
Setelah menikmati suguhan dari keluarga besarnya kini keluarga Lexi pun berpamitan untuk pulang tentunya ada Elin dan juga Lexi yang ikut untuk menginap di rumah orang tua Lexi.
"Tante, adik kecil mau dibawa ke mana?" tanya Zakia dengan wajah kecewanya.
"Adik Eril mau pulang Sayang, sekarang adik Eril bobonya di rumah Nenek Sifa dan Kakek Raja," jelas Elin dengan sangat berhati-hati.
"Jangan Tante adik Eril jangan dibawa pergi, nanti Kia akan sangat sedih." Bocah kecil itu merancau tidak mau kalau adik Erilnya dibawa pergi.
"Kia nanti kan bisa minta adik bayi sama Papah dan Bunda," ucap Elin dengan menatap pada Lucas dan Jiara yang berada di belakang Zakia.
"Bunda, Papah, mana katanya mau buat adik bayi untuk Kia. Kenapa tidak juga jadi. Adik Eril mau di bawa oleh Tante Elin. Kia mau adik bayi," adu anak kecil itu dengan wajah yang sangat mengiba. Sedangkan Elin pun semakin terkekeh dengan pertanyaan Zakia. Nyatanya bukan hanya Elin yang terkekeh yang lain pun sama tertawa dengan renyah ketika mendengar celoteh bocah kecil itu.
"Iya Bunda dan Papah juga sudah bikin, tapi kan tidak langsung jadi Sayang," ucap Jiara yang kebingungan menjawab pertanyaan dari bocah kecil itu. Sedangkan Lexi nampak sangat bahagia sekali dengan kelakuan Zakia. Karena seperti mendapatkan suntikan tambahan untuk ngadon mochi.
Enak banget loe tetawa, bingung gimana caranya kasih penjelasan sama anak," dengus Lucas menatap Lexi yang sedang menertawakan dirinya.
"Buktikan dong, masa dulu saja sekali buang langsung jadi. Sekarang juga pasti dalam perut Jiara sedang produksi," kelakar Lexi sangat senang meledek Lucas itu.
"Tidak mau Kia, maunya dedek bayinya jadi sekarang," ucap Zakia semakin menjadi.
"Harus dibikin dulu dong Sayang adik bayinya sama Bunda dan Papah," imbuh Eric., mungkin saja kalau Eric yang bicara akan mendengar cucunya itu.
"Kalau gitu Bunda dan Ayah ayo bikin adik bayi sana, tapi nanti langsung jadi yah. Kia mau adik bayinya dua, kayak adaik Eril semua." Zakia pun menunjukan jarinya membentuk huruf V, yang dengan kata lain, menunjukan dua. Sontak saja semua yang ada di dalam ruangan ini kembali terkekeh dengan renyah. Kini Elin dan rombongan keluarganya pun pulang setelah Philip yang lagi-lagi bisa merayu Zakia agar tidak merajuk meminta bayi.
"Sana Bunda dan Papah bikin adik bayi yang lucu dan banyak," usir Zakia setelah berhasil di berikan pengertian oleh Philip. Malam ini hingga lusa Elin dan Eril pun mulai menginap di rumah keluarga besar Lexi sebelum di lusa hari, mereka akan melakukan perjalanan untuk menikmati liburan ala keluarga mereka.
__ADS_1
*******
Ini yakin kalian tidak ada yang tertinggal?" tanya Eric memastikan semua perlengkapan tidak ada yang tertinggal. Hampir semua yang ikut menggelengkan kepala, mereka berangkat dengan lima buah mobil pribadi bahkan ada satu mobil yang khusus alat medis dan juga tenaga medis yah, itu semua untuk mendukung kesehatan untuk Philip. Memang semuanya dia lakukan dengan sangat baik dan juga sangat tertata. Ada semua perlengkapan yang tidaklah sedikit seolah mereka akan kemping.
Yah, ini semua adalah kemping yang sedang mereka lakukan untuk beberapa hari bahkan kalau tidak melesat perkiraan mereka akan menghabiskan dua minggu untuk menikmati perjalanan yang sangat membahagiakan ini.
Jam terus berganti. Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh jam kini Elin dan rombongan sudah sampai di kampung halaman. Yah, perkiraan waktu tempuh mereka memang jauh dari luar perkiraan mereka itu semua karena Philip benar-benar harus di jaga kondisinya baik dalam laju kendaraan tidak boleh kencang, karena ditakutkan ada lubang yang bisa saja menimbulkan goncangan yang hebat. Darya dan Eric memang satu mobil dengan Philip dan ada beberapa orang medis yang menjaga kondisi Philip
Untuk Philip memang menggunakan mobil Khusus yang di sediakan untuk orang sakit, sehingga bisa duduk, ataupun bisa dengan rebahan. Pokoknya untuk laki-laki tua itu di buat senyaman mungkin.
Bahkan warga di kampung halaman Elin pun nampak sangat kaget ketika ada rombongan yang membawa mobil yang mewah-mewah, dan ada lima buah mobil yang membuat mereka kembali tercengang adalah mobil-mobil itu berhenti di rumah sederhana Eric, yang di tempati oleh seseorang yang sengaja dibiarkan tinggal untuk merawat kondisi rumah hasil jeri payah Philip.
Tanpa terasa Elin menitikkan air mata ketika ia mengingat setiap pengorbanan dirinya dulu. Ini bukan tangan kesedihan tetapi ini justru tangis kebahagiaan. Kini Lucas pun bisa tahu dulu adik dan papahnya hanya tinggal di sebuah rumah sederhana.
"Eric, ya Tuhan. Mbok sampe bingung ini siapa. Mana Elin?" tanya Mbok Darmi itu padahal Elin ada di samping Eric.
"Ini Mbok Elin ada di samping Mbok Darmi," ucap Eric. Eric pun mulai memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya. Tanpa terkecuali Lucas yang sebagai saudara kembar dari Elin. Tanpa terasa kini tetangga pun pada berdatangan untuk menyambut tamu dari Eric.
Yah, sudah menjadi tradisi memang ketika apabila ada tamu atau justru ada yang pulang dari tanah rantau. Maka akan datang tetangga untuk sekedar menyapa dan mengetahui kabar mereka. Untung Eric membeli banyak oleh-oleh yang hampir satu mobil isinya oleh-oleh khas Ibukota, tidak ada yang membuat istimewa tanah kelahiran Eric, selain tanah yang masih asri dan juga subur serta udara yang sejuk itu.
Kini Elin danyang lainya sudah masuk ke dalam rumah. Berbeda dengan Eric yang terus bercerita dengan keluarga yang lain. Mereka pun sudah berkenalan dengan Darya istri sekaligus ibu dari Elin. Serta berkenalan dengan Lucas. Elin juga mengenalkan Lexi dan ke dua mertuanya.
"Pas banget, pas datang pas musim kemarau jadi bisa bermain layangan." Elin pun mengajak Lexi dan Lucas bermain tentunya dengan Zakia dan Jiara tidak ketinggalan. sementara Eril di jaga oleh mertua Elin yang dengan senang hati selalu ingin menjaga cucunya itu sedangkan sebenarnya ada pengasuhnya tetapi seolah tidak puas kalau diasuh oleh pengasuh sehingga Eril selalu di percayakan pada orang tua Lexi.
"Kamu dulu sering bermain di sawah Lin?" tanya Lucas yang sedang duduk menatap anak-anak yang sedang asik bermain layangan, dengan bersantai menikmati kelapa mud yang di petik dari kebun Elin. Tentunya yang ambil bukan Lexi apalagi Lucas. Ada tetangga yang bisa Elin mintai tolong untuk mengambil kelapa muda. Sebenarnya dulu Elin sering naik kelapa muda tetapi belum juga satu tahun meninggalkan kampung halaman kini Elin sudah menjadi wanita yang feminim.
__ADS_1
"Pasti lah, tempat bermain paling menyenangkan," balas Elin, wanita itu terus bercerita dari dirinya kecil hingga besar dan tempat-tempat bermainnya. Berbeda dengan Elin yang sedang asik bercerita Dengan Lexi. Zakia, Lexi dan juga Jiara justru tengah asik bermain layangan. Barusan Lexi beli dengan di tunjukan oleh anak-anak yang sedang bermain dengan asik.
Zakia malah tampak sangat berbahagia karena bermain layangan. Terbangnya baru dua meter gadis kecil itu sudah berjingkrak dengan gembira. Elin sendiri dan Lucas lebih suka mengenang permainan mereka dari kecil Elin bermain apa saja dan sekolahnya di mana lalu perlakuan orang-orang dengan dirinya yang hanya sebagai anak orang tidak mampu.
"Tapi kayaknya kisah perjalanan kamu sangat seru yah. Di mana pulang sekolah bermain layangan dan lain sebagainya. Untuk makan kamu tinggal memancing, dan mau sayur tingga metik. Sehingga Eric akan kembali dengan hati yang sulit untuk di ungkapkan.
"Yah, memang seru tetapi kita hidup kayak gini bukanlah pilihan karena kita sudah kaya. Yang kita lakukan karena terpaksa harus tetap bertahan dengan kondisi yang terus menghimpit.
Setelah puas bermain layangan dengan uas Lexi dan Zakia serta Jiara pun kembali duduk di samping Elin dengan mengambil kelapa muda. Setelah puas bermain dan juga puas untuk bercerita kini Elin pulang dan akan menikmati malam bersama yaitu mereka membeli ayam.
"Tanpa terasa kebersamaan mereka terus bergulir membayangkan kebahagiaan yang hakiki. Mereka sangat menikmati dari hari ke hari mereka pun semakin kerasan dan dekat dengan warga sekira. Termasuk Elin, tetapi kembali lagi mereka tidak bisa berlama-lama pulang kampung itu semua karena harus melanjutkan pernikahan yang sulit ini. Sebelum ada kepastian dari keluarganya.
Kini rombongan Eric setelah satu minggu mereka tinggal di rumah yang ia sebut Mbok Darmi ada keseruan yang membuat dia jadi merasa nyaman. Elin benar-benar bahagia karena keinginannya terjadi. Kini Elin hanya bisa diam, dan menikmati rasa syukurnya yang Tuhan sangat sayang pada dirinya.
Perjalanan pun kembali di lanjutkan kali ini ke tempat di mana Jiara tinggal dan juga Zakia. Terlihat sekali bocah kecil itu sangat terlihat bahagia. Bahkan tidak ada henti-hentinya mereka memilih tetapi pada kenyataanya tidak dirinya yang marah.
Zakia pun nampak sangat senang seperti Elin.
"Yeh, Kia akan rayakan ulang tahun," pekik gadis kecil itu yang tak henti-hentinya menjerit bahagia. Lagi setelah mereka menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya rombongan kembali sampai juga di pesantren Jiara tinggal. Kini Jiara pun di sambut oleh keluarga Abah dan juga Ambu.
"Ya ampun apa ini Kia?" tanya Ambu dan Abah yang dari suara mereka sudah sangat kangen. Kini baik Lucas dan Jiara pun bersama-sama menyiapkan makanan bersama, dengan para santri . Dan tentunya besok mereka akan menghias aula lapangan pesantren untuk acara ulang tahun untuk Zakia.
"Iya Ambu, Abi ini Kia, Kia sekarang sudah pintar." ucap Zakia yang sangat antusias dengan pertemuan mereka kembali.
Nyatanya bocah kecil itu bukan hanya pintar tapi juga sudah besar dan tentunya makin cantik
__ADS_1