Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode


__ADS_3

"Dokter Arya bukanya itu dokter Diki?" tunjuk Eric dengan perasaan yang bergemuruh. Arya pun mengikuti arah tangan Eric menujuk.


"Iya Om, biar Arya yang nyamperin dokter Diki. Om duduk di sini saja, nanti kita bicara pelan-pelan," balas Arya, dan laki-laki itu pun tidak lama mengayunkan kakinya dengan cukup tergesa. Khawatir kalau Diki keburu menghilang.


Dokter Diki bisa kita bicara?" tanya Arya menahan dokter Diki yang akan berjalan ke ruangan papahnya. Diki pun langsung membalikkan badanya, terlebih yang memanggilnya adalah orang yang sudah ia kenal, dan tentunya Diki mengira kalau Arya ingin berbicara tidak akan jauh dengan perkembangan Darya.


"Dokter Arya lebih dulu ke kantin saja! Nanti saya menyusul," balas Diki dengan sopan. Setelah itu dia langsung masuk ke dalam ruangan papahnya, guna meminta maaf karena menghilang begitu saja. Bahkan Diki sudah menyiapkan mental yang kuat kalau ibunda tercinta akan bernyanyi dengan merdu.


"Gimana Dok?" tanya Eric begitu melihat Arya balik lagi, sementara Diki masuk ke dalam ruangan sang papah.


Kita tunggu di kantin," balas Arya, sembari tanganya menujuk ke arah kantin. Eric pun berdiri, tetapi lebih dulu ia berpamita dengan keluarganya. Ia beralasan ada urusan penting dengan Arya, dan karena Arya yang meyakinkan juga sehingga mereka mengizinkan.


"Maaf nunggu lama yah," ucap Diki yang baru datang setelah Eric dan Arya menunggunya sekitar lima belas menit.


"Ah tidak apa-apa kopi masih enak di minum meskipun sudah dingin." Arya menunjuk secangkir kopi yang sudah dingin.


Diki pun tertawa dengan renyah. Laki-laki itu tahu kalau Arya hanya bercanda.


"Ngomong-ngomong ada apa nih, kenapa tumben pengin ngomong sesuatu, dan kayaknya ini obrolanya cukup serius." Diki mengambil duduk di samping Eric.


"Iya Dok bisa dikatakan sangat serius," balas Arya, dan Diki bisa melihat garis keseriusan di wajah Arya.


"Soal Nyonya Darya?" tanya Diki, tentu tebakanya hanya kearah itu.


Arya menggeleng, sesuai yang Arya katakan kalau pembicaraan lebih banyak di dominasi oleh Arya. Eric hanya menyimak dan nanti akan ada masanya ia di minta untuk berbicara.


Diki nampak serius, bahkan laki-laki itu pun beberapa kali menggerakan tubuhnya untuk mendapatkan posisi yang nyaman.

__ADS_1


"Maaf Dok ini sepertinya lebih pribadi. "Apa Dokter Diki sudah punya pasangan? Calon istri mungkin?" tanya Arya dengan wajah serius dan tentunya sebenarnya ia merasakan tidak nyaman dengan pertanyaan ini, tetapi ini semua demi kebaikan bersama.


Diki nampak bingung dan heran dengan pertanyaan Arya, tidak ada angin dan tidak ada hujan tetapi Arya tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Ini ada apa yah Dok, kenapa pertanyaanya horor sekali?" cecar Diki, dengan manik mata yang mengawasi Arya dan Eric secara bergantian.


Eric pun melakukan hal yang sama menatap Arya seolah ia seperti bingung dengan posisinya.


"Sebenarnya kami ingin meminta bantuan pada Dokter Diki, tetapi kalau Anda masih sendiri karena ini ada hubunganya dengan Elin. Sebelumnya apa Dokter Diki tahu kalau Elin saat ini sedang hamil?" tanya Arya dengan tatapan yang serius. Lagi-lagi Diki pun terkejut dengan pertanyaan Arya.


"Ha... hamil Dok?" tanya Diki dengan menggelengkan kepalanya dengan lemah, sebagai tanda bahwa laki-laki itu tidak tahu. Arya pun menghirup nafasnya dalam. Dengan sabar Arya menceritakan kondisi yang menimpa Elin. Bahkan Diki pun tampak menyimak dengan serius sampai laki-laki itu tahu penyebab gadis itu hamil, yaitu karena sodara kandungnya sendiri Lucas.


"Aku sangat prihatin dengan nasib yang dialami Elin. Pantas di orangnya jarang berbicara kalau tidak kita yang tegor duluan, dan wajah dia juga banyak menyimpan kebingungan, dan ini toh masalahnya," ucap Diki, dan di balas anggukan oleh Arya dan Eric bersamaan.


"Sebenarnya kami menemui Dokter ada maksud lain, di mana saat ini Lexi, laki-laki yang sudah memperkosa Elin ada di negara ini dan itu tandanya sangat besar untuk Elin bertemu dengan laki-laki itu, makanya kami ingin Dokter Diki menjadi suami Elin, tidak usah benaran, karena pasti Dokter Diki akan keberatan, cukup pura-pura saja, jadi Lexi berpikir kalau tahu Elin hamil adalah anak Dokter Diki," lirih Arya dengan tatapn yang memohon.


Diki nampak berpikir. "Dokter Diki tidak harus menjawab pertanyaanya sekarang karena ini pasti akan membutuhkan keputusan yang matang," ucap Arya.


"Umur aku sudah memasuki usia empat puluh tahun dan aku adalah orang yang pernah gagal dalam pernikahan, dan memiliki anak satu usianya tujuh tahu. Apa tidak masalah untuk Elin, dan kalian?" tanya Diki dengan serius.


Arya kembali menatap Eric, agar mempertimbangkanya. "Kita juga butuh persetujuan dari Elin," lirih Eric.


"Yah itu pasti, karena Elin yang akan menjalaninya, semuanya ada di tangan dokter Diki. Semua keputusan ada di tangan Elin dan dokter Diki. Arya hanya menyarankan karena takut kalau Lexi akan berbuat nekad." Arya pun tidak lama menekan nomor ponsel Marni agar mereka ke kantin lebih cepat lebih baik mengingat Lexi sudah ada di negara ini.


"Aku sudah hubungi Elin, dia sebentar lagi akan kesini," lirih Arya dengan  menujukan hasil chatnya. Dan tidak lama Elin dan Marni pun datang dengan senyum yang tersungging manis.


"Papah ada di sini. Mamah nyariin loh," lirih Elin untuk mencairkan suasana, yang mengambil duduk di samping Eric, dan Eric sendiri membalasnya dengan senyum damainya.

__ADS_1


"Ini ada apa sih kok kayaknya serius banget," ucap Marni dengan serius juga.


"Silahkan Dokter Arya bicarakan, biar semuanya selesai saat ini juga," lirih Diki, dan dia akan menjadi pendengarnya. Kalau dia sendiri tidak masalah menikah secara sungguh-sungguh dengan Elin pun, tapi juga yang jadi masalah adalah Elin apakah mau denganya atau tidak mengingat dia adalah duda.


Arya pun kembali menjelaskan apa yang sebelumnya dia jelaskan pada Diki, dan dengan serius lagi-lagi Elin mendengarkan dengan serius dan Marni pun mendengarkan apa yang kekasihnya katakan.


Raut wajah  Elin kembali berubah ketika mendengar nama Lexi yang sudah datang ke negara ini. Elin pun menatap Eric seolah wanita itu sedang meminta nasihat dari papahnya.


"Papah terserah pada Elin, karena Elin yang akan menjalaninya. Dokter Diki dan kita tidak  memaksa. Kami hanya menyarankan. Agar Lexi tidak mengganggu kamu, dia takutkan Lexi akan tahu kalau bayi yang kamu kandung adalah anaknya. Kamu tentu lebih tahu dengan sifat Lexi yang bengis," ucap Arya.


"Apa tidak ada cara lain, misalkan Elin pergi gitu,  biar Elin tidak bertemu dengan laki-laki itu," usul Elin, tidak mungkin dia melibatkan Diki yang jelas-jelas dia tidak ada  hubunganya dengan masalah ini. Dan lagi Elin yakin kalau Lexi tahu Elin hamil anaknya pasti lebih marah lagi.


"Pergi kemana? Keluarga Elin ada di sini semua," lirih Eric, tidak setuju apabila putrinya memutuskan untuk pergi.


Elin nampak berpikir.


"Atau kamu sudah siap kalau bertemu dengan Lexi?" tanya Marni yang ikut angkat berbicara. Sementara Diki hanya diam menyimak semuanya masalah yang terjadi di hidup Elin yang nampak sangat pelik.


Elin menggeleng, "Tapi gimana kalau ternyata Lexi adalah jodoh Elin dan Elin akan hidup dengan dia?" lirih Elin dengan suara parau.


"Maaf Dokter Diki bukanya Elin menolak kebaikan dokter Diki, tetapi Elin hanya tidak ingin Dokter terlibat dengan masalah ini. Karena kalau Lexi tahu kita bohong akan jadi masalah baru, yang bisa saja Lexi mencelakai Dokter Diki. Elin tidak ingin ada korban lagi. Cukup Elin yang jadi korbanya, jangan bawa-bawa yang lain," lirih Elin dengan suara yang sopan.


"Tidak apa-apa santai saja aku tidak tersinggung kok," balas Diki dengan santai.


"Kalau bicara jodoh kita tidak pernah tahu, tapi kalau Elin dan Lexi ditakdirkan berjodoh Papah bisa apa?" ucap Eric pasrah, karena yang namnya jodoh manusia tidak bisa berkehendak.


"Kalau gitu Elin akan hadapi semua ini. Elin akan belajar siap mau tidak mau Elin akan belajar untuk menerima takdir ini, bertemu atau tidak Elin tidak bisa berkehendak untuk menolak takdir. Elin pasrah saja."

__ADS_1


__ADS_2