Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Persahabatan yang Kandas


__ADS_3

Begitu tersadar, Lucas melihat jam di pergelangan tangannya dan ia langsung tersentak bangun, meskipun tubuhnya sudah merasakan semakin tidak enak badan. Dari yang dia lihat jam sudah menunjukan jam dua belas lewat lima belas menit, itu artinya dia sudah telat lima belas menit dari jam yang sudah gadis berkerudung dan Lucas sepakati.


Dengan tergesa Lucas mengayunkan kakinya, mencari sosok yang ia kenal, dari cara berpakaian dan postur tubuhnya, tidak ada wanita seperti yang ia cari. Lucas mencakar rambutnya, kepalanya yang semakin berdenyut tiada henti. Kesal, Lucas mengira bahwa wanita yang sudah membuat janji dengan dia pasti sudah pergi meninggalkan  dia, karena Lucas yang sudah telat datangnya. Laki-laki dengan stelan jas rapih hendak kembali ke mobilnya, setelah memastikan bahwa tidak ada wanita yang ia cari. Pengunjung restoran memang sedang ramai dan itu tandanya mungkin saja Lucas yang tidak melihat gadis itu.


Kakinya ia seret ke meja yang ada di pojok di sana ada buku dan satu gelas jus yang baru setengah di minum. Lucas memutuskan menunggu, mungkin dia yang datang lebih awal dan sang bidadari surga belum datang. Selain menunggu Lucas juga berniat untuk istirahat, karena badan dia yang terasa kurang enak, lemas, dan kepala berdenyut sehingga Lucas memilih untuk istirahat dulu. Sekalian makan siang, karena ini sudah jam makan siang juga.


Pandangan Lucas melirik pada buku yang terdapat di hadapannya. Buku paling atas dengan sampul berwarna gelap dengan tulisan berwarna putih dan ada juga yang berwarna emas. "PESAN CINTA untuk Kau dan Aku" Lucas tertarik dengan buku itu. Pandanganya melihat sekitar, tetapi bola matanya tidak menangkap siapa gerangan pemilik dari buku yang ada di hadapannya.


"Sepertinya yang duduk di hadapan saya seorang wanita, di mana wanita biasanya kalau kemana-mana selalu membawa buku bacaan, sedangkan laki-laki biasanya tidak akan serajin itu," gumam Lucas. Tangannya meraih ponselnya ia bahkan baru ingat bahwa ia bisa menghubungi gadis itu dengan cara meneleponnya. "Dasar dari tadi ngapain aja, kan aku bisa telpon tuh cewek," gerundel Lucas mengutuk kelakuannya yang teledor.


Begitu Lucas membuka ponselnya dia di kejutkan dengan pesan dari Lexi, kemarin Lucas sempat mengirim pesan pada Lexi untuk membantu mecari tahu tentang adik tirinya Elin, tetapi baru di hari ini  Lexi mengirim pesannya az. "Apa sesibuk itu dia, sampai pesan aku baru dia balas," batin Lucas, tetapi tidak lama selanjutnya dia membuka pesan teks yang Lexi kirim kan.


[Gue sudah tidak di Indonesia lagi. Sejak loe membuat kucing kampung itu cacat, gue tidak ingin berhubungan dengan loe lagi. Soal pesan loe yang kemarin, meminta gue untuk mencari tahu  kucing kampung itu, bukanya loe juga banyak anak buah. Mintalah mereka untuk menyelidiki siapa sebenarnya adik tiri loe, karena gue sudah tidak mau lagi berurusan dengan adik tiri loe, dan juga loe. Pertemanan kita sebaiknya cukup sampai di sini. Bisnis kita silahkan loe semua yang ambil alih, karena gue sekarang gue sudah tidak butuh kerjaan itu lagi]

__ADS_1


Mata Lucas langsung merah seperti terbakar api, bukan hanya matanya yang merah, tetapi wajahnya pun menjadi  merah padam, dan kepalannya seolah kini ia merasakan sedang di pukuli dari belakang.


"Lexi, apa sebegitu tidak berartinya persahabatan kita, sampai harus berakhir dengan sangat mudah dan juga semuanya hanya karena wanita.


Tanpa di sadari buku-buku jari tangan Lucas mengepal dan mengeras. Karena kesal dengan pesan yang Lexi kirim. Sebaliknya Lexi di negara yang berbeda merasakan sudah bebas, dan lebih sedikit tenang dengan yang sudah ia lakukan, dan Lexi juga kali ini akan mengikuti apa kemauan orang tuanya yaitu Lexi di minta menikah dengan wanita pilihan orang tuanya.


Sebenarnya Lexi belum mau menikah dan ingin menikmati masa lajangnya terlebih umur dia masih mudah. Yah, baru menginjak tiga puluh tahun, di mana usia tiga puluh tahun itu masih sangat muda dan tentunya masih labil sama seperti Luxas, masih labil dan masih suka bermain dengan wanita-wanita sewaan di mana ia juga tinggal di tengah-tengah negaranya yang tidak melarang tinggal dalam satu rumah, walaupun tidak ada status permenikahan.


Tuntutan menikah terutama dari Maminya selalu menemani hari-hari Lexi, dia masih ingin tetap tinggal sendiri dan juga nafsu bercintanya yang telah mengurai karena Elin yang sudah membuatnya terjebak dengan permainan satu malamnya.


"Maaf Mas sudah lama menunggu yah?" Suara yang sudah sangat Lucas kenal berhasil menyiramkan air di kobaran kemarahannya.


Pandanga Lucas langsung di alihkan ke arah suara yang sudah ia kenal, senyum manis menyapa pandangan Lucas. Laki-laki itu yang tidak menyangka bahwa wajah wanita yang sudah di tolong'nya adalah secantik itu, Lucas pun cukup lama terbengong dengan kedua bola mata tidak berkedip, menatap gadis berhijab yang terlihat anggun.

__ADS_1


"Mas udah lama? Saya tadi sholat Dhuhur dulu di mesjid sekitar sini, makanya lama," ucap gadis itu lagi mencoba mengabaikan tatapan Lucas yang mengaguminya. Justru gadis berhijab panjang dengan warna salem itu menunduk, tidak berani menatap wajah laki-laki yang ada di hadapannya itu. Wajah laki-laki yang sepintas dia sudah lihat, dengan wajah yang tampan dan mata biru mudanya.


"Oh, belum, aku pikir malah aku sudah di tinggal pergi, karena datangnya telat dan enggak tau Mbaknya sedang sholat," balas Lucas, pandanganya lagi-lagi tidak bisa berpaling dari wajah cantik bidadari surganya.  Tidak salah kalau Lucas menamai nomor kontak wanita yang sedang ada di hadapannya sekarang dengan sebutan bidadari surga, karena selain cantik juga sangat lembut dari suaranya.


Jia membuka tasnya dan memberikan jas yang kemarin sempat ia pinjam untuk menutupi kepalanya yang hijabnya di ambil oleh Papahnya.


"Mas ini Jasnya sudah saya cuci dan sudah saya setrika, tapi mohon maaf kalau kurang rapih atau kurang bersih, itu semua karena hanya cuci pakai tangan bukan laundry," ucap Jia dengan menyodorkan jasnya di atas meja dengan di bungkus kantong plastik seadanya.


Sebenarnya Jia malu, karena ternyata hasil cuciannya kalah wangi dengan jas yang belum di cuci kemarin. Jiara akui kalau jas yang di pinjamkan oleh laki-laki yang ada di hadapannya sangat wangi bahkan wanginya masih terbayang sampai saat ini.


Lucas terkekeh dengan renyah, "Ya, ampun Mba malah saya yang seharusnya berterima kasih karena sudah di cucikan jas saya, pakei tangan Mba langsung lagi, itu sudah sangat luar biasa buat aku, karena sebelumnya tidak pernah," balas Lucas, hatinya bahagia dengan apa yang di lakukan wanita berhijab itu. Iya lah tidak ada  wanita yang mencucikan jasnya dengan tangan langsung. Orang Jiara adalah wanita satu-satunya yang dipinjamkan jas oleh Lucas


"Eh, ngomong-ngomong Mbaknya namanya siapa, masa dari kemarin ngobrol tidak tahu namanya kan lucu," ujar Lucas sembari menjulurkan tangannya hendak menyalami wanita yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Namun, buru-buru Jia menangkupkan tangannya. "Nama saya Jiara, bisa panggil Jia dan bisa juga panggil Ara, tidak apa-apa," balas Jia dengan wajah menunduk dan tangan mengatup di depan dadanya.


__ADS_2