Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 163


__ADS_3

"Kamu minum saja dulu, biar lebih fresh pikiranya." Diki menyodorkan jus jeruk dan di tangan satunya ada satu cangkir kopi yang sengaja ia pesan untuk menemani mereka ngobrol. Elin melihat Diki sekilas lalu ia mengambil gelas yang di sodorkan oleh Diki.


"Terima kasih," lirih Elin dengan senyum khasnya.


"Ngomong-ngomong gimana keadaan Nyoyah Darya sekarang? Aku kayaknya sudah tidak bekerja dengan keluarga itu lagi, kan beliau sudah sembuh dan aku sekarang sedang cari pekerjaan lain?" ucap  Diki memulai obrolan mereka, sembari menyeruput kopi yang masih hangat itu.


Ini bukan pertemuan pertama Diki dan Elin sehingga mereka tidak terlalu canggung, bahkan selama di rumah sakit Elin menjadi perawat Darya mereka sering bercerita meskipun hanya seputar perkembangan Darya dan juga sempat apa saja cerita Darya selama ini yang mana Diki sudah menjadi dokter pribadi Darya lebih dari sepuluh tahun, dan usia Diki selama ini sudah hampir empat puluh tahun.


"Kondisi Mamah, jauh lebih baik dari dulu, dan sekarang Elin berasa jadi obat nyamut di antara pengantin baru itu. Itu sebabnya Elin keluar karena tidak mau mengganggu," kelakar Elin dan disambut gelak tawa oleh Diki. Mereka pun berbicara dengan ringan, berbagi cerita yang tidak jelas. Bahkan entah cerita apa saja, tetapi dua orang itu nampak seru sekali berceritanya.


"Ehemmmzzz... seru banget kayaknya, lagi cerita apa sih, kok nggak ajak ajak." Marni datang untuk bergabung dengan mereka, di mana dia juga bingung mau ngapain. Arya menyelesaikan misinya dan di dalam ruangan Zakia, sedang bermain dengan opa dan omanya. Jadi Marni pun memilih bergabung dengan Erin.


Elin memalingkan wajahnya ketika dia mendengar suara Marni. "Eh, Dokter Marni gabung Dok, kita lagi cerita masa kecil ajah bermain di sawah dan juga bermain layangan dan manjat pohon jambu tetangga. Ternyata dokter Diki juga merasakan permainan itu. Elin pikir hanya anak desa ajah yang ngalamin permainan itu," jelas Elin wajahnya kembali bahagia.


"Lah kamu nggak tanya aku, bahkan aku SMA masih nyolong rambutan tetangga," bisik Marni dengan percaya diri. "Dan aku nyolongnya bukan satu dua biji, tetapi satu kantong plastik berwarna hitam, kalian tahu habis aku colong besoknya rambutanya habis tak bersisa. Sama yang punya dipangkas. Untung aku nyolongnya udah banyak jadi aman," kekeh Marni dengan bangganya, dan sontak saja ketiga orang itu terkekeh geli dengan kelakuan Marni.


#Itu bukan nyolong Marni tetapi kamu merampok!! pov Othor.


"Wah ini sih maling tidak tahu diri," cicit Diki.


"Ya, habis maling satu dua doang dosa juga mending kan banyak seakalian biar kenyang juga," balas Marni dan hal itu langsung mengundang gelak tawa di antara mereka. Ketiga orang itu pun melanjutkan candaanya. Di mana mereka bercerita masa kecil tidak akan ada habisnya dan mereka akan memiliki topik yang baru begitu seterusnya. Sampai mereka tidak terasa sudah menjelang magrib.

__ADS_1


"Udahan yuk, besok cerita lagi, ketawa terus sampe gigi kering," ujar Diki, siap-siap saja dia kena semprot mamahnya gara-gara ninggalin mamahnya tuh.


Ketiga orang itu pun langsung beranjak bangun dan berpencar menuju tujuan masing-masing di mana Marni dan Elin ke ruangan Zakia, dan Diki pastinya keruangan sang papah.


*********


"Jadi kira-kira yang melakukan ini semua siapa?" tanya Lucas setelah laki-laki itu bercerita dengan kecurigaanya.


Sementara Lexi masih nampak berpikir dan  mencari kemungkinanya. "Gue belum bisa menyimpulkan. Gue besok akan menemu Rosi dan melihat kalau dia ada terlibatanya atau tidak," lirih Lexi dia tidak mau gegabah mengatasi masalah ini. Karena kalau terlibat dengan bisnis gelapnya maka akan banyak melibatkan masalah, sehingga Lexi  tidak mau gegabah.


"Ok baiklah, gue mengerti. Tapi jangan terlalu lama loe bekerja, gue nggak betal tunggal di dalam penjara itu sangat menyiksa, banyak nyamuk, kasur yang keras dan dingin," adu Lucas.


"Cuihhh... bukanya loe yang pengin ini semua, loe yang memilih tetap tinggal di penjara ya nikmatilah, paling setidaknya dua bulan agar loe tahu rasanya tinggal di penjara itu seperti apa," cicit Lexi.


Lexi hanya membalas dengan senyuman masamnya.


"Ngomong-ngomong kondisi Elin sekarang gimana?" tanya Lexi, selama hampir tiga bulan ini dia masih merasa dihantui oleh Elin yang tidak memberikanya kebebasan barang sedikit pun.


Yah, tujuan Lexi datang ke Indonesia juga ingin secara langsung mengucapkan maaf pada wanita itu, setidaknya kalau memang umurnya tidak panjang dia sudah tidak merasa bersalah dengan Elin.  Padahal dia melakukan kejahatan udah puluhan bahkan ratusan, tetapi Elin adalah orang yang selalu datang ke dalam mimpinya. Mata sedih Elin yang memohon sesalu datang menghantuinya.


Wajah Lucas langsung berubah ketika Lexi menanyakan tentang Elin. "Jadi loe juga merasakan kalau dia itu  juga sering datang menghantui loe. Gue pikir hanya gue saja yang sering bermimpi buruk dengan wanita itu."

__ADS_1


"Gue jadi penasaran siapa dia sebenarnya, karena gue juga marah banget waktu loe menyiramkan air keras itu, dan asal loe tahu itu adalah alasan gue menunggalkan loe," desis Lexi akhirnya jujur juga.


Lucas kembali termenung, dia jadi terpikirkan lagi akan  wanita yang dia bilang adik tirinya itu. Bahkan kosentrasinya mengenai pembunuhan Tamara sampai Lucas lupakan.


"Elin sudah meninggal," lirih Lucas, dia masih teringat ucapan Arya yang mengatakan bahwa Elin sudah meninggal dan papahnya pun sama meninggal.


"Hah... serius? Meninggal kenapa?" tanya Lexi, bahkan biji mata laki-laki itu hampir keluar.


"Dari yang gue dengar dia bunuh diri, dan Papahnya juga ikut meninggal bunuh diri," balas Lucas mengatakan apa yang Arya katakan.


Tubuh Lexi mematung seketika, dia bahkan tidak menyangka kalau pertemuanya saat itu adalah pertemuan terakhirnya. "Pantas saja dia sering hadir di mimpiku, mungkinkah dia meninggal karena penasaran? Dan gadis itu jadi hantu. Apa kamu tidak menyesal?" lirih Lexi, bahkan dia yang tidak ada hubungan darah, sangat menyesal, bagaimana dengan Lucas.


Lucas menggelengkan kepalanya dengan pelan. tetapi Lexi bisa mengartikan kalau laki-laki yang ada dihadapanya menyesal.


"Kalau gitu gue pulang dulu, badan gue menggigil. Gue akan pergi ke rumah sakit dulu," desis Lexi, dan di balas anggukan oleh Lucas.


Sementara itu Lexi yang memang sejak datang ke negara ini dan melanjutkan menemui Lucas tubuhnya sudah sangat tidak bisa diajak kerja sama. Mau tidak mau Lexi harus kembali istirahat di rumah sakit hingga tubuhnya benar-benar sehat.


"Aku tidak tahu kenapa tubuhnku akhir-akhir ini benar-benar tidak nyaman, apa aku memang akan meninggal," lirih Lexi tubuhnya di sandarkan pada sandaran sofa mobil.


"Bagaimana aku bisa nyelidiki kasus ini kalau tubuhku saja menggigil seperti ini terus," imbuh Lexi dengan bibir yang sudah pucat. Bahkan sopir taxi yang ia tumpanginya ikut cemas dengan keadaan penumpangnya.

__ADS_1


Lexi langsung datang ke rumah sakit di temani oleh Mario sodara kembar Marco.


__ADS_2