Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Lucas Yang Misterius


__ADS_3

"Jia... apa kamu dengar semua obrolan kita?" tanya Arya dengan wajah panik. Sebenarnya tidak perlu bertanya, Arya sudah tahu dari reaksi Jia yang kelihatan kaget, sudah dapat di pastikan bahwa wanita berhijab panjang itu memang mendengar apa yang Arya dan Lucas obrolkan.


Tatapan Jiara tajam menatap Arya. "Apa yang dokter maksud dari obrolan tadi dengan Lucas adalah wanita yang ada di kamar samping?" tanya Jiara, sebab wanita itu sudah curiga, dan Jiara juga bukan orang yang bodoh sehingga tidak bisa mengartikan ucapan demi ucapan yang Arya katakan.


"Obrolan ini aga sensitif, kalau kamu ingin tahu kejelasanya nanti selesai praktek jam makan siang, kamu temui aku di ruangan aku, akan aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku sangat berharap bahwa kamu bisa membantu kami. Tetap berpura-pura menjadi orang yang tidak tahu apa-apa, tetap menjadi Jiara yang Lucas kenal, jangan buat Lucas curiga sama kamu." Arya berbicara dengan suara lirih agar Lucas tidak dengar. Walaupun sebenarnya Arya berbicara lebih kencang dari ini juga Lucas tidak akan mendengarnya, kecuali apabila Lucas memang mengupingnya.


Jiara mengangguk dengan tatapan tajam yang masih menatap kamar Elin dengan tatapan kosong.


"Nanti saya akan menemui Anda. Sekarang saya akan masuk dulu." Jiara pun kembali melanjutkan niatnya, yaitu masuk kemar Lucas dan seperti yang Arya katakan bahwa ia akan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan Lucas. Meskipun tadi Jiara sudah mendegar semuanya. Semuanya tentang bisnis haram dan kematian dua orang yang disambut bahagia oleh Lucas.


"Dokter Arya tadi dari sini, habis memeriksa Anda atau ada urusan lain?" tanya Jiara begitu masuk ruangan rawat Lucas.


"Kenapa tadi tidak di tanyakan langsung pada Aryanya," jawab Lucas, pandangan matanya masih sibuk menatap ke layar laptopnya.

__ADS_1


"Tidak keburu, aku baru keluar dari lorong dokter Arya sudah berjalan lebih dulu ke arah ruangannya dari ruangan ini, mungkin kalau aku tanya pada Anda, saya berpikir Anda mau menjawabnya, tapi kayaknya itu masalah pribadi, jadi lebih baik lupakan pertanyaan saya tadi. Ini makanan yang Anda pesan, apakah saya harus menyuapi Anda lagi?" tanya Jiara, sembari meletakan bungkus makanan yang Lucas pesan.


Wajah Lucas di angkat, dan kini menatap tajam ke mata wanita yang sedang duduk dengan pandangan menunduk. "Kamu tahu kan kalau aku itu tanganya sedang diinfus, dan aku sedang bekerja. Tanpa harus di tanya kamu seharusnya sudah tahu apa kerja kamu, jangan bertanya hal yang tidak penting. Langsung kerjakan apa yang sudah menjadi pekeraan kamu," jawab Lucas, dengan suara yang tegas dan terlihat kemarahan dari nada bicara yang Lucas ucapkan. Yah, bosnya itu masih terbawa suasana marah dari kabar yang Arya bawa.


Jiara sebenarnya dadanya bergemuruh kertika mendengar kalau Lucas memang sedang marah, Jiara yakin bahwa kemarahan Lucas pasti karena kedatangan Arya. Wanita berhijab itu menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan lalu mengambil kotak makanan yang ada di hadapan Lucas lalu membukanya dan menyiapkan untuk menyuapi bayi besarnya. "Ya Tuhan semoga Engkau selalu beri aku kesabaran," batin Jiara berdoa untuk hatinya yang dia tahu bahwa laki-laki di hadapanya adalah laki-laki yang cukup berbahaya. Salah sedikit bisa-bisa nyawa dia yang melayang.


Lucas tahu, bahwa tidak seharusnya ia melemparkan kemarahanya pada Jiara. Dia marah dan kesal dengan Arya, dan jangan melampiaskanya pada Jiara. Padahal gadis itu bertanya dengan baik dan sopan, tetapi justru Lucas memarahinya. Cukup lama terjadi ke bisuan. Jiara mengunci mulutnya, tidak marah tetapi ia bingung mau memulai obrolan dari mana, karena ia tahu bahwa laki-laki yang saat ini sedang ia suapi, suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Keputusan diam mungkin akan lebih baik, itu yang kira-kira Jiara pikirkan, sehingga wanita itu bersikap biasa saja, tetap melakukan pekerjaanya dengan baik.


"Buat?" tanya Jiara, "Apa ada salah dari Anda atau ada yang di sembunyikan dari Anda?" tanya Jiara, pura-pura tidak tahu apa-apa, sesuai intruksi Arya.


"Aku tidak seharusnya berkata kasar sama kamu. Aku sedang ada masalah dengan Arya, dan melampiaskanya dengan kamu, padahal kamu tidak tahu apa-apa. Tidak seharusnya aku berbuat seperti itu. Masalah aku dengan Arya bukan dengan kamu," ucap Lucas, kali ini tanganya tidak lagi di letakan diatas keyboard dan pandangan pun tidak lagi menatap layar laptop, tetapi menatap wajah Jiara yang terlihat tetap santai seperti biasanya.


"Saya tidak merasa bahwa Anda berkata kasar terhadap saya. Kata-kata yang Anda ucapkan masih tergolong biasa dan wajar jadi lupakan lah. Lagian bukanya sebagai bawahaan kita harus siap apapun yang terjadi dengan dirinya, sekalipun atasan kita mengatakan hal yang kasar karena moodnya yang sedang tidak baik.Saya sudah biasa akan hal ini Mas, jadi Anda tidak harus merasa bersalah karena ucapan yang mungkin menurut Anda keras," jawab Jiara bersikap biasa saja, meskipun dalam hatinya ia ingin bertanya masalah apa yang terjadi antara Arya dan bosnya itu, tetapi lagi-lagi Jiara harus sabar menunggunya karena hal itu akan di jelaskan oleh Arya.

__ADS_1


"Terima kasih, karena mau mengerti aku yang sangat labil ini. Sebenarnya aku ingin merubah sifat buruk aku ini, tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya," lirih Lucas, kali ini tubuhnya di senderkan ke sanderan sova, dan hal itu membuat Jiara makin susah menyuapi bosnya itu.


Jiara pun menggeser kursinya mengikuti tubuh Lucas yang makin menjauh, ingin wanita itu teriak dan memaki pada Lucas agar jangan jauh-jauh duduknya, dia sulit untuk menyuapinya, tetapi lagi-lagi Jiara hanya mengumpat bosnya itu dalam hati, karena sudah jelas ia tidak berani melakukanya, wanita itu masih butuh pekerjaan ini. Dan juga selama ini Lucas bersikap baik pada dia, dan tidak sekali pun dia memarahi ketika Jia izin untuk ibadah ataupun melakukan pelecehan, seperti menyentuh tubuhnya yang sudah jelas Jia katakan tidak mau telibat kontak fisik.


Laki-laki yang memiliki mata biru muda itu juga selama ini menghormati Jiara yang tidak bisa bersentuhan dengan lawan jenis, sehingga apabila ada yang memungkinkan terjadinya kontak fisik Lucas meminta perawat laki-laki untuk melakukanya, dan Jiara merasa dighargai karena itu. Sedangkan di luaran sana banyak yang memerintah suka-suka, karena mereka merasa memiliki uang banyak. Namun Lucas  bisa menghargai keputusan Jiara.


"Pelan-pelan saja Mas, tidak harus sekaligus berubah, namanya belajar dari yang mudah dan nanti juga akan terbiasa kok. Lagian Jia lihat Mas Lucas ini baik kok aslinya, buktinya tiga hari Jia bekerja dengan Mas Lucas, tetapi Mas Lucas tidak menuntut Jia untuk ini itu, dan juga Mas Lucas membebaskan Jia untuk ibadah dan lain sebagainya, Jia di sini merasa di hargai oleh bos Jia sendiri yaitu Anda. Semoga apa yang Anda inginkan terwujud, dan kalau Anda mau, saya akan bantu merubah sifa Anda, tetapi jujur sifat saya sebenarnya juga jelek."  Jiara merasa bahwa ia memiliki kesempatan untuk merubah laki-laki yang ada di hadapanya itu.


Jiara sebenarnya tadi ketika mendengar percakapan antara Arya dan Lucas ada sedikit rasa takut, bagaimana kalau ternyata Lucas itu orang yang kejam dan juga sangat misteris, akan membahayakan ia, tetapi dengan niat Lucas yang ingin berubah itu. Jiara jadi ingin membantu Lucas untuk  menyadarkanya, seperti yang dikatakan Arya itu.


"Apa kamu dulu juga wanita yang berlumur dosa dan belajar untuk hijrah hingga sekarang kamu seperti ini?" tanya Lucas dengan menunjukan penampilan Jiara.


"Yah pastinya, aku adalah anak yang sama dengan Anda, tetapi namanya berubah atau tobat itu tidak ada kata terlambat, jadi selagi kita mau, pasti semuanya akan di mudahkan oleh Tuhan. Semoga Mas Lucas juga seperti itu, semuanya akan dimudahkan urusanya sama Allah, dan Mas Lucas dari pribadi yang lebih baik lagi," ujar Jiara tanganya masih terus menyuapi Lucas, hingga tanpa sadar makanan sudah habis, dan obrolan mereka berlanjut hingga Lucas merasa sedikit lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2