
"Lin... Sekarangkan udah kenyang tidur lagi kih! Ini udah mau tengah malam loh." Lexi menujuk jam di dinding yang sudah hampir tengah malam. Elin menatap Lexi sekilas, lalu ia kembali lagi melihat layar televisi. Satu-satunya tontonan yang bembuat Elin sedikit terhibur.
"Kalau kamu ngantuk istirahat dulu ajah, aku belum mengantuk," balas Elin tanpa melihat Lexi.
"Kalau aku sih sampai pagi juga kuat bergadang, yang jadi masalah itu kamu, yang lagi hamil, besok harus ada pemeriksaan loh, jangan sampai Dokter bilang kalau kamu itu kurang tidur dan jadwal untuk rawat inap malah di tambah," lirih Lexi, laki-laki itu sangat yakin kalau Elin pasti akan nurut dengan omonganya.
Ck... Elin berdecak cukup keras, dan itu tandanya dia akan menuruti apa kata Lexi, benar saja wanita dengan perut buncit itu mematikan televisinya dan menarik selimutnya. Benar dugaan Lexi kalau Elin pasti akan menuruti ucapanya.
Lexi sendiri senang ketika melihat kalau Elin sudah bersungut, apalagi kalau sudah mengerucutkan bibirnya seperti tadi rasanya semakin bahagia. Lucu dan Imut.
******
Di tempat lain.
Arya dan polisi baru saja selesai menangkap pelaku pembunuhan Tamara yaitu Rosi dan Raka, dua orang itu selama ini ditahan secara mandiri oleh Lexi, dan bisnis gelap Lucas pun sudah lama dihentikan tepatnya sejak Rosi di tangkap. Lucas yang memerintahkanya, dan dengan kejadian itu juga Lucas sudah tidak tertarik dengan kekuasaan. Ia lebih tertarik dengan kebahagiaan keluarga kecilnya, dan tentunya keluarga besarnya. Terserah bisnis itu akan jatuh ke tangan siap nantinya, karena bisnis gelap akan sulit juga untuk di bubarkan. Yang penting Lexi sudah mundur dari kekuasaannya.
Laki-laki itu tidak mau kalau sampai ia tetangkap polisi lagi, dan membuat keluarganya kecewa untuk kesekian kalinya. Terutama Jiara dan Zakia. Andai saat ini ditanya kebahagiaanya, tentu Lucas akan mementingkan kebahagian keluarganya dari segala-galanya. Tidak sia-sia Eric berceramah panjang kali lebar, karena pada akhirnya Lucas menurut, dan esok hari ia akan bebas.
Saking senang dan juga saking gugupnya Lucas malam ini sampai tidak bisa tidur. Membayangkan anak dan istrinya kedua orang tuanya dan kakeknya, dan tentunya yang mengganggu pikiranya dari tadi adalah gimana reaksi sodara kembarnya, Elin.
Tubuh laki-laki itu menyender ke dinding dan kedua matanya menatap ke langit-langit ruangan yang kusam dan juga banyak noda coklat membuat terlihat tidak terawat, lebih seperti gudang tua. Pikiranya kembali mengingat kejadian beberapa bulan lalu di mana wajah Elin dari tadi kembali teringat hingga Lucas tidak selera makan.
"Kira-kira bagaimana reaksi Elin nanti yah kalau lihat aku sudah bebas," lirih Lucas, kembali laki-laki itu membayangkan wajah ketakutan Elin yang beberapa bulan lalu terasa sangat lucu untuk dirinya, tanpa dia sadari bayangan itu justru saat ini adalah hal yang paling menyedihkan dan paling menakutkan untuk diingat-ingat lagi. Bahkan terlintas saja sudah menakutkan.
"Kalau Lexi saja bisa Elin maafkan, apa tandanya wanita itu juga bisa memaafkan aku?" lirih Lucas dengan bergetar hatinya dengan hebat. Kenapa di satu sisi laki-laki itu ingin menemui sodara kembarnya dan ia dimaafkan atas segala salahnya, tetapi satu sisi dia juga seperti tidak tega melihat wajah Elin.
*******
Kita tinggalkan Elin yang sudah terlelap dalam tidurnya, dengan Lexi yang terus-terusan menatap wanita itu dalam tidur damainya. Seolah Lexi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Bahkan laki-laki itu tidak merasa mengantuk sama sekali dia terus menerus menatap wajah cantik dan natural Elin. Tidak bisa di pungkiri sejak pertama kali dirinya bertemu dengan Elin memang sudah terhipnotis oleh kecantikanya.
Kita juga tinggalkan Lucas yang masih melamun, merenungi kesalahan demi kesalahanya, dan mempersiapkan kebebasanya untuk esok harinya. Bagaimana celoteh Zakia yang akan menyambutnya dan juga wajah Jiara yang jutek dan juga menggemaskan. Tentu yang terus-terusan mengganggu dirinya adalah Elin, wajah Elin yang terus menerus mengganggunya hingga Lucas tidak bisa beristirahat.
__ADS_1
Arya pun setelah hampir setengah hari mengurus kebebasan Lucas, setelah semuanya aman dan besok Lucas bisa di pastikan bebas, malam ini sepulang dari kantor polisi ia langsung mampir ke rumah Philip. Bisa saja Arya mengabarkan kabar bahagia ini dari sambungan telepon, tetapi Arya yang kangen dengan Zakia dan yang lainya pun menutuskan untuk menemui mereka, sekalian meminta pendapat dengan rencananya yang akan melamar kekasihnya, Marni.
Sesuai yang sudah ia janjikan ketika masalah Lucas sudah selesai, atau setidaknya tidak terlalu berbelit Arya pun ingin menikahi Marni. Sebagai ucapan terima kasihnya karena wanita itu yang terus menemaninya di saat dia dan kelurganya di terpa banyak sekali masalah. Tidak hanya menemani, tetapi Marni juga terlinbat dan misi-misinya, sebagai laki-laki ia ingin menjadikan Marni sebagai pendampingnya.
Seolah keluarga Philip itu tahu kalau Arya akan datang sehingga mereka menyambutnya, tidak menyambutnya hanya saja memang kebetulan keluarga itu selesai makan malam, tidak langsung masuk ke kamar masing-masing, tetapi justru mereka sedang bercengkrama dengan hangat sebagai pusat perhatianya tentu Zakia.
Bocah kecil itu seolah tidak kehabisan ide untuk bercerita, meskipun yang dia ceritakan adalah tokoh favorite yang ada di dalam film kesukaanya.
"Assalamualaikum..." Suara Arya yang baru saja datang mengalihkan perhatian semuanya.
"Walaikumsallam..." Zakia pun yang tahu siapa yang datang langsung berlari menghambur ke dalam pelukan Om tersayangnya.
"Om Arya, kemana saja, Kia cali-cali tapi tidak ada telus, Kia kangen" tanya Zakia yang saat ini sudah ada di gendongan Arya, bahkan bocah itu sampai bibirnya monyong-monyong untuk bertanya pada Arya. Hingga Arya terkekeh melihatnya. Padahal baru beberapa hari laki-laki itu tidak bertemu dengan bocah usia tiga tahun itu. Eh salah baru dibulan depan Zakia usianya genap tiga tahun.
Dan bocah kecil itu pun sudah sangat antusias untuk menyambut ulang tahunya. Bocah itu sudah beberapa kali bilang sama Jiara kalau ketika ia ulang tahun ingin mengunjungi Ambu dan Abah, dan Jiara pun sudah menyanggupinya, sehingga bocah kecil itu sangat tidak sabar hari ulang tahunya tiba. Karena sudah kangen dengan teman dan juga keluarga angkatnya.
"Om Arya juga kangen banget sama Kia. Om tidak datang karena banyak kerjaan di rumah sakit," balas Arya dengan berjalan menuju keluarganya yang sedang duduk.
"Apa ada yang pentung sampai menyempatkan diri untuk berkunjung?" tanya Philip, seolah laki-laki tua itu tahu kebiasaan Arya itu.
"Lebih tepatnya kabar bahagia," balas Arya sembari dudu setelah bersalaman dengan anggota keluarga.
Eric dan Darya pun sudah bisa menduga kabar bahagia apa yang Arya akan bawa di malam yang hangat ini.
"Apa kabar bahagia ini mengenai papahnya Zakia?" tanya Eric dengan menatap bocah kecil yang tidak tahu apa-apa. Arya sendiri langsung menjawabnya dengan anggukkan.
"Jadi kapan Lucas akan bebas?" tanya Darya yang sudah tahu betul bahwa kabar bahagia itu adalah kebebasan putranya.
"Besok, ini Arya baru selesai mengurus semuanya," balas Arya sembari menghela nafasnya dalam, seolah ia tengah memberitahukan pada semuanya bahwa hari ini sangat melelahkan.
Jiara pun hanya diam, tetapi tidak bisa di pungkirinya bahwa apa yang dia rasakan sangat bahagia, akhirnya ayah dari anaknya akan pulang. Sebenarnya lebih bahagia untuk Zakia sih, yang terus menerus bertanya kapan papahnya akan pulang, dan mulai esok Zakia akan terus bisa memeluk papahnya.
__ADS_1
"Trima kasih yah Arya, om bingung mau ngomong dari mana, tetapi om hanya ingin mengucapkan banyak terima kasih. Kamu selalu ada untuk masalah-masalah keluarga kami. Tidak perduli bagaimana capaknya kamu." Eric pun sudah menganggap Arya seperti anaknya sendiri.
"Sama-sama Om, Arya juga melakukan ini karena Lucas adalah sodara Arya, meskipun lebih sering berantemnya dari pada akurnya," kekeh Arya. Eh, tapi itu dulu, sekarang Arya dan Lucas lebih terlihat akur dan saling bantu membantu bahkan tidak jarang mereka terlibat obrolan yang serius hingga sekedar candaan semata.
Tentu hal ini jauh berbeda dengan Lucas dan Arya yang dulu, yang selalu beradu ketegangan ketika mereka bertemu.
"Tapi Om, kalau Lucas pulang, Elin gimana?" Ini adalah yang sejak tadi dibahas dirinya bersama dengan Lucas.
Wajah Eric langsung berubah ketika membahas Elin. "Elin sendiri malah saat ini sedang ada di rumah sakit."
Sontak saja Arya langsung tersadar, ia baru sadar bahwa memang tidak ada Elin di antara mereka, tetapi Arya sedetik kemudian juga bungung, kenapa katanya Elin di rumah sakit, tetapi mereka masih ada di rumah. Lalu yang menjaga Elin siapa? Arya malah bingung sendiri.
"Elin di rumah sakit, tapi ini masih pada di rumah yang jaga Elin siapa?" tanya Arya, sedangkan yang Arya tahu keluarga mereka selama ini selalu kompak.
"Lexi yang saja." Philip kali ini yang mengambil alih jawabanya. Arya kembali tersentak kaget dengan jawaban Philip.
"Lexi?"Arya cukup terkejut. "Apa Elin dan Lexi udah..." Ucapan Arya terhenti ketika melihat anggukan dari Eric. Arya sendiri merasa tertinggal jauh dengan perkembangan keluarga ini. Padahal baru beberapa hari dirinya sibuk dengan kerjaan dan menghabiskan waktunya untuk menemani Marni, tetapi sudah banyak info penting yang ia lewatkan.
"Lexi ingin menebus kesalahanya sehingga dia yang menemani Elin." Eric menjelaskan tanpa Arya bertanya lebih lanjut.
"Tapi ngomong-ngomong Elin sakit apa?" tanya Arya yang malah baru tahu kalau Elin sakit.
"Katanya tadi niatnya priksa biasa saja, tetapi dokter menyarankan untuk rawat inap karena kurang darah dan sering pusing tiba-tiba." Darya yang menjelskan mengikuti apa yang Lexi katakan.
"Oh, itu pasti karen Elin terlalu tegang. Tapi nggak ada yang nemanin Elin lagi di rumah sakit?" tanya Arya bukanya Arya tidak percaya pada Lexi hanya saja kasihan Elin kalau belum terlalu akrab dengan Lexi.
"Elin bilang baik-baik saja," balas Eric, meskipun mereka sebenarnya cemas juga dengan Lexi, tetapi cukup percaya kalau semuanya akan baik-baik saja.
Arya pun yang tidak begitu tenang, niatnya setelah mengobrol akan menemani Elin, kasihan kalau dia malah tertekan, karena bersama Lexi. Arya sendiri bisa merasakan ketegangan itu.
...****************
__ADS_1
...