Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 128


__ADS_3

Sesuai yang diminta Arya, kalau Lucas fokus dengan rencananya dan Arya akan fokus juga dengan rencananya. Memang rencana Arya lebih luas, tetapi orang-orang Arya juga banyak dan yang lebih jelasnya lagi mereka sangat kompak, sehingga laki-laki itu tidak kerasa kalau ia dalam misi menyelesaikan misi dari yang sudah ia jalankan sebagainya.


"Hallo... selamat sore anak cantiknya Opa." Eric setelah pekerjaannya selesai sesuai janjinya langsung mengunjungi cucunya Zakia yang kondisinya makin membaik.


Zakia pun nampak senang ketika melihat Opanya sudah datang. "Opa itu bawa apa?" tanya Zakia dengan hidung yang mengendus mencoba mengenali apa yang ia bawa. Lelaki paruh baya itu berjalan menghampiri cucunya yang sedang menonton acara kartun. Ia saat ini tidak terlalu bosan setelah di pindah kamar yang ada televisinya dan juga ada ponsel khusus anak-anak yang Arya tinggalkan untuk bermain game agar tidak terlalu bosan, serta mainan dari Lucas yang dititipkan melalui Arya cukup membuat Zakia sedikit melupakan Lucas, gadis kecil itu tidak selalu merengek karena kangen pada papahnya.


"Coba tebak sama Kia, Opa bawa apa?" tanya Eric dengan menghampiri Zakia dan meletakan kotak bekalnya di hadapannya. Lalu Zakia dengan semangat mencium-cium sisi kotak bekalnya.


"Makanan Opa, Kia Lapal," lirihnya sembari mengusap perutnya. Memang sebelum memasakan untuk cucunya Eric lebih dulu bertanya pada dokter yang menangani Zakia agar bisa memasakan juga makanan untuk cucunya, yang anak kecil itu ternyata tidak terlalu menyukai olahan dari rumah sakit.


"Ok, baiklah Opa yang suapin yah." Eric langsung menyiapkan masakan yang ia bawa untuk makan cucunya.


"Jia, kamu juga makan nanti takutnya malah kamu yang sakit," ujar Eric sembari meletakan bekal makanya di atas meja.


"Baik Pah, Pah apa kalau Jia nitip Kia, Papah tidak repot?" tanya Jiara yang sejak tadi murung terus. Eric menatap heran pada Jiara.


"Apa kamu ada yang sedang di pikirkan?" tanya Eric.


"Iya Pah, Jiara kepikiran Papah (Bima)Jiara yang sedang sakit, dan sekarang kalau Papah (Eric)tidak repot Jiara ingin izin sebentar ingin jenguk Papah (Bima) di rumah sakit." Jiara  mengatakan yang sejujurnya, memang ia belum menjenguk papahnya lagi. Jiara takut kalau papahnya akan semakin parah sakitnya.

__ADS_1


"Pergilah, urusan Zakia biar Papah yang urus, dan lagi juga nanti ada Marni dan Arya sehingga Kia pasti tidak akan rewel dan kesepian. Papah titip salam juga buan besan (Bima) yah, semoga cepat sembuh." Eric mengusap-usap pundak Jiara dan setelah itu ia pun berpamitan pada putri kecilnya.


Zakia pun yang memang anak pintar dan bisa mengerti kondisi bundanya langsung mengangguk. "Bunda hati-hati di jalan yah," ucap Zakia dengan melambaikan tanganya seperti orang dewasa. Padahal tidak ada yang mengajarinya, mungkin anak kecil itu tahu kosa kata kosa kata itu dari acara televisi yang ditontonnya.


Jiara pun membalas dengan senyum yang teduh dan menghadiahkan satu kecupan yang manis pada putrinya. "Kia jangan nakal yah, Bunda mau pergi bentar nanti pulangnya mau dibelikan apa?" tanya Jiara sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjadi anak yang baik.


Zakia nampak berpikir dengan keras kira-kira apa yang ia inginkan. "Kalau mainan boleh tidak Bunda?" lirihnya, dengan pandangan menunduk mungkin anak itu takut karena mainannya sudah banyak.


Jiara mencoba menghirup nafas dalam. "Kia mau mainan apa?" tanya Jiara mencoba sabar, biarkan toh ia membelinya dengan uang Lucas, biarkan ia menghabiskan uang-uang itu agar Lucas tahu rasa. Padahal seboros apapun Jiara tidak akan membuat Lucas miskin mengingat kekayaan keluarganya bukanlah sedikit. Tetapi Philip termasuk orang terkaya pengusaha minyak dan kelapa sawit.


"Pengin beko dan mobil-mobilan kayak yang di film itu?" Zakia menunjukan tayangan kartun yang menggambarkan aneka bentuk mobil-mobilan. Jiara pun terbelalak ketika mendengar apa yang Zakia katakan. "Kia, Sayang itu mainan untuk cowok. Kia adalah cewek dan kalau cewek mainanya boneka-bonekaan." Zakia mencoba memberitahukan  dengan lembut, padahal tidak masalah juga kalau putrinya ingin mobil-mobilan dan beko untuk mainannya.


"Baiklah-baiklah kalau Kia ingin Bunda membelikan mainan itu Bunda akan belikan, tetapi tidak boleh terlalu keseringan bermain yah. Ingat Kia harus banyak istirahat karena Kia masih sakit, harus banyak istirahat bukan bermain," jelas Jiara, dan dibalas dengan senyum gembira serta wajah yang sangat terlihat kegembiraanya.


"Baik Bunda, terima kasih Bunda sudah mau belikan mainan beko dan mobil-mobilan untuk Kia," lirihnya dengan mencium tangan bundanya. Setelah tidak ada lagi yang diinginkan oleh Kia. Jiara pun langsung berpamitan dengan Eric, dan berjalan meninggalkan ruangan putrinya menuju rumah sakit tempat papahnya di rawat.


Di mana ia dari tadi pagi pikirannya sudah mulai tidak tenang. Jiara takut kalau kondisi papahnya semakin memburuk. Mungkin juga Jiara akan minta papahnya di rujuk ke rumah sakit sepesial kangker seperti Zakia di rawat saat ini.


Selain agar lebih terjamin pelayanannya juga agar Jiara bisa bergantian menjenguknya dan juga tidak jauh Jiara apabila kangen bisa sering-sering menjenguk papahnya.

__ADS_1


Dari kejauhan orang-orang suruhan Lucas mengetahui Jiara yang keluar dari rumah sakit. Dan langsung melaporkan pada Lucas kalau Jiara pergi. Lucas yang mendapatkan laporan itu pun langsung menghubungi Arya agar ia bisa diizinkan barang sebentar untuk bertemu dengan putrinya.


[Ayo lah Arya untuk kali ini saja, aku sangat ingin bermain dengan putriku.] mohon Lucas dari balik teleponya.


[Tapi kalau Jiara sampai tahu gimana? Nanti dia malah marah besar pada kita-kita,] balas Arya, laki-laki itu tidak mau membereskan masalah lagi yang bisa saja di tinggalkan dengan kehadiran Lucas di rumah sakit itu.


[Jiara tidak akan tahu, karena aku sudah menyiapkan mata-mata yang akan memberi tahu kalau Zakia sudah akan datang ke rumah sakit ini.] Lucas terus berusaha untuk mencoba memberikan pengertian pada Arya dan berujung sepupunya itu mengizinkannya.


Arya menghirup nafas dalam dan pelan baru juga tadi pagi dia mengatakan pada Lucas agar ia fokus dengan rencana-rencananya dan urusan yang lain biar di yang dijalankannya, dan sore harinya Lucas sudah berubah pikirannya.


[Iya memang orang kamu bisa mengatakan kalau Jiara akan kembali ke rumah sakit ini mereka akan melaporkanya, dan kamu bisa saja langsung pergi, tapi apa kamu tidak memikirkan Zakia. yang mana anak kecil itu bisa saja mengatakan kalau kamu datang. Anak kecil tidak bisa diajak berbohong Lucas," lirih Arya, lagian dia melakukan ini semua untuk kebaikan semuanya.


Lucas napak diam berpikir lagi, memang benar yang dikatakan Arya kalau ia bisa saja  ketahuan karena putrinya yang sangat polos itu, dan nanti berujung Jiara tidak percaya pada Arya.


[Lalu sampai kapan semuanya akan sembunyi-sembunyi seperti ini Arya, aku kangen banget dengan anak aku," lirih Lucas semakin mencoba menggunakan bujuk rayunya agar Arya tahu hatinya yang sudah sangat tersiksa dengan berpisah dengan Zakia, putrinya.


[Satu minggu, kamu selesaikan masalah Tamara, setelah masalah Tamara selesai dan kamu tahu rahasia di balik depresinya Tante Ely, kamu balik ke aku. Aku akan berjanji untuk buka rahasia besar terhadap kamu. Terserah kamu siap atau tidak, tapi aku janji setelah masalah Tamara, dan semuanya terbuka lebar dan jelas. Aku akan berikan kejutan yang sangat kamu ingin tahu." balas Arya, dan Lucas sendiri di seberang telpon makin penasaran dengan apa yang dimaksud Lucas.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2