Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Kebohongan Yang Terencana


__ADS_3

Jiara memegang tangan Elin dengan lembut, seolah wanita itu sedang memberi dukungan agar Elin tetap kuat dengan cobaan yang diberikan dari Allah.


"Aku memang baru kenal dengan kamu dan kita sebelumnya kita tidak saling kenal, dan aku juga tidak begitu paham dengan apa yang terjadi dengan kamu, tetapi aku sangat berharap bahwa kamu bisa lepas dari masalah ini, aku akan selalu ada apabila kamu membutuhkan teman curhat. Mungkin dengan bercerita dengan aku, kamu akan menjadi lebih tenang," ucap Jiara dengan pandangan saling bertemu dengan pandangan Elin yang mana sejak tadi Elin menunduk, hal itu karena Elin minder dengan kondisi wajahnya.


Elin menarik sudut bibirnya, senyum samar terlihat dar wajah  teduhnya. "Terima kasih Jia, aku tidak tahu kenapa Tuhan selalu memudahkan urusan aku, Tuhan selalu memberikan rezeki yang sangat luar biasa dengan mengirimkan kalian kehidup aku, aku tahu teman seperti kalian adalah rezeki yang Allah berikan untuk menguatkan aku." Kini kebalikan dari Elin, Jia yang membalas ucapan Elin dengan senyum manisnya.


Dua wanita yang sedang bercerita dengan santai di kejutkan oleh nada dering dari ponsel Jiara. Nama bos terlihat di layar ponselnya. Wanita itu meletakan jari telunjuk di bibirnya, sebagai tanda bahwa Elin untuk sementara diam dulu.


"Anda sudah bangun Mas," sapa Jiara begitu ia menggeser ikon bergambar telepon berwarna hijau.


"Sudah. Bantu aku ke kamar mandi!" balas Lucas dengan nada dingin dan tegas.


"Baiklah, tunggu saya akan segera kembali ke kamar Anda." Jiara langsung menutup ponselnya dan berpamitan pada Elin untuk kembali ke ruangan bosnya, dari pada keburu Lucas mengamuk.


"Elin, aku balik ke kamar tidak apa-apa kan, kalau kamu sendiri? Aku minta nomor ponsel kamu saja nanti kalau kamu butuh sesuatu bisa hubungi aku, biar aku bisa beralasan dengan bos aku untuk membantu kamu," ucap Jiara sebenarnya tidak enak apabila meninggalkan Elin seorang diri di dalam ruanganya, tetapi dia juga tidak bisa terus-terusan di ruangan Elin, dari pada nanti Lucas marah dan tahu siapa sebenarnya pasien sebelahnya itu.

__ADS_1


"Oh tidak apa-apa Dok, aku sudah biasa sendiri kok, dan nanti juga sebentar lagi dokter Arya akan kesini, jadi aku tidak kesepian karena sendirian, dan ini nomor ponsel saya." Elin menjulurkan ponselnya, agar Jiara menulisnya sendiri. Setelah mencatat nomor Elin, wanita berhijab panjang itu pun buru-buru pamitan pada Elin dan meninggalkan ruangan Elin lalu bergantian memasuki ruangan bosnya.


Lucas menatap Jiara yang sepertinya ngos-ngosan, yah Jiara takut kalau Lucas mengetahui bahwa dia tidak ada di masjid rumah sakit, tetapi sedang mengobrol dengan Elin, pasien di sebelah kamarnya.


"Kamu habis lari maraton?" tanya Lucas, pandangan matanya tajam menatap Elin, dari atas hingga bawah.


"Tidak, saya hanya berjalan biasa saja," jawab Jiara, bersikap biasa, wanita itu berjalan ke meja lalu meletakan ponselnya dan bersiap akan membantu Lucas untuk segera ke kamar mandi.


"Kok nafasnya tersenggal, kamu lari dari masjid sampai kesini?" tanya Lucas lagi, seolah tidak percaya dengan apa yang di katakan Jiara, tidak mungkin tidak lari maraton, tetapi nafasnya ter engah-engah seperti orang habis di kejar hantu.


"Tidak lari, tapi jalan cepat saja, takut Anda menunggu lama. Ayo saya bantu Anda untuk ke kamar mandi," ucap Jiara yang sudah siap membantu Lucas yang mana laki-laki tadi mengatakan bahwa ia ingin ke kamar mandi.


"Maksud Anda, Anda mengerjai saya?" tanya Jiara dengan wajah di bikin BT dan kesal. Tatapanya tajam dan mungkin gadis berkerudung itu lupa bahwa yang saat ini sedang mengobrol dengan dia adalah bosnya yang terkenal bengis dan kejam.


"Tidak mengerjai, tapi lebih tepanya meminta kamu segera balik ke ruangan ini, aku sudah bangun dari setengah jam yang lalu, dan bosan tidak ada teman yang di ajak mengobrol makanya aku minta kamu balik lagi kesini. Lagian ngapain sih lama banget di masjid?" aku Lucas dengan polos, dan lagi laki-laki itu seperti sudah sangat dekat dengan Jiara sehingga Jiara pergi dari pandangan dia baru beberapa menit sudah membuat dia kebingungan karena tidak ada bidadari surganya yang bisa ia pandangin.

__ADS_1


"Tidak ngapa-ngapain hanya saja kebetulan masjid berdekatan dengan kamar mayat dan tadi ada yang meningal bapa-bapa sepertinya bunuh diri, sebab di temukan warga di atas pusaran anaknya, yang kata orang-orang anaknya baru meninggal beberapa hari yang lalau. Terus  sang Papah depresi dan mungkin itu alasan laki-laki itu mengakhiri hidupnya. Makanya aku keasikan ngegosip dan lupa buat balik ke kamar." Jiara sengaja mengarang cerita ingin mengetahui bagaimaa reaksi Lucas, apakah ia akan merasa bersalah atau sebaliknya seperti yang ia dengar ketika berbicara dengan Arya.


"Apa kamu tahu siapa nama yang meninggal?" tanya Lucas, dilihat dari sorotnya sepertinya laki-laki itu ada kecemasan yang tidak bisa ia katakan dengan kata-kata.


Jiara menggeleng. "Tidak, menurut sumber orang itu bukan asli dari sini, jadi tidak ada yang mengenalinya. Kasihan yah, kayaknya orang itu sayang banget sama anaknya sampai-sampai rela mengahiri hidupnya hanya karena dia merasa tidak ada lagi anak yang bisa disayangi. Aku jadi pengin jadi posisi anaknya. Pengin punya orang tua yang seperti itu, gimana rasanya yah, sedangkan Jia selalu berjuang seorang diri." Jiara kembali memancing agar tahu gimana perasaan sebenarnya Lucas.


Cukup lama Lucas diam. "Itu namanya orang tua bodoh! Rela mati buat anak yang sudah mati, apa orang itu tidak lagi punya keluarga sehingga hanya anaknya yang ia sayangi hingga rela menyakiti tubuhnya dan masuk neraka, bukanya bunuh diri itu dosa, lalu kenapa dia mau dosa dan membuat anaknya sedih," jawab Lucas dan nadanya pun semakin tidak bisa ia kontrol.


Wanita itu bisa menyimpulkan bahwa Lucas memang membutuhkan kasih sayang, dan mungkin Lucas iri dengan Elin yang mendapatkan cinta tulus dari papahnya, sedangkan Lucas tidak mendapatkan kasih sayang itu, mungkin itu juga salah satu keirian dari Lucas.


"Tapi kadang orang yang telalu tulus cinta dan sayang dengan makluk Tuhan selalu bersikap bodoh, bahkan tidak jarang mereka tidak mau mendengarkan nasihat dari orang lain. Akal pikir sudah tidak berfungsi lagi karena dia otaknya berubah jadi tidak berguna tak lebih dari hiasan isi kepala. Mungki contohnya Papah saya, yang saat itu hampir ngebunuh aku dan Ibuku hanya karena terlalu cinta sama Ibu, dan tidak mau untuk di ceraikan. Mungkin malam itu apabila Ibu tidak melindungi aku dan kabur dengan berlumuran darah, aku sudah tidak ada di dunia ini. Ibuku rela menyakiti tubuhnya untuk menolong aku dan kami selamat. Itu salah satu gambaran kebodohan orang karena cinta. Dan sekarang  Papah aku depresi juga karena dia yang terlalu cinta dengan Ibu. Semuanya berubah bodoh karena cinta terhadap makluk Nya," lirih Jiara selalu bersedih ketika ia  mengingat memori kelam keluarganya.


Trauma? Yah Jiara trauma dengan kekerasan papahnya dan juga perceraian orang tuanya, dan membuat hidup dia sempat tanpa arah, dan dia yang memutuskan merubah dirinya menjadi lebih baik lagi.


Lucas hanya bisa diam mendengarkan keluhan Jiara, entah pikiran dia menangkap maksud dari ucapan Jia atau tidak tetapi apabila di lihat dari ekpresi wajah Lucas, laki-laki itu sedang berpikir keras, mungkin menyesali perbuatannya di masa lalu, atau justru ia tengah memikirkan yang lain.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak bisa seperti kamu yang  memiliki hati yang luas untuk memaafkan semuanya. Andai itu terjadi pada aku pasti aku tidak akan memaafkan orang yang sudah membuat aku seperti itu. Akan aku cari orang itu hingga ujung dunia dan akan aku pastikan bahwa mereka meninggal di tanganku," ucap Lucas dengan tatapan yang membunuh.


Glek... Juara menelan ludahnya kasar, memang sulit untuk menyadarkan orang yang dalam hatinya sudah mati rasa.


__ADS_2