
"Terima kasih Nak, terima kasih sudah menolong putri saya, dan sekarang saya bisa memeluk putri saya lagi," ucap Eric sembari memegangi tangan Arya dan menciumnya berkali-kali. Berlebihan? Tidak Eric merasa itu tidak sama sekali berlebihan karena bagi dia nyawa putrinya adalah harta paling berharga bahkan Eric tidak masalah kehilangan harta bendanya semua, asalkan putrinya selamat.
"Pak, tidak usah seperti ini, saya melakukan ini karena kebetulan saya menemukan putri bapak di pinggir jalan ketika hendak berangkat kerja, dan saat itu saya melihat Elin masih hidup sehingga saya memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit ini," jawab Arya, sebelumnya memang Arya dan Elin sudah merencanakan kebohongan untuk menutupi semua fakta yang menimpa Elin dan hal itu atas permintaan Lexi dan Lucas.
Eric semakin terisak dalam tangisnya, dia masih terus membayangkan bagaimana putrinya merasakan sakit karena penyiksaan itu. Bagaimana takutnya Elin disituasi seperti itu. Lalu bagaimana kalau tidak ada Arya apa Elin akan selamat. Sakit hatinya, disaat dia sebagai papahnya membentak saja tidak pernah apalagi memukul Eric tidak pernah melakukanya. Namun di tangan orang lain putrinya di hancurkan. Ingin rasanya Eric membalasnya, tapi siapa laki-lakk kejam itu. Sementara Elin juga tidak tahu.
"Silahkan kalian tetawa Lexi dan Lucas tetapi keadilan akan terus berdiri tegak, keadilan dari semesta tidak akan pernah salah alamat," batin Arya dengan santai karena dia tahu hukuman dari Tuhan adalah nyata dan tidak akan salah alamat dan tidak bisa di ulur waktunya.
Elin hanya diam melihat prmandangan di hadapanya, meskipun perih karena itu tandanya seorang rakyat jelata dan rakyat yang tidak memilki kekuatan tidak akan pernah bisa mengungkap kejahatan yang sudah jelas-jelas fatal. Kejahatan yang hampir menghilangkan nyawa, dan pemerkosaan secara berutal, tidak bisa diangkat keranah publik, atau hukum dan yang bikin miris adalah Elin diam dan menutup semua kejahatan di bawah ancaman, yang seharusnya Elin mendapatkan perlindungan dari negara tetapi justru ujung-ujungnya dia tidak berdaya, dan hanya bisa meratapi nasibnya demi nyawanya dan nyawa papahnya tetap selamat.
"Elin, Om Eric, saya pamit dulu yah sebentar lagi saya ada peratik," ucap Arya yang berbohong kalau dia ada praktik jam satu siang sedangkan dia akan menemui Lucas, dan meminta Lucas jangan menggangu Elin lagi begitu pun Lexi, Arya akan meminta Lexj untuk tidak menggangu perempuan malang itu.
__ADS_1
"Hallo, ada apa lagi loe hubungi gue. Mau meminta apa lagi, gue udah tidak ada urusan dengan kucing kampung itu," bentak Lexi ketika ada telepon, dan itu dari Arya. Setelah menghubungi Lucas tidak diangkat-angkat, dan akhirnya Arya memang memutuskan untuk menelepon Lexi.
"Tenang ajah, gue tidak akan menyusahkan loe soal Elin, gadis itu sepenuhnya sudah menjadi tanggung jawab gue, karena mulai saat ini gadis itu sudah gue anggap sebagai adik gue menggantikan Lily yang sudah lama meninggal, dan sekarang Tuhan kirimkan Elin untuk menganti lily yang Mereka telah ambil. Gue menelepon loe hanya ingin menanyakan Lucas di mana?" tanya Arya tidak kalah angkuh.
"Bagus, urus sajah wanita malang itu. Masalah Lucas, dia ada di markasnya. Loe temu saja dia, dan yang seharusnya loe nasihati adalah sepupu loe yang kurang waras itu," bentak Lexi yang saat ini dia tengah berkemas akan kembali di mana dia dibesarkan dan orang tuanya berada.
Laki-laki itu sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan negara ini dan semua bisnis yang ada di negara ini seperti dahulu kala ada asisten kepercayaanya yang sudah lebih dari sepuluh tahun ikut dengan dia dan mengurus semua bisnis Lexi yang berada di negara ini. Justru Lexi yang berada di negara ini apabila di minta untuk mengerjakan bisnisnya, dia akan sedikit kerepotan karena bukan ranah wilayah dia. Sehingga Lexi di negara ini sebagian kecil benar-benar kerja dengan halal, selebihnya ia menguasai bisnis dunia gelapnya yang sudah jelas dia adalah masternya, dan sebagian lagi menikmati tubuh wanita bayaran, di mana Lexi lebih tertarik dengan kegitan seperti ini.
Arya langsung menganyunkan kakinya melangkah dengan kaki panjangnya setengah berlari. Tujuanya adalah markas Lucas dan Lexi yang sudah pasti Arya ketahui, sebab dia sering di panggil ke rumah mewah yang di sebut markas, untuk mengobati para anak buah yang terluka baik tembak maupun luka sobek karena benda tajam.
Arya langsung membuka pintu yang memang jarang sekali di kunci, yah pintu kamar Lucas memang hampir tidak pernah terkunci. Kecuali memang mendadak, dan hal itu ia lakukan karena ia tahu tidak akan ada orang lain yang berani masuk. Tanpa di izinkan oleh tuanya, tetapi tidak dengan Arya dia membuka pintu paksa. Terlebih ketika Arya tahu bahwa penghuni di dalam sana sedang asik memandu kasih, berbagi keringat dan kepu-asan.
__ADS_1
Dua insan yang terlanjang bulat dan sedang saling berlomba-lomba mencapai puncaknya tiba-tiba tercengang dan terkejut, terutama Lucas yang kedua matanya langsung merah dan melotot hendak keluar. Tubuhnya menegang ingin menghabisi sepupunya saat ini juga.
"Keluar kamu wanita murahan," bentak Arya pada wanita yang sedang berusaha menutupi tubuhnya dengan bantal yang ada, sedangkan tubuh Lucas yang senjata apinya masih menegang dibiarkaan begitu saja. Yah Lucas memang sudah tidak memiliki malu.
Wanita itu berjalan dengan terus membiarkan bantal menempel di tubuh bagian depanya. "Pakai dulu pakaianmu sebelum loe keluar dari rumah ini karena diluaran sana laki-laki mata keranjang banyak, atau loe mau digilir paksa oleh mereka semua," bentak Arya, dan wanita itu langsung memunguti pakaianya yang berserakan di lantai dan memakanya dengan tergesa dan ala kadarnya. Malahan sepertinya wanita itu tidak mengenakan dalamanya itu karena Arya masih melihat benda kecil berbentuk segitiga berwarna merah yang sangat menjijihkan dihadapanya dan juga kacamata dengan warna yang sama masih tersampir di sova. Arya melemparkan selimut pada Lucas.
"Tutup senjata loe karena gue tidak tertarik dengan barang kecil seperti itu," cicit Arya tentu itu hanya ejekan semata Arya akui senjata Lucas memang idaman para wanita.
Mata Lucas semakin memerah dan ingin saat ini juga membuat Arya mati seketika di tanganya. Lucas yang sedang di bakar api kemarahan langsung menggeser tubuhnya yang telanjang dan hanya di tutupi selimut di bagian pinggang kebawah dan wanita pemuas itu sudah pergi entah kemana, mungkin malah wanita itu lupa kalau Lucas sepertinya belum membayar jasanya. Lucas sengambil pis-tol yang selalu ia gunakan untuk membunuh musuh-musuhnya, dan entah berapa nyawa yang sudah meninggal di tangan Lucas dengan pis-tol itu.
"Sudah bosan hidup kayaknya loe yah, ganggu apa yang menjadi kesenangan orang lain." Lucas mengacungkan pis-tolnya, tepat di hadapan Arya.
__ADS_1