Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 210


__ADS_3

Lucas dengan menggendong Zakia, dan tangan kanan menggenggam tangan Jiara berjalan dengan yakin menuju ruangan dokter Eka, dan kebetulan dokter Eka juga baru selesai melakukan penangan pada Elin.


"Elin kondisinya gimana Dok?" tanya Lucas, terlebih melihat dokter Eka yang terlihat penampilannya cukup kacau.


"Seperti itu memang ketika hati sudah rusak akan ada pembengkkan hati dan biasanya akan sesak nafas, karena sakit di bagian perut yang sangat luar biasa, karena penumpukan cairan seperti yang Elin alami saat ini, dan ditakutkan akan berefek  pada organ lain terutama ginjal, dan bisa juga penumpukan cairan di otak, akan lebih bahaya. Apa kamu sudah bicara pada istri kamu?" tanya dokter Eka sembari meletakan tubuhnya di kursi kebangganya.


"Saya sudah menyetujuinya Dok." Jiara langsung menyela dengan apa yang dokter katakan, dan di balas dengan genggaman tangan Lucas yang semakin kuat untuk memberikan kode terima kasih atas dukungan dari Juara yang berhasil menguatkan untuk Lucas.


"Alhamdulillah, kalau begitu apakah kamu siap untuk melakukan  pemeriksaan? Kalau semua OK saat ini juga kita lakukan beda pada pasien dan pada kamu juga," tanya dokter Eka, dan di balas dengan anggukan yang kuat oleh Lucas.


Lucas menatap Jiara dan wanita itu mengangguk dengan kuat dan setelahnya mengembngkan senyum terbaiknya. "Saya siap Dok," ucap Lucas, ia mengembangkan senyum bahagia karena dapat dukungan dari Jiara. Sepele memang tetapi memberikan kekuatan luar biasa untuk dirinya. Wanita itu pun terus mengikuti Lucas sampai di sebuah ruangan di mana Lucas akan melakukan pemeriksaan dan mungki apabila semuanya Ok, maka ini adalah pertemuan terakhir hingga nanti paska selesai operasi. Tentu harapannya bukan pertemuan terakhir untuk selamanya.


Laki-laki itu menyerahkan Zakia yang berpegangan dengan kuat pada papahnya seolah dia tidak mau kalau Lucas masuk ke dalam sana. Padahal Zakia sendiri sedang tidur. Namun, setelah perlahan dipindahkan dan dibisikan kalau papahnya akan baik-baik saja serta janji Lucas yang akan ditepati, bocah usia tiga tahun itu melepaskan cengkraman tanganya, dan mencoba dan kini berpindah dalam gendongan Jiara.


"Aku nitip Kia yah," ucap Lucas dengan pengusap kepala hingga punggung Zakai yang masih tertidur dalam gendongan Jiara.


"Kamu jangan kawatir, Zakia akan baik-bak saja dengan aku, dan kamu juga harus berjanji kalau kamu pasti akan sembuh kembali,"  balas Jiara dengan suara yang berat.


"Aku janji." Terakhir sebelum Lucas masuk ke dalam ruangan, di mana dokter Eka sudah lebih dulu masuk ke dalam sana. Lucas menghadirkan kecupan di kening sang istri.


"Do'a kan aku dan Elin, semoga kami selalu dalam lindungan Tuhan."


Perasaan Jiara pun semakin tidak menentu ketika Lucas sudah masuk ke ruangan pemeriksaan. "Ya Tuhan lindungilah suami hamba."


Setelah cukup lama wanita berhijab itu berdiri, kini dengan langkah perlahan meninggalkan Lucas dengan serangkaian pemeriksaanya. Jiara kembali ke ruangan Elin yang ternyata mereka sudah tahu bahwa Elin tidak lama lagi akan menjalani pembedahan lagi, tetapi rupanya yang tahu apabila yang donor adalah Lucas kembaranya hanya Eric dan Lexi.


Yang lainnya tidak ada yang tahu tertama Darya, Philip dan Elin, pasti kalau Elin tahu tidak akan mungkin mau kalau hati yang sebagian milik Lucas kakak sekaligus musuhnya.


Eric yang melihat kalau menantunya berwajah masam pun datang dan duduk di samping Jiara yang tengah melamun. Yah dia melamun, pasalnya Eric datang pun Jiara tidak menyadarinya. Wanita itu tetap dalam pikirannya yang mencemaskan Lucas.

__ADS_1


"Apa kamu sudah tahu kalau yang donor hati untuk Elin adalah Lucas?" tanya Eric dengan nada sura yang sangat berhati-hati.


Wanita berhijab panjang itu langsung mengangguk dengan kuat. "Barusan Jia sendiri yang mengantarkan sampai ruang pemeriksaan," balas Jiara dengan pandangan mata yang masih lurus ke depan.


"Maaf kalau kamu sedih dengan ini semua, papah yang meminta Lucas melakukanya. Karena papah tidak mau Elin pergi, mungkin memang papah egois, tetapi papah juga tidak mau Lucas kenapa-napa. Papah akan selalu berdoa untuk anak-anak papah termasuk Lucas."


"Tidak apa-apa Pah, memang sudah seharusnya Mas Lucas melakukan ini, dia juga butuh pengorbanan untuk maaf dari Elin. Jiara hanya takut terjadi sesuatu. Jiara tidak kuat apabila harus membesarkan Zakia seorang diri. Jia butuh bantuan dari suami Jia." tanpa terasa air mata wanita berhijab itu kembali luluh. Menandakan bahwa dirinya sepenuhnya sudah memaafkan suaminya.


...****************...


##Maaf kalau di novel ini ada yang kurang senang dengan cerita Jiara. Othor beberapa kali ada yang memberikan masukan jangan telalu angkat kisah Jiara, mohon maaf bukan othor tidak menerima masukan dari kalian yang sudah berpartisipasi dalam novel ini, dengan memberikan masukan. Saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih untuk masukan kalian, sebisa mungkin saya perbaikannya disetiap kesalahan dan alur, tetapi bagi othor Jiara juga nasibnya tidak jauh berbeda dari Elin, dan yang menjadi pelaku pemer-kosaan adalah Lucas (Tokoh utama) jadi Othor rasa masih nyambung kisah Jiara karena masih berhubungan dengan tokoh utama, dan kalau Jiara mau berjuang untuk memaafkan kesalahan Lucas, di mana perjuangan Jiara sampai dia bisa berdamai dengan masa lalunya itu juga pantut diaparesiasi, Jia terpuruk seorang diri meskipun dia tidak mendapatkan kekerasan fisik seperti Elin, tetapi paska kejadian malang itu, hidup dia diuji dengan mental yang hancur, dan dia tidak ada seorang pun yang memeluknya, sampai dia yang bangkit sendiri itu masuk kejahatan Lucas maka dari itu Othor tulis di kisah ini, karena Jiara adalah korban atas kejahana Lucas. Kalau kurang suka dengan Jiara bisa dilewati bagian yang mengisahkan Jia di masa lalunya, dan ambil himahnya ajah kalau ada, dan kalau tidak ada berati othor gagal nulis karena tidak ada hikmah yang bisa dipetik. Othor sebenarnya pengin bahas ini dari lama, tapi baru kesampaian saat ini. Semoga bisa menerima alasan other masih selipkan kisah Jiara di novel ini. ##


...****************...


Lexi yang sedang berdiri dengan tubuh lemasnya, ketika panjanganya menatap Jiara dan Eric pun langsung menghampirinya. Laki-laki itu bahkan sampai lupa, soal Lucas dan sejauh mana perkembanganya, untuk. melakukan donor hati.


Sama seperti Eric, Lexi pun duduk di samping Jiara. "Ini ada apa Om, kenapa Jia menangis."


Lexi mengangguk paham dengan ketakutan Jiara. "Aku mewakilkan Elin, terima kasih untuk kalian, kalian mau berkorban untuk Elin, semoga Lucas kondisinya baik-baik saja." Lexi menatap Jiara yang mengangguk samar.


"Aku juga senang melihat perubahan Mas Lucas seperti itu, semoga saja Elin juga bisa memaafkan apa yang sudah terjadi, dan mereka bisa hidup seperti adik dan kakak pada umumnya." Jiara yakin Elin bisa memaafkan Lucas, masa memafkan Lexi dan Philip saja bisa masa memaafkan Lucas tidak bisa.


"Semoga yang kamu harapkan akan segera terjadi, papah pun sangat berharap kalau semuanya terjadi sesuai dengan yang kamu mau."


Mereka masih terus berjaga di luar karena memang Elin yang belum boleh di jenguk sampai pemeriksaan Lucas selesai dan mendapatkan kepastian untuk tindakan lanjutan.


Namun, tidak lama dokter Eka datang menemui Eric, Jiara dan Lexi yang sedang  duduk masih dengan obrolan yang sama. "Dok, gimana hasilnya? Apakah Lucas bisa mendonorkan hatinya?" cecar Eric begitu dokter Eka datang langsung menemui dirinya.


"Sejauh ini aman, tetapi kami ingin memastikan bahwa keluarga setuju dengan ini, aku hanya ingin memastikan kalau terjadi sesuatu dengan pendonor kalian tidak akan menuntut apa-apa karena ini semua atas dasar kemauan pendonor, dan keluarga setuju." Dokter Eka mengulurkan satu lembar surat perjanjian.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu berpikir bahwa dirinya harus melakukan itu mengingat mereka adalah sodara kembar dan dalam satu keluarga, biasanya dokter Eka hanya membutuhkan perjanjian dari pendonor saja, tetapi untuk Lucas ia ingin semuanya menyetujuinya.


Terlebih kondisi Lucas yang sebenarnya dari segi fisik cukup berbahaya melakukan operasi besar, terlebih dia banyak beban fikiran yang bisa memicu hal buruk terjadi di atas meja operasi. Apalagi operasi yang akan mereka lakukan tidak sebentar setidaknya tiga belas jam mereka berjuang untuk melakukan operasi. Dokter Eka sudah menjelaskan semua resikonya dengan apa yang akan terjadi dengan kondisi Lucas yang cukup berbahaya.


Namun, Lucas tetap keras kepala ketika Lucas sendiri mengatakan dia akan baik-baik saja, dan dia sudah menyerahkan sepenuhnya pada Tuhan atas apa yang terjadi, dan dia ikhlas. Maka dokter tidak bisa berbuat apa-apa karena itu kemauan pendonor, dan Lucas juga dengan sadar menandatangani surat perjanjian.


Meskipun berat baik Eric maupun Jiara, tetapi pada akhirnya, mereka mengikuti apa kata dokter Eka, terlebih di atas sana tandatangan Lucas sudah ada, sehingga mereka hanya bisa berdoa agar semuanya baik-baik saja.


"Kalau begitu, kami akan melakukan bedah saat ini juga. Mohon untuk keluarga berdoa yah untuk kelancaran semuanya." Dokter Eka kembali ke tugasnya. Sementara Jiara dan yang lainya seolah sedang memasuki ujian yang sesungguhnya.  Ketegangan terlihat di wajah semuanya.tidak terlewat Darya dan Philip yang sejak tadi saling bertautan tanganya ketika mendengar kalau Elin saat ini juga akan dilakukan transplantasi hati.


"Aku harus berkata apa, kalau Kia bangun dan menanyakan papahnya."


...****************...


Sementara di tempat lain sepasang kekasih sedang heboh memilih barang yang akan dia berikan untuk Elin yang baru saja lahiran.


"Ini kayaknya lucu." Arya menunjukkan pakaian yang berwarna merah muda.


"Kenapa warna pink, kan anaknya Elin cowok," dengus Marni sembari menepuk tangan Lucas yang menunjukkan pakaian untuk bayi perempuan. Sejak tadi laki-laki itu tidak membnatu menyelesaikan solusinya tetapi justru dia menambah pusing Marni untuk memilih barang untuk kado anak Elin.


Yah, pasangan kekasih itu berniat mengujungi Elin dan dan bayinya, sekaligus memberikan hadiah.


"Emang anak Elin cowok? Kenapa aku baru tahu?" kekeh Arya ini bukan ekting tetapi memang saking bahagianya dia mendengar kabar Elin sudah lahiran sehingga tidak sempat menanyakan jenis kelamin sang buah hati.


"Ck.. kamu memang selalu seperti itu." Marni kembali mencari barang-barang yang lucu untuk sang baby sudah menjadi kebiasaan kalau Marni dan Arya selalu lebih heboh dari Elin sendiri dalam menyambut buah hatinya.


Namun, kebahagiaan Arya langsung hilang ketika ia membaca pesan yang masuk di ponselnya.


[Elin dan Lucas saat ini sedang melakukan teransplantasi hati. Mohon do'a kan yang terbaik untuk mereka.] Itu adalah pesan yang masuk ke ponsel Arya seketika tubuh laki-laki itu lemas.

__ADS_1


"Sayang untuk belanja kado nanti saja, kita ke rumah sakit saat ini juga. Elin dan Lucas sedang melakukan cengkok pada liver." Arya. langsung menggandeng tangan Marni yang masih bingung dengan ucapan Arya.


Namun, wanita yang berprofesi sebagai dokter kulit pun tidak banyak berprofesi ia mengikuti kemana Arya membawanya.


__ADS_2