Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 239


__ADS_3

Dua hari paska kepulangan Philip ke tengah-tengah keluarganya, kebahagiaan keluarga pun semakin lengkap. Bukan mereka melupakan semua yang telah terjadi, tetapi mereka mencoba menarik garis kesimpulan positif dari setiap yang  pernah terjadi pada mereka, meskipun itu adalah kenangan buruk.


Eric tidak mengajarkan melupakan kenangan buruk itu, tetapi Eric mengajarkan pada putra dan putrinya, bahwa kenangan buruk itu di jadikan tolak ukur untuk berbuat baik, sehingga apabila akan berbuat jahat mereka akan kembali ingat bahwa dosa-dosa di masa lalu mereka terlalu banyak tidak ada pilihan lain selain berbuat baik pada sesama makhluk hidup.


Selama dua hari juga keluarga itu kembali merasakan arti hangatnya sebuah keluarga. Eric pun benar-benar berhasil dalam mengurus anak-anak dan juga istrinya. Buktinya Eric bisa menyatukan ke dua buah hatinya yang sempat terlibat ketegangan. Bukan hanya itu, Eric juga bisa membuktikan pada Philip bahwa Elin mampun memaafkan semua kesalahanya.


Philip pun semakin hari semakin membaik, hubunganya dengan kedua cucunya semakin hangat, begitupun dengan Eric dan juga Darya. Mereka bisa membuka pintu maaf untuk Philip yang bahkan kesalahanya sudah sangat fatal.


Setelah serangkaian ketegangan bergulir menjadi kebagahgian. Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu. Yah, hari ini adalah pernikahan Arya dan Marni serta Elin dan Lexi. Sebenarnya Elin tidak mau menikah dengan dirayakan atau pun diadakan pesta, ia lebih ingin menikah secara agama dan hukum, tanpa adanya pesta, tetapi karena keinginan sang Kakek sehingga Elin pun mengikutinya, dan ternyata bukan hanya Elin, Arya, Lucas pun ternyata saat itu hanya nikah siri dan hari ini dia akan menikah kembali bersama Jiara, agar lebih sakral secara agama dan hukum.


Di rumah Philip pagi hari pun sudah mulai sibuk dengan persiapan yang harus ke gedung pernikahan di mana acara ijab kabul dan pesta pernikahan akan segera diadakan.


Bukan hanya di rumah Philip yang sibuk dengan persiapanya, di rumah Marni dan juga Arya pun  tidak kalah sibuknya. Marni sih ok lah tidak terlalu repot dan penuh drama berbeda dengan calon suaminya yang pagi-pagi di rumah keluarganya terjadi drama yang dramatis.


"Arya... kalau nggak bangun juga kita tinggal yah," pekik Dinda yang sudah entah beraoa kali membangunkan putranya tetapi laki-laki berusia tiga puluh tahun itu kembali tertidur.


"Ih, apa sih Mih, orang masih nagntuk," racau Arya dengan menggaruk-garuk kepalanya yaang tiba-tiba gatal itu.


"Bangun! Bukanya hari ini adalah hari pernikahan kamu, atau mau malah nanti kamu  digantikan pengantinya karena nggak juga datang." Kali ini Aryo, sang papih yang juga gemas dengan kelakuan putranya itu.


'Aduh jangan dong Pih, udah tau hari ini suah ditunggu dari sekian lama, masa mau digantiin," dengus Arya dengan mencebikan bibir dengan sempurna dan dengan kemalasanya laki-laki yang hari ini akan melepas lajangnya pun bangun juga meninggalkan tempat paling nyamanya.

__ADS_1


"Ya udah kalau nggak mau di gantikan, buruan ini waktunya udah mepet," balas Aryo yang geram juga sama anak laki-lakinya itu. Arya memang dari jaman baru lahir juga dia sangat sulit untuk dibangunkan.


"Heran anak satu ini nurun siapa kenapa kalau dibangunkan paling susah," maki Aryo ketika sang putra semata wayangnya sudah beranjak ke kamar mandi.


"Hey itu semua tentu meniru dari Papih, mungkin Papih lupa kalau Papih dulu juga seperti itu, bahkan mamih sampe cape kalau bangunin papih," balas Dinda yang ternyata masih di belakan Aryo.


Hiasssttt... Aryo meletkan jari telunjuknya di depan bibir, memberi tanda agar sang istri tidak berisik.


"Mamih jangan berisik, ini rahasia kita berdua. Nanti kalau Aryaa tahu dia bakal ngecengin papih terus," bisik Aryo, sembari mendorong pundak sang istri agar meninggalkan kamar Arya yang sedang bersiap untuk menuju ke gedung di mana acara pernikahnya akan dimulai.


Satu acara dengan tiga pengantin, memang mereka ini hemat-hemat hehehe...


"Mbak, dandanya jangan terlalu menor yah, aku tidak suka." Elin selalu berisik perihal make up. Bagaimana tidak dia adalah tim lipstik dan bedak bayi tidak pernah yang namanya ribet dengan serentetan alat make up bagi Elin itu semua hanya membuat wajahnya berat.


"Marni, kamu sudah siap Nak?" tanya wanita paruh baya yang masih cantik, beliau adalah Bunda Rose, alias ibu angkat yang telah merawat Marni sejak bayi.


Marni pun membalas dengan anggukan. "Iya, InsyaAllah sudah siap Bun."


"Kalau gitu ayok kita ke luar. Arya dan keluarganya sudah menunggu, penghulu juga sudah datang." Rose menghampiri putrinya yang nampaknya tegang itu.


"Tangan kamu dingin sekali? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rose dengan mengusap-usap telapak tangan putrinya.

__ADS_1


Marni menggeleng. "Marni hanya terlalu tegang Bun, dan juga pikiran Marni yang terlalu memikirkan sesuatu hal yang tidak pening," jawab Marni. Yah memang wanita itu terlalu memikirkan hal yang tidak penting, seperti alharhum ayah angkatnya, dan kedua orang tuanya siapa. Meskipun bunda Rose sudah memperingatkan agar tidak memikirkan yang tidak penting. Nyatanya otaknya akan terus berpikir keras untuk sebuah pikiran yang hanya membuat dia tegang.


"Marni, lihat Bunda." Bunda Ros meminta putri satu-satunya menatap dirinya. Marni pun mengikutinya. "Kamu jangan pikirkan itu semua, nasib setiap orang itu berbeda-beda. Termasuk nasib kamu. Jadi kamu jangan berkecil hati, kamu harus menunjukan senyum terbaik kamu. Kasihan Arya dan keluaraganya sudah menunggu kamu," ucap Bunda Rose sembari memberi kekuatan untuk Marni.


Wanita yang berprofesi sebagai dokter kulit pun mulai mengembangkan senyumnya dan menghirup nafas dengan dalam. Kini Marni pun yakin kalau dia hanya akan menujukan senyum kebahagiaan.


Seperti yang Arya bayangkan calon istrinya sangat cantik, bahkan kedua mata Arya sampai tidak berkedip karena kecantikan Marni.


"Oh, ya Tuhan, kenapa aku baru sadar kalau Marni itu sangat cantik," batin Arya terus menatap Marni, bahkan kepala Arya terus mengikuti arah, Marni untuk duduk.


"Ehemz... Ehemzz... Mas Arya ayok buruan di halalin biar cepat-cepat sah dan bisa ditatap terus bahkan mau langsung di unboxing juga boleh," ucap penghulu mengagetkan Arya, dan laki-laki itu pun langsung tersentak kaget.


"Ayok Pak Penghulu, sudah tidak sabar," balas Arya, sontak saja banyak tamu undangan tertawa, terutama sesama profesi mereka berdua, dari yang dokter bedah sampai dokter-dokteran, mereka tertawa dengan renyah. Meskipun Arya menjawab hanya untuk candaan, tetapi tetap ada saja yang menganggap serius.


"Kalau begitu ayok pegang tangan wali hakim! Dan kita mulai ijab kabul yah, siap?" tanya Pak Penghulu lagi.


"Siap dong..." jawab Arya dengan santai. Lagi-lagi suara riuh dari tamu undangan.


Kedua orang tua Arya dan Marni hanya geleng-geleng kepala. Arya memang beda.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Abqari Arya Al Mufaza bin Aryo Al Hakim, dengan Mawarni bin Fulan dengan maskawin uang I00 juta, dan sertifikat tanah beserta bangunan seluas 800 meter, dibayar tunai."

__ADS_1


Arya pun yang sudah menghafal langsung menjawab. "Saya terima nikah dan kawinnya Mawarni bin Fulan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


Sah?


__ADS_2