
Jiara perlahan pun berjalan menghampiri Lucas dengan senyum damainya. Setelah memastikan putrinya tidak akan rewel dengan suster Rini dan juga omanya. Begitupun dengan Lucas yang membalas dengan senyum nakalnya.
"Sekarang gantian Bunda dong bermesraan dengan Papah," ucap Lucas dengan merentangkan tanganya, tetapi Jiara hanya membalasnya dengan seulas senyum teduhnya. Membiarkan Lucas dengan tangan yang terus terlentang.
"Sembuh dulu baru manja-manjaan," balas Jiara dengan menarik kursi untuk duduk di samping Lucas.
"Loh, aku udah sembuh kok Sayang," bela Lucas dengan senyum jahilnya. Yah, laki-laki selalu saja mencari celah dari setiap ada kesempatan terutama untuk bermesraan seperti itu yang dilakukan Lucas.
"Ngomong-ngomong Elin tadi ngomong apa kenapa kamu bisa langsung bangun? Sedangkan aku yang ngomong sampai berbusa tidak kamu respon," rajuk Jiara, lebih baik membahas yang lain dari pada bahas tentang mesra-mesraan nanti kebablasan malah kena marah dokter karena Lucas kembali sakit lagi. Luka di perut saja masih belum kering betul sudah tidak sabar untuk manja-manjaan.
Terdengar helaan nafas panjang dari bibir Lucas, ketika membahas Elin. Dia masih sangat merasakan bersalah pada sodara kembarnya meskipun secara tidak langsung Elin sudah memaafkanya. "Ok, aku akan cerita, tapi kamu jangan duduk situ dong, teduran sini." Lucas menepuk sisi ranjangnya yang luas.
Jiara pun yang memang merasakan kangen, nurut saja. "Kamu yakin tidak akan menyakiti kamu," ucap Jiara dengan berhati-hati karena takut gerakannya mengenai luka Lucas.
"Bahkan kalau mau, juga sudah kuat," goda Lucas, pokoknya tetap usaha. Yah, siapa tahu dapat tipis-tipis kan lumayan.
"Mas..." Jiara mencubit lengan Lucas dengan manja. "Ayo buruan cerita, ini sudah tidur bareng kamu log," todong Jiara dengan gerakan yang manja.
Lucas pun terkekeh, sangat senang bisa memiliki waktu bermesraan dengan sang istri, bahkan Lucas sendiri untuk membayangkanya tidak berani karena pada kenyataanya takut kecewa, dengan harapan yang terlalu tinggi itu. "Ok-ok nih aku cerita. Mungkin itu karena aku adalah sodara kembarnya kali yah, sehingga apa yang dia lakukan masuk ke dalam hatiku. Jujur kalau ditanya Elin bahas apa, akupun tidak tahu. Yang aku rasakan Elin terus memanggil aku dan marah pada aku karena aku tidak minta maaf, sehingga rasa berat untuk membuka mata aku lawan, dan benar saja ternyata di sedang menangis," balas Lucas dengan mengusap tangan Jiar yang sebelah, dan menciumnya dengan mesra.
"Kamu tahu tidak rasanya hati ini langsung damai ketika membuka mata ada orang yang sangat aku cemaskan. Aku sangat takut kalau Elin akan pergi untuk selamanya dan tidak memberikan aku waktu untuk menebus semua kesalahan aku. Entah bagaimana rasanya aku apabila Elin benar-benar menyerah. Mungkin aku akan benar-benar gila karena dihantui rasa bersalah," uajar Lucas dengan suara yang terdengar sangat ketakutan.
Jiara pun mengusap wajah suaminya yang kata Zaki sangat geli itu. "Udah, kan yang penting sekarang Elin sudah membaik kondisinya dan juga Elin sudah sembuh, bahkan besok dia udah boleh pulang." Jiara mencoba menguatkan Lucas kalau semuanya baik-baik saja, jadi tidak ada yang harus di cemaskan. "Sekarang tinggal kamu yang harus cepat sembuh, Arya, Elin akan segera menikah."
__ADS_1
Lucas pun sampai tercengang dengan apa yang Jiara katakan. "Kamu serius?" tanya Lucas dengan bahagia dan Jiara langsung menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"Apa aku terlihat berbohong, aku selalu serius tahu," jawab Jiara dengan tangis yang pecah. Dia terlalu takut kalau Lucas akan benar-benar pergi. Ketegaran yang dia tunjukan nyatanya hanya di luar saja, di dalam wanita itu juga rapuh. Butuh dukungan terutama dari suaminya.
"Maafkan aku, karena aku lagi-lagi sempat membuat kamu menangis," ucap Lucas. Ini adalah hari kebahagiaan dirinya dan Jiara sehingga Lucas ingin memanfaatkanya sebaik mungkin, dan besok dia akan menghabiskan waktunya dengan Elin ketika sudah sembuh.
Jiara hanya membalas dengan senyum tipisnya. "Terima kasih karena kamu sudah menepati janji-janji kamu pada anak kita, dan juga pada aku. Aku sampai di titik sudah putus asa, kalau kamu pergi entah seperti apa duniaku dan Kia nantinya. Tetapi kamu membuktikan kalau kamu memang laki-laki yang menepati janjinya sehingga aku merasakan kalau kamu memang suami idaman. Aku sangat senang karena kamu menepati janji kamu untuk tetap menjaga aku dan Kia." Jiara pun tertawa dengan sisa tangisnya. Ia kini berjanji kalau dirinya tidak akan bersedih lagi. Kini waktunya bahagia untuk dirinya dan juga Zakia dan tentunya dengan suami tercinta.
"Sudah jam sepuluh, kita tidur yuk, besok Elin akan pulang dan kamu juga akan banyak aktifitas pasti harus butuh setamina yang kuat." Lucas pun memeluk tubuh istrinya yang makin kurus itu.
" Apa tidak sebaiknya aku tidur di sofa saja, takut nanti malah kamu kena luka bekas operasinya dan sakit lagi," tolak Jiara yang tahu makhsud dari Lucas memeluk tubuhnya dengan kuat
Lucas langsung menatap Jiara dengan penuh arti. "Please. Kamu adalah obat untuk aku, tidak mungkin aku akan sakit kalau berdekatan dengan kamu. Malam ini gunakan untuk malam kita berdua." Laki-laki itu menujukan sifat sedihnya, agar Jiara mau mengikuti kemauanya yaitu tidur satu ranjang denganya.
"Aku sangat sayang dengan kamu, aku tidak pernah memimpikan kalau akhir perjalan cinta aku akan berlabuh dui kamu, wanita yang telah aku sakiti, dan kamu adalah wanita terbaiku." Lucas mencium bibir ranum Jiara, dan wanita itu pun hanya memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan Lucas. Hingga wanita itu sadar bahwa suaminya belum benar-benar sembuh.
"Mas, sabar yah. Aku tidak mau nanti kamu kembali sakit gara-gara kamu tidak tahan," ucap Jiara dengan setengah terkekeh. Terlihat wajah Lucas yang kecewa, tetapi sedetik kemudian dia menarik bibirnya.
"Aku akan sehat dulu dan aku berjaji akan sehat untuk kamu, kita akan menikmati waktu itu untuk berkencan selama seharian," bisik Lucas di balik daun telinga Jiara. Yang apabila hijabnya di lepas maka sangat menggoda iman Lucas.
"Seharian, nanti Zakia dengan siapa?" tanya Jiara dengan hera, mana mungkin Zakia mau dengan yang lain sedangkan bocah itu biasanya selalu dengan dirinya terus.
"Zakia kita titipkan pada Papah dan Mamih, biarkan anak-anaknya bulan madu bikin adik untuk Zakia," kelakar Lucas. Dab langsung di balas dengan cubitan mesra oleh Jiara.
__ADS_1
********
Pagi hari menyapa dengan cerah, secerah hati Elin yang sudah tidak sabar untuk melakukan pemeriksaan penentu. Malam ini dia benar-benar istirahat dengan cukup dan bangun lebih pagi dan tentunya lebih ceria.
Elin menatap Lexi yang tumben laki-laki itu masih pulas tertidur sedangkan saat ini sudah pukul delapan, biasanya dia akan bangun lebih pagi karena akan ke rumah Philip untuk bertemu Eril dan langsung ke kantor, tetapi hari ini calon suaminya masih pulas tertidur.
Yah, gimana tidak Elin tidak tahu bahwa semalaman Lexi langsung mencari-cari ilmu tentang sholat untuk pemula dia banyak belajar bacaan sholat dan juga menghafal doa-doa untuk sholat, itu sebabnya Lexi belum bangun di jam delapan ini.
"Elin pun membiarkan Lexi beristirahat sejenak lebih lama karena wanita itu juga tahu betul kalau Lexi juga pasti lelah banget selama ini menjaga dirinya.
Pukul sepuluh sesuai dengan yang dokter janjikan Elin di bantu dengan Lexi tentunya melewati satu tahap demi setahap pemeriksaan hingga pukul dua siang. Elin benar-benar diizinkan untuk pulang.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya aku bisa pulang dan akan bertemu dengan Eril," ucap Elin dengan bahagia.
"Kalau gitu kita pamit yuk ke Lucas dan juga Kakek dan Mamih," ucap Lexi dengan berhati-hati.
"Kalau Lucas tidak deh, biarkan dia meminta maaf secara pribadi dulu dengan aku, baru aku akan bersikap sama dengan kamu. Mungkin lebih baik kita ke ruangan Kakek saja. Pasti Mamah sudah datang," balas Elin, jelas sudah datang kan barusan Eric sebelum berangkat kantor menemui Elin lebih dulu.
Elin pun sebelum pulang lebih dulu menemui Philip yang Eric sempat berkata, kalau kakeknya sempat turun lagi kondisinya. Philip setiap hari justru turun terus kondisinya.
"Kek, ini Elin. Kakek Elin sudah memaafkan Kakek, tolong bangun, dan Lucas juga sudah bangun. Elin juga sudah memaafkan Lucas, dan juga Lexi. Kek, kata Papah manusia memang gudangnya salah, dan kalau sudah meminta maaf dan bertaubat maka mereka adalah orang yang jauh lebih baik dari pada yang pendendam." Elin tidak kuasa berbicara seperti itu. Mungkin ini adalah komunikasi terdekat dengan Philip. Selama ini Elin memang selalu membatasi hubungan dengan Philip.
"Kek, Elin memang pernah marah, kecewa dan ingin menghilang dari kehidupan ini. Terutama dengan Kakek, Kakek adalah orang yang sangat Elin benci karena memisahkan papah dengan mamah. Hingga Elin tahu juga bahwa di balik kejadian kelam Elin yang sampai detik ini masih teringat dengan jelas. Kakek adalah orang nomor satu di balik kejadian itu. Jujur Elin sempat marah hebat sama Kakek, tetapi perlahan Elin mencoba mengerti keadaan kita yang sudah hancur dari dulu. Entah siapa yang salah Elin mencoba memaafkan. Karena kata Papah memaafkan adalah perbuatan paling mulia. Kek bangunlah!" Elin mengusap air matanya yang dia sendiri masih sesak ketika membahas malam kelam itu.
__ADS_1