saja yang ada waktu untuk menjaganya makanya dia terlihat sangat dekat dengan siapa pun. Dia tidak ada rasa takut atau malu dengan orang baru. Selain sifatnya yang nurun dari Elin, Eril juga pengertian dengan orang tuanya yang harus mengobati serangkaian pengobatan." Lexi pun menceritakan kondisi Elin beberapa bulan terakhir.


Kedua orang tua Lexi pun tidak menyangka kalau perjalanan cinta mereka cukup terjal. Dan tentunya bangga dengan perjuangan Elin hingga dirinya bisa hidup dengan bahagia bersama Lexi dan putranya.


Sifa menggenggam tangan Elin yang saat ini mereka sudah ada di dalam mobil. Lexi sebagai sopir dengan Rajaya, sang papah duduk dengan gagah di samping Lexi, dan juga Elin yang duduk dengan bersama sang mamih mertua dan tentunya sang jagoan di pangkuan mamih mertuanya.

__ADS_1


"Maafkan Lexi yah Sayang. Karena anak Mamih, kamu jadi anak yang banyak menderita. Untung kalian dipertemukaan kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama sehingga Lexi bisa segera memperbaiki kesalahanya." Lisa menggenggam tangan Elin dengan hangat. Sementara Lexi di depan hanya memasang telinganya dengan dalam dan kuat. Laki-laki itu baru sadar kalau ternyata keluarganya sangat perduli dengan dirinya.


"Elin sudah memutuskan membuka hati untuk setiap kesalahan yang telah di perbuat baik Lexi maupun Lucas. Karena  sejatinya tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah. Yang terpenting saat ini Lexi bisa bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi dan juga saat ini bisa bertanggung jawab dengan keluarganya."


Sifa pun langsung memeluk menantunya. Memang tidak salah Lexi memilih kamu sebagai istrinya."


Mereka pun terus mengobrol dengan hangat, tanpa terasa sampai di rumah keluarga Philip.


"Loh kamu siapanya Tuan Philip?" tanya Rajaya, yang memang bisnis mereka hampir sama dan beberapa kali laki-laki itu juga bekerja sama dengan perusahaan Philip, dan tentu Rajaya tahu rumah Philip juga.


"Saya Cucunya Pih."


"Cucu? Bukanya cucu dari Philip itu Lucas," balas Rajaya dengan bingung.


"Elin ini kembaranya Lucas Pih, nanti deh Lexi ceritakan." Lexi menggandeng Rajaya yang nampak masih bingung dengan kebenaran ini semua. Tidak terpikirkan sama sekali kalau Philip memiliki cucu kembar itu yang ada dalam pemikiran Rajaya. Namun laki-laki itu tetap mengikuti Lexi untuk ikut masuk.


"Saya senang bisa kedatangan tamu yang sangat kami tunggu," ucap Eric memulai obrolan dengan besanya.


"Mohon maaf baru datang, karena sebelumnya anak kami tidak memberitahukan kalau dia akan menikah," ucap Rajaya, sembari pandangan matanya menatap sang putra yang tengah menunduk dengan penuh rasa bersalah.


"Tidak apa-apa kami tetap senang dengan kehadiran kalian, meskipun pernikahan sudah terjadi, yang sangat di sayangkan kita jadi kurang dalam foto," imbuh Darya sembari berkelakar hangat. Obrolan pun terus terjadi baik keluarga Philip maupun Rajaya. Banyak topik yang mereka bahas dari mulai Elin, Lexi, dan tentunya si kecil Eril. Lalu berlanjut membahas Lucas, dan juga Jiara tentunya dengan si kecil yang sudah ingin menjadi kakak yaitu Zakia. Yah bocah kecil berusia tiga tahun itu sudah ingin punya adik bayi seperti Eril. Bahkan untuk panggilan Zakia sudah meminta di panggilan Kakak.


"Gimana kalau besan ikut biar makin ramai," ucap Eric membahas perjalanan mereka, yah rencanaya lusa mereka akan langsung melakukan perjalanan ke kampung halamanya, untuk memenuhi nazarnya di mana Eric maupun Elin pernah bernasar bakal mengajak Darya dan juga Lucas kalau Lucas sadar dari koma-nya untuk mengunjungi kampung mereka dan tentunya menjalani hidup di kampung halaman Elin dulu tinggal, meskipun hanya beberapa hari. Dan selanjutnya mampir ke tempat Jiara dulu tinggal untuk merayakan acara ulang tahun Zakia yang kali ini menepati nazar Jiara yang kalau Lucas sembuh akan merayakan acara ulang tahun putrinya di tempat Zakia mau yaitu pondok pensantren tempat Jiara tinggal saat terpuruk dan yang merawat Zakia dari bayi. Lalu yang terakhir tentunya menepati nazar Lucas yaitu mengajak sang putri untuk tamasya ke kebun binatang dan juga melihat lumba-lumba.

__ADS_1


Sifa dan Rajaya nampak bertatapan seolah sedang berkomunikasi lewat tatapan matanya. Dan setelahnya mengangguk dengan yakin.


"Kalau begitu kami ikut, ingin juga merasakan kebersamaan dengan keluarga. Apalagi kalau sampai pisah dengan cucu rasanya berat," ucap Rajaya yang sudah tehipnotis dengan cucunya sehingga membuat dia semakin dibuat serba salah.


Mereka pun kembali mengobrol dengan berkelakar menjalin komunikasi yang sehat diantara dua keluarga. Tentu tidak lupa Rajaya dan Sifa menyampaikan niatan dirinya datang ke rumah mewah ini, tidak lain dan tidak bukan yaitu mengajak Elin untuk tinggal bersama.


"Kalau kami tidak pernah mempermasalahkan putra putri kamu mau tinggal di mana, apalagi Elin wanita sudah jadi tradisi kalau wanita mengikuti ke mana suaminya akan membawanya pergi. Besgitupun Elin, kalau mereka memang sudah memutuskan ingin tinggal di rumah besan, kami tidak akan melarangnya. Toh kami lihat besan juga sangat menyayangi Elin dan juga Eril, sama-sama bahagia. Jadi kami terus dukung, toh masih bisa Elin dan Lexi berkunjung ke rumah kami, atau malah sebaliknya kami bisa mengunjungi mereka kalau kangen." Eric yang selalu bijak dalam mengambil keputusan pun kali ini melakukan hal yang paling benar.


"Alhamdulillah kami sangat senang mendengarnya.


"Yah, kamu mau pindah Lin, aku nggak ada temanya dong," sela Lucas sembari duduk di samping sodara kembarnya.


"Apaan sih, jangan lebai deh kalau ada di rumah juga jadi teman berantem," dengus Elin dengan menggeser duduknya lebih mepet pada suaminya.


"Heh berantemnya aku itu sayang sama kamu Lin, kamu jangan pindah nanti rumah ini pasti sepi nggak ada yang berisik," imbuh Lucas yang makin senang meledek sodara kembarnya.


"Apaan aku nggak pernah yah berisik, bukanya yang paling berisik itu tuyul satu itu." Elin menunjuk biang rusuh sesungguhnya yaitu Zakia. Maklum baru dia anak kecil yang bisa berteriak, nangis, ngoceh, ngomel, dan merajuk. Eril masih terlalu kecil untuk membuat berisik. Berbeda dengan Zakia yang main lato-lato semanjang hari, dan juga bermain dengan Philip malah saat ini mereka sangat akrab, dan Philip yang paling sayang dengan Zakia selalu menjadi super hero bocah kecil itu. Apalagi kalau sudah bertemu dengan Lexi yang sangat senang menggoda Zakia, kalau belum jerat jerit dan berujung nangis mungkin tidak seru buat Lexi.


Itu sebabnya yang sering bertengkar malah Lucas dan Lexi gara-gara keisengan Lexi pada Zakia, tapi kalau tidak kayak gitu rumah mewah Philip terasa horor, karena sepi. Dan nanti sebenar lagi Eril akan menyusul dan pasti akan bertambah ramai rumah mewah itu. Bukan ramai lagi tapi jadi taman kanak-kanak.


...****************...


Sembari nunggu kisah kelanjutannya mampir yuk ke novel bestie othor yuk ramaikan...

__ADS_1


Gaskeun lah...



__ADS_2