
Jiara ke luar dari ruangan rawat suaminya masih dengan perasaan yang sama dengan tiga hari ke belakang, yaitu berat dan seolah harapannya menggantung tidak bertepi. Sesak yang teramat kalau di ceritakan. Terutama setiap pulang ke rumah juga ia selalu ditambah sesak dengan pertanyaan-pertanyaan dari Zakia yang kadang menambah beban pikiran dirinya.
Air matanya kembali jatuh, kakinya melangkah menuju kursi tunggu yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia belum siap untuk pulang sehingga ia pun memilih duduk untuk menenagkan pikiranya. Menangis, hanya itu yang saat ini ia inginkan, sehingga Jova hanya duduk sembari menangkupkan ke dua tanganya ke wajah dan menopang dengan pahanya, agar orang lain tidak tahu bahwa di balik telapak tanganya ia sedang mengadu pada Tuhan dengan berlinang air mata.
"Apa salahku Tuhan, kenapa tidak sedikit pun Engkau berikan kami kebahagiaan. Tuhan, aku tidak kuat dan tidak akan pernah sanggup kalau suami hamba Engkau ambil kembali," racau Jiara dalam batinnya. Sudah bisa di pastikan bahwa nanti ia pulang ke rumah, pasti buah hatinya bertanya. Kenapa bundanya menangis?
Yah, bocah usia tiga tahun itu sudah tahu apabila kedua mata bundanya merah dan bengkak itu tandanya bundanya sedih dan menangis, bahkan tidak jarang ketika Jiara sedang sedih Zakia akan ikut merasakan kesedihan itu, lalu ikut menangis juga.
"Kakak, sedang apa di sini?"
Jiara yang yang mengenali suara itu pun langsung buru-buru menyeka air matanya dan mengangkat wajahnya pandanganya saling bertemu kedua matanya yang terlihat masih merah dan hidung yang juga tidak kalah merah sudah memberitahukan bahwa Jiara sedang sedih.
"E... Elin, kenapa kamu ada di sini?" tanya Jiara, dengan nada bicara yang terbata. Sembari kedua bola matanya memidai ke sekeliling yang ternyata hanya ada Elin, tidak ada Lexi ataupun Darya bahkan Eric. Sedangkan biasanya Elin selalu di jaga oleh tiga orang itu, meskipun yang sangat bertanggung jawab dan hampir selalu ada adalah Lexi.
"Justru bukanya yang harusnya bertanya adalah Elin, ngapain Kakak di sini? Apa Kakak sedang sakit, atau sedang mengunjungi teman atau sodara?" Elin lebih memilih mengabaikan apa yang Jiara tanyakan, dan justru bertanya dengan pertanyaannya tadi dia ulang.
Jiara justru mengangkat tangan sebelah kirinya, guna melihat jam di pergelangan tanganya. "Maaf Elin, sepertinya kakak harus segera pulang, dan maaf akhir-akhir ini kakak sedang sibuk sehingga tidak bisa menjenguk kamu," ucap Jiara dengan nada bicara yang terlihat sedikit tergesa. Bisa dilihat dengan kasat mata bahwa Jiara memang sedang berusaha untuk menghindar.
__ADS_1
"Kakak pulang yah, Kia pasti sudah nunggu kakak, kamu segera sembuh yah, kita akan bertemu di rumah dan pasti Eril sangat senang apabila bundanya pulang." Lagi, Jiara sangat terkesan terburu-buru. Bahkan wanita berhijab panjang itu tidak memberikan kesempatan untuk Elin membalas ucapanya.
Padahal Elin sendiri sudah siap untuk membalas ucapan kakak iparnya, tetapi lagi dan lagi Jiara tidak memberikan kesempatan, dan wanita itu dengan langkah yang tergesa langsung meninggalkan Elin. Tentu Elin yang memang masih dalam tahap penyembuhan tidak bisa mengimbangi langkah Jova yang cukup kencang.
Yah, Elin bisa berada di tempat Jiara menangis adalah ia yang bosan di ruangan dan memang untuk beberapa hari ke belakang Elin sering melakukan, dan saat ini entah mengapa kakinya melangkah hingga bertemu dengan kakak iparnya.
Dengan gerakan yang sangat pelah Elin mencoba duduk dan kembali mengingat kejadian tadi di mana Elin melihat kalau kaka iparnya sangat sedih, sementara Jiara memang hampir satu minggu ini tidak pernah menjenguk dirinya lagi, terakhir menjenguk dirinya adalah ketika ia baru ke luar dari ruangan operasi.
Sibuk itu adalah alasan yang selalu papah, mamah dan juga Lexi katakan, dan Elin juga sangat tahu apa yang terjadi pada kakak iparnya, pasti sibuk selain ia yang bekerja Jiara juga kan harus mengurus Zakia, yang saat kerja dan sejak dirinya sakit dan juga kakeknya sakit. Oma dan opanya juga tidak bisa mengasuhnya, sehingga pasti Jiara yang akan sibuk dengan bocah kecil itu.
"Tunggu bukanya kalau tidak salah Kaka Jiara tadi keluar dari ruangan itu." Kini pandangan Elin tertuju pada satu ruangan yang memang tidak jauh letaknya dari tempat dirinya duduk.
"Iya, betul sekali tadi kakak ipar ke luar dari ruangan itu," batin Elin, mengingat pandangan matanya tadi memang menangkap Jiara yang ke luar dari ruangan rawat itu. Kembali dengan berhati-hati Elin bangun dan melangkahkan kakinya sedikit tergesa ingin mengintip kira-kira siapa yang ada di dalam ruangan itu. Yang sangat Elin yakini bahwa orang yang ada di dalam ruangan itu yang sangat ia yakini dialah yang telah membuat kakak iparnya menangis.
"Jadi penasaran siapa kira-kira yang ada di dalam ruangan itu," gumam Elin, sembari berjalan dengan langkah kecilnya.
Sementara Lexi, seperti biasa ketika sore tiba maka dia akan pulang ke rumah sakit untuk menemani Elin, untuk ngobrol, berbagi cerita selama ia kerja, begitupun dengan Lexi yang setiap pagi datang, ia akan bergegas untuk pergi ke rumah Philip lebih dulu untuk menyapa putranya sebelum bekerja, dan Lexi apan menceritakan apa saja yang di lakukan oleh Eril, tentu foto dan vidio Lexi ambil untuk menceritakan apa yang Eril lakukan, hingga Elin sendiri gemas dan tidak sabar untuk sembuh. Yah, hanya Eril penguatnya untuk sembuh.
__ADS_1
Bermain dengan Eril adalah kebahagiaan terbesarnya.
Lexi mengayunkan kakinya dengan langkah panjang langsung menuju ke ruangan ibu dari anaknya. Namun, Lexi cukup terkejut ketika ia membuka pintu kamar Elin, tetapi ia tidak mendapati Elin ada di ruangan itu. Sebenarnya Lexi tidak terlalu terkejut dan juga tidak terlalu cemas, karena pikiranya sudah menebak kalau Elin pergi untuk jalan-jalan sore. Memang seperti itu yang Elin lakukan selama ini, untuk mengatasi ke bosananya.
Lexi tentu tahu apa saja kegiatan Elin itu semua dari perawat yang Lexi tugaskan dengan khusus untuk menjaga Elin yang sebenarnya tidak begitu perlu sebenarnya perawat khusus itu, toh Elin sudah bisa banyak melakukan sendiri, tetapi Lexi yang terlalu cemas pun merasa sangat perlu melakukan itu sehingga Elin seperti biasa demi kedamaian bersama maka dia pun menerimanya.
Bahkan Lexi hampir setiap saat mendapatkan laporan dari perawat yang menjaga Elin itu, pokoknya apapun yang Elin lakukan akan di laporkan oleh perawat yang menjaganya.
Tangan Lexi buru-buru merogoh saku celananya dan menghubungi perawat yang menjaga Elin untuk menanyakan di mana Elin, ini sudah pukul lima masa Elin belum kembali ke ruanganya, sementara biasanya Lexi datang Elin ada di ruanganya, menyambut dengan senyuman manisnya.
[Sus, Elin ada di mana?] tanya Lucas, begitu sambungan telepon sudah diangkat oleh Sus Rini.
[Hah, Nona Elin bukanya ada di dalam Tuan, barusan setengah jam yang lalu, Nona Elin balik ke ruanganya, dan saya sendiri sedang mengurus obat Nona Elin.] Jawaban Sus Rini tentu membuat Lexi panik.
[Elin tidak ada di ruanganya, gimana sih Sus, kenapa bisa kecolongan Elin pergi.] Lexi langsung memutuskan sambungan teleponya dan mencoba mencari Elin, tidak akan jauh-jauh sih, cuma Lexi takut kalau Elin kenapa-napa dan tidak ada yang menolong karena rumah sakit ini yang memang berlantai\=lantai dan cukup sepi tidak banyak orang lalu lalang.
"Elin, kamu ada di mana sih?"
__ADS_1