Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Cinta Seorang Ayah


__ADS_3

"Udah Pak," ucap Elin, ketika Eric menyodorkan suapan ketiganya. Tangan yang masih terlihat lebam-lebam membekap mulutnya, menandakan bahwa Elin sudah tidak mau makan lagi. Bahkan hampir di sekujur tubuh Elin terdapat luka lebam yang sangat menyayat hati Eric.


Eric menarik nafas dalam. "Kamu makan yang banyak yah Ndok, biar tidak sakit, ini baru dua suap loh sayang. Kamu tidak ingin kan Papah sedih, makanya harus makan yang banyak," ucap Eric dengan suara lembutnya. Sekarang ia harus sabar merawat Elin, seperti bayi lagi, Eric menjaga buah hatinya.


Elin diam sejenak, dan kembali membuka mulutnya ketika Eric menyuapkan makanan dari rumah sakit, yang kata Elin tidak ada rasa.


"Makananya tidak enak?" tanya Eric, ketika melihat Elin seolah sangat terpaksa ketika memakan makanan itu. Elin mengangkat wajahnya, di mana sebelumnya menunduk dengan pelan mengunyah dan menikmati makanan yang sudah dingin itu. Senyum getir tersungging dari bibir Elin.


"Iya Pah, tidak ada rasanya, pengin masakan buatan Papah," lirih Elin, dalam pikiranya sudah membayangkan makanan masakan Papahnya yang sangat lezat, pasti dia akan nambah.

__ADS_1


"Kalau gitu, cepat sembuh, nanti begitu sembuh Papah janji akan memasak-masakan yang enak buat putri Papah, biar cepat sehat dan kita akan pulang kekampung. Jangan di sini lagi, Di tempat ini tidak aman buat kamu," ujar Eric sembari mengelus rambut putrinya. Dia tidak mau mengambil resiko di mana dia  hampir saja kehilangan putrinya, dan mungkin saja suatu saat nanti hal itu benar-benar terjadi kalau Eric tetap bertahan di kota ini.


Elin langsung menghentikan kunyahan makanan yang ada di mulutnya, dan menatap heran pada papahnya. "Loh kok pulang lagi ke kampung Pah, rencana Papah untuk menemukan Ibu gimana? Lalu kerjaan Elin, rumah kita, warung dan usaha yang Papah baru rintis dan sudah banyak pelanggan juga, sayang Papah kalau kita harus meninggalkanya," ujar Elin, dia masih tidak mengerti jalan pikiran papahnya itu seperti apa.


"Semuanya tidak berarti buat Papah, yang terpenting saat ini adalah keselamatan kamu Ndok, Papah tidak mau kalau nanti kamu kenapa-kenapa lagi. Kamu mungkin tidak tahu gimana hancurnya Papah melihat putri papah seperti ini, membayangkan malam yang kamu lewati penuh dengan ketakutan. Papah lebih baik kehilangan harta dunia dari pada harus kehilangan kamu. Izinkan Papah untuk terus merawat, kamu sampai nanti ada laki-laki yang mau menggantikan posisi Papah, mungkin Papah akan lebih tenang, karena itu tandanya kamu sudah ada yang melindungi selain Papah, sampai saat itu terjadi, izinkan Papah melindungi kamu. Karena hanya kamu yang papah miliki, hanya kamu yang buat Papah bisa tertawa dan menikmati hidup yang penuh warna ini," lirih Eric sembari menciumi tangan anak perempuanya.


"Lalu misi Papah yang ingin mecari Ibu gimana?" tanya Elin terharu, karena sebegitu sayangnya Papahnya terhadaap dia, dan hal itu menambah keyakinana Elin bahwa Papaphnya tidak mungkin menghianati Mamihnya Lucas. Justru saat ini Elin berpikir bahwa Lucas hanya mengada-ada. Mungkin saja Lucas iri dengan kebaikan Papahnya sehingga ia melakukan hal itu pada Elin. Perinsip Elin dia akan terus percaya dengan Papahnya, selentingan seperti yang Lucas katakan itu hanya isu yang tidak pernah terjadi. Elin sangat yakin hal itu.


"Kalau memang keputusan Papah seperti itu Elin akan ikut kemanapun Papah ajak Elin tinggal, karena di dunia ini hanya Papah Eric yang Elin miliki, hanya cinta Papah yang tidak pernah berubah sejak Elin kecil hingga sebesar ini. Terima kasih Pah, telah menjadi orang tua yang sempurna dan terbaik untuk Elin. Elin tidak membayangkan bagai mana jadinya apabila Elin di titipkan ke orang lain oleh Tuhan. Mungkin Elin tidak akan merasa bersyukur seperti ini sekarang. Harta benda tidak akan berarti lagi karena harta sesungguhnya adalah Papah, cinta papah yang selalu tulus pada Elin. Elin ingin suatu hari nanti, Elin menemukan jodoh yang seperti Papah yang menyayangi Elin tanpa henti dan tidak pernah surut, selalu menghargai Elin dan tidak kasar," lirih Elin sebari tangan Papah dan anak itu saling bertautan.

__ADS_1


"Amin sayang, Papah tidak henti-hentinya selalu mendoakan agar kamu mendapatkan pasangan yang baik, pasangan yang mencintai kamu tanpa henti tidak kasar dan menghargai kamu sebagai istri, sekaligus ibu dari anak-anak kalian. Papah akan sangat sedih apabila anak perempuan Papah yang di besarkan dengan penuh cinta dan kasih, di sakiti oleh laki-laki lain. Kalau hal itu terjadi Papah yang akan meminta kamu dikembalikan pada Papah, biarkan Papah yang kembali menangung anak Papah, dari pada Papah sakit melihat kamu di sakit oleh suami kamu. Kamu tidak usah khawatir, Papah akan melakukan apapun asalkan kamu bahagia, soal harta benda, Papah yakin kalau hal itu pasti Tuhan akan hadir untuk membantu kita. Karena sebaik-baiknya Tuhan ialah tempat meminta rezeki. Rezeki, maut jodoh tidak akan tertukar," tutur Eric yang memberi semangat, dan kekuatan untuk putrinya.


Elin tersenyum, dan menangis sekaligus karena merasa haru dengan ucapan Papahnya, entah bagaimana lagi Elin harus meminta agar Papahnya panjang umur dan di berikan kebahagiaan yang nyata di sisa umurnya yang semakin menua. Sudah terlalu banyak Papahnya berkorban sampai saat ini, tetapi tidak juga mendapaatkan kebahagiaan yang sesungghnya.


"Ibu, Andai Ibu sampai saat ini masih mencintai Papah dan menyayangi Papah, bertahalah di manapun berada semoga kalian suatu saat dipertemukan dan bahagia dengan usia senja kalian. Agar Elin juga bahagia karena melihat cinta pertama Elin bahagia, dengan cinta sejatinya." Doa Elin dalam batinnya.


Saking asiknya Elin dan Eric saling mengungkapkan rasa sayangnya sebagai Papah dan anak gadisnya. Arya sejak tadi menguping di balik pintu. Yah, Arya yang telah selesai dengan urusanya menasihati Lucas, yang entah mau mendengar atau tidak nasihat Arya, memutuskan kembali ke rumah sakit. Pikiranya tidak tenang apabila meninggalkan Elin dan Eric berada di rumah sakit hanya berdua saja, sehingga Arya kembali datang dengan tujuan ingin menjaga dua orang yang kemungkinan besar masih menjadi incaran kemarahan Lucas maupun Lexi. Padahal tubuh Arya lelah, tetapi hati nuraninya tidak tega apabila dua laki-laki monster itu datang kembali dan mencelakai Elin maupun Eric.


"Rasanya terlalu mustahil, apabila orang yang setia seperti Om Eric selingkuh dan menelantarkan Tante Ely bersama Lucas begitu saja. Apa aku tanya langsung sama Om Eric yah? Tapi kalau Om Eric curiga gimana? Takutnya nanti Lucas marah dan nyawa mereka semakin terancam," gumam Arya sebelum ia masuk ke dalam ruangan Elin.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2