
Arya buru-buru mengambil ponsel di saku celananya. Ia akan merekam apa nanti jawaban dari Philip, yang Arya yakin rekaman itu bisa ia gunakan untuk meyakinkan Lucas kalau memang kakeknyalah yang membuat finah-finah itu.
Arya melihat kalau wajah Philip itu memang berubah. Yah, memerah dan nampak cemas, sehingga Arya sangat yakin kalau memang Philip lah yang melakukan ini semua. Lalu kalau memang dia yang melakukanya apa Philip akan sedih mendengar apa yang di lakukan Lucas pada sodara kembarnya sendiri.
"Apa Kakek yang pernah mengatakan kalau Elin adalah anak dari pelakor? Dan Tante Darya bercerai dengan Om Eric itu karena pelakor dan itu sebabnya Elin, menjadi korbannya oleh Lucas dituduh anak pelakor, dan penyebab Tante depresi adalah karena fitnah ini?" tanya Arya sekali lagi, bahkan lagi-lagi Arya merasakan sesak di dadanya ketika bertanya soal ini.
Philip nampak menunduk. "Kalau aku berkata bukan apakah kamu akan percaya?" tanya Philip dengan wajah memerah. "Aku melakukanya karena terpaksa, aku terlalu mencintai Tamara. Aku selama ini diam karena aku terlalu mencintai wanita itu, Tamara."
"Jadi yang menyebarkan fitnah itu Tamara? Tapi bukanya Lucas bilang Anda yang mengatakanya?" tanya Arya lagi, ia teringat ucapan Lucas yang tahu semua ini dari Philip.
"Aku yang mengatakan semuanya, tetapi Tamara yang mengusulkannya, dia bilang dengan cara itu, Eric tidak akan mendekati anaku karena pasti Lucas melarangnya. Tetapi aku menyesal Arya. Aku sudah menyesalinya, tidak ada gunanya aku memisahkan mereka terlebih mereka sudah memberikan aku cucu," aku Philip. Entah dia benar-benar menyesal atau ini adalah cara baru ia untuk menghancurkan keluarga kecil Eric.
Namun, Arya sudah berjanji bahwa ia tidak akan mengizinkan hal itu terjadi. Arya sudah sangat setuju Tantenya menikah dengan laki-laki yang bisa memperlalukanya sebagai ratu, yaitu Eric.
Arya nampak memijit kepalanya, ia tidak menyangka kalau semua yang terjadi di antara Lucas adalah rencana Kakek dan Tamara sendiri.
"Pantaslah kamu ada yang membunuh Tamara, kelakuan kamu ternyata sangat menjijihkan," gumam Arya dan pastinya Philip mendengarnya dengan jelas, sebab Arya tidak mengecilkan volume suaranya.
"Apa Kakek tahu apa yang terjadi karena rencana Kakek dan Tamara itu?" tanya Arya dengan wajah yang sangat kecewa. Philip pun menggelengkan kepalanya dengan pelan.
__ADS_1
"Lucas menculik Elin dan hampir saja dia membunuh sodara kembarnya sendiri. Andai Arya tidak datang saat itu mungkin Elin saat ini hanya tinggal nama yang akan selalu kalian sesali. Elin diperlakukan tidak manusiawi oleh Lucas dan itu karena kesalahan Anda. Elin trauma dan Elin cacat." Arya terisak, antara Sedih dan sangat kecewa.
"Pertemukan aku dengan mereka Arya. Aku akan menebus semua kesalah ini dan aku akan meminta maaf pada mereka dan menjelaskan masalah ini," mohon Philip dengan wajah yang sangat mengiba.
Arya meletakan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Bahkan dia sendiri yang sesak ketika mengetahu masalah ini. Lalu bagaimana dengan Lucas yang saat itu menyaksikan gimana bengisnya ia menyiksa sodara kembarnya. Membiarkan Elin memohon hingga menangis dan bersujud, tetapi tidak dia gubris.
"Arya, apa kamu tidak ingin melihat aku mengenali cucuku yang lain, bukanya kamu tadi yang mengatakan kalau saya masih memiliki cucu yang lain dan menginginkan mereka berkumpul denganku?" tanya Philip yang tidak mendapatkan jawaban dari Arya.
"Saat ini Elin hamil karena rencana Lucas, dia disiksa dan diperk*sa karena suruhan Lucas, apa Kakek yakin Elin mau ketemu dengan Kakek dengan masalah yang begitu berat dia harus tanggung?" tanya Arya dengan nada kecewa dan marah.
Kali ini Philip yang diam mematung. Bahkan Arya sendiri lupa kalau laki-laki tua yang sedang berkomunikasi denganya saat ini baru saja pulang dari rumah sakit karena sakit jantung.
"Karena Lucas yang meminta Lexi untuk memperk*sanya. Aku pikir berita semacam itu hanya ada di TV, tetapi aku salah justru itu semua terjadi pada sodara aku sendiri." Arya beranjak dari duduknya tidak kuat lagi berbicara dengan Philip, biarkan pertanyaan yang masih banyak di kepalanya, Arya akan tanyakan lain waktu tidak hari ini. Dia sudah sangat lelah.
"Arya tolong ketemukan aku dengan mereka. Aku akan perbaiki masalah yang berat ini," ucap Philip sebelum Arya benar-benar meninggalkan ruangan Philip.
"Aku harus berbicara dengan Tante dan Om dulu. Mungkin mereka mau bertemu dengan Anda, tetapi Arya tidak tahu dengan Elin, apakah dia mau bertemu dengan Anda atau tidak. Biarkan jangan ganggu Elin biarkan Elin melakukan semuanya yang menurut hatinya senang. Bahkan entah berapa kali dia mengatakan ingin mengakhiri hidup ini. Arya tidak ingin benar-benar mendengar kalau Elin benar-benar melakukan semua itu karena tahu fakta-fakta ini," balas Arya sebelum ia membuka pintu dan pergi meninggalkan Philip dengan penyesalanya.
Benar saja ketika tubuh Arya telah hilang tertelan pintu ruanganya. Philip langsung tergugu menangis menyesali apa yang ia lakukan di masa itu.
__ADS_1
"Ely pulanglah, Papah minta maaf. Papah terlalu bodoh mempercayai Tamara yang mana dia adalah teman dekat kamu, pantas kamu marah, pantas kamu juga berbuat yang serupa karena memang Papah yang salah. Kamu pernah mengingakan Papah kalau Tamara tidak benar-benar cinta pada Papah dan itu semua memang benar. Sekarang Papah menyesal. Papah tidak ada temannya di rumah ini, kalian pulanglah, setidaknya temani Papah di masa tua ini," isak Philip tergugu sendiri.
Sementara Arya keluar dengan dada yang bergemuruh sangat kecewa dan ia pun bingung mau mengatakan kabar baik ini atau tidak dengan Eric. Laki-laki itu tahu kalau Om dan Tantenya pasti akan memaafkanya, tetapi tidak dengan Elin, biarkan Elin akan hidup sendiri tanpa dipaksa untuk berkumpul dengan Philip dan Lucas karena pasti hatinya tidak akan pernah bisa melakukanya.
"Bi... Bibi, tolong jaga Kakek dengan baik yah, sekarang awasi Kakek takut terjadi apa-apa, dan tolong perawat yang menjaganya tunggui beliau dua puluh empat jam, takut terjadi sesuatu," titah Arya sebelum ia benar-benar pergi.
"Baik Den, Bibi dan perawat Tuan akan menjaga Tuan dengan baik."
Arya kembali mengayunkan kakinya menuju mobilnya, rumah sakit adalah tujuan selanjutnya mungkin ia akan bertemu dulu dengan Marni. "Aku sepertinya sudah bucin dengan dokter itu, buktinya aku kalau ada masalah ini pengin bermanjaan denganya," kekeh Arya.
'Apa ini yang namanya Karma, ternyata bukan Philip, Lucas, Lexi yang terkena karma. Aku juga sepertinya sedang merasakan apa itu karma,' batin Arya. Ia terpikir gimana dia dulu sangat membenci Marni yang kusam dan juga dekil, mana dia selalu ngedeketin dia.
Arya terkekeh dengan renyah di dalam mobilnya ketika melihat Marni sejak sekolah selalu dengan terang-terangan mendekatinya, tetapi Arya juga dengan terang-terangan menolaknya sebelum Marni sendiri mengatakan cintanya, dengan cara berpacaran di depan Marni. Arya berpikir kalau gadis jelek itu akan menyerah, tetapi itu salah. Setelah berpisah cukup lama ternyata Arya di pertemukan lagi dengan dia dengaan penampilan yang berbeda. Kulit yang eksotis, tetapi bersih dan manis berbeda dengan dulu, dan yang membuat Arya terbuka hatinya dia adalah dokter sepesialis kulit.
Bahkan dengan uangnya yang banyak, dan tentu Marni bisa melakukan suntik-suntik putih dan segala macam, agar kulitnya putih, tetapi ia tidak mau dengan alasan tidak sehat dan dia lebih baik terlihat natural tanpa harus suntik-suntik putih dan segala macam. Meskipun dia bisa membayarnya.
Arya yang dulu selalu menolak Marni sekarang justru bucin abis, dan Marni terlihat biasa saja, bukan karena tidak cinta, tetapi Marni bisa menutupi perasaanya. Sehingga tidak terlalu menujukanya berbeda dengan Arya yang tidak bisa berpura-pura biasa saja.
Namun, senyum Arya seketika redup ketika ia baru sadar kalau ia masih harus menjelaskan masalah yang dialami Lucas pada Jiara.
__ADS_1
"Oh ya Tuhan, Lucas kenapa kamu buat aku gila seperti ini." Arya menjambak rambutnya, ia merasa bisa setres dengan masalah Lucas, dan Philip.