Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 191


__ADS_3

Lexi merasa lega ketika Eric memberikan kesempatan untuk ia kembali bertemu dengan Elin dan niatnya untuk  bertanggung jawab atas perbuatanya setidaknya ada harapan, meskipun harapan itu kecil. Laki-laki itu tahu kalau Elin tidak mungkin mau memaafkanya dengan mudah ketika yang dia lakukan sudah di luar batasan.


"Papah membawa makanan untuk kamu, ini papah yang masak sendiri. Semoga saja kamu suka. Elin sangat suka masakan papah, semoga kamu juga juka dengan masakan yang apah olah sendiri." Eric mengalihkan obrolanya, ketika Lucas sudah menyesali kesalahanya. Tanpa harus menekankan terus menerus Lucas dan Lexi sudah terhukum oleh takdir.


Lucas menatap rantang yang ada di atas meja.  Laki-laki itu teringat kembali ucapan Arya yang mana masakan yang selalu diberikan oleh Arya adalah masakah sang papah dan dia sangat menyukainya.


"Lucas suka masakan Papah, Arya sudah memberitahukan bahwa makanan yang ia bawa untuk Mamih itu masakan Papah," balas Lucas dengan suara yang kembali bergetar. air matanya lagi-lagi menggambarkan betapa hancur perasaanya saat ini. Tidak hanya hancur tetapi juga bahagia. Namun bukan senyum yang tersungging ketika bahagia itu datang. Air matalah yang lagi-lagi mewakilkan kebahagiaan itu.


Eric mengambilkan makanan dengan menu yang sudah ia buat. Lalu memberikan pada Darya, agar menyuapi Lucas. Darya menatap Eric dengan tatapan yang dalam, dan laki-laki paruh baya itu mengangguk.


"Gunakan waktu yang telah hilang untuk saling mendekatkan diri," lirih Eric, dan bibir Darya pun tersungging penuh semangat.


"Terima kasih Papah selalu bisa berdiri di tengah-tengah kami tanpa berpihak pada siapapun," lirih Darya dan mengambil makanan yang ada di tangan Eric, dan wanita paruh baya itu berjalan untuk duduk di samping Lucas.


"Mamah ingin menebus semua yang tidak pernah Mamah lakukan selama ini." Darya mengusap rambut putranya dan mencium kedua pipinya lalu terakhir keningnya cukup lama. Hangat, seketika tubuh Lucas menghangat, senyum tipis tersungging dari bibirnya dan seolah semua luka yang ia rasakan sembuh ketika mendapatkan perlakukan ini.


Eric pun tidak kalah bahagia ketika laki-laki itu melihat pemandangan yang indah.


"Cinta-cinta papah sejak dulu adalah ingin hidup bahagia, bersama anak-anak papah, dan tentu dengan istri papah. Itu sebabnya papah mengajak Elin pindah ke kota ini. Tidak ada lain harapan yang kami pikul saat itu, selain mengetahui keberadaan kalian. Yang sudah sejak dua puluh delapan tahun silam terpisah paksa dari kami. Namun, semuanya ternyata tidak semudah yang ada dalam pikiran papah. Halangan dan ujian untuk sampai di titik ini sangat berat untuk kami lalui, terutama Elin. Dia paling menderita di sini. Meskipun tidak dipungkiri papah pun sama menderita. Ketika tahu bahwa yang menyebabkan puteri papah hampir meregang nyawa adalah anak papah juga."


"Maafkan Lucas, Lucas sangat salah dan Lucas akan perbaiki ini semua." Keyakinanya muncul setelah ia merasakan betapa berharganya arti dari sebuah keluarga. "Lucas akan wujudkan mimpi Papah, dan juga mimpi Mamah." Laki-laki itu bergantian menatap Eric dan Darya.


"Jangan lupa kamu juga ada istri, dan anak kamu yang sangat perduli dengan kamu. Anak kamu butuh sosok ayah yang baik, yang bisa melindunginya dan bisa menjadikan tempat paling nyaman. Cinta pertama seorang anak perempuan adalah papahnya, dan dan jadikan dia putri dalam istana cinta kamu. Jangan biarkan anak sekecil itu dipaksa oleh keadaan mengerti apa yang terjadi di antara kalian. Jiara, dia adalah ibu, dan istri yang baik. Untuk berada di tahap ini tidak gampang, datang dan rangkul dia, cintai, kasihi, dan perlakukaan dia layaknya seorang ratu dalam istana cintamu. Semua orang pernah melakukan kesalahan, tetapi tidak harus menghukum diri terus menerus. Bangkit dan tunjukan rasa tanggung jawabmu."

__ADS_1


Eric yang melihat kalau Lucas sudah tenang pun kembali menasihati dengan pelan. Setelah itu ia kembali menatap Lexi yang masih nampak menunduk.


"Makan dulu Lex, setelah itu kamu datang ke rumah temui Elin, dan bicarakan masalah kalian baik-baik. Dalam hitungan hari Elin akan segera melahirkan om harap kamu bisa tahu gimana rasanya wanita melahirkan dan mungkin kamu akan berhenti berbuat kurang ajar pada wanita."


Eric kembli menyodorkan satu piring menu makanan untuk Lexi, meskipun ia marah kesal dan jengkel pada laki-laki itu, tetapi ia sadar dirinya bukanlah Tuhan yang pantas menghakimi para pendosa. Soal hukuman, karma dan lain sebagainya biarkan Tuhan yang bertindak. Eric tidak mau mengotori tanganya untuk melakukan yang bukan wewenangnya.


Sama seperti Lucas, Lexi pun semakin diperhatikan, semakin diberikan kesempatan untuk menebus kesalahanya, laki-laki itu justru semakin dihantui oleh rasa penyesalan. 'Andai' kata itu yang selalu terucap dalam bibirnya.


Andai saat itu Lucas tidak buru-buru berbuat bodoh. Andai Lucas mencari kebenaranya dulu. Andai Lexi sendiri tidak hanya sek yang ada dalam otaknya. Mungkin ini semua tidak akan seperti ini. Hatinya tidak seperti dikejar-kejar oleh perasaan bersalah.


Namun, Lexi sadar betul semuanya sudah terlanjur terjadi. Nasi  sudah menjadi bubur, saat ini tinggal perbuatan Lexi yang membuat bubur itu menjadi enak.


"Terima kasih Om, Lexi akan memperlakukan  dengan baik Elin, apabila saya di berikan kesempatan terakhir kalinya. Saya tidak akan bersikap bodoh lagi." Lexi menatap Eric dengan tatapan yang serius, dan Eric sendiri membalas dengan seulas senyum tipis.


"Karena seorang ayah tidak mau anaknya disakiti barang secuil pun, jadi kalau kamu melakukannya pada anakku. Aku orang yang pertama akan mengambil anakku. Tidak ada yang paling sakit di dunia ini kecuali melihat anak perempuannya disakiti oleh laki-laki."


"Andai dibilang pantas atau tidak, kamu tidak pantas untuk memohon maaf pada putriku, tetapi aku juga tahu tidak bisa memungkiri buah hati Elin butuh seorang ayah. Aku tidak ingin egois terhadap kehidupan masa depan anak-anakku mereka berhak menentukan masa depanya."


"Terima kasih atas kesempatan ini." Lexi pun sama dengan Lucas yang makan dengan lahap. Sementara Eric memilih berkomunikasi dengan anak dan cucunya. Bertukar kabar dengan apa yang mereka lakukan.


Lexi pamit lebih dulu setelah ia selesai makan, tidak lupa tentu mengucapkan banyak terima kasih atas apa yang Eric berikan, terutama dengan kesempatan yang berharga ini. Langkah selanjutnya adalah ia akan menemui Elin. Apabila dipertemuan terakhirnya Elin bersikap acuh dan tidak perduli kepada dirinya. Besar harapan dipertemuan kali ini dia bisa bebicara baik-baik dengan Elin.


"Aku janji kalau aku akan memperlakukan kamu seperti yang papah kamu inginkan." Itu janji Lexi yang terus ia ucapkan sejak lama.

__ADS_1


Setelah melewati pemeriksaan yang ketat. Lexi pun diizinkan masuk ke rumah Philip meskipun awalnya sangat sulit meyakinkan Philip untuk dirinya masuk.  Bahkan Lexi harus meyakinkan Philip bahwa Lexi masuk ke dalam rumah mereka atas persetujuan Eric.


Philip menatap Lexi dengan tatapan yang kurang bersahabat. Dari sorot matanya terlihat kalau laki-laki itu tidak menyukai kedatangan Lexi.


"Apa kamu sengaja datang ke sini untuk bertemu denganku atau...?" Philip tidak melanjutkan pertanyaanya karena ia yakin bahwa Lexi tahu arti dari ucapanya.


"Dengan Elin Kek, Om Eric yang meminta agar saya menemui Elin," lirih Lexi tetap bersikap tenang meskipun Philip memberikan respon yang tidak bersahabat.


Philip meminta agar asisten rumah tangga memanggil cucunya. Dan mengatakan bahwa Lexi datang. Jantung Lexi semakin tidak menentu ketika disebut nama Elin.


"Kamu tunggu di taman belakang. Elin paling suka menghabiskan hari-harinya di sana." Philip sendiri bangkit dan masuk kembali ke ruangan kerjanya. Laki-laki tua itu bisa apa apabila Eric, menantunya yang meminta Lexi untuk menemui cucunya.


Sesuai yang dikatakan Philip, Lexi berjalan ke taman belakang untuk menunggu Elin.


Sementara Elin yang sedang istirahat pun mengangkat tubuhnya dengan malas, ketika pintu kamarnya di ketuk.


"Kenapa Bi?" tanya Elin dengan ramah.


"Itu Non, ada tamu."


"Tamu? Siapa?" Elin semakin heran pasalnya ia di sini hampir tidak ada kenalan. Tetapi asisten rumah tangga mengatakan ada tamu.


'Arya dan Marni kalau mau datang pasti kasih kabar dulu, terus kira-kira tamu itu?' batin Elin.

__ADS_1


"Den Lexi, Non."


Wajah Elin seketika berubah memerah dan nampak cemas sekali. Gamang antara menemuinya atau justru menghindari.


__ADS_2