Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Dendam Tanpa Logika


__ADS_3

Braaakkk... pintu di buka paksa oleh Lexi ketika sudah memastikan bahwa Lucas ada di dalamnya. Lucas yang sedang rebahan tanpa merasa ada dosa, karena telah membuat adik tirinya hampir meregang nyawa pun melirik malas ke arah Lexi, yang tengah berdiri dengan arogan diambang pintu. Laki-laki itu seolah sudah tahu kedatangan Lexi yang mungkin akan marah dengan aksi yang Lucas lakukan terhadap Elin.


"Gue lagi malas ngebahas anak pelakor itu," jawab Lucas dengan malas. Matanya kembali terpejam, dan mengabaikan kedatangan Lexi.


"Apa loe tidak sedikitpun bersimpati sama gadis itu? Bagaimanapun dia adalah adik tiri loe, ada darah yang sama yang mengalir didiri dia dan sama dengan darah yang mengalir di tubuh kamu." Lexi tidak mengidahkan apa yang Lucas katakan, kedatanganya mencari Lucas sampai markasnya hanya untuk memberi tahukan bahwa apa yang dia lakukan hampir fatal. Hampir saja Elin kehilanganya penglihatanya, dan itu akan membuat Elin semakin menderita.


"Setidaknya dia masih gue berikan satu kali kesempatan untuk hidup. Lalu kenapa loe marah sekali, apa semua dugaan gue benar bahwa loe itu sudah suka dengan anak pelakor itu," geram Lucas, tatapanya sudah mengajak peperangan antara Lexi dan dirinya.


"Ini bukan perkara cinta atau tidak, tetapi ini perkara perbuatan loe sudah keterlaluan Lucas," bentak Lexi, dia sudah berdiri di samping ranjang Lucas.


"Perbuatan keterlaluan yang mana yang belum pernah gue lakuin sama musuh-musuh gue. Gadis itu masih gue berikan kesempatan untuk hidup, lalu kurang baik gue di mana? Sedangkan diluaran sana siapa pun yang berurusan dengan gue nyawanya tidak akan di bebaskan dari timah anas dengab sia-sia. Coba loe putar kembali, bukanya loe juga sama. Lalu apa perlakuan yang loe berikaan dengan anak pelakor itu, kalau bukan loe sudah suka, dan cinta." Lucas tidak mau kalah dengan tudungan Lexi yang seolah tengah menutupi perasaanya.


Lexi diam saja, dan memang benar apa yang di katakan oleh Lucas, bukanya dari dulu mereka berdua adalah manusia yang tidak memiliki hati nurani, dan ketika  bertemu denga Elin dia jadi sepeduli ini apa itu tandanya Lexi suka dengan Elin? Tetapi apa yang Elin lakukan dan dia berada di dekat Elin tidak merasakan getaran yang berbeda. Lexi tetap kesal dan marah dengan wajah polos Elin. Dan yang membuat Lexi kesal lagi dengan Elin yaitu gadis itu sakit sehingga nanti tidak akan ada wanita yang bisa memuaskan nafsunya, yang langsung bergejolak ketika menatap tubuh dan wajah Elin.


"Loe enggak usah diam, di mana loe terlihat sangat bodoh, cobalah untuk jangan menggunakan perasaan. Percayalah ketika loe menggunakan perasaan loe untuk Elin maka loe yang akan rugi, loe akan merasakan bahwa Elin adalah sumber kekuatan loe dan dari situ wanita ular itu siap menikam loe hingga loe kehabisan nyawa. Sudah banyak kasus seperti ini. Makanya loe jangan melibatkan perasaan dalam kasus atau misi apapun," Lucas sudah berhasil menghasud Lexi lagi, dan Lucas sudah merasa tidak percaya lagi apabila akan berkerjasama dengan Lexi karena ternyata Lexi justru hatinya mudah di goyahkan dengan cinta. Yang membuat Lucas tambah murka adalah, wanita yang membuat Lexi goyah, dan bisa saja suka adalah Elin, adik tirinya yang sekarang menjadi targetnya untuk ia bikin sengsara.


"Gue hanya kasihan dengan gadis itu, gue hanya takut nantinya loe menyesal setelah dia tidak ada," lirih Lexi tidak ingin penyesalan datang pada diri Lucas.

__ADS_1


"Gue tidak akan menyesal, justru gue menyesal apabila melihat anak pelakor itu tetap hidup dan tertawa bahagia," kelakar Lucas, dengan tawa yang menggelegar. Sementara Lexi membuang pandangannya dengan malas.


"Entah ini keyakinan dari mana tetapi gue yakin Elin itu adalah korban, dari orang yang tidak bertanggung jawab," ucap Lexi, di mana saat itu juga tawa renyah Lucas terhenti.


"Iya memang gadis bodoh itu hanya korban, tepatnya korban loe. Sementara gue justru hanya membalas dendam apa yang di alami oleh mamih gue, lalu salah gue di mana? Jelas kalau mau di salahkan, salahkanlah laki-laki buaya itu. Kalau gue bisa memilih gue tidak akan ingin di lahirkan dengan garis keturunan laki-laki itu, Eric." Lucas menatap sengit ke arah Lexi yang semakin lama semaki mengatur hidupnya, padahal Lucas dan Lexi sudah berteman lama tetapi baru kali ini Lucas dan Lexi berselisih paham dan yang di sebabkan oleh Elin, adik tirinya.


Lucas pun memutar rencana agar Lexi jangan lagi tinggal di negara ini, karena yang di takutkan Lexi akan menggagalkan rencananya. Ancamanya kali ini datang bukan lagi orang lain tetapi sahabatnya sendiri.


"Cobalah kamu selidiki lagi kebenaranya, gunakan hati nurani loe, karena rasanya terlalu jahat apabila loe, melenyapkan adik tiri sendiri," lirih Lexi sekali lagi, mungkin saja ada keajaiban Lucas mendengarkan dan mau meneliti sekali lagi silsilah keluarganya, bukan dengar dari cerita orang.


******


"Mutiara hospital yah Pak." Eric dengan semangat memberi tahukan pada sopir taxi yang baru ia temui, dan ia juga sangat mengingat pesan Arya agar ia datang dalam keadaan baik-baik saja dan sehat. Wajah bahagianya sangat terpancar dari wajah lelah Eric. Bahkan semua rasa haus, dan lemas serta badan cape sudah hilang menguai, itu semua karena ia sebentar lagi akan bertemu dengan Elin, putri kesayanganya.


"Elin, ini papah sedang menuju rumah sakit tempat Elin di rawat sayang, kamu sehat yah sayang," lirih Eric, perjalanan pun terasa sangat lama di mana laki-laki paruh baya itu sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan putrinya.


Hal yang sama pun Elin rasakan ia tidak sabar untuk bertemu papahnya.

__ADS_1


"Kamu yang sabar papah kamu pasti sedang dalam perjalanan kesini, kamu harus tunjukan wajah yang bahagia dan jangan bersedih, percayalah semuanya akan membaik seperti dahulu kala," ucap Arya selalu memberi dukungan pada Elin.


 Elin membalas ucapan Arya dengan senyum di balik perbanya, yah Wajah Elin memang sebagian besar di perban dan di sisakan area mulut untuk makan dan minum, dan tentunya panca indra lainya, sehingga apabila tersenyum tidak terlalu kelihatan.


Rasa sakitnya di sekujur tubuh, terutama area sensitif yang masih terasa sedikit nyeri akibat ulah Lexi serta wajah yang masih pegal dan panas tidak lagi Elin rasakan, semuanya sudah hilang dan itu semua karena kebahagiaanya yang mana sebentar lagi ia akan bertemu dengan papahnya.


Eric berjalan dengan tertatih menghampiri resepsionis untuk menanyakan kamar rawat putrinya. Bermodalkan penuturan dari resepsionis Eric kembali menganyunkan kakinya yang sudah lelah dengan sedikit tergesa.


Laki-laki paruh baya itu membaca papan yang ada di atas pintu VIP nomor 01. Eric mengernyitkan dahinya, VIP nomor 01adalah ruangan yang tidak murah kenapa Elin menempati bangsal sultan seperti ini, siapa yang membawa Elin ke rumah sakit ini? Ada keheranana di hati Eric sebelum masuk kedalam.


Eric mengira kalau Elin akan di tempatkan di bangsal kelas tiga, tetapi pada kenyataanya Elin di tempatkan di ruangan sultan. Tanganya yang gemetar, karena ketakutan membayangkan bagai mana dengan kondisi anaknya, serta rasa lapar menjadi satu.


Perlahan pintu di buka, hingga Eric masuk perlahan ke dalam. Kedua anak manusia yang ada di dalam pun langsung menoleh ke arah pintu.


"Elin..."


Tubuh Eric jatuh bersimpuh ketika melihat kondisi tubuh putrinya. Tanpa harus dijelaskan, Eric tahu tubuh yang terbaring di atas ranjang pasien adalah tubuh anak kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2