
"Apa kamu tidak apa-apa kalau aku tinggalkan kamu sendirian disini, biarpun nanti ada perawat yang menjaga kamu, tapi aku masih takut nanti kamu malah kenapa-kenapa. Aku takut Lucas masih mengincar nyawa kamu," ujar Arya yang tidak tega meninggalkan Elin seorang diri di dalam ruangan rawatnya.
Elin diam saja satu sisi dia juga senang ketika Arya mengatakan bahwa ia akan menemui papahnya, dan menjemputnya untuk datang kesini, tetapi satu sisi dia juga takut kalau di tinggal sendiri. Yah, bayang-bayang Lucas masih menjadi sosok yang paling menakutan buat Elin, bahkan dalam mimpinya pun Lucas lebih menyeramkan dari sesosok hantu sekali pun.
"Kamu hafal nomor ponsel papah kamu?" tanya Arya. Mungkin dengan menghubungi papah Elin dan memintanya untuk datang kesini akan lebih baik, dan aman, dari pada harus mninggalkan Elin di ruangan ini sendirian. Seperti itu kira-kira pikiran Arya.
Elin mengangguk, "Tapi apa papah saya tidak di culik juga oleh mereka semua," ujar Elin dia baru ingat bahwa Lexi kemarin mengatakan bahwa papahnya juga tengah di siksa di ruangan lain.
"Kita coba dulu saja, siapa tahu papah kamu tidak diapa-apakan oleh mereka. Bisa saja itu cara mereka untuk menakut-nakuti kamu." Arya mencoba menenangkan Elin dan supaya Elin tidak berpikir yang tidak-tidak juga.
Perasaan Elin pun sedikit tenang, ketika Arya mengatakan hal itu, yah dia berharap bahwa itu hanyalah cara mereka untuk menakut-nakuti Elin saja. "0897***** Itu nomor papah, dan Elin berharap bahwa yang kamu katakan memang benar. Lexi hanya menakut-nakuti aku saja," imbuh Elin, tidak ada salahnya mencoba.
Arya pun langsung mengambil ponselnya dan jari jempolnya menekan nomor yang Elin sebutkan. "Nomornya aktif Elin," pekik Arya dengan girang, bahkan ia seolah merasakan bahagia yang sama dengan Elin, ketika mengetahui bahwa nomor yang Elin sebutkan aktif, hanya saja belum ada yang mengangkatnya.
"Alhamdulillah, tapi kenapa belum diangkat yah," balas Elin dengan wajah tegangnya.
__ADS_1
"Mungkin belum dengar Elin atau bahkan papah kamu juga sedang mencari kamu, kita tunggu saja yah," Arya bahkan selalu memberikan Elin semangat dan jangan berputus asa. Justru sepertinya Arya lebih memiliki ikatan batin dengan Elin dibandingakan Lucas yang mengaku kakak tirinya.
Elin mengangguk dengan senyum di balik perbanyanya. "Andai aku memiliki kakak yang seperti Arya, mungkin kebahagiaanku akan lebih sempurna, di sayangi oleh dua laki-laki hebat," batin Elin, tetapi sejurus kemudian harapanya lenyap, justru ia tidak ingin memiliki kakak, ketika bayanganya kembali terlintas sosok Lucas, tengah tersenyum dengan wajah mengerikanya.
*****
Di tempat yang berbeda. Eric baru sadar bahwa ia sudah berjalan terlalu jauh dari motor tempatnya di palkir, ketika tenggorokanya terasa kering, pahit dan badan seolah sangat lemas. Eric mendongakan kepalanya, dan entah ia sendiri bingung saat ini ia berada di mana.
Laki-laki paruh baya itu mengedarkan pandanganya, mencari warung ataupun orang yang menjual minum. Dia juga harus tetap sehat agar tetap bisa mencari putrinya. Eric berteduh dari teriknya sinar matahari yang semakin terasa panas di tubuhnya. Eric melihat jam yang tergantung di dinding warung, ternyata jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi padahal dia tadi berangkat sekitar jam enam pagi, lalu entah seberapa jauh Eric berjalan. Wajar saja tubuhnya protes ketika sang pemilik raga tidak memberinya makan bahkan minum. Satu gelas teh hangat dan roti Eric gunakan untuk mengganjal perutnya. Andai ia tidak memikirkan putrinya, siapa lagi yang akan mencari Elin kalau ia sendiri sakit, mungkin Eric lebih memilih tidak makan sama sekali. Mungkin itu yang Elin rasakan di sana saat ini.
Eric bahkan sudah memikirkan malam-malam yang gelap dan sunyi akan ia lalui tanpa Elin, apakan ia akan bisa tidur tanpa tahu bagai mana kondisi putrinya saat ini.
Setelah tubuhnya cukup kuat untuk melanjutkan pencarian. Eric kembali berjalan sembari menanyakan setiap orang yang ia temui. Foto Elin adalah alat yang ia gunkan untuk orang-orang mengenali sosok yang tengah ia cari. Tujuanya saat ini tentu rumah sakit jiwa, di mana motornya ia palkirkan. Sembari berjalan ada harapan dan doa yang ia taburkan di sepanjang jalan, mungkin saja keajaiban akan datang mengampirinya.
Tidak hanya Eric yang mencari Elin dari tadi Eric juga berkomunikasi terus dengan para warga yang tengah berjuang bersama mencari Elin. Kaki pegal dan teriknya matahari yang semakin terasa membakar kulit Eric, tidak sama sekali menyurutkan niat Eric untuk menghentikan usaha pencarianya. Meskipun mungkin dalam hatinya ia tahu bahwa usahanya itu akan sia-sia, tetapi laki-laki yang sudah bercucuran keringat itu masih berharap ada secuil keajaiban yang Tuhan berikan kehidupnya.
__ADS_1
Ponselnya bergetar, Eric yang sedang berkeliling bertanya pada warga pun tidak terlalu fokus dengan getaran ponsel di dalam saku celananya.
******
"Gimana? Apa Papah sudah mengangkatnya?" tanya Elin, dengan wajah pucatnya.
Arya mengeleng, ini adalah panggilan ketiganya, tetapi papah dari Elin tidak jua mengangkatnya. Kecemasan Arya juga semakin menghampiri, di mana ia juga sebenarnya ada rasa ketakutan yang terus mencoba merobohkan keyakinanya. Takut apabila yang Elin katakan bahwa papahnya juga di culit itu benar adanya.
"Kita coba lagi yah," ucap Arya, memberikan semangat pada Elin dan dirinya sendir.
Nomor ponsel Eric pun di coba di hubungi lagi. Seperti sebelumnya, satu kali neringan tidak diangkat dua juga sama...
"Halloh..." suara berat yang seolah kehilangan gairah, terdengar dari laki-laki yang mengangkat nomor yang barusan Arya tekan.
Tes... tes... Elin tak kuasa meneteskan air mata bahagia. Yah wanita itu sangat yakin bahwa suara laki-laki yang mengangkat telepon itu adalah suara ayahnya.
__ADS_1
"Ayah ini Elin...."