
"Kamu berani kan Jia tidur sendirian di apartemen ini?" tanya Lucas begitu Jiara dan dirinya sudah sampai di dalam apartemen Lucas. Kedua bola mata Jiara mengamati apartemen yang bagi dia sangat mewah. Bahkan untuk membayangkanya Jiara tidak terlintas. Gadis berhijab itu memang punya uang untuk sekedar menyewa apartemen, tetapi biaya untuk pengobatan papahnya selalu menjadi bahan pertimbangan ketika ia akan boros.
"Tapi Mas, Jiara tidak harus membayar uang sewa apartemen semewah ini kan? Karena Jiara tidak punya uang untuk membayar uang sewanya," lirih Jiara, ia bingung apabila harus membayar uang sewa apartemen bosnya, berapa uang sisa ia bekerja sedangka wanita itu sekarang juga harus lebih banyak mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang lebih banyak lagi. Terutama tadi dokter mengatakan kondisi papahnya yang butuh biaya tidak sedikit untuk pengobatanya.
"Jiara, aku yang meminta kamu tinggal di apartemen ini, karena saya sendiri sangat jarang datang kesini, paling ada orang bersih-bersih yang datang setiap tiga hari sekali, tetapi kalau ada kamu yang nempati mungkin apartemen ini sedit lebih hangat dan rapih karena ada yang menjaganya, dan nempatin. Kamu baik-baik di sini dan kalau ada apa-apa kamu jangan sungkan untuk mengatakan ke pada aku," jelas Lucas, sebelum laki-laki itu pulang untuk beristirahat karena badan dia kembali melemah dan itu karena ia tadi kembali teringat Elin dan Eric yang sudah meninggal.
"Baik Mas, aku pasti akan rawat apartemen ini sebaik mungkin dan aku tidak akan membuat Anda kecewa karena tempat ini akan saya jaga dengan benar dan rapi, terima kasih sekali lagi atas bantuan yang telah Anda berikan Mas. Saya tidak membalasnya secara langsung, tetapi saya akan berdoa untuk Anda agar Anda diberikan kemudahan untuk setiap hajat Anda." Jiara menundukan setengah badanya untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.
"Amin semoga doa kamu terkabul, dan ingat tadi yang di rumah sakit kalau kamu juga harus cerita dengan apa yang terjadi dengan Papah kamu, mungkin saja aku bisa membantunya," imbuh Lucas, dan di sambut anggukan dari Jiara.
"Saya akan segera ceritakan apa yang menimpa Papah saya, tapi tidak sekarang, karena sekarang sudah malam, dan Anda juga harus kembali ke rumah keluarga Anda untuk beristirahat, terlebih Anda baru saja sembuh dari sakit." Jiara berharap Lucas cepat pulang karena tidak ingin terlalu lama mutar-mutar, apalagi wajah Lucas kembali pucas pasi, sangat berbeda jauh dengan apa yang Jiara lihat setelah bosnya keluar dari kamar mamihnya.
__ADS_1
Setelah memastikanJiara aman, Lucas pun kembali melangkahkan kakinya dengan lemas ke mobil yang terpalkir dipalkiran apartemen.
"Kita langsung pulang Tuan?" tanya Mang Darma, sopir pribadi Lucas, hanya memastikan mungkin saja bosnya akan meminta ke mana lagi.
"Pulang Mang, kepala sudah pening dan juga badan sudah tidak enak ingin tiduran," jelas Lucas dengan matanya terpejam dan di letakan di atas sandaran kursi penunpang.
Mang Darma pun langsung melajukan kendaraanya kali ini menuju rumah mewah Philip, pengusaha kaya raya yang memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar, dan juga pabrik pengolahan kelapa sawit hingga menjadi minyak.
Philip sangat marah dan terus mencoba membuat rumah tangga anaknya hancur dan akhirnya Darya, putri semata wayangnya kembali pada dia, tetapi rencananya selalu gagal hingga laki-laki itu kehilangan jejak anak dan menantu miskinya. Yah menatu miskin adalah sebutah Philip pada suami Darya.
Namun, sepertinya keberuntungan masih berpihak pada Philip, di suatu hari putrinya muncul dari persembunyianya dengan linanangan air matanya, meminta bantuan untuk salah satu anak kembarnya yang baru dilahirkan dan salah satu dari mereka yang bernama Erlan Khalaf Al Nu'man mengalami kelainan jantung sehingga membutuhkan uang banyak untuk menyelamatkan putranya itu.
__ADS_1
Kesempatan itu tentu tidak disia-siakan oleh Philip yang sudah berjanji bahwa sampai kapan pun tidak akan merestui hubungan Darya dan menantu miskinya. Berbagai persayaratan di ajukan Philip persyaratan yang sangat memberatkan untuk Eric dan Darya, tetapi demi anaknya Erlan, di mana Eric ingin agar putranya tetap menjalani hidup normal seperti yang lainya. Eric pun menyetujui semua syarat dari Philip, dan Darya pun lagi-lagi tidak bisa mengelak karena wanita itu juga ingin anaknya bisa hidup.
Adapun syarat-syarat yang diajukan Philip adalah mereka harus bercerai dan saat itu juga Eric menalak Darya, wanita yang sangat dicintainya. Setelah dua pasangan suami istri yang sangat saling mencintai resmi bercerai secara agama. Philip juga mengajukan syarat ke dua di mana laki-laki itu ingin anak mereka tidak saling mengetahu bahwa mereka terlahir kembar dan juga Eric dillarang menceritakan pada anaknya siapa data diri Darya. Itu sebabnya baik Elin dan Lucas tidak saling kenal dan juga Elin tidak mengenaili siapa sebenarnya sosok ibunya bahkan untuk namanya Elin hanya kenal Rya, wanita yang sering di sebut papahnya.
Eric lagi-lagi tidak bisa menolak dan tidak bisa berkutik, laki-laki miskin itu tahu bahwa apa resikonya apabila ia melanggar peraturan tertulis dan dilegalkan secara hukum itu. Papah dari istrinya bukan orang sembarangan sehingga lebih baik Eric menitipkan cinta sejatinya pada Tuhan, Eric selalu yakin bahwa ia akan bisa kembali lagi di pertemukan dengan cinta sejatinya, meskipun jarak lautan luas membentangnya.
Cinta beda keyakinan dan beda setatus sosial memang sulit, itu yang Eric alami, tetapi entah mengapa Eric tidak bisa melepaskan dari rasa cintanya. Eric justru semakin jatuh hati dengan Darya meskipun ia sudah berkali-kali meminta untuk dijauhkan dari wanita itu, tetapi pada kenyataanya tidak seperti itu Eric semakin terperangkap oleh wanita yang berambut gelombang.
"Kamu sudah pulang Lucas, apa kata dokter?" Suara Philip mengagetkan Lucas yang baru saja masuk ke dalam rumah mewah milik itu.
"Langkah kaki lucas terhenti dan menyeret dengan malas kakinya untuk duduk di sofa hadapan Philip, meskipun dalam hatinya bergemuruh.
__ADS_1