Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
PTW. Episode 76


__ADS_3

Setelah melewati perjalanan udara yang cukup melelahkan, dan diawal sempat terjadi drama mabuk dan mual serta kepala pening, kini Elin dan dokter Marni sudah menginjakan kaki di negara K. Pandangan Elin mengawasi setiap sudut kota yang tertata dengan rapih. Sangat berbeda jauh dengan negara kita tinggal.


Memang tempat yang asing buat Elin dan sejak datang di negara ini juga Elin merasakan hatinya kembali bergemuruh. Ada rasa takut nanti ketika ia sudah jauh-jauh melakukan penerbangan dan juga melakukan serangkaian pengobatan yang tentunya tidak akan mudah untuk di lewatinya, akan ada rasa sakit dan juga rasa tidak enak yang lainnya, demi menghilangkan cacat fisik di wajahnya.


Namun apabila Elin tidak melakukanya justru ia akan malu dan tidak percaya diri dengan kondisi wajahnya, yah, kondisi wajah Elin memang sedikit memprihatinkan dan sangat mengerikan bagi yang pertama melihatnya, terlebih anak kecil yang mungkin melihat wajah Elin akan takut. Bisa saja mereka melihat wajah Elin seperti monster.


"Malam ini kita akan istirahat di hotel dekat bandara dulu, dan besok pagi kita baru di lanjutkan kerumah sakit untuk melanjutkan perawatan untuk kamu," ujar dokter Marni, tanganya sembari menunggu hotel yang memang tidak jauh dari mereka berdiri saat ini.


"Ah, iya Dok, Elin pasti akan ikut dokter ajah, asal jangan ditinggal Elin sudah tenang," kelakar Elin, langkah kakinya mengikuti Marni, dengan menyeret koper yang tidak terlalu besar. Karena memang Elin sendiri yang tidak membawa banyak pakaian ganti. Disamping takut nanti malah repot apabila membawa pakaian ganti dengan jumlah yang banyak. Elin juga pada kenyatanya pakaianya hanya beberapa setel saja, dan lagi ia di dalam rumahnya lebih bebas dan suka memakai daster ataupun baju santai dengan kaos oblong dan kolor. Pakaian kebangganya ketika harus  mengantarkan-antarkan pesanan ungkep milik tetangganya yang dipesan dari papahnya.


Elin jadi kangen dengan kerjaan sampinganya itu, di mana itu adalah hal yang paling membahagiakan ia ketika harus mengantarkan pesanan-pesanan itu. Harapan Elin ketika ia sudah sembuh dan bisa melewati semua cobaan ini dan kembali menata hidupnya ia akan memulai dengan yang baru dan tidak ada lagi gangguan dari Lexi maupun Lucas. Tentu doa Elin yang utama adalah agar Lexi dan Lucas tidak mengenali dirinya. Karena kalau sampai mengenalinya wanita itu takut bukan hanya wajahnya yang rusak mungkin ia akan merasakan hal yang lebih mengerikan dari malam kelam yang pernah ia lewati dengan dua laki-laki itu.


"Tapi kamu sudah siapkan Lin buat jalani serangkaian pengobatan ini?" tanya Marni, meskipun entah ia sudah menanyakan pertanyaan ini berapa kali tetapi Marni lagi-lagi ingin memastikan bahwa Elin memang sudah siap dan sudah yakin dengan keputusan yang diambilnya.

__ADS_1


"Siap Dok, malah bisa dibilang sudah siap banget. Sampai tidak sabar pengin baru-baru sembuh dan bisa pulang lagi," jawab Elin, kakinya masih terus melangkah mengikuti kemana dokter Marni berjalan.


"Huh, itu sih mau kamu, pengin buru-buru pulang terus. Nikmati aja Lin, kapan lagi coba bisa keluar negeri secara geratis," balas Marni dengan berkelakar.


"Iya sih Dok keluar negeri geratis, tapi kalau sakit kayaknya tetap tidak nyaman deh," balas Elin. Lah iya dong mending sehat biar di negara sendiri juga, kalau sehat sudah lebih dari cukup.


Baik Marni dan Elin masih terus terlibat obrolan yang ringan. Untuk mengakrabkan diri. Meskipun mereka sudah cukup untuk berkenan tetapi apabila ada terlibat banyak obrolan pasti akan lebih akrab.


"Nak Arya ayo masuk!" Eric membuka pintu rumahnya yang sudah hampir dua minggu ia tinggalkan. Hanya ada security komplek dan tetangga yang masih suka bermain kartu di gasebo depan rumah Eric dan itu dilakukan karena takut ada yang jahat menggasak rumah Eric yang sudah jelas-jelas kosong. Sehingga mereka rela bermalam di depan rumahnya.


"Tidak usah Om, enakan di sini adem dan rumahnya enak banget Om, kayaknya ini mah Arya bakal betah sering main kesini." Arya membaringkan tubuhnya terlentang meluruskan otot-otot punggungnya yang terasa tegang dan kaku. capek sudah pasti.Apalagi menyetir bolak balik bandara dan harus mengantar Eric cukup membuat panas punggungnya.


"Ya, udah kalau gitu nanti Om bikin yang anget-anget dulu. Dokter Arya mau makan mie instan tidak?" tanya Eric sebelum membuatkanya, takutnya kalau sudah dibuatkan ternyata Arya tidak memakan aneka mie, terlebih dia adalah seorang dokter yang mana makananya biasanya akan di jaga dengan sangat baik.

__ADS_1


"Wah kalau tidak merepotkan Om Eric boleh tuh makan mie instan malam-malam begini, udara adem cocok nih," balas Arya, dan Eric pun memetik sayur sawi yang ada di polibek yang masih hijau terawat, hal itu lagi-lagi karena tetangganya yang mengurusnya, padahal Eric tidak meminta tolong, karena takut malah nantinya merepotkan. Laki-laki paruh baya itu sudah ikhlas kalau tanamanya akan mati juga, tetapi ternyata mereka dengan senang hati membantu merawat tanaman Eric.


Kedua mata Arya melebar ketika melihat Eric memanen sawi yang terlihat sangat subur itu. Tubuhnya ia angkat dan menghampiri Eric, tergiur untuk melihat koleksi tanaman Eric yang terlihat sangat segar dan sangat menggiurkan matanya. Rumah yang asri dengan halaman yang penuh dengan tanaman, dan juga rumah yang tertata dengan rapih. "Pasti Om Eric adalah orang yang sangat rajin, dan pantas saja kalau banyak u


yang bertahan bermalam di rumah ini biarpun hanya tidur di gazebo, karena memang tempatnya yang nyaman," batin Arya pandangan matanya mengawasi setiap sudut rumah yang tidak terlalu luas itu. Namun sudah jangan ditanya, tempanya sangat nyaman.


"Om, ini tanaman Om Eric yang sengaja menanamnya, ya ampun sampai seger-seger gini," ujar Arya yang antusias dengan tanaman yang bagus-bagus serta segar-segar.


"Iya, iseng ajah dokter Arya, Oh iya dokter Arya mau makan mienya pakai sawi ajah atau pake sayuran yang lainya. Kalau mau yang lain petik saja, geratis kok," kelakar Eric sembari membawa satu genggam sawi segar.


"Udah sawi ajah Om, nanti kalau pengin yang lain saya ngambil sendiri," ucap Arya sembari melihat-lihat tanaman yang bagus dan segar-segar.


"Tanaman saja disayang kayak gini, mana mungkin anak dan istri ditelantarkan, emang Lucas kadang-kadang otak tidak dipakai dulu buat berfikir, setidaknya cari tahu dulu, baru bertindak. Nah ini bertindak dulu berpikir belakangan. Kan otaknya gesrek dia," gerundel Arya mengumpat sepupunya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2