Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 149


__ADS_3

"Kita makan disini dulu Elin." Arya menghentikan laju mobilnya di sebuah rumah makan yang cukup asri,  dan mungkin Elin butuh tempat atau teman untuk menceritakan pikiranya, dan membuat dia kembali bersemangat, seperti yang selama ini Elin tunjukan, bukan Elin yang patah semangat seperti saat ini.


Di mana Arya melihat setelah pernikahan papah dan mamahnya kembali, Elin semakin murung dan ucapanya selalu ngaco, seolah Arya melihat kalau ini bukan Elin.


Elin dan Marni yang duduk di kursi belakang pun turun, dan mencari tempat untuk duduk. "Kamu pilih makanan yang kamu inginkan. Kamu sedang hamil butuh nutrisi yang banyak, dan pastinya anak kamu butuh makanan yang bergisi," imbuh Arya, mungkin Elin akan merasa bosan dan jengkel apabila diingatkan terus menerus dengan  kehamilanya. Namun, Arya hanya ingin menjadi orang yang perhatian dengan Elin. Supaya Elin tidak merasakan sendiri.


Arya tahu Elin sebenarnya belum siap untuk melewati ini, kehamilan tanpa suami, sehingga moodnya gampang berubah rubah.


"Terima kasih Dok, tapi Elin lagi nggak pengin makan, tadi udah makan diacara Papah kan," lirih Elin.


"Meskipun kamu tidak lapar, tapi anak kamu butuh makanan yang lebih Elin, jangan siksa tubuh kamu dengan kisah masa lalu kamu. Kamu lihat deh tubuh kamu semakin kurus, pucat, sangat berbeda dengan kamu yang kemarin-kemarin, itu karena kamu selalu membatasi porsi makan kamu, entah apa tujuanya tetapi aku kasihan nanti kalau kamu sakit, yang merasakanya kamu dan calon anak kamu. Kamu boleh benci sama takdir ini, kamu boleh benci dengan Lucas dan juga Lexi, tapi ingat semua ini tidak akan terjadi tanpa izin Allah. Ada hikmah dari ini semua. Kamu bisa bertemu dengan aku, yang diam-diam curiga dengan ucapan Lucas dan kamu. Sampai aku diam-diam melakukan tes DnA  itu, lalu aku yang diam-diam meminta izin pada Lucas untuk memperkenalkan kamu dengan Tante Ely yang mana beliau adalah orang tua kamu, dan atas izin Allah juga Tante Ely ingatanya langsung pulih dengan pesat, dan yang sekarang menjadi kebahagiaan kamu adalah Papah kamu sudah menikah kembali dengan Mamah kamu, lalu kenapa kamu berputus asa?" tanya Arya dengan panjang kali lebar menjelaskan semuanya.


Sementara Elin hanya diam mendengarkan apa yang Arya katakan. Tidak memungkiri dalam hati Elin juga selalu berkata seperti itu, tetapi Elin juga tidak bisa dengan mudah menerima Lucas. Elin mengusap air matanya yang mengalir.


"Menangislah kalau kamu ingin menangis, tetapi setelah ini berjanjilah kalau kamu akan melupakan masa lalu kelam itu. Kalau kamu tidak ingin bertemu Lucas, tidak masalah aku akan beritahu Om Eric dan Tante Ely, jangan paksa kalau hati kamu berat, dari pada nantinya kamu yang akan sakit untuk kesekian kalinya. Kamu anak baik, dan kuat, jadi kamu pasti bisa melewati ini semua. Biarkan dengan diamnya kamu mungkin Lucas akan berpikir untuk mencoba  memperbaiki kesalahanya. Jujur aku dukung kamu untuk mendiamkan Lucas dan Lexi setidaknya sampai mereka menyadari kesalahanya," ucap Arya yang dari tadi lebih banyak berbicara.


Sementara Marni sejak tadi berusaha menguatkan Elin, dengan mengusap usap tanganya, agar Elin tidak merasakan sendiri.

__ADS_1


Benar saja Elin terisak menumpahkan air matanya, untung kondisi restoran tidak terlalu ramai sehingga ia tidak malu untuk mengungkapkan hatinya yang sedang hancur.


Sebenarnya yang membuat Elin sesak adalah ia juga harus memikirkan kedua orang tuanya yang tidak bisa dipungkiri mereka ingin bertemu dengan Lucas. Seperti tadi ibunya ingin bertemu dengan Lucas dan  bukan tidak mungkin suatu saat ia juga harus berada disituansi yang sangat-sangat tidak ingin dia lewati, yaitu duduk bersama dengan mereka dan Lucas ada di tengah-tengah mereka.


Cukup lama Elin menangis, dan Mirna yang selalu sabar memberikan kekuatan dengan Elin, dirinya sebagai wanita paham betul berada di posisi Elin, terlebih dia saat ini sedang hamil, emosinya berbeda dengan wanita yang tidak hamil, dan juga sensitifnya tinggi. Ketika orang lain hamil ada suami yang mendampinginya Elin justru harus melewati seorang diri, dengan kisah masa lalu yang buruk, dan juga masalah keluarganya yang pelik. Mungkin itu sebabya ia berdoa agar nyawanya diambil oleh Tuhan. Karena tidak ada sosok suami yang menguatkanya.


Tenggorokan Arya pun sakit, sangat sakit. Baru kali ini laki-laki itu merasakan tenggorokanya sesakit ini hanya karena menahan tangis sungguh dia tidak kuat untuk melihat Elin sesedih ini.


"Mir, aku mau ke toilet dulu yah," lirih Arya dia juga malu apabila harus ikut menangis dengan Elin. Oleh sebab itu dia memilih pergi dari tempat itu dan membiarkan Elin bersama kekasihnya. Kalau Arya berada bersama mereka terus bisa-bisa dirinya akan kalah dan ikut menangis bersama Elin.


"Dok, apa yang akan Dokter Marni lakukan kalau kejadian yang menimpa Elin terjadi pada dokter Marni?" tanya Elin, dengan suara tersengal, karena sisa tangisnya.


"Jujur aku tidak sanggup untuk berada di posisi kamu. Aku sudah berapa kali bilang sama kamu, Arya, bahkan Jiara aku salut dengan kamu yang bisa kuat dan semangat sampai detik ini untuk sembuh, dan sekarang kamu sedang hamil. Kamu hebat, apapun yang kamu lakukan aku terus dukung kamu," ucap Mirna dengan memberikan pelukan pada Elin, sebagai dukungan dari dirinya.


"Apa keputusan Elin untuk tidak bertemu dengan Lucas menurut Dokter Marni sudah keputusan yang baik, tidak egois? Elin hanya takut menyakiti hati orang tua Elin," tanya Elin lagi, yang sebenarnya mengganggu perasaan Elin adalah kebahagoiaan orang tuanya yang pasti akan semakin tertekan dengan sikap Elin, dia bukan memikirkan dirinya sendiri, tetapi Elin memikirkan perasaan orang tuanya.


"Pelan-pelan saja, kamu tidak sendiri ada Arya yang dia akan maju paling depan untuk kamu, dan juga ada aku yang akan selalu siap kapan pun kamu akan cerita," ucap Marni, dan tidak lama Arya datang dengan kedua mata yang memerah.

__ADS_1


"Ayo kita makan dulu, makanan sudah datang perut juga sudah lapar," ucap Arya sembari mengalihkan kedua wanita yang ada di hadapannya mata mereka yang menatap dengan heran. Yah, mereka seolah tahu kalau Arya itu habis menangis. Dari mata dan juga suaranya yang lebih berat terlihat dengan jelas kalau laki-laki itu sedang menyimpan kesedihan sama seperti Elin.


Arya menangis hanya tidak tega dengan Elin yang sudah begitu banyak mengalami masalah, dan sekarang hamil tanpa adanya laki-laki yang memberikan kekuatan untuknya. Memngusap punggungnya dikala capek, menemani mengobral untuk mengurangi ketegangan di kala hamil dan harus melahirkan. Mengusap perutnya sebagai rasa saya. Semuanya harus ia lewat sendiri. Yang mana mungkin setiap malamnya selalu diliputi ketakutan, memikirkan nasib anak dan dirinya, yang mungkin akan memandang rendah karena kehamilan di luar nikah. Arya bahkan sampai berpikir sejauh itu.


********


Di lain tempat Darya dan Eric, pasangan baru itu sudah sampai sejak tadi, dan saat ini Diki juga sudah kembali ke rumah sakit tempat dulu Darya di rawat untuk mengantarkan perawat yang sempat ikut merayakan pernikahan mantan pasienya, bukan hanya merayakan, tetapi juga berjaga karena takut kalau Darya akan kambuh.


"Mas, kok Elin belum sampe?" tanya Darya yang sejak tadi khawatir dengan kondisi putrinya.


"Tadi Arya kirim pesan kalau mereka mau jalan-jalan dulu, kebetulan hari ini Arya dan Marni ambil cuti, sehingga mereka ingin menghabiskan hari dengan jalan-jalan," balas Eric dengan membalas pesan yang ada di ponselnya yang banyak mengirimkan pesan Selamat atas pernikahanya dengan Darya.


"Oh syukur deh, kalau memang mereka hanya pergi jalan-jalan. Kemarin  katanya Mas mau kenalin dengan cucu kita siapa Mas?" tanya Darya sembari mengambil duduk di samping Eric.


Eric pun meletakan ponselnya di atas meja. "Dia Zakia, anak Jiara, dan Lucas," ucap Eric dengan pelan-pelan karena ia takut kalau Darya akan kambuh.


Kedua bola mata Darya terbelalak, terkejut. "Erlan? Se.... sejak kapan dia menikah?" tanya Darya dengan terbata.

__ADS_1


__ADS_2