Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 157


__ADS_3

Marni menatap heran ketika Arya datang ke ruanganya dengan wajah yang kusam, wanita itu juga sebenarnya dari tadi sangat penasaran dengan kasus apa yang membelit Lucas hingga laki-laki itu bisa terkurung di dalam jeruji besi.


"Apa ada yang mau di ceritakan?" tanya Marni, yang melihat Arya merebahkan tubuhnya di atas Sofa.


Sementara itu Arya menatap Warni yang masih ada di kursi kerjanya.


"Banyak bahkan sampai kepala aku pusing, karena hari ini yang terlalu banyak kejutan," jawab Arya, tanpa melihat Marni, tanganya memijit kepalanya yang benar-benar berdenyut. Mungkin istirahat sebentar ia akan kembali sembuh.


Marni mengambil obat pereda sakit kepala dan segelas air. "Apa kamu sudah makan?" tanya Marni sebelum memberikan obat yang dia bawa.


Arya menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Bahkan aku lupa dari tadi muter-muter tanpa makan dulu," balas Arya. Benar kalau Marni tidak bertanya soal makan siang ia benar-benar lupa perutnya yang belum terisi.


"Kalau gitu tunggu aku beli dulu di kantin. Kamu ada pengin makan sesuatu?" tanya Marni kesekian kalinya, sebelum ia membelikanya makanan untuk kekasihnya.


"Apa saja yang penting jangan udang dan cumi aku tidak bisa memakanya," jelas Arya, dan  itu pasti sudah diketahui oleh Marni, dan wanita itu pun melangkahkan kakinya pergi ke kantin guna membelikan makan. "Dia memang seperti itu kebiasaan terlalu sibuk mengurusi masalah Lucas sampai sakit malah kan," gerundel Marni, sebenarnya ia tidak masalah dengan Arya yang membantu Lucas untuk menyelesaikan masalah-masalahnya, tetapi Marni hanya ingin Arya juga menjaga kesehatanya.


Tidak lama Marni meninggalkan Arya di dalam ruanganya, ia kembali dengan membawa satu bungkus nasi lengkap dengan lauknya serta dia juga membawa satu gelas teh hangat.


"Tuh kan dia tidur," lirih Marni ketika masuk keruanganya Arya sudah tertidur dengan pulas. Tidak dibangunkan kasihan lapar, dibangunkan juga kasihan dia terlalu lelah," gumam Marni.


Makanan dan juga teh hangat Marni letakan di atas meja, ia bersimpuh di samping Arya. "Kadang aku masih tidak percaya kalau sekarang kita adalah pasangan kekasih. Dulu aku pernah hampir menyerah, karena kamu yang selalu cuek dengan aku, tetapi entah kamu yang kasihan pada aku atau kamu benar-benar cinta sekarang kita sudah hampir tiga bulan bersetatus kekasih." Marni menatap wajah Arya yang tampan, tetapi terlihat sangat lelah.


Tangan Marni yang mungil menyusuri wajah Arya yang masih tertidur dengan pulas. Ia mengusap alisnya yang tebal. "Mungkin kamu terpaksa menerima cintaku, dan itu karena kamu yang kasihan dengan aku, tetapi aku ucapkan terima kasih sama kamu karena akhirnya aku bisa merasakan menjadi kekasih kamu," imbuh Marni, ia akan beranjak pergi untuk melanjutkan pekerjaanya, dan membiarkan Arya istirahat tiga puluh menit, setelah itu ia akan membangunkanya untuk makan.


Namun, sedetik kemudian tangan Marni ditarik dan wanita itu yang tidak tahu akan ada penarikan paksa pun tidak bisa mengimbanginya.

__ADS_1


Brukkkkk... Auhhh.... Marni dan Arya menjerik bersamaan. Marni memekik karena kaget, sedangkan Arya yang tidak menyaka kalau Marni akan jatuh pun memekik karena sakit, perutnya tertindih tubuh Marni.


"Astaga... Maaf..." Marni kembali panik ketika melihat Arya meringis karena kesakitan.


"Arya, apa kamu baik-baik saja?" Marni nampak panik dan berusaha membantu Arya memeriksa perutnya. Yah Marni tahu betul kalau Arya pasti sakit benaran, karena memang dirinya yang terjatuh secara sekaligus ke atas perutnya. Sementara Arya yang memang benaran sakit pun tidak menjawab ucapan Marni dia mencoba menghirup nafas dalam dan membuangnya.


Niatnya hanya mengerjai Marni, tetapi justru dirinya yang terkena imbasnya.


"Arya aku minta maaf, aku tidak tahu kalau kamu ternyata sudah bangun. Aku minta maaf." Suara yang bergetar, menandakan kalau dia sangat bersalah. Namun sedetik kemudian laki-laki itu justru menarik Marni yang ada di hadapanya  dengan wajah paniknya.


Happp... laki-laki itu tidak bisa menahanya, tidak bisa menahan dengan bibir yang terus menerus menggoda dirinya. Bukan salah Arya yang tiba-tiba membekap mulutnya dengan bibirnya. semua salah Marni yang bibirnya terus menggoda.


Marni tidak menyangka kalau laki-laki yang sedang kesakitan tiba-tiba menciumnya, Marni yang terkejut cukup lama terdiam. Sementara Arya yang merasakan Marni diam saja, langsung memainkan bibirnya, hingga Marni pun sadar dan buru-buru mendorong tubuh kekar Arya.


Ini adalah kali ke dua Arya mencuri ciumanya, yang pertamaa hanya sebuah kecupan singkat, dan hal itu langsung membuat Marni tidak bisa tidur, dan kali ini dia melakukanya lagi dan cukup lama Marni menikmatinya dengan sentuhan yang menggoda.


"Kenapa malu gitu, wajahnya malu-malu makin menggoda. Ini bukan mimpi, dan aku menjadi pasangan kamu bukan karena terpaksa," goda Arya, dan sontak saja Marni langsung mengangkat wajahnya. Kedua matanya melebar ketika mendengar ucapan Arya.


"Kamu dengar, dan kamu nggak tidur tadi?" cecar Marni dengan wajah memerah menahan malu.


"Tidur, tapi gerakan tangan kamu membangunkan aku, dan aku jadi dengar apa yang kamu ucapkan," jawab Arya dengan santai.


"Ih kamu ngeselin banget sih," racau Marni dengan tangan yang hampir memukul dada Arya, tetapi buru-buru di tahan oleh Arya.


"Sekali mukul setara dengan satu kali cium," kekeh Arya, dan Marni langsung menarik tanganya.

__ADS_1


"Kenapa kamu sekarang mesum banget sih. Oh... apa memang kamu aslinya seperti ini yah?" tanya Marni dengan  menggigit bibir bawahnya, yah resiko pacaran dengan playboy pasti pengalamanya sudah jangan diragukan lagi.


"Aku justru kaya gini, baru sama kamu saja," balas Arya dengan percaya diri.


"Ok, anggap saja aku percaya." Marni  kembali hendak beranjak dari duduknya, tetapi lagi-lagi tangan kekasihnya menahanya.


"Aku lapar," lirih Arya.


"Itukan ada nasi dan lauknya, tapi kayaknya tehnya udah dingin," tunjuk Marni ke atas meja di mana makanan tersimpan dengan rapih.


"Lagi pengin disuapi," imbuh Arya, dengan suara yang menggoda.


"Aku masih banyak kerjaan," elak Marni.


"Kalau gitu kerjakan dulu tugas-tugas kamu hingga selesai aku akan menunggu," balas Arya, tanganya melepaskan genggaman tangan Marni.


Huh... Marni membuang nafas kasar, mana tega dia Arya saja sudah telat makan siang, masa masih harus menunggu dirinya.


"Baiklah aku kalah kali ini aku suapi, tapi tidak lain kali." Marni mengabil makanan yang ada di atas meja dan mulai menyuapi kekasihnya dengan telaten. Tatapan Arya tidak ada hentinya terus menatap Marni, bahkan Arya baru sadar kalau Marni itu sangat manis.


"Makan yang bener, kunyah yang lembut jangan lihatin aku terus nanti keselek," ucap Marni, yang tahu kalau kekasihnya sejak tadi melihatnya terus menerus.


Arya pun terkekeh samar. "Kamu tahu makanan ini menambah lezat rasanya sepuluh kali lipat ketika disuapi kamu. Aku jadi pengin terus-terusan disuapi sama kamu," racau Arya, dan lagi-lagi Marni melebarkan kedua bola matanya.


"Jangan macam-macam deh," dengus Marni, wajahnya yang di buat jutek membuat Arya semakin di buat semakin mencintainya.

__ADS_1


"Aku janji setelah masalah Lucas selesai, dan aku bisa bernafas lega. Aku akan langsung menikahi kamu." Arya memeluk Marni dan meletakan kepalanya bersandar di pundaknya.


Sementara Marni tidak bisa berkata-kata lagi, wanita itu terlalu bahagia. "Apakah ini jawaban atas doa-doaku?"


__ADS_2